Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 104


Satu bulan berlalu, mereka saat ini sedang berada di kampus untuk mengumpulkan beberapa berkas pendaftaran kuliah. Al dan Icha kuliah di tempat yang sama, begitu pun Nayla, mereka memilih satu kampus karena kampus yang mereka pilih adalah kampus terfavorit di kota itu.


Setelah pulang dari kampus, Al memilih ke kantor karena permintaan sang Papa, yang mengatakan ada hal penting yang akan di sampaikan. Sedangkan Icha di ajak jalan-jalan sama Nayla, menghabiskan waktu sebelum perkuliahan di mulai. Karena pastinya akan mereka akan sibuk jika perkuliahan dimulai, apalagi keduanya mengambil jurusan yang berbeda, sidah di pastikan jarang bertemu.


Al datang sudah sampai di ruangan sang Papa. Ternyaya Papanya sudah menunggu kehadirannya.


"Maaf Pa, aku telat ya?" ucapnya, lalu duduk di sofa ruangan itu.


Papa berdiri dari duduknya, ia menghampiri putranya, "Lima menit," ucapnya.


"Ayo yang lain sudah menunggu," sang Papa berjalan lebih dahulu, diikuti oleh Al masuk ke ruangan meatting.


Al mengikuti langkah sang Papa, ia tidak banyak bertanya meskipun tumben sekali Papanya itu menyuruh ia ikut rapat bersama relasi bisnisnya. Ya mereka rapat dengan beberapa relasi bisnis, bukan dengan para karyawan perusahaan itu.


Al duduk di kursi paling dekat dengan sang Papa, ia terlihat menyimak semua yang mereka diskusikan. Ia juga mencermati, mencerna semua yang ia tangkap dari hasil diskusi tersebut.


Satu jam lebih rapat baru saja selesai. Papa Davit memulai pembicaraan di luar topik pembahasan pertemuan pada siang ini.


"Selamat siang semuanya, maaf saya meminta waktu sebentar," menjeda kalimatnya melihat satu persatu relasi bisnisnya yang ternyata terlihat antusias.


"Saya akan memperkenalkan putra semata wayang saya, ini dia putra saya Vicy Al Ghifari. Mungkin ada yang sudah mengenal atau bahkan pernah meatting bersama. Dia baru saja lulus SMA, tapi dia sudah punya istri bahkan sebentar lagi akan memiliki anak. Dan dia yang akan menggantikan saya menjabat sebagai CEO di sini, saya mau beristirahat, karena selama beberapa bulan dia mewakili saya, terlihat sekali perkembangannya, itu yang membuat saya yakin kalau dia mampu memimpin perusahaan ini. Anda semua tidak usah khawatir, saya akan tetap memantau dari rumah, itu saja yang akan saya sampaikan, semoga kedepannya kerja sama kita makin maju lagi, terimaksih," ucap panjang lebar Papa Davit.


Mereka memberi selamat pada Al dengan menjabat tangan Al. Ada yang sedikit kecewa dengan pernyataan Papa Davit yang mengatakan kalau Al sudah menikah. Mereka semua memaklumi jika anak pengusaha kaya seperti Al menikah muda, mereka mengembangkan bisnis dengan menikahkan anak-anak mereka dengan relasi bisnisnya yang lebih menguntungkan.


Setelah itu mereka pamit dan meninggalkan perusahaan tersebut.


Al kembali mengekori sang Papa keluar dari ruang pertemuan menuju ruangan Papnya lagi. Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan dengan pertemuan yang baru saja terjadi.


Duduk di sofa diikuti sang anak, ini sudah saatnya makan siang, tapi mereka belum berniat untuk keluar kantor.


"Beneran Papa mau istirahat?" tanya Al saat ia sudah duduk di depan sang Papa.


"Ya seperti yang kamu dengar tadi, sekarang saatnya kamu yang bekerja. Untuk perusahaan yang di luar biar diurus sama orang kepercayaan Papa, kamu memikirkan yang di sini saja," Davit menjelaskan panjang lebar.


