
Beberapa saat berlalu, pintu kembali terbuka. Al masuk bersama sang Papa, mereka tadi bertemu di depan ruangan rawat Icha, lalu masuk secara bersamaan. Al sudah menceritakan semua yang terjadi pada istrinya, Papa terlihat ikut bersedih karena cucu yang ia harapkan ternyata telah tiada, tetapi ia mencoba bersikap tegar, mengingat dulu almarhumah sang istri beberapa kali mengalami hal yang sama, sebelum melahirkan Al.
"Cha, gimana keadaannya sekarang?" tanya Papa Davit, ia menghampiri menantunya yang duduk di atas brangkar dengan sang Mama yang setia berada di sampingnya.
Nayla beserta Mama dan Papanya lebih dulu kembali, karena waktu hampir menjelang malam.
"Alhamdulillah sudah lumayan Pa," jawab Icha dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Sebenarnya ia masih merasakan perih di perutnya, entah mengapa ia tidak terfikirkan dengan kandungannya, mungkin ia fikir kandungannya baik-baik saja.
"Alhamdulillah kalau gitu," timpal Papa Davit.
"Silahkan duduk Mas Davit," Mama Sinta mempersilahkan besanya untuk duduk di sofa.
Papa Davit pun berjalan kearah sofa lalu duduk disana, begitu pun dengan Mama Sinta karena Al sudah datang membawa makanan dan yang pasti Al lah yang akan menyuapi Icha.
Al menyiapkan makanan yang ia beli ke dalam piring, lalu menbawa piring itu ke hadapan Icha.
"Makan dulu ya, biar aku suapi," titah Al, ia mulai menyendokkan makanan tersebut.
Icha mengangguk, ia menerima suapan nasi dari sang suami. Ia menghabiskan makanan yang di beli oleh Al. Bahkan sampai saat ini pun Icha belum menyadari keanehan pada dirinya, ia belum merasakan perubahan pada perutnya. Entak mengapa ia tak peka. Seakan melupakan janin yang ada di dalam perutnya dulu.
Setelah menghabiskan makan, Icha meminum obat yang tadi di beri oleh perawat, lalu ia membaringakan tubuhnya kembali.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Setelah Isya' Papa Bayu beserta dua putranya datang. Membawa beberapa pakaian untuk Mama Sinta, sedangkan Al ia sudah di bawakan pakaian ganti oleh sang Papa tadi. Papanya pun kini sudah pulang.
"Dek, kamu kenapa bisa seperti ini sih?" Farhan mendekat kearah sang adik bersama dengan Raffa. Tatapannya menelusuri seluruh bagian tubuh sang adik. Membuka selimu yang menutupi kaki adiknya.
"Ish Kak, kenapa buka-buka sih?" protes Icha, ia tak terima kakaknya membuka selimut yang menutup kakinya.
"Cuma mau periksa apa masih utuh semua apa enggak," jawab Farhan asal bicara, sebenarnya ia ingin memeriksa seberapa parah adiknya itu kecelakaan kenapa bisa sampai keguguran.
Farhan duduk di kursi yang berada di sebelah brangkar Icha, sedangkan Raffa berdiri di belakang Kakaknya. Berbeda dengan Al yang duduk di sisi ranjang, tepat di bawah kaki Icha. Icha seperti putri yang di kelilingi oleh tiga pangeran.
"Tadi Kakak sama Papa sudah laporin ke polisi, semoga pelakunya segera tertangkap," Farhan menceritakan tadi siang ia datang ke kantor polisi bersama sang Papa.
"Makasih ya Kak," ucap Icha, "Tapi itu salah aku juga sih, enggak liat-liat pas mau nyeberang," tambahnya dengan sendu, ia menyesal karena tidak menuruti perkataan Nayla.
"Sudah-sudah semuanya sudah terjadi, yang penting kamu tidak kenapa-kenpa, meskipun janin di perutmu tidak selamat. Pasti Allah punya rencana yang lebih indah Cha," Farhan keceplosan, ia lupa peringatan sang Papa tadi sebelum berangkat ke rumah sakit.
Raffa menyenggol bahu sang Kakak saat mengetahui ada yang salah dari ucapan kakaknya. Tetapi Farhan tidak peka.
DUAAAR
Bagai tersambar petir setelah mendengar penuturan sang Kakak. Ia menatap wajah suaminya yang berada di depannya bergantian juga dengan Kakak dan Adiknya. Seakan butuh kepastian dari mereka.
