
"Apa yang terjadi Nay?" tanya Al dengan intonasi sedikit meninggi. Ia khawatir terjadi sesuatu dengan sang istri.
Sebelum Nayla menjawab, orang yang baru saja hadir lebih dulu bertanya, "Icha kenapa Nayla?" tanya Mama Sinta, ia datang bersama sang suami. Ia juga di hubungi oleh Nayla jika Icha masuk rumah sakit.
"Tan, maafkan Nayla karena sudah lalai menjaga Icha, Nayla minta maaf," ucapnya sendu, air matanya pun terus menetes.
Al mengepalkan tangannya, ia sebenarnya ingin marah tapi ia urungkan karena ada kedua mertuanya. Ia hanya bisa diam mendengarkan percakapan Nayla dan mertuanya.
"Coba ceritakan apa yang terjadi? Kenapa Icha bisa masuk rumah sakit?" tanya Papa Bayu.
"Sebelumnya Nayla minta maaf sama Om, Tante dan Al, Nayla yang salah. Kalian boleh hukum aku," ucapnya terbata karena ia masih menangis.
"Iya, tapi ceritakan apa yang terjadi Nay," Al tak sabar ingin mendengar cerita dari Nayla yang membuat sang istri masuk ke rumah sakit.
"Jadi begini ...."
Flashback On
Nayla dan Icha keluar dari mall, mereka menenteng beberapa belanjaan yang mereka beli hari ini. Icha terlihat antusias, karena berhasil membeli beberapa pakaian bayi, padahal dirinya belum tahu bayinya berjenis kelamin apa. Karena usia kandungannya saja belum genap empat bulan.
Ia memasukkan belanjaannya kedalam mobil Nayla, lalu saat melihat penjual es cream di seberang mall ia ingin membelinya. Padahal di dalam mall banyak sekali penjual es cream, entah kenapa ia ingin sekali makan es cream yang berada di luar.
"Nay, aku beli es cream itu dulu ya, kamu tunggu aja disini." Icha menunjuk penjual es cream.
"Biar aku yang belikan Cha, kamu tunggu di mobil aja. Mau rasa apa?" Nayla merasakan akan terjadi sesuatu, makanya ia menyuruh Icha menunggunya di dalam mobil.
"Emm ... rasa coklat aja deh," ucap Icha sambil membayangkan es cream apa yang akan ia makan.
Nayla mengangguk, lalu ia berjalan mendekati tukang es cream.
Icha bukannya menuruti permintaan Nayla, ia justru menyusul Nayla ke tempat tukang es cream itu. Saat ia akan menyebrang, tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaji dengan kecepatan penuh.
Braak
Icha tergeltak di pinggiran aspal, karena terserampet mobil. Seperti di sengaja, karena Icha tadi berdiri di sisi trotoar. Mobil kembali melaju dengan kecepatan penuh, tanpa mempedulikan Icha yang tergletak.
Nayla yang mendengar itu, langsung menoleh dia berteriak saat tahu yang terserempet adalah sahabtanya.
"Aaaaa! Icha!" seru Nayla, ia berlari menyeberangi jalan mendekat kearah sahabatnya yang sudah di kerumuni beberapa pengunjung mall.
"Chaa! Pak tolong masukkan dia ke dalam mobil saya," pinta Nayla, ia berjalan lebih dulu kearah mobil, lalu membuka pintu belakang mobil.
"Sebaiknya saya ikut mengantaran Adek, saya takut terjadi apa-apa sama kalian, lihat saja kamu terlihat gemetar," ucap seorang peria paruh baya yang menolong Icha.
"Terimakasih, Pak," Nayla memangku Icha, bajunya terkena tetsan darah yang keluar dari bagian tubuh Icha.
Sedangkan orang yang menolong tadi, menyetir mobil Nayla menuju rumah sakit. Dan ia juga lah yang membawa Icha masuk ke ruang IGD.
Flashback off
"Begitu ceritanya," Nayla mengahiri ceritanya saat kejadian kecelakaan tadi.
