
Tengah malam yang sepi, hanya terdengar suara dentingan jam dari detik berganti ke detik berikutnya. Suara serangga malam pun hampir tak terdengar. Susana begitu sunyi dengan hawa yang dingin menyelimuti.
Icha terbangun dari tidur nyenyaknya, dia melihat jam dinding, ternyata baru puku dua dini hari. Dia melihat suaminya yang masih memejamkan mata dengan damainya sambil meneluk erat dirinya. Tak tega rasanya jika harus membangunkan suaminya dari tidur nyenyaknya. Tetapi perut yang terasa lapar membuat dia terpaksa membangunkan Al.
"Sayang bangun, aku lapar." Icha menggoyangkan lengan Al dengan lembut, mengulangi sampai tiga kali baru Al mulai membuka matanya.
Al menyipitkan matanya, menyesuaikan sinar terang yang menerjang penglihatannya, "Jam berapa sayang?" tanyanya dengan suara parau khas orang bangun tidur.
"Jam dua, tapi aku laper banget. Aku mau makan," jawab Icha dengan manja.
Al membuka lebar matanya, dia terkejut mendengar ucapan Icha, "Tumben banget jam segini lapar? Tunggu sampai subuh ya sayang, sebentar lagi kan subuh," ucap Al, dia menolak permintaan Icha dengan halus.
"Aku maunya sekarang, ayo bangun temani aku makan," ucap Icha, dia tetap kukuh ingin makan saat ini juga.
"Apa gak sebaiknya nanti saja, tahan lah sebantar, aku masih ngantuk banget sayang, ini terlalu pagi untuk bangun," Al juga tak mau mengalah, rasanya malas sekali jika harus bangun dini hari hanya untuk makan.
Bukannya menurut seperti biasanya, Icha justru membua selimutnya dengan kasar dan turun dari ranjang, "Kalau kamu nggak mau, bilang aja gak mau temenin, gak usah banyak alasan. Aku bisa sendiri," ucapnya, lalu dia keluar dari kamar.
Al terkejut menddngar ucapan Icha seperti itu, tidak biasanya istrinya bersikap seperti itu, dia seperti bukan Icha isrtrinya. Al pun menyusul Icha keluar kamar, dia tidak tega melihat istrinya sendirian.
Dia masuk kedapur mendapati Icha sedang membuat sesuatu, sepertinya gadis yang sudah menjadi wanita itu ingin membuat mie instan dengan toping bakso, sosis, sayur dan telur, tak lupa beberapa cabe rawit hijau. Terlihat dari benda-benda yang dipotongnya.
Al mendekati istrinya, memeluknya dari belakang, lalu meletakkan kepalanya di ceruk leher Icha.
"Sayang maafin aku ya, aku kira kamu tadi gak serius, aku minta maaf banget." Al mengecup leher dan pundak Icha yang terbuka, karena dia tak mengenakan hijabnya.
Icha diam, dia tak berniat menimpali ucapan maaf Al, karena dia masih sedikit kesal dengan suaminya.
"Sayang, kok diem aja? Masih marah? Aku minta maaf ya, maaf banget," Al memohon dengan suara lembut, "sebagai permhonan maaf, biar aku yang buatkan mie nya yah," ucap Al memberi penawaran.
Icha tersenyum, karena sejak tadi itu yang dia harapkan, lalu dia berbalik menghadap suaminya. Menangkap wajah Al dengan kedua telapak tangannya, lalu dia mengecup sekilas bibir Al.
"Makasih sayang, aku tunggu di kursi ya," ucap Icha lalu dia duduk di kursi yang ada sana.
Al tersenyum melihat tingkah istrinya apalagi dia sudah tidak marah lagi. Lalu dia memulai memasak mie rebus yang tadi akan Icha masak.
Tak butuh waktu lama, mie pun sudah jadi. Al menaruh mie kedalam mangkok yang sudah dia sediakan lalu membawanya kehadalan istrinya.
"Makasih ya sayang, kamu mau masakin aku," ucap Icha setelah Al meletakkan mangkok di hadapannya.
"Iya sama-sama sayang." Ucap Al dengan mengacak rambut istrinya. Lalu dia duduk di sisi Icha.
