
Al mondar-mandir di depan ruang operasi, bukan hanya dirinya, Papanya pun sama. Menunggu sang Mama yang harus di operasi hari ini juga, karena keadaannya yang semakin memburuk, kanker yang menyerang tubuhnya sudah menjalar keseluruh tubuh. Dan di haruskan melakukan operasi hari ini juga.
Terlihat dua orang wanita yaitu ibu dan anak, duduk sambil berpelukan di depan ruang operasi, mereka saling menguatkan satu sama lain. Mereka tak lain Icha dan Mamanya.
Beberapa jam yang lalu sebelum mereka sampai disini. Icha yang saat itu khawatir karena banyak panggilan di ponselnya, dia pun menghubungi Mamanya. Sang Mama memberi kabar jika keadaan mertuanya kritis, dia tak mendengar lagi ucapan Mamanya di telfon setelah, karena pikirannya tertuju pada sang suami.
Setelah menemukan suaminya, Icha memberikan ponselnya pada Al, dia tak sanggup jika menjelaskan sendiri saat itu.
"Kenapa sayang? Kamu kok panik gitu?" tanya Al, dia melihat raut panik di wajah sang istri.
Bukannya menjawab, Icha justru memberikan ponselnya pada Al.
Al menerima ponsel itu, "Hallo Ma, ada apa?" tanya Al pada seseorang yang di seberang sana.
Mama mertuanya menjelaskan jika Mama Al mau bertemu dengan dia sebelum di operasi. Dan operasinya harus di laksanakan hari ini juga. Al terkejut mendengar kabar tersebut. Tapi tetap masih mendengarkan arahan Mama mertuanya. Kalau mereka disuruh langsung ke bandara, karena semua keperluan sudah disiapkan oleh Mama mertuanya.
"Cha, kita kebandara sekarang juga, Mama dan Papa sudah menunggu disana," ucap Al, dia mengembalikan ponsel Icha, lalu menggandeng tangan istrinya.
Mereka sampai lupa berpamitan dengan teman-teman mereka, karena saking paniknya.
Al mengendarai mobilnya dengan perasaan kacau, tapi dia masih sadar jika ada sang istri yang sedang mengandung di sampingnya. Dia pun mengendarai mobil tetap dalam kecepatan wajar.
Mereka sampai di bandara, sudah ada Mama dan Papa Icha yang menunggu, juga ada seorang sopir yang mengantarkan pakaian Al dan Icha dia juga yang akan membawa mobil Al pulang.
Menaiki pesawat menuju ke Singapura, selama perjalanan pikiran Al terlihat kacau Icha dengan setia memeluk suaminya, berharap sang suami bisa tenang, sebenarnya dia juga khawatir, pikirannya pun sama kacaunya, tetapi Icha percaya Al lebih kacau dari pada dia.
Setelah sampai di rumah sakit, mereka langsung menghampiri kamar rawat sang Mama. Dengan masih memakai seragam SMA, bahkan mereka sampai lupa jika masih menggunakan seragam.
Al berhambur memeluk sang Mama yang terlihat pucat di wajahnya, banyak alat yang terpasang di tubuhnya.
"Ma, Mama yang kuat ya, Mama pasti bisa melewati ini semua. Mama harus sembuh," ucapnya dengan berlinang air mata.
Sang Mama masih sanggup mengelus-elus punggung putra semata wayangnya itu, dia tersenyum, Al tak bisa melihat senyum di wajah Mamanya, Icha yang kala itu berada disana yang bisa melihat senyum di bibir Mama mertunya.
Icha mendekat, dia berdiri di sisi Al, dia pun ikut memeluk Mama mertunya.
"Kalian berdua, jaga baik-baik cucu Mama ya." Berusahan tidak mengeluarkan air mata, "Kalian harus tetap seperti ini, saling menggenggam satu sama lain, jangan pernah berfikir untuk berpisah, karena Mama pasti akan sedih jika melihat itu. Mama akan selalu ada di sisi kalian, menjaga dan mendoakan kalian," air matanya tumpah juga.