"Pasti kamu bertanya-tanya, kenapa mendadak sekali dan tidak memberi tahukan padamu dulu, kan?" Davit bisa menebak kebingungan sang putra.


Al mengangguk, "Iya Pa,"


"Papa ceritakan," menjeda ucapannya sebentar, "Tadinya Papa hanya ingin membahaz pertemua biasa dengan para relasi bisnis. Tapi tadi ada yang datang menemui Papa, beliau meminta Papa supaya menjodohkan kamu dengam anaknya, maka dari itu, Papa menyuruh kamu ke sini, dan memperkenalkan kamu langsung, serta setatus kamu supaya kedepannya tidak ada lagi kejadian semacam itu karena kebanyakan mereka belum tahu setatus kamu yang sudah tidak single lagi," jelas Papa Davit, sesuai dengan yang baru saja terjadi sebelum kedatangan Al.


Al mengangguk, mengerti dengan apa yang di bicarakan Papanya. Ia tidak mau tahu siapa yang tadi datang memenuhi sang Papa, karena menurutnya tidak lah penting.


"Kamu hari ini boleh pulang, mulai besok bisa kerja lagi," Davit berdiri dari duduknya, ia melangkah menuju kursi kebesarannya. "Ruangan kamu sudah Papa persiapkan di sebelag ruangan ini, yang dulunya ruangan si Rio, dia pindah di depan ruangan kamu, karena Papa akan sering kesini juga," tambahnya setelah duduk.


"Baik Pa, aku ikut apa kata Papa. Sekarang mau jemput istriku dulu, aku pamit ya Pa," pamit Al, ia melangkah keluar ruangan sang Papa.


Al turun ke lantai bawah menggunakan lift khusus untuk pemilik perusahaan, bertemu denan beberapa karyawan, ia menerbitkan senyum di bibirnya. Sesampainya di parkiran dia masuk kedalam mobil, baru saja akan menyalakan mesin mobil ponsel yang sejak tadi berada di dalam mobil berbunyi nyaring, ada seseorang yang telah menghubunginya.


Menjawab telfon tersebut, sebelum ia mengatakan apa pun orang di seberang sana sudah lebih dulu berbicara. Raut wajah Al berubah setelah mendengar orang yang di seberang sana bicara. Tanpa sepatah kata pun, ia melempar ponsel ke dosbor tanpa menggeser tombol merah di layar terlebih dahulu, lalu menyalakan mobilnya keluar area perusahaan.


Terlihat dari raut wajahnya yang kacau dan penuh ke khawatiran, pasti terjadi sesuatu. Entah siapa yang kenapa? Yang pasti Al melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, ia bahkan berkali-kali membunyikan klakson saat mobil di depannya terlihat berhenti. Tidak perduli dengan makian orang-orang.


Berkali-kali harus berhenti di lampu merah, juga di aera yang biasanya terjadi kemacetan. Al terlihat frustasi, beberapa kali ia menjambak rambutnya dan memukul setir mobil yang tidak bersalah sama sekali. Ia mau marah, tapi pada siapa ia harus marah, karena kemacetan seperti ini sudah menjadi kebiasaan penghuni ibu kota, sudah menjadi santapan tiap hari.


Membelokkan mobil kesebuah bangunan yang menjulang tinggi, tak lain rumah sakit. Ia memarkirkan mobil lalu keluar dari mobil. Berlari sekuat tenaga, hingga menabrak orang-orang yang berlalu-lalang di rumah sakit itu. Beberapa kali meminta maaf karena menabar orang-orang yang tak di kenalnya.


Pikirannya memutar memori sebulan yang lalu, saat almarhumah sang Mama akan di operasi. Pikirannya berkelana jauh, memikirkan kemungkinan yang tidak dia harapkan, dengan sekuat tenaga dia menepis pikiran buruknya. Menggeleng beberapa kali.


Sampai di depan UGD ia bertemu dengan orang yang tadi menelfonnya. Oranh itu terlihat menunduk saat mengetahui Al datang, bisa di tebak orang tersebut menangis. Al mendekati orang itu.


Bersambung.....


**Jangan lupa like dan komennya yah...


Kalian biasa tebak kenapa**?