Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 47


Pagi harinya, Al terbangun lebih dulu. Dia meleoaskan tangan Icha yang melingkar di tubuhnya dengan amat pelan, takut membangunkan Icha. Biarkan Icha tidur dulu, karena dia masih belum bisa sholat hari ini, pikinya.


Setelah lepas dari dekapan Icha, Al mengganti dirinya dengan bantal guling supaya Icha mengira kalau masih memeluknya. Al tersenyum saat memikirkan bagaimana ekspresi Icha nanti saat bangun. Tapi pikirannya salah, saat diganti dengan bantal justru Icha malah terbangun.


"Sayang udah pagi ya?" gumam Icha matanya sedikit terbuka.


"Iya, ini sudah subuh, aku mau sholat dulu, kamu lanjut tidur lagi aja," tutur Al, lalu dia turun dari ranjang.


Icha membuka selimutnya dengan malas. Karena pagi ini terasa dingin tak seperti biasanya.


"Sayang, kok bangun? Mau kemana?" tanya Al heran, dia menyuruh Icha tidur lagi justru Icha malah bangun.


"Aku mau buang air sebentar," jawab Icha lalu dia beranjak menuju kamar mandi.


Setelah Icha keluar, kini gantian Al yang ke kamar mandi, dia akan wudhu dan melaksanakan sholat subuh.


Ternyata Icha benar kembali tidur, karena naluri wanita yang sedang datang bulan pasti inginnya tetap di kasur dan malas ngapa-ngapain.


Pukul 05.30, Icha terbangun, dia melihat Al sedang sibuk berkutat dengan laptopnya. Setelah sholat subuh tadi, Al langsung membuka laptop karena pekerjaannya di kantor kemarin belum beres, sebenarnya dia mau menyelesaikan pekerjaannya tadi malam, akan tetapi kejadian kemarin membuatnya mengurungkan niat.


"Sayang, kamu sudah mandi?" tanya Icha dengan suara parauh bangun tidur.


"Iya sudah, sekarang kamu mandi, terus kita berangkat kesekolah," titah Al.


Icha pun bergegas ke kamar mandi untuk mandi di pagi hari yang terasa dingin ini.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


Keduanya berangkat kesekolah, mereka bukannya menuju kelas justru menuju ruang kepala sekolah. Al akan melaporkan kejadian kemarin kepada kepala sekolah, dia akan cari tahu siapa pelaku yang telah mengunci Icha didalam gudang.


Tok


Tok


Tok


Al mengetuk pintu ruang kepala sekolah, setelah dipersilahkan dia dan Icha pun masuk.


Mereka mengutarakan niatnya, Al menceritakan kejadian kemarin, sedangkan Icha hanya diam, dia masih trauma akan kejadian yang menimpanya.


Kepala sekolah pun merespon, beliau akan mencari tahu dalang dari semua kejadian kemarin. Dari Icha terkunci di gudang sampai siapa yang mengirim pesan ke Al memakai ponsel Icha. Keduanya disuruh menunggu hasil penyelidikan dari pihak sekolah.


Setelah melapor ke kepala sekolah, Al mengantar Icha masuk kedalam kelasnya, dia tidak mau terjadi sesuatu dengan Icha. Setelah sampai di depan kelas, Icha disambut riang oleh Nayla, dia menuntun Icha masuk kedalam kelas.


"Cha, kok bisa kejadian kemarin itu terjadi?" tanya Nayla tidak sabaran, padahal Al suaminya saja belum berani menanyakan hal itu.


"Entah lah Nay, aku masih trauma," ucap Icha sendu.


"Kamu sudah lapor ke pihak sekolah?"


Icha mengangguk, "Sudah, bahkan adik kelas yang menyuruhku ke gudang juga sudah ku laporkan, entah dia salah apa tidak, kuncinya kan dia Nay," jelas Icha.


"Benar juga Cha, dia pasti mengetahui sesuatu,"


Icha hanya mengangguk sebagai jawaban, karena bel masuk sudah berbunyi.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


Bel istirahat pun berbunyi, Al sudah berada didepan kelas Icha sebelum semua anak kelas Icha keluar, karena jam sebelum istirahan di kelas Al kosong. Tadi dia juga di beritahu kalau istirahat ini disuruh ke ruang kepala sekolah bersama dengan Icha.


Kasus Icha ditangani langsung oleh kepala sekolah, karena ini sudah kelewat batas, sudah tidak pantas dilakukan oleh seorang sisiwa, kejadian Icha termasuk kejadian kriminal.


"Sayang, ayo kita dipanggil ke ruang kepala sekolah, mungkin pelakunya sudah ditemukan," ucap Al setelah Icha keluar dari kelasnya.