"Pesan Mama, jaga dan sayangi istri dan anakmu ya Al, kebahagiaanmu ada pada mereka. Titip Papa, jaga dan rawat Papa dengan baik, karena Mama sudah tidak bisa merawat Papa lagi,"
Air mata membajiri mereka, Al semakin mempererat dekapannya, "Mama jangan bicara seperti itu, Mama pasti akan sembuh. Mama harus sembuh Ma," ucapnya dengan isak tangis.
"Icha yakin Mama pasti sembuh, Mama jangan ngomong gitu," sama hal dengan Al, Icha pun berbicara dengan leleran air mata.
"Cha, jaga dan sayangi Al ya. Karena kamu kebahagiaannya, tetaplah berada disisinya dalam keadaan apapun," ucapan sang Mama mertua membuat Icha semakin terisak.
Tak lama pintu terbuka, masuklah seorang perawat yang mengatakan kalau mereka berdua harus keluar karena sebentar lagi operasi akan di lakukan.
Dengan terpaksa keduanya pun keluar. Menyalami sang Mama, mencium pipinya. Sang Mama pun sama, menciumi Al seperti anak bayi saja, karena dia berfikir ini terakhir kalinya dia bisa mencium sang anak.
Saat akan keluar ruangan, Al menoleh kearah sang Mama, dia mengahmpiri Mamanya dan memeluk erat tubuh sang Mama. Dengan tangis yang semakin bertambah.
"Sudah sayang, Mama baik-baik saja, kamu jangan seperti ini ya, doakan yang terbaik buat Mama," ucap sang Mama, dia tidak mau anaknya terpuruk.
Al melepas pelukannya karena suster kembali memperingati. Dia pun melangkah keluar bersama dengan sang istri yang terus menggenggan tangannya.
Icha semakin bersedih mengingat kejadian tadi saat disekolah sampai sebelum Mama meruanya masuk ke ruang operasi, dia makin erat mendekap sang Mama. Melihat kearah sang suami yang masih saja mondar-mandir tak jelas. Ingin sekali memeluk dan menenagkan sang suami, tapi tubuhnya sangat lemah, karena dia beberapa kali keluar masuk kamar mandi. Perutnya mual dan harus mengeluarkan semua isinya.
"Kamu pulang saja yang sayang," tutur sang Mama, entah sudah berapa kali Mamanya berbicara seperti itu. Tapi jawabannya tetap sama Icha menolaknya.
"Enggak Ma, aku mau disini nemenin Al," selalu jawaban itu yang Icha berikan.
Mamanya menyerah, dia terus mendekap sang putri. Hingga tanpa sadar sang putri ternyata sudah tak sadarkan diri.
"Sayang," merasa tak ada gerakan dari putrinya dia pun panik. "Pa, Icha pingsan," ucapnya pada sang suami yang duduk di sebelahnya.
Al mendengar itu, dia mendekat kearah Icha kepanikannya bertambah. "Ma, Icha kenapa?" khawatie terjadi sesuatu pada istrinya.
"Al, kamu disini saja dengan Papa mu, biar kami yang membawa Icha ke IGD. Sepertinya dia kelelahan. Kamu jangan kahatir ya, ada Mama sama Papa yang menajga Icha," tutur Bayu, dia tak mau menantunya itu bertambah ke khawatirannya.
"Tapi Pa ...."
"Sudah, kamu tunggu Mama kamu saja ya, Icha jadi urusan kami," tutur Mama mertuanya.
"Baiklah, Ma. Tolong jaga istriku ya Ma," ucapnya.
Icha di bawa ke IGD oleh Papanya. Sang Papa menggendong putrinya itu dengan hati-hati. Membaringkan tubuh sang putri diatas brangkar IGD. Lalu dia menjelaskan keadaan putrinya yang tengah mengandung.
Dokter pun mengamgguk, dia mulai memeriksa keadaan Icha. "Dia perlu istirahat dan perawatan selama beberapa hari, darahnya pun rendah sekali. Tapi anda tidak perlu khawatir, dengan dia istirahat dan di rawat inap disini, dia akan kembali pulih seperti sediakala," tutur sang dokter,
Bersambung.....