"Al apa benar yang di katakan Kak Farhan?" tanya Icha menyelidik. Ia belum percaya sepenuhnya dengan ucapan sang Kakak.
Al yang mendapat pertanyaan seperti itu hanya bisa menunduk, ia tidak mau membalas tatapan mata istrinya. Ia juga tak kuasa jika harus menjawab yang sejujurnya. Karena dirinya pun merasa kehilangan.
Icha menggoyangkan tubuh Al, "Jawab Al!" Serunyaa.
Al tetap bergeming.
Farhan merasa bersalah karena telah keceplosan, ia menutup mulutnya dengan jari-jari kanannya.
Mama dan Papa mendekat kearah sang putri yang sudah di penuhi oleh air mata. Mereka tahu ini berat buat Icha.
"Ma?" Icha bergantian menatap sang Mama, "Apa bener yang Kak Farhan katakan?" lirihnya.
Mama mendekat, ia duduk di kursi yang tadi di duduki oleh Farhan. Karena Farhan lebih dulu berdiri di belakang sang Mama.
Mama Sinta meraih jemari Icha, menggenggamnya lalu ia memeluk tubuh putrinya yang berderai air mata.
"Sabar ya sayang, ini sudah takdir dari Yang Kuasa, kamu harus menikhlaskannya," tutur sang Mama, ia tidak menjawab pertanyaan Icha, tetapi dengan penuturannya yang seperti itu Icha sudaj bisa menebak, jika perkataan Kakaknya itu benar.
Isak tangis semakin terdengar lebih keras, "Ini semua salahku Ma, anaku meninggal gara-gara aku Ma," ucapnya dengan terbata karena menangis.
"Sudah, enggak usah di sesali Sayang, karena ini memang jalannya. Insyaallah ada hikmah di balik semua ini. Kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri ya," tutur sang Mama.
Icha tetap saja menangis, ia bahkan masih menyalahkan dirinya sendiri. Ia menyesal kenapa tidak mengikuti ucapan Nayla waktu itu, jika mengikuti ucapan Nayla ia pasti akan baik-baik saja sekarang.
Mama melepas pelukannya, buku-buku jarinya mengusap kebasahan di pipi sang anak. Ia menatap wajah sang putri yang masih banjir air mata, "Sudah ya, enggak usah di tangisi. Ikhlaskan dia, kelak ia yang akan menolong orang tuanya," tutur sang Mama berharap putrinya mengerti dengan penuturannya.
Akan tetapi Icha masih saja menangis, seakan tidak mendengarkan apa yang di katakan sang Mama. "Ini salahku Ma, anakku meninggal gara-gara aku Ma," Icha tetap saja menualahkan dirinya.
Mama mengelus kepala Icha, ia tahu ini berat buat Icha tapi mau bagaimana lagi selain mengikhlaskannya. "Sudah sayang, jangan salahkan diri kamu sendiri, sudah Mama katakan ini bukan salah kamu, Nak," tuturnya.
Icha masih saja diam, tak mau berucap apa pun. Air matanya masih saja luruh. Berat sekali rasanya kegilangan buah hati yang sudah di nanti-nanti, apalagi ia sudah membeli beberapa pakaian untuk bayi, penyesalannya pun bertambah. Ia menggelenggkan kepala seakan apa yang ada dalam pikirannya tidak benar.
Nayla mengatakan jika bayi belum tujuh bulan dalam kandungan maka belum boleh membeli sesuatu untuk sang bayi. Jika membeli maka akan terjadi sesuatu pada sang bayi. Tapi Icha mengelak, ia mengatakan itu hanya tahayul. Tapi nyatanya apa yang di katakan Nayla benar terjadi.
Icha berulang kali menggelengkan kepalanya, ia tidak mau percaya dengan apa yang di katakan Nayla saat di mall.
"Kenapa sayang?" tanya Al, ia memilih pindah duduk di sisi Icha, ia memeluk istrinya tanpa malu di depan Mama mertuanya. "Kita ikhlaskan saja, biarkan anak kita menjadi teman Mama di surga, Mama tidak akan kesepian lagi karena bersama cucunya," tutur Al, ia menghapus air mata di wajah ayu istrinya yang masih terus mengalir.
Icha masih saja diam, ia tak kuasa mengatakan apa pun selain penyesalan yang ia rasakan saat ini.
Bersambung....