Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 42


Setelah pulang sekolah Al mampir dulu membeli makanan untuk dirinya dan Icha, dia tidak ingin ke kantor hari ini, karena khawatri dengan keadaan Icha. Jika ke kantor pun pasti akan tidak fakus bekerja, sudah dipastikan hanya ada Icha isi kepalanya.


Setelah sampai rumah dia bergegas menuju kamar, membua pintu kamar yang tidak terkunci dengan amat pelan, takut jika Icha sedang tidur pasti akan membangunkannya. Ternyata fikirannya salah, Icha tidak tidur, dia justru duduk diatas kasur sambil menatap layar laptop yang dia pangku.


Al mendekati Icha lalu duduk disisi ranjang tanpa sepatah kata pun, dia tau Icha tidak menyadari kedatangannya, tetapi saat dia duduk kasur yang dia duduki terlihatmengusik keasyikan Icha.


Benar saja Icha dibuat kaget oleh Al, karena tiba-tiba berada disampingnya, tanpa mengetahui kapan Al masuk kamar.


"Astaghfirullah, aku kaget sayang!" Seru Icha


Al hanya tersenyum menanggapi.


"Kamu kapan datang? Aku kok gak dengar ya?"


"Kamu teralu fokus sampai gak denger aku masuk, nonton apa sih?" Al penasaran dia mengambil laptop yang ada di pangkuan Icha.


"Biasa nontin drama," Icha menyengir.


"Kamu gak ke kantor?" tanyanya kemudian.


"Enggak, aku mau nemenin kamu di rumah, aku kepikiran kamu terus, kalo ke kantor pasti gak bakalan fokus, jadi lebih baik pulang bisa peluk kamu," jelas Al.


"Kamu udah makan siang belum?" tanya Al.


"Belum, lagi asyik nonton drama jadi males mau makan," Icha menyengir lagi.


"Kalo gitu kita makan dulu yuk, aku tadi beli makanan." Ucap Al dia mengembalikan laptop pada Icha.


"Perutnya gimana? Masih sakit?" tanyanya lagi.


"Alhamdulillah udah lumayan enakan, makanya aku buat nonton drama ini, habis bosen mau ngapain,"


"Alhamdulillah, sekarang kita makan siang dulu, habis itu obatnya diminum lagi." Al turun dari ranjang, dia menuju lemari mencari baju ganti.


"Tunggu aku mau ganti baju dulu ya," ucapnya lalu dia masuk kedalam kamar mandi.


Sedangkan Icha memberesi laptopnya sambil menunggu Al selesai ganti pakaian. Lalu dia meraih jilban rumahan untuk dia kenakan.


Tak lama Al pun keluar dari kamar mandi sudah berganti dengan baju rumahan. Kaos pendek berwarna abu-abu dan celana pendek berwarna abu tua.


"Ayo turun," Al mengajak Icha turun, Icha pun mengikuti Al turun kedapur.


"Kamu duduk aja, biar aku yang nyiapin makan siang kita," titah Al setelah sampai dapur.


Untuk makan siang memang pembantunya dilarang masak oleh Al, karena biasanya mereka makan di kantor. Kalaupun makan di rumah mereka membeli makanan, kadang Icha juga memasak sendiri.


Icha menuruti perintah Al, dia duduk di salah satu kursi, menunggu Al menyiapkan makan siang mereka.


Al meletakkan semua lauk yang dia beli tadi di dalam piring sayur, lalu menatanya diatas meja. Dia mengambil nasi dalam satu piring lalu di tambah dengan lauk pauk. Mereka makan sepiring berdua.


"Biar aku suapin sayang, karena tapi pagi gagal mau nyuapin kamu," tutur Al saat Icha mengambil sendok dari tempatnya.


Icha menggangguk sambil tersenyum, dia bahagia karena Al selalu memperhatikannya.


"Aku suapin, aaa ...." Al menyodorkan sendok ke mulut Icha, lalu dengan cepat dia memutar sendok dimasukkan kedalam mulutnya.


Icha mengrucutkan bibirnya, karena di kerjai oleh Al.


"Aaaa .... Ini beneran buat kamu, ayo buka mulutmu," titah Al


"Gak mau ah, nanti kamu bohong lagi," Icha pura-pura merajuk.


"Gak mau aku suapin pake sendok? Yaudah kalo gitu aku suapin pake mulut aja,"


Icha mendelik, bisa-bisanya Al berkata seperti itu, lihat saja ini di dapur, bisa jadi tontonan nanti.


"Makanya buka mulutnya lagi,"


Icha pun membuka mulut dan menerima suapan dari Al. Sampai selesai mereka makan, Al menyuapi Icha dan dirinya sendiri.


