Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
Extra Part 11


"Kartu kredit, kunci motor, oh iya lupa kunci gerbang samping juga bawa sini," Icha menyita semua yang ia sebutkan tadi dari putrinya.


Setelah membaca surat peringatan dari sekolah, Icha pusing sendiri dengan kelakuan anak gadisnya itu. Sifat urakannya itu menurun siapa? Suaminya? Tidak, Al suaminya tidak urakan seperti itu, apalagi dirinya. Lalu Alisha menuruni siapa? Icha pusing sendiri memikirkan hal itu


"Satu lagi, uang jajan Mama potong lima puluh persen," ucap Icha sebelum meninggalkan kamar anaknya, karena sudah mendapatkan apa yang dia mau.


Alisha mengejar sang Mama, "Ma, kok banyak banget lima puluh persen, kartu kreditku juga di sita, kurangi ya Ma, dua puluh persen aja ya," Alisha memelas sambil memegangi tangan sang Mama, ia merengek seperti anak TK.


"Oke," Alisha langsung melompat kegirangan setelah mendengar jawaban Mamanya.


"Tapi kami harus sekolah di Kalimantan dengan Kakekmu," ucap Icha lalu meninggalkan Alisha yang masih terbengong.


Alisha kembali mengejar Mamanya yang sudah berada di pertengahan tangga, "Yaudah deh lima puluh persen enggak apa-apa, tapi seminggu aja ya Ma," masih merengek sambil mensejajarkan langkahnya dengan sang Mama.


Icha menoleh menatap tajam putrinya, "Mau nurut sama Mama atau mau Mama laporin Papa kamu? Biar di tambah hukumannya," ucap Icha telak.


Alisha terdiam, ia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi jika di ancam seperti itu. Karena jika sang Papa mengetahui kesalahannya sudah di pastikan Alisha akan di hukum melebihi hukuman dari sang Mama. Bahkan sekolah pun akan di antar jemput oleh Papanya, sungguh tidak memiliki kebebasan sedikitpun.


"Yaudah deh, terserah Mama, tapi jangan bilang sama Papa ya," ucapnya, lalu ia berbalik arah menuju kamar.


*****


"Sudah Bang, urusan kerjaan biar Papa yang mikir, kamu belajar aja, Papamu itu masih muda, belum memerlukan bantuan mu." Icha meletakkan segelas susu hangat di meja, lalu duduk di sisi Aufa putranya yang masih sibuk dengan laptopnya, entah mengerjakan apa.


Aufa mendongak, lalu ia tersenyum ke arah sang Mama, "Aku lagi buat tugas kok Ma. Untuk pekerjaan, emang aku yang mau sendiri bukan Papa yang minta, itung-itung belajar kan," ucapnya, lalu meraih susu yang tadi Icha buatkan.


"Makasih ya Ma," ucapnya setelah menghabiskan setengah gelas susu tersebut.


Icha tersenyum kalau mengangguk.


"Yaudah Mama mau lihat adikmu dulu, dia sudah tidur atau belum, kamu istirahat ya, jaga kesehatan sebentar lagi ujian," Icha menepuk pundak sang putra lalu keluar dari kamar putra sulungnya itu.


Sungguh berbeda sekali sikap sifat anak kembarnya itu. Yang cowok terlihat kalem dan tidak banyak tingkah, dia selalu bisa membanggakan ke dua orang tuanya dengan prestasi yang di miliki. Sedangkan yang cewek justru selalu membuat pusing kepala, apalagi kalau sudah buat ulah. Bahkan tidak naik kelas karena kenakalannya, soal kecerdasan mereka berdua hampir sama, jika Alisha menggunakan kecerdasannya untuk kabur-kaburan, berbeda dengan Aufa, dia menggunakan kecerdasannya untuk hal-hal yang positif.


Belum lima menit Icha keluar dari kamar anak sulungnya, sudah terdengar teriakan Icha yang membuat Aufa terkejut.


"Fa! Adik kamu kabur!" teriak Icha dari kamar sebelah.


Aufa menyusul sang Mama bersmaan dengan Arsyad yang keluar dari kamarnya.


"Kenapa Ma?" tanya Aufa panik.


"Lihat! Alisha keluar lewat balkon, dia pake tali ini untuk turun, padahal Mama udah sita kunci gerbang samping, pasti dia manjat pager, " ucap Icha lemas, sambil memijit pelipisnya, "Kejar Bang, siapa tahu dia masih di sekitar sini, anak gadis malam-malam begini mau kemana?" Icha frustasi menghadapi putrinya itu.


