
Assalamualaikum, apa kabar semuanya? Semoga sehat selalu ya. Karena akhir-akhir ini banyak sekali yang sakit, maka kita harus pandai-pandai menjaga kesehatan diri kita sendiri.
Maaf aku muncul lagi setelah sekian lama menghilang, di sini cuma mau ngasih info aja. Kalau aku punya novel baru. Disebuah web, buka aplikasi ya, karena belum jadi aplikasi.
aku kasih linknya aja.
https://bukulaku.id/listsarkat/09022022210908/Bukan-Noda-Hitam
itu linknya ya.
Ini novel Jovanka, adik iparnya Yesha. Kalian yang udah baca Always Love You pasti tahu.
Aku enggak memaksa kalian untuk membacanya, kalau ada yang minat silakan, kalau kalian tidak minat juga tidak apa-apa.
Terimakasih, sekian dari saya. Salam sayang dan rindu buat kalian semua.
Aku kasih satu bab di sini ya.
👇👇👇
"Kamu yakin dengan keputusan mu itu?" seseorang yang ditanya itu menganggukkan kepala, meyakinkan perempuan paruh baya di hadapannya yang melontar pertanyaan.
"Aku sangat yakin Tan!" tegasnya.
"Alhamdulillah, kalau memang kamu benar-benar yakin, Tante akan bicara sama Om kamu. Dia punya teman seorang ustadz yang bisa membimbing kamu mengucap dua kalimat syahadat," bersyukur dengan keputusan gadis yang selama satu bulan lebih ia jaga dan semangati.
"Tapi Nak, kamu harus minta restu dulu dari Papa dan Mama kamu. Meskipun Tante yakin kedua orang tua kamu pasti akan mendukung, tetap saja kamu harus minta restu terlebih dahulu," tambahnya, saat mengingat kedua orang tua gadis itu.
Gadis itu tertunduk lesu, mengingat kedua orang tuanya yang tak menginginkannya kembali. Menagnggapnya sudah mati di telan bumi, karena keslahan besar yang ia perbuat.
"Tapi Tan, sudah berkali-kali aku menghubungi mereka, tak satu pun panggilanku di terima bahkan sekarang nomorku saja sudah di blokir, pulang ke rumah juga mereka tak ada. Aku harus bagaimana Tan? Kalau tanpa restu mereka bisa, kan Tan?"
Wanita paruh baya itu menghela nafas, ia memang mengetahui seperti apa hubungan gadis ini dengan kedua orang tuanya. Pernah ia menghubungi kedua orang tua gadis itu, tapi mereka memang tak memperdulikannya. Sangat miris memang, mungkin mereka masih kecewa.
"Kamu yang sabar ya, doakan kedua orang tuamu, dan jangan pernah membencinya." Mengusap punggung gadis itu dengan sayang.
"Iya Tan, pasti aku akan kasih tahu Papa sama Mama," wajahnya kembali berbinar saat keinginnya di setujui.
Jovanka, seorang gadis muda yang baru saja berumur dua puluh tahun itu, harus merasakan sakitnya di usir dari rumah oleh Mamanya, karena keslahan besar yang telah ia perbuat. Bahkan di saat dirinya terpuruk, kedua orang tuanya tak sedikit pun bersimpati, mereka seakan tutup mata dengan keadaan sang putri. Untung saja ada keluarga baik ini, Tante Nayla dan Kak Yesha yang dulu pernah menjadi kakak iparnya sebelum sang Kakak meninggal. Mereka menerimanya dengan baik bahkan memberi semangat padanya yang sudah ingin menyerah saat itu karena semua keluarga mengabaikannya. Ia sadar, kesalahannya mungkin takkan pernah termaafkan karena telah mencoreng nama baik keluarga.
Hari yang ditunggu pun tiba, pagi ini Jova terlihat cantik dengan gaya barunya. Mengenakan hijab dan dress panjang menutup seluruh tubuhnya, hanya menyisakan wajah. Meskipun belum mengucapkan dua kalimat syahadat, gadis itu sudah bertekad untuk menutup tubuhnya dengan pakaian syar’i terlebih dahulu.
“Masyaallah, kamu cantik sekali. Kakak sampai pangling,” ucap Kak Ayesha, meneliti penampilannya yang terlihat sempurna meskipun baru pertamakali mengenakan hijab.
Mendapatkan pujian seperti itu, Jova terlihat malu-malu, “Ah, Kak Yesha bisa aja,” ucapnya sambil tersenyum.
Dengan diantar oleh keluarga Tante Nayla, Jova terlihat tegang selama perjalanan menuju kediaman Ustadz Arif, salah satu guru dari papinya Ayesha.
Hampir satu jam mereka baru saja memasuki sebuah rumah dengan halaman luas. Di depan rumah tersebut ada sebuah bangunan seperti aula, mungkin itu bangunan yang diperuntukkan untuk mengaji muridnya ustadz Arif. Karena menurut Om Farhan, sang ustadz adalah salah satu guru ngaji di daerah itu. Meskipun tak memiliki pondok pesantren, ustadz Arif banyak dikenal orang.
Sebelum menuntun Jova mengucapkan dua kalimat syahadat, Ustadz Arif menanyakan beberapa hal. Apakah Jova yakin dengan keputusannya saat ini, atau ada seseorang yang memaksakan kehendaknya. Dan Jova menjawab penuh keyakinan, jika ia memang benar-benar yakin tanpa ada unsur paksaan dari siapa pun.
Setelah itu, Ustadz Arif menuntun Jovanka mengucapkan dua kalimat syahadat, yang sempat gadis itu pelajari sebelumnya, tanpa sepengetahuan siapa pun. Ia ingin saat dibimbing mengucapkan kalimat syakral itu sudah hafal kata dan artinya.
“Alhamdulillah,” ucap semua orang yang ada di ruangan itu, setelah Jova sukses melafalkan dua kalimat syahadat.
Tante Nayla dan Kak Yesha, langsung memeluk Jovanka penuh haru. Bahkan air mata keduanya tanpa terasa menetes begitu saja. Begitu pun Jovanka, pipi gadis itu sudah banjir dengan air mata. Tak pernah menyangka akan sampai di titik ini, di mana ia dulu sangat membenci perubahan almarhum sang Kakak yang memilih untuk menjadi seorang muslim. Tapi lihatlah saat ini dirinya justru mengikuti langkah almarhum.
“Begini Pak ustadz, kalau saya mau mengganti nama apa bisa? Saya ingin dikenal sebagai saya yang sekarang, bukan seorang Jovanka di masa lalu,” tanya Jovanka, setelah mendapatkan beberapa nasehat dari Ustadz Arif.
“Tentu saja, Mbak Jova bisa merubah namanya. Mbak bisa mengurus semuanya di kantor kependudukan,” jawab Ustadz Arif.
“Memangnya mau diganti dengan nama yang seperti apa?” tanya sang ustadz
“Fatimah Az-zahra Pak,” jawab Jovaanka.
“Nama yang bagus, itu adalah nama salah satu putri Rasulullah,”
Jovanka mengangguk, ia sudah beberapa kali membaca buku-buku tentang agama Islam, tentang perjuangan Nabi Muhammad menyebarkan agama Islam. Semua itu membuatnya terharu dan makin yakin dengan tekadnya.