Setelah selesai makan, Icha akan membereskan bekas makan mereka, lagi-lagi Al melarangnya.


"Gak usah sayang, biar diberesin sama Bibik, kita naik keatas aja," ucap Al melarang Icha.


Mereka berdua naik ke kamar mereka lagi. Al membawa satu gelas air putih.


"Minum dulu obantnya," titah Al setelah keduanya sampai di dalam kamar.


Icha meminum obat dengan air putih yang dibawa oleh Al dari dapur. Setelah minum obat dia kembali meletakkan gelas diatas nakas. Sedangkan Al duduk diatas kasur menyender pada kepala ranjang.


"Gimana ulangannya tadi sayang?" tanya Icha setelah meminum obatnya.


"Alhamdulillah lancar, berkat kamu aku jadi sedikit lebih paham tetang pelajaran menghitung itu," uangakpnya, karena memang Al paling lemah dalam pelajaran tersebut.


"Alhamdulillah, aku ikut seneng, sebenarnya Matematika gak susah kalo kita mau mempelajarinya bukan?"


"Iya bener apa yang kamu katakan, tapi sejak dulu guru matematikaku selalu saja garang, jadi males mau belajar,"


"Hust, gak boleh ngomong gitu, seperti apapun beliau tetap guru kita, dia mengabdi memberikan ilmunya untuk kita, mungkin beliau seperti itu supaya kita lebih giat belajar," tutur Icha seperti menasehati anaknya saja.


Al terkekeh mendengar penuturan Icha yang seperti itu.


Icha mengernyitkan keningnya saat melihat Al malah terkekeh.


"Ada yang salah dengan ucapanku?" tanyanya memastikan.


Al masih terkekeh lalu menggeleng, "Gak ada, tapi ucapan kamu itu seperti sedang memberi petuah pada anaknya," Al masih saja terkekeh.


Icha mengrucutkan bibirnya, lalu memalingkan wajah karena kesal.


"Kok malah ngambek sih, sini-sini aku peluk." Ucap Al sambil menarik tubuh Icha kedalam pelukannya.


"Kamu lucu tau nggak kalo lagi ngambek gini, pengen nyubit rasanya," tambahnya lagi.


"Ngeselin!" Seru Icha sambil memukul punggung Al, karena dia dipeluk erat oleh suaminya itu.


"Aw sakit sayang, udah dong. KDRT ini namanya," Al mengaduh padahal pukulan Icha tidak sakit, malah seperti pijatan rasanya.


"Biarin, abisnya kamu ngeselin banget,"


"Diam atau aku cium nih kalo masih mukul aja," Al mencoba mengancam.


Icha pun langsung menghentikan pukulannya, dia membalas pelukan Al yang makin erat.


Lama terdiam, mereka merasakan hangatnya pelikan masing-masing.


"Tetap seperti ini ya sayang, menemaniku di setiap langkah, suka mau pun duka. Kamu mau kan selalu menemaniku?" tutur Al dengan lembut.


Icha mengangguk, "Iya aku mau, kita berjalan bersama-sama, menghadapi rintangan yang menghadang bersama juga, bahagia juga harus bersama,"


"Sampai maut memisahkan kita," sambung Al.


Icha kembali mengangguk dan lebih mempererat pelukannya.


"Apa kamu bahagia hidup denganku yang seperti ini?" tanya Al lagi.


"Aku bahagia, sangat-sangat bahagia, ya meskipun awalnya ...." ucapan Icha menggantung saat Al melepas pelukannya dan meletakkan jari telunjuk di bibir pink Icha.


"Sttt jangan di teruskan lagi, aku minta maaf atas kejadian yang dulu pernah terjadi, aku minta maaf, aku khilaf sayang, kamu mau memafkanku lan?" tutur Al penuh penyesalan.


"Aku sudah memaafkan kamu sejak dulu sayang, beneran. Tadi itu aku ingin mengatakan walaupun kita dipersatukan tanpa rasa cinta, begitu," Icha tersenyum ketika mengatakan hal itu.


"Maaf sayang, aku udah su'udzon sama kamu," Al kembali memeluk Icha.


Icha tersenyum dan mengangguk.


Bersambung......


Untuk sekarang lempeng-lempeng dulu ya, konfliknya sedikit, tapi nanti akan ada konfilnya yang panjang juga, jadi sekarang kita bahagia dulu🤭.


Mau minta konflik seperti apa? Selain yang sudah aku fikirkan, bisa ku tambah lagi nanti.


Jangan lupa like dan komennya yah. Makasih semua😘😘