
Di sekolah seperti biasa Al selalu mengantar Icha sampai depan kelasnya. Semua siswa pun sudah tahu seberapa dekatnya mereka, bahkan banyak yang tahu jika mereka sudah bertunangan, dan gosip yang beredar mereka akan menikah setelah lulus nanati. Nyatanya itu salah, mereka sudah resmi menjadi suami istri beberapa bulan yang lalu.
Al masuk kedalam kelas setelah mengantar Icha. Dia duduk disebelah Alvian seperti biasanya.
"Bahagia banget sepertinya?" tanya Alvian kala mendapati Al menyapanya dengan senyum yang mengembang.
"Jelas dong, kapan gue gak bahagia?" jawab Al sambil menaikan alisnya.
"Percaya, lo selalu bahagia setelah menerima kehadiran Icha dihati lo, coba sejak awal aja lo terima dia, pasti udah dari dulu lo bahagia," Alvian berpendapat yang mana membuat Al berdecak.
"Ck, semua kan butuh proses," jawab Al tak terima.
"Ya tapi gue bersyukur sahabat gue udah menemukan cintanya," ucap Alvian.
Martha yang mengetahui jika Al dari kelas Icha, karena sejak tadi dia memperhatikanAl, apalagi saat masuk kelas dengan tersenyum bahagia, dia heran kenapa secepat itu mereka baikan, meskipun dia kemarin mendengar Al telfonan dengan Icha tapi dia tidak begitu percaya.
Martha menghentakkan kakinya yang mana membuat teman sebelahnya heran.
"Kenapa lo Tha? Al lagi?" tebakan teman Martha benar sekali.
"Gue heran May, dua hari lalu lo liat kan mereka kejar-kejaran dan Icha sampai mohon-mohon, tapi kenapa sekarang Al terlihat bahagia aja," jelas Martha.
"Lo masih ngarepin Al?" tanya temannya yang d sapa May itu.
"Lo tahu sendiri, kan? Gimana perasaan gue sama dia? Gue gak bisa berkutik sekarang, setelah dia tahu kejadian waktu itu ulah gue sama sepupu gue. Dia punya buktinya, makanya mending gue diem aja sekarang, entah nanti," jawab Martha.
"Udah lah, masih banyak cowok yang lebih ganteng dari dia, lo itu cantik sempurna Tha, mau dapet cowok yang tampannya paripurna aja bisa, kenapa masih ngarepin Al yang udah lupain lo?"
"Tau ah, lo selalu aja gitu gak dukung gue," Martha terlihat sebal, karena temannya justru tidak mendukungnya.
Di sisi lain, Icha masuk kedalam kelas disapa oleh Nayla dengan riang gembira. Sahabatnya itu sungguh lebay tidak bertemu sehari saja seperti tak bertemu berbulan-bulan.
"Icha, aku kangen!" Seru Nayla, dia memeluk Icha dengan erat.
"Kamu gak masuk sehari aja rasanya seperti sewindu aku gak ketemu kamu," tambahnya, lalu dia melepaskan pelukannya pada Icha, beralih menarik kedua pipi Icha.
"Sakit Nay, temen baru sembuh dari sakit malah dianiaya, harusnya di traktir makan gitu kek," protes Icha.
Nayla menyengir, "Maaf Cha, habis gue kangen banget. Lo sakit apa sih?" Nayla meneliti seluruh wajah Icha, "kok gak ada bekas sakitnya?" pertanyaan macam apa yang dilontarkan Nayla? Emang Icha habis berantem sampai harus ada bekasnya? Iya memang dia habis berantem, tapi berantem yang menagihkan.
"Emang orang sakit harus ada bekasnya?" tanya balik Icha.
Nayla menyengir lagi, "Ya maksud ku kan biasanya masih keliatan sedikit pucat gitu, tapi lo terlihat sehat-sehat aja," jawabnya.
"Udah sembuh total, jadi gak ada bekasnya Nay, udah diobatin juga," ucap Icha.
"Alhamdulillah aku seneng banget, kemarin aku ijin sama Al buat jenguk kamu tapi gak di bolehin sama dia, yaudah gak jadi deh," adu Nayla.
"Al mungkin gak mau aku dijenguk, karena dia gak mau istirahat ku terganggu," Icha membela Al.
