Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 73


"Gue duluan," pamit orang itu berpamitan pada Al dan Icha karena sudah mendapatkan pesanannya.


"Iya," hanya itu yang keluar dari bibir Al.


"Siapa dia sayang?" tanya Icha, dia memang sepertinya tak asing tetapi tidak tahu siapa.


"Teman sekelas," memang yang tadi itu teman satu kelas Al meskipun bukan teman dekat.


"Emm pantes gak asing," celetuk Icha.


Tak lama pesanan mereka pun datang. Icha yang melihat itu tak sabar, dia ingin segera melahap makanan yang ada dihadapannya.


"Ini enak sekali," celetuknya sambil memakan sesuatu yang dia sukai.


Al juga menikmati makanannya, dai jadi ikut lapar apalagi bau dari asap pembakaran sate membuat cacing diperutnya meronta-ronta minta diberi makan.


"Sudah habis," celetuk Icha yang mana membuat Al menoleh kearah istrinya.


Mengernyitkan dahinya menjadi berlipat-lipat, "Satenya masih utuh? Apanya yang habis?" melihat sate kepunyaan istrinya masih utuh tanpa tersentuh.


Memeperlihatkan yang dimaksud sudah habis, mangkok kecil yang tadinya tempat kecap dan irisan bawang merah serta cabe segar, piring yang sudah kosong bekas tempat nasi. "Ini enak sekali, aku udah kenyang sekarang," ucapnya tanpa beban.


Al pikir istrinya itu memakan setanya dengan lahap, sampai secepat itu menghabiskannya, padahal kepunyaannya saja baru dimakan setengah, tetapi pikirannya salah, istrinya tak menyentuh sate itu dia justru memakan sambal kecap dengan nasi.


"Kenapa satenya gak dimana sayang?" penasaran sekali dia.


"Gak enak, aku coba ambil satu bagian aja rasanya gak enak, bikin mual. Tapi sambalnya enak sekali aku tidak pernah makan ini sebelumnya," memang dia tak pernah memakan kecap di campur dengan irisan bawang merah dan cabe itu. "Nih satenya kamu habisin aja, aku gak suka," dengan entengnya dia memberikan sate yang sejak tadi mereka cari-cari keliling kota.


"Kalau cuma mau makan gituan buat dirumah kan bisa sayang," tak ingin menyinggung hati istrinya dia mengatakan itu dengan lembut.


Icha tahu Al sedikit kecewa, meski penuturannya yang sarat akan kelembutan, tetapi tak bisa menutupi akan kekesalannya, "Kamu gak ikhlas?" pertanyaan yang terlontar membuat Al merasa tak enak hati, takut sang istri kembali merajuk.


"Enggak sayang, aku enggak marah," tuturnya lembut, senyum pun menghiasi bibirnya, "Aku habiskan makananku dulu ya," melanjutkan kembali kegiatannya yang tertunda.


Al ingin tertawa karena sikap istrinya yang dia anggap lucu, minta sate tapi yang di makan justru bumbunya, ingin marah juga sebenarnya, tetapi semua itu dia tahan. Menggelengkan kepala samar, menetralkan pikirannya yang kembali.


Al menghabiskan makanannya, saat akan beranjak dari duduknya tangan Icha terulur untuk menghentikan.


"Ini punyaku kenapa gak kamu makan?" Al menggeleng, dia sudah tak kuasa jika harus makan satu porsi sate lagi.


"Aku kenyang banget, tadi juga udah makan, biarkan saja," tolak Al.


"Ini sedikit, makan ya, biar aku suapin," Icha kekeh, tak menerima penolakan.


Dengan berat hati Al mengiyakan, meski perutnya sudah terasa penuh, tapi lagi-lagi ia tak mau istrinya itu merajuk. Pasti akan susah membujuknya, jika itu terjadi.


Menyuapi satu persatu dengan telaten, senyum di bibirnya tak henti mendakan dia bahagia. Tak peduli dengan orang disekeliling yang melihat keduanya dengan tatapan berbeda-beda. Dua remaja yang terlihat sedang pacaran itu menjadi pusat perhatian, ada yang berfikiran buruk dan sebaliknya.


Rasanya tak kuasa untuk berdiri, perut terasa penuh, pikir Al.