"Iya Ma," Aufa keluar dari kamar Alisha.


"Ikut Bang," Arsyad mengejar sang Abang yang akan menuruni anak tangga.


Aufa menelusuri jalanan yang mungkin di lewati kembarannya itu, tapi mustahil kalau jalan kaki dia akan sampai sejauh ini, pasti masih ada di sekitar komplek pikir Aufa.


Dia kembali putar arah menuju komplek rumahnya. Berhenti di pos satpam, ia ingin bertanya pada petugas keamanan kompleknya.


"Maaf Pak Danu, apa bapak lihat adik saya lewat sini?" tanyanya pada satpam yang sudah ia hafal namanya.


"Maaf Mas, saya baru aja datang, bentar tanya si Toto dia yang jaga dari tadi, tapi tunggu dulu dia lagi pesen kopi," Aufa mengangguk, ia pun menunggu satpam yang di maksud oleh Pak Danu.


Tak lama satpam itu pun datang, dengan kantong kresek di tangannya.


"To, kamu liat Neng Alisha lewat apa enggak tadi?" Pak Danu langsung bertanya, sebelum satpam itu turun dari motornya.


Yang di tanya tampak berfikir, "Iya tadi samar-sama saya liat Neng Alisha, sama cowok yang sering jemput dia, tapi saya enggak yakin itu Neng Akidah, soalnya dia pake jaket warna item, sama topi hitam juga," jelas satpam itu.


Aufa berfikir, dia hafal sekali jika kembarannya memiliki jaket hitam dan topi seperti itu dan dia bisa menebak sekarang di mana saudara kembarnya. "Terimakasih Pak, kalau gitu saya permisi," Aufa berpamitan ia akan menyusul saudaranya itu.


Aufa mengendarai motornya dengan kecepatan penuh, ia harus segera sampai di arena balapan yang biasa di datangi oleh adiknya. Ia akan mencegah Alisha supaya tidak balapan lagi. Tiga puluh menit berlalu, Aufa pun sampai di tempat tersebut, ia memarkirkan motornya, lalu bergegas masuk ke area balapan tersebut. Nampak ramai, terdengar banyak orang menyoraki nama adiknya itu. Benar saja, sang adik tercinta sudah bersiap di garis start, sepertinya masih menunggu seseorang, karena balapan belum di mulai.


Aufa bergegas masuk dalam arena, ia berdiri tepat di hadapan kembarannya itu, menatap tajam kembarannya yang selalu bikin ulah.


"Turun!" teriak Aufa tak menghiraukan teriakan panitia supaya di menyingkir.


Alisha tak bergeming, ia tidak menuruti perintah Kakaknya.


"Turun atau gue seret!" teriak Aufa lagi.


Alisha terlihat berdecak dalam helm full face nya. Ia pun turun dari motor, entah itu motor siapa karena Aufa tidak tahu. Setelah Alisha turun, dengan segera Aufa menarik tangan adiknya keluar dari arena balapan. Terdengar riuh penonton yang menyuraki perbuatan Aufa. Tapi dia tak memperdulikannya, yang penting sekarang mengajak Alisha pulang.


"Lepas Bang, gue mau balapan," Alisha menghempas tangan saudara kembarnya, tapi gagal karena tenaga Aufa lebih kuat.


"Lo itu lagi di hukum Dek, bisa-bisanya kabur dan malah balapan," omel Aufa pada sang adik.


Alisha hanya memutar bola matanya malas, "Gue harus balik Bang, gue janji ini yang terahir," ucapnya.


"Janji mulu, enggak pernah di tepatin," timpal Aufa masih menyeret sang adik yang terus berontak, "Oke, sana balik, biar Papa nyaksiin anaknya balapan secara live," melepas pergelangan tangan Alisha. Lalu meraih ponselnya segera menghubungi sang Papa. Tapi sebelum itu Alisha sudah mencegahnya.


"Oke gue balik sama Lo Bang,"


Aufa bernafas lega, karena sang adik mau mengikuti permintaannya.


Ancaman itu memang sangat ampuh, buktinya Alisha menurut. Papa Al memang jarang di rumah, dia sering bolak balik luar negeri mengurus perusahaannya. Kadang sampai sebulan di luar negeri, dan itu membuat Alisha memanfaatkan keadaan.


......


Lanjut lagi gak nih??