
Tak lama mereka pun sampai tempat tujuan, terlihat dua mobil yang mereka kenal sudah terparkir di depan vila. Al memarkirkan mobilnya bersebelahan dengan mobil Irfan, dia membuka pintu untuk keluar dari mobil diikuti oleh Icha dan Nayla.
Al mengambil tas ranselnya yang berada di jok belakang, dia mengernyitkan dahinya, kenapa bisa lupa mereka cuman membawa satu tas ransel, yang isinya pakainya dengan Icha.
"Sayang," pagil Al, dia masih berada di dalam mobil.
"Iya," Icha menyauti, lalu dia masuk kedalam mobil mendekat pada Al, "ada apa sayang?" tanyanya.
"Kamu lupa ya, kenapa bisa kita cuma bawa satu tas aja? Apa yang lain gak akan curiga kalau seperti ini," tutur Al.
Icha menepuk jidatnya, dia benar-benar lupa, "Aduh terus gimana dong sayang?" Icha balik bertanya.
"Yah terpaksa, kita bawa satu tas masuk, mau gimana lagi? Gak mungkin, kan kita beli tas dulu, udah nyampe juga," mau tak mau mereka harus membawa satu tas itu, entah apa nanti yang akan mereka jawab saat mereka berdua hanya bawa satu tas saja dan ada yang menanyakan itu.
"Kenapa kalian malah ribut sih?" protes Nayla, dia sudah menunggu Al dan Icha, keduanya justru ribut di dalam mobil.
"Ah, aku punya ide," Icha tersenyum ceria, "Nay, ranselmu bawa sini ya," titahnya pada Nayla. Dia malah tak menggubris ucapan Nayla.
Nayla mendekat, "Ada apa?" tanyanya.
"Ranselmu masih muat buat baju-bajuku enggak?" tanya Icha saat Nayla sudah mendekat, "Aku sama Al cuma bawa satu ransel aja, lupa Nay," jelas Icha.
"Masih cukuplah buat dua setela pakaian, mana aku masukin, sisanya bisa masukin tas kamu aja Cha," saran Nayla, karena Icha memakai tas punggung kecil diisi ponsel dan dompet tentunya.
Nayla mengeluarkan beberapa cemilan yang sengaja dia masukkan kedalam ranselnya, mengganti dengan pakaian Icha.
"Ck, bawa kaya gini segala dari rumah, kaya gak bisa beli di jalan aja," protes Icha, saat tahu isi tas Nayla yang d penuhi oleh cemilan.
Nayla menyengir, "Biar gak ribet mampir-mampir," jawabnya, tangannya masih sibuk mengeluarkan beberapa bungkus cemilan, "Ntar cemilanku bawanya gimana dong?" baru sadar jika dia akan kesusahan membawa beberapa bungkus cemilan.
"Gampang, aku tadi beli cemilan juga, bisa kita gabung," jawab Icha, dia memilih-milih baju di dalam ransel, mencari kepunyaannya.
Dirasa sudah masuk semua pakaian Icha, mereka pun memasukkan cemilan Nayla kedalam kantong plastik yang isinya beberapa cemilan yang Icha beli tadi. Setelah itu mereka masuk kedalam villa yang cukup megah tersebut. Villa bertingkat tiga, dengan dikelilingi pepohonan disekitarnya, sejuk dan masih asri karena daerah pegunungan.
Mereka masuk kedalam ruang utama, terlihat semua sudah berkumpul disana. Ikut duduk bersama yang lainnya, mengistirahatkan sejenak tubuhnya.
"Disini ada sekitar sepuluh kamar, kalian boleh mau sekamar sendiri apa berdua terserah. Kamarnya ada di lantai satu dan dua, sedangkan di lantai tiga khusus buat keluarga, jadi kita akan tempati dua lantai," jelas Doni.
"Kamar gue ada di lantai dua sebelah kanan tangga, kalian bisa pilih yang mana saja selain kamar itu," tambahnya
"Menurut gue yang cewek semua di bawah aja, biar yang cowok diatas, setuju enggak?" usul Doni.