Icha mulai melahap mie buatan Al, dia seperti tak merasakan panasnya mie yang baru saja matang itu.
"Sayang, pelan-pelan dong makannya, gak usah buru-buru, aku siap temanin kamu sampai selesai," tutur Al dengan lembut.
"Habisnya ini enak banget, " jawab Icha tidak jelas karena mulutnya penuh dengan makanan. "Kamu mau?" tambahnya.
Al mengambil sendok yang ada dihadapannya, dia menyendok mie itu dan mencicipi rasanya. Rasanya sama saja seperti mie instan pada umumnya, Al berfikir mungkin karena Icha terlalu lapar.
"Biasa aja rasanya sayang, seperti mie rebus biasa," ucap Al.
"Kamu makan aja, aku gak lapar," tambah Al
"Ini enak sekali, ada bumbu cintanya karena kamu yang buat," Icha tersenyum.
Al membalas senyuman itu, dia bahagia sekali melihat Icha menggombalinya. Lalu dia melangkah mengambil air putih untuk Icha.
"Ini sudah jadi kewajibanku, jadi tidak usah sungkan, aku senang melakukan ini untuk istri tercintaku," jawab Al tersenyum, dia mengelus rambut panjang Icha.
"Habiskan mie nya, terus kita tidur lagi ya," tambahnya.
"Iya sayang,"
Icha menghabiskan mie itu tak butuh waktu lama, setelah habis dia menegak minumnya sampi habis pula. Saat akan meletakkan mangkok dan gelas kosong ke wastafel, tangannya lebih dulu di cegah oleh Al.
"Gak usah dicuci, biarkan saja disini, besok biar di cuci sama Bibik," ucap Al.
Icha tersenyum, lalu dia mengangguk.
Al memeluk pinggang istrinya keluar dari dapur menuju kamar mereka. Keduanya naik keatas ranjang dan kembali tidur, karena waktu masih pagi sekali. dan semua orang belum ada yang terbangun.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Pagi hari setelah sholat subuh, Icha terlihat tak seperti biasanya, wajahnya pucat dan Al menyadari itu.
"Kamu kenapa sayang? Kamu sakit? Wajahmu pucat sekali," tanya Al, dia menempelkan punggung tangannya di dahi Icha.
"Aku gak sakit, cuma sedikit mual aja, tadi aku sempet muntah saat mau wudhu, ini juga rasanya mau muntah," jawab Icha, dia menutup mulutnya dengan tangan, lalu berlari kearah kamar mandi. Al mengikuti Icha dari belakang.
huek huek huek
Al memijit-mijit tengkuk Icha, "Keluarkan semua biar lebih enak sayang," ucapnya.
Icha membasuh wajahnya setelah dirasa sudah tidak mau muntah lagi.
"Aku lemes banget rasanya, aku gak kuat sayang," ucap Icha.
Dengan sigap Al membopong tubuh Icha, dan membaringkan diatas ranjang.
"Biar aku telfon Dokter Hanny ya," ucap Al, dia khawatir sekali dengan keadaan Icha.
Icha menggeleng, "gak usah sayang, ini cuma masuk angin biasa. Tolong minta Bibik untuk buatkan minuman jahe hangat aja," ucap Icha.
"Baiklah, aku akan menyuruh Bibik membuatkan jahe panas untukmu, tapi jika tak kunjung sembuh, harus mau diperiksa ke dokter ya,"
"Iya sayang,"
Al turun kebawah, dia mencari pembantunya dan menyuruhnya untuk membuatkan jahe hangat untuk Icha. Setelah itu dia kembali ke kamar.
Al menyusul Icha naik keatas ranjang, dia memeluk erat istrinya.
"Tidur lagi aja sayang, ini juga hari minggu. Di luar juga hujan, mau joging juga gak mungkin. Apa lagi kamu sakit gini," tutur Al.
"Iya sayang, nanti aku tidur lagi kalau jahenya sudah ku minum," timpal Icha.
"Baiklah, biar aku peluk supaya lebih hangat," ucap Al, padahal sejak tadi dia sudah mendekap tubuh istrinya.
Bersambung.....
Jangan lupa like dan komennya yah.