Mereka pun menuju ruang kepala sekolah, benar saja di dalam ruang kepala sekolah sudah ada empat orang siswi yang duduk disana. Ketiga siswa itu satu angkatan dengan Al, sedangkan yang satunya adik kelas mereka. Al paham siapa mereka semua, dia geram kenapa mereka bisa melakukan itu pada Icha. Tapi Al menahan emosinya, dia tahu dimana sekarang.


"Kalian berdua silahkan duduk," kepala sekolah mempersilahkan mereka berdua untuk duduk.


Di dalam sana selain kepala sekolah juga ada guru BK sekolah itu.


"Kita tunggu orang tua mereka, sebentar lagi pasti datang," tambahnya lagi.


Benar saja, orang tua keempat siswa itu datang hampir bersamaan. Setelah dipersilahkan duduk, mereka pun duduk di sofa yang disediakan didalam ruangan kepala sekolah.


"Begini Pak, Buk, kami memanggil anda semua kamari karena anak-anak anda melakukan sebuah kesalahan yang fatal, bahkan kami bisa saja mengeluarkan mereka dari sekolah ini," tutur kepala sekolah.


Para orang tua itu terkejut, mereka melihat anak-anak mereka yang menunduk, merasa bersalah sepertinya.


"Sekarang siapa yang akan menjelaskan kesalahan kalian apa? Ayo jelaskan!" seru kepala sekolah pada keempat siswanya.


Mereka hanya diam, tak satupun mau membuka suara.


"Oke karena kalian diam saya yang menentukan. Anggun ceritakan secara detail kejadian kemarin, dan kenapa kalian melakukan hal itu!" seru kepala sekolah.


Yang bernama Anggun mengangkat wajahnya, "Maaf Pak, kami khilaf melakukan itu, kami salah kami berjanji tidak akan melakukannya," bukannya menceritakan Anggun malah meminta maaf.


Al geram, dia akan bersuara tapi dicegah oleh Icha.


"Saya suruh kamu menceritakan kejadian kemarin pada orang tua kalian, dan kenapa bisa melakukan itu?"


"Maaf Pak, kami memang merencanakan ini sejak beberapa hari lalu, ....


Flashback On


Tiga orang siswi sudah keluar kelas lebih dulu, mereka berjanjian di depan kelas adik kelas yang juga ada ditempat itu. Mereka tahu jika kelas Al masih sibuk dengan tugas yang diberikan oleh guru, dan itu yang ditunggu-tunggu oleh mereka.


"Sekarang gue ke gudang belakang sama Nita, kalian berdua mengawasi kelas Icha, sesuai kesepakatan kita tadi," ucap Anggun pada ketiga temannya.


Mereka bertiga mengangguki ucapan Anggun.


Anggun dan siswi bernama Nita menuju gudang belakang sekolah, dia memastikan kalau tidak ada orang lain disana.


Sedangkan yang dua lagi menuju kekelas Icha, dia lebih dulu menyuruh adik kelas mereka untuk memberitahu Icha, kalau disuruh ke gudang oleh salah satu guru. Itu sudah mereka rencanakan.


Setelah memastikan Icha kelaur dari kelasnya, dan semua anak kelas IPA1 sudah kelaur kedua siswa itu masuk kedalam kelaa Icha, dia membuka tas Icha dan mencari sesuatu yang mereka cari, dan sesuai rencana Icha juga meninggalkan ponselnya didalam tas.


Mereka lantas mengirim pesan pada Al, setelag itu menonaktifkan ponsel Icha. Lalu mereka keluar dari kelas Icha, dan menemui kedua temannya.


Sedangkan Anggun dan Nita, saat tahu ada seseorang datang kearah gudang, mereka langsung bersembunyi, saat tahu itu Icha mereka langsung tersenyum, rencananya berhasil.


Saat Icha memasuki gudang, merka langsung menutup pintu gudang dan menguncinya, melempar kunci itu keatas atap gudang dan pergi meninggalkan Icha yang histeris minta tolong. Karena gudang berada di belakang sekolah jadi tidak ada yang mendengar teriakan Icha.


"Gimana berhasil?" tanya salah satu dari mereka.


"Berhasil dong, Anggun gitu," Anggun mengucapkan itu dengan bangga.


Gue gak peduli, dikeluarin dari sekolah asal perusahaan Papa tetep aman. Batin Anggun.


Mereka berempat pun pulang kerumah masing-masing.


Flashback Off


.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa like dan komennyaa.


Maaf kalau kejadiannya tidak sesuai perkiraan kalian.


Siapa Anggun, nanti kalian akan tahu🤭