"Iya juga sih, kapan-kapan aku boleh main lagi kerumah kalian ya, sepi rasanya jarang kumpul sama kamu Cha," keluh Nayla.
"Boleh aja, nanti setelah kita ujian," jawab Icha.
"Lama banget dong, sebulan lebih, huhf," keluh Nayla.
Mereka menghentikan obrolannya karena guru sudah masuk kedalam kelas. Mereka pun memulai belajar bersama.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Sampai di kantin lagi-lagi Martha melihat dengan tatapan tak suka pada Al dan Icha yang terlihat berbicara dengan diiringi senyum dan tawa, sspertinya mereka sedang menggoda Nayla karena Nayla terlihat cemberut saat mereka tertawa.
Bruk
Martha menggebrak meja, dia kesal melihat kemesraan Al dan Icha.
"Udah Tha, lo itu udah gak punya kesempatan buat deketin Al, liat aja dia bahagia banget sama Icha, waktu sama lo dia aja gak pernah sebahagia itu," ucapan teman Martha amat menyakitkan, meskipun Martha mengetahui hubungan Al dan Icha lebiha dari pacaran, tapi dia belum bisa menerima sepenuhnya.
"Lo itu kapan si dukung gue May? Lo temen gue tapi gak mau dukung gue sama sekali," Martha gerem.
"Bukan gitu Tha, gue gak mau lo terlalu lama sakit hati karena mengharapkan Al, gue peduli sama lo Tha,"
Martha mendengus, "Tapi gue maunya Al kembali sama gue May," lirih Martha, dia menundukkan wajahnya.
"Tapi bukan begini caranya, kalau lo begini malah akan menyakiti diri lo sendiri Tha," gadis itu menasehati Martha.
"Kalau dia jodoh lo, dia bakalan kembali sama lo kok, percaya deh. Tapi kalau bukan jodoh lo, mau lo berusahan sekuat tenaga buat rebut Al tetep aja gak akan bisa, gue lo mau lupain Al, biar gak terlarur dalam sakit hati yang semakin dalam," tambahnya.
"Lo nggak ngerti sih May, lo nggak ngerasain apa yang gue rasain," lirih Martha.
"Terserah lo lah, gue capek nasehatin lo," gadis itu malas berkomentar lagi, karena Martha tak mau mendengarkannya.
Disisi lain yang jadi topik pembicaraan Martha dan sahabatnya, mereka menikmati makanan yang Nayla pesan, karena tadi Al dan Icha mengerjai Nayla supaya dia yang memesan makanan kalau mau ikut duduk dengan keduanya. Nayla pun dengan terpaksa mengiyakannnya. Dan disinilah mereka sedang menikmati makanannya.
"Gue ikut gabung ya, biar Nayla gak jadi obat nyamuk sendiri," ucap seseorang yang tiba-tiba menghampiri mereka.
"Sini Vian, biar gue gak jadi baygon melulu. Udah jadi baygon tapi seakan nyamuknya gak keracunan sama sekali," ucap Nayla, yang mana membuat Al dan Icha menatapnya.
"Berarti kamu anggap kita berdua nyamuk dong? Jahatnya," timpal Icha.
"Eh kalian berdua kenapa gak jadian aja, biar kita bisa jalan bareng gitu, kan enak gak ada yang jadi obat nyamuk," tambah Icha.
Alvian dan Nayla saling tatap sebentar, lalu mereka memalingkan wajah kearah lain.
"Gak semudah itu kali, main jadian aja," protes Nayla.
"Bener tu kata Nayla, gue juga belum mau pacaran, mau meraih cita-cita gue dulu," ucap Alvian.
"Sebenarnya kalian cocok lho, iya kan sayang?" Icha meminta pendapat pada Al.
Al mengangguk, "Iya kalian cocok," jawab Al dia masih menguyah makanannya.
"Gak usah jodoh-jodohin deh, lo aja di jodohin dulunya ogah, kan?" protes Nayla.
uhuk uhuk uhuk
Al tersedak makanannya, dia menerima gelas yang di sodorkan oleh Icha.
"Hati-hati makannya dong sayang, jadi tersedak kan?" ucap Icha.
"Lanjut makan dulu aja sekarang, ngobrolnya bisa nanti lagi," titah Icha.
Mereka pun menikmati makanan masing-masing, dan kembali mengobrol setelah makanannya habis.
Bersambung....
Jangan lupa like dan komen yah. Makasih,