Dia tetap melangkah menuju tempat pembayaran, diikuti oleh istrinya. Setelah tadi menghabiskan sate yang harusnya dimakan oleh istrinya. Bisa di bayangkan, diisi dengan dua porsi sate, ditambah dengan nasi pula.


Melangkah kan kakinya menuju parkiran, memasuki mobil dan menjalankannya.


"Gak ada, pulang aja, udah ngantuk," celetulnya, menguap karena memang dia sudah mengantuk.


Al hanya menganggukkan kepala, dia kembali melajukan mobilnya menuju kediamannya.


Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di depan rumah. Al menoleh kearah istrinya yang tertidur dengam bersandar jok mobil, terlihat pulas sekali tidurnya, ia tak tega membangunkan istri tercintanya.


Al terpaksa harus membopong Icha menuju lantai dua, dengan keadaan perut yang kekenyangan tetapi akan tetap dia lakukan.


"Pak, tolong masukkan mobil saya ke garasi ya, kuncinya di dalam," titahnya pada satpam penjaga. Satpa mengiyakan perintah majikannya.


Posisinya sudah menggendong sang istri, terasa berat padahal tubuh istrinya itu kecil. Apa karena ada dua nyawa yang dia gendong jadi terasa berat, pikirnya.


Sampai di pertengahan tangga, berhenti sejenak, tenaganya sudah terkuras. Kenapa tangga ini terasa jauh sekali, padal biasanya tak terasa jika menaiki anak tangga. Melangkah kembali menuju kamar mereka.


Membanringkan tubuh istrinya dengan pelan, takut membangunkannya. Membuka jilbab yang menutup mahkota istrinya, meletakkan jilbab itu diatas nakas, lalu membaringkan dirinya disisi sang istri.


Dia juga lelah dan mengantuk sekali rasanya, ingin segera memejamkan mata dan beristirahat malam ini. Tetapi gerakan sang istri membuat ia membuka kembali matanya.


"Kenapa bangun sayang?" menghadap wajah sang istri yang sudah membuka matanya.


"Aku tidak tidur, hehehe. Aku cuma pura-pura tidur supaya kamu menggendongku samapai kamar," berucap tanpa dosa dan beban sedikit pun.


Al tak percaya, dia sudah di kerjai istrinya ke dua kalinya malam ini. Ingin marah tapi ia tahan, lagi-lagi takut sang istri merajuk.


"Kamu tega sekali sama aku sayang, sebagai balasannya kamu harus layani aku malam ini," entah sejak kapan, tubuhnya sudah berada diatas tubuh sang istri.


"Boleh tidak masalah, aku juga menginginkannya,"


Merasa heran dengan perkataan sang istri, sejak kapan dia tanpa malu mengatakan seperti itu. Dia tidak tahu saja, hormon wanita hamil. Ada yang selalu ingin melakukan kegiatan olah raga ranjang, dan ada yang sebaliknya.


"Sejak hamil kamu jadi aneh sayang, biasanya banyak alasan jika aku minta yang ini," heran dengan sikap istrinya, dia mengutarakan isi hatinya.


"Enggak tau kenapa sayang, aku memang ingin melakukan itu, apa tidak masalah dengan anak kita jika kita melakukan seperti itu?" pertanyaam yang belum terfikirkan oleh Al.


Dia turun dari atas tubuh istrinya, mencari ponsel pintarnya.


"Kok gak jadi?" Icha bertanya, karena Al justru turun dari ranjang.


"Kita cari tahu dulu, boleh tidak melakukan olah raga ranjang disaat kamu hamil," Al memang harus mencari tahu itu, dia takut terjadi sesuatu dengan istri dan anaknya.


Setelah menemukan ponselnya, dia kembali menaiki ranjang, duduk disisi istrinya yang juga sudah duduk. Membuka browser mengetik sesuatu yang ingin dia ketahui.


Keduanya membaca dengan saksama yang tertera disana, setelah membaca senyum di bibir mereka terukir.


Al meletakkan ponselnya diatas nakas, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Hingga tak ada jarak diatara keduanya. Mereka melakukan kegiatan malam, hingga melupakan rasa lelah yang menyerang.


Bersambung....


Jangan lupa like dan komen, maaf jika banyak typo😇