"Setuju aja yang penting aman, kan dibawah?" tanya Dea.
"Gak usah khawatir, disini aman banget, tiap malam ada dua satpam yang jaga di depan gerbang, di sebelah villa ini juga ada yang merawat villa ini bersama keluarganya, jadi gak usah khawatir," jawab Doni.
Yang lain hanya menyimak, sambil melihat sekeliling.
"Cewek kan cuma empat, kita mau jadi dua kamar aja. Gimana yang cowok di lantai bawah juga, kecuali Doni, aku kok sedikit merinding ya di tempat baru soalnya," Nayla merasa khawatir jika hanya berempat di lantai bawah.
"Boleh, terserah kalian saja. Untuk sekarang kita boleh istirahat, kunci kamar ada di pintu masing-masing ya," Doni pun menyetujuinya.
Dia akan serius jika berhadapan dengan banyak temannya, berbeda jika hanya dengan Icha dan Nayla.
"Untuk acara nanti malam kita pikirkan nanti aja," ucapnya lalu dia lebih dulu naik ke lantai dua menuju kamarnya. Diikuti kedua temannya yang juga ikut ke lantai dua.
Sedangkan yang lain memilih kamar di lantai bawah.
Al tanpa terasa mengikuti Icha masuk kedalan kamar yang Nayla pilih. Tarikan di tas ranselnya membuat dia berhenti dan menoleh.
"Lo mau kemana?" tanya Alvian, dia lah yang menarik tas Al. "Ini bukan di rumah lo Al, inget ini dimana? Sesekali tidur terpisah, napa?" tambahnya.
Al berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia memilih kamar yang dekat dengan kamar Icha, diikuti oleh Alvian dan Irfan.
Al mengernyitkan dahinya ketika melihat kedua orang itu mengikuti dia masuk kedalam kamar. "Kalian ngapain ngikutin gue?" tanyanya.
"Ya kita sekamar lah, gue ogah sendiri, serem," Irfan menggelengkan kepalanya, dia teringat ucapan Nayla tadi yang mengatakan 'merinding'.
"Gue mau sendiri," ucap Al lalu duduk di sisi ranjang, "Gue mau culik istri gue entar malem, jadi kalian cari kamar lain aja," tambahnya.
Alvian dan Irfan membulatkan matanya, mereka tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Al.
"Gila lo, kalau yang lain tahu gimana?" Alvian geleng-geleng kepala, ternyata sebegitunya orang yang sudah menikah, tidak bisa tidur tanpa sang istri, pikirnya.
"Enggak bakal ketahuan kalau lo berdua enggak bocorin. Udah sana cari kamar lain, gue mau tidur sama istri gue entat malem," Al yakin sekali jika dia tidak akan di ketahui oleh temannya yang lain, nanti malam.
Alvian dan Irfan hanya bisa menggelengkan kepala, mereka pun dengan terpaksa keluar dari kamar itu dan memilih kamar lain untuk mereka tempati.
Al merebahkan tubuhnya di ranjang, rasa lelah membuatnya terlelap.
Sedangkan Icha dan Nayla memilih membereskan pakaian mereka kedalam lemari yang ada di dalam kamar yang mereka tempati.
"Nay, aku lupa ini tadi rencananya mau aku berikan ke penjaga villa ini." Nayla menunjuk satu bungkusan plastik cukup besar yang isinya jajanan.
"Setelah ini kita bisa berikan ke mereka," timpal Nayla.
"Oke deh, beres-beres dulu, nanti anter nemuin penjaga villanya yah," ucap Icha.
"Beres,"
Mereka melanjutkan membereskan baju-baju mereka. Setelah selesai Icha memilih merrbahkan diri di atas ranjang, sedangkan Nayla dia memilih untuk mandi, membersihkan diri supaya lelah yang dirasa sedikit reda.
Icha teringat akan suaminya, dia mengambil ponsel di tas, lalu mencoba mengirim pesan pada Al, tapi tak kunjung dibalas bahkan sampai sepuluh menit dia menunggu. Icha sampai lupa jika Nayla mandi sudah cukup lama.
Bersambung.....