Al terlihat frustasi, beberapa kali menjambak rambutnya, ia takut terjadi sesuatu pada sang istri. Sedangkan kedua mertuanya pun sama, terlihat Mama Sinta meneteskan air mata. Mulutnya tak berhenti melafalkan dzikir pada Sang Maha Agung.
"Orang yang menolong kalian dimana sekarang?" tanya Papa Bayu pada Nayla, ia mau mengucapkan terimakasih pada orang itu.
Sebelum Nayla menjawab, orang yang di tanyakan sudah lebih dulu datang. "Bayu? Jadi bener gadis tadi putrimu, pantas saya tidak asing sama dia," ucap orang itu ketika melihat Papa Bayu.
"Adit? Kamu yang menolong anak ku?" tanya Papa Bayu.
"Terimakasih Dit, semoga pelakunya bisa tertangkap, segera saya akan melapor polisi," ucap Bayu, ia tidak sabar mau melaporkan polisi.
"Biar aku temani ke kantor polisi, aku bisa jadi saksinya," Adit bersedia menjadi saksi kecelakaan yang terjadi pada Icha.
"Terimakasih Dit, setelah ini kita ke kantor polisi," putus Bayu, ia lebih dulu ingin melihat kondisi putrinya, karena sejak tadi dokter yang memeriksa belum juga keluar.
Tak lama dokter pun keluar dari ruang IGD. "Keluarga pasien?" tanyanya.
"Saya suaminya Dok," ucap Al.
"Saya orang tuanya Dok," ucap Papa Bayu, mereka bersamaan saat mengucapkan itu.
"Mari ikut Saya," dokter itu pun berjalan lebih dulu diikuti oleh Al dan Papa Bayu. Sedangkan Mama Sinta masuk kedalam ruang IGD, tidak sabar ingin menemui sang anak. Nayla pun mengekori dari belakang.
"Begini Pak," dokter memulai pembicaraan, ketika mereka semua sudah duduk, "Putri Anda hanya mengalami cidera ringan saja, tetapi ...." sedikit ragu saat akan mengatakan kabar selanjutnya.
"Tapi kenpa Dok?" Al tidak sabar, ia sudah sedikit lega, tapi saat dokter menggantung ucapannya ia menjadi khawatir, takut ada sesuatu yang lebih parah lagi.
Dokter menghela nafas panjang, "Tetapi kandungan istri Anda tidak bisa di selamatkan," wajahnya terlihat sendu. Seperti merasakan apa yang pasiennya rasakan.
Duaaar
Bagai tersabar petir, Al terlihat lemas begitu pun dengan Papa mertuanya. Anak yang di tunggu-tunggu kelahirannya justru harus pergi untuk selamanya, sebelum waktunya lahir.
"Putri Anda saat ini belum siuman, mungkin sebentar lagi akan siuman," tambahnya, karena Icha memang tidak sadarkan diri setelah kejadian kecelakaan tadi.
Al dan Papa mertunya terlihat masih syok, mereka diam tak berniatmenimpali ucapan sang dokter.
"Yang sabar Pak, putri Anda butuh kekuatan dan semangat dari keluarganya, jadi sebisa mungkin berilah nasehat yang bisa membuatnya semangat, karena jika dia terpuruk akan memperburuk keadaan batinnya, saya tahu ini berat tapi ini sudah takdir dari yang Kuasa, kita tidak bisa menolak takdir Pak," dokter itu mencoba memberi pengertian pada kedua lelaki yang ada di hadapannya, karena ia tahu mereka belum bisa menerima kabar ini.
"Terimakasih Dok, kami permisi," ucap Papa Bayu, ia tersenyum pada sang dokter, lalu mengajak Al untuk keluar ruangan dokter itu.
"Sama-sama Pak. Putri Anda mungkin sudah ke pindah di ruangan perawatan saat ini," ucap sang dokter sebelum Papa Bayu dan Al keluar dari ruangannya.
"Yang sabar Al, kamu harus kuat. Icha butuh penyemangat, dia pasti akan syok saat mengetahui keadaan ini, kalian harus saling menyemangati meskipun berat," tutur Bayu, mereka berjalan di koridor rumah sakit.
"Iya Pa. