
Pagi-pagi sekali sesuai rencana, kedua orang tua Icha serta Kakaknya akan menuju Singapura. Mereka berangkat dari rumah pukul 05.00, karena pesawat akan take off pukul 07.00 pagi, mereka lebih baik menunggu di bandara dari pada tertinggal pesawat.
"Hati-hati ya Ma, Pa, Kak, maaf kami gak bisa antar," ucap Icha kala kedua orang tuanya serta Farhan akan berjalan keluar rumah.
"Iya gak apa-apa sayang, kalian baik-baik dirumah, kalau ada apa-apa telfon Mama atau Papa," timpal Sinta.
"Ma, Pa titip salam buat Papa dan Mamaku ya, kami belum bisa kesana lagi, karena sebentar lagi harus ujian, nanti setelah ujian pasti kami akan kesana," Al menitipkan salam untuk kedua orang tuanya.
"Pasti akan kami sampaikan,"
Icha lebih dulu memeluk Mamanya, kemudia Papa dan Kakaknya, diikuti Al yang berjabat tangan dengan mertuanya serta Kakak iparnya. Tak lupa si bungsu Raffa juga ikut melakukan hal yang sama.
"Assalamu'alaikum, kami berangkat ya Nak," ucap salam Papa Bayu dan diikuti istri serta anak sulungnya.
"Wa'alaikumsalam," jawab salam ketiga anaknya.
Mereka pun masuk kedalam mobil yang di kendarai oleh sopir pribadi keluarga Icha.
Setelah kepergian kedua orang tuanya serta Kakanya, mereka pun kembali masuk kamar kecuali Icha, dia akan membantu pembantunya yang sedang mempersiapkan sarapan pagi.
"Aku bantu masak ya Bik," ucap Icha ketika sudah berada di dapur.
"Iya Non," sang pembantu tidak bisa menolak karena sekalipun menolak Nona mudanya itu pasti akan tetap kukuh membantunya.
.
Sedangkan dikamar Al, memilih menghubungi seseorang, karena di kesempatan seperti ini dia bisa menghubungi seseorang itu tanpa sepengetahuan Icha.
"Gimana?" tanyanya setelah orang yang dia hubungi menjawab telfonnya. "Baiklah, gue tunggu kabar terbaru dari lo, gue percaya sama lo," entah apa yang dibicarakan orang disebrang sana, setelah mengatakan itu Al menekan tombol merah yang ada di layar ponselnya.
"Gue yakin dia pasti terlibat, kalau memang terbukti gue gak akan maafin dia," gumama Al, wajahnya memancarkan kemarahan entah pada siapa dia marah.
"Lihat aja gue akan bales perlakuan mereka ke istri gue," gumamnya lagi.
Setelah mereda kemarahannya pada seseorang entah siapa itu, Al masuk kedalam kamar mandi, dia akan mandi dan bersiap-siap untuk berangkat kesekolah.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Icha telah menyelesaikan masaknya, dia naik kekamar dengan membawa secangkir teh hangat, meletakkan teh itu diatas meja depan suaminya yang tengah duduk di sofa, sudah berseragam rapi, matanya fokus menatap laptop yang ada di pangkuannya. Icha tahu suaminya itu pasti sedang mengerjakan pekerjaan kantor yang sempat iya bawa pulang.
"Minum duluh teh hangatnya, biar lebih seger," titah Icha setelah meletakkan secangkir teh tersebut.
Al menoleh kearah istrinya, dia tersenyum saat mendapati Icha tersenyum disana, "Makasih sayang," ucapnya, lalu mengambil secangkir teh hangat tersebut untuk diminum.
"Aku mandi dulu ya," tutur Icha, setelah mendapat jawaban dari Al dia melangkah menuju kamar mandi.
Beberapa saat berlalu, Icha telah menyelesaikan acara mandinya, dia juga sudah berseragam rapi. Mereka turun untuk sarapan lebih dulu sebelum berangkat kesekolah.
"Raffa mana Bik?" tanya Icha saat tidak mendapati adiknya di ruang makan.
"Belum turun Non," jawab pembantu yang ditanya oleh Icha.
"Sayang aku panggil Raffa dulu ya, takutnya dia telat berangkat kesekolah," ucap Icha dia pun berlalu menuju kamar Raffa.
Tok
Tok
Tok
Icha mengetuk pintu kamar Raffa, setelah sampai didepan kamar itu.
"Dek ayo turun sarapan dulu, ini udah siang lho, entar kita telat gimana?"
Raffa membuka pintu kamarnya, dengan penampilan yang membuat Icha menganga.
"Ya Allah Dek, kamu bisa telat, lihat ini udah jam berapa!" seru Icha, dia terkejut adiknya itu masih mengenakan piama tidur.
"Ya Allah panas banget, kamu istirahat aja ya, biar Kaka ijinin sekolahnya," Icha menghawatirkan keadaan adik bungsunya itu.
Raffa mengangguk, "Iya Kak, makasih ya, kepalaku pusing banget," lirihnya, lalu dia masuk kedalam kamar kembali.
Icha mengikuti Adiknya, dia duduk disisi ranjang setelah Raffa merebahkan dirinya, "Kamu tu Dek, baru ditinggal Mama satu jam aja udah sakit, dasar anak Mama," Icha mengomentari sakitnya Raffa yang dia yakini karena kepergian sang Mama.
"Aku udah gak enak badan sejak semalem Kak, gak bilang ke Mama takut Mama batalin acaranya, kan kasian," gumam Raffa yang masih didengar oleh Icha.
"Kakak kira karena ditinggal Mama pergi. Yaudah Kaka suruh Bibik ambilin sarapan sama obat ya," ucap Icha, dia berdiri dari duduknya.
"Ohya Kaka tinggal kesekolah gak apa-apa kan Dek? Kakak panggilin dokter dulu sebelum berangkat kesekolah," tambah Icha.
"Gak usah panggil dokter Kak, diobatin aja paling sembuh, cuma demam biasa," tolak Raffa dengan suara lirih.
"Baiklah kalau itu mau kamu, tapi kalau sampai Kakak pulang belum sembuh harus mau dipanggilin dokter," tutur Icha tak mau di bantah.
"Iya Kak,"
Icha keluar kamar Raffa dan kembali kedapur.
"Kok lama banget sayang?" tanya Al saat mendapati Icha masuk dapur.
"Raffa demam, dia gak bisa sekolah hari ini," jawabnya, lalu dia mencari pembantunya, "Bik, tolong bawain makanan ke kamar Raffa ya, sama obat demam, di kompres sekalian kalau dia mau Bik," titah Icha pada pembantunya.
"Den Raffa sakit Non? Baik Bibik akan bawakan makanan dan obat ke kamar Den Raffa," pembantu itu menyiapkan makanan untuk Raffa dan membawanya ke kamar Raffa.
"Apa gak sebaiknya di panggilin dokter aja sayang?" tanya Al mengangkat wajahnya untuk menatap Icha yang sedang berdiri menyiapkan nasi untuknya.
Icha menoleh sebentar kearah Al, "Dianya gak mau, nanti kalau pulang sekolah belum sembuh kita panggilin dokter." Icha meletakkan nasi serta lauk yang ada dipiring kedepan Al.
"Makan bareng aja, ini sudah siang nanti kita telat, yang penting keisi perutnya," titah Al saat Icha akan mengambil satu piring nasi lagi.
Icha tersenyum, dia mengangguk lalu meletakkan piring yang ada di tangannya ketempat semula. Lalu dia duduk di kursinya yang tepat berada di samping Al, mengambil sendok lalu memulai sarapan pagi mereka yang hanya berdua seperti di rumah Al biasanya.
Setelah selesai sarapan, mereka pun berangkat kesekolah, mengingat waktunya sudah cukup siang, jika ditunda sudah dipastikan mereka akan telat kesekolah.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Sesampainya di sekolah, mereka berjalan bersama menuju kelas. Karena kebiasaan Al yang mengantar Icha sampai kedepan kelasnya.
Saat di koridor mereka bertemu seorang gadis, tepatnya gadis itu yang mengejar Al dan Icha.
"Selamat pagi, aku boleh bareng kan?" tanya gadis itu, dia sudah berada disisi Icha.
"Boleh banget, gak ada yang melarang bukan?" Icha tersenyum menjawab pertanyaan gadis itu.
Sedangkan Al memasang muka datarnya, dia malas bertemu dengan gadis itu. Al berfikir gadia itu pasti merencanakan sesuatu, dia tidak mudah percaya dengan kebaikannya.
"Al kenapa diem aja?" gadis itu beralih bertanya pada Al.
Al hanya diam dia tidak menggubris pertanyaan gadis itu. Dia justru memeluk pinggang Icha, tadinya dia hanya menggandeng tangan istrinya.
Saat mendapati Al yang hanya diam gadis itu pun ikut diam, dan terus berjalan bersama kedua sejoli itu.
.
.
Bersambung......
.
Jangan lupa like dan komennya yah.
Aku tuh senyum- senyum sendiri saat baca komen kalian, Makasih buat yang udah komen dan like. Makasih juga buat yang udah ikhlasin poinnya buat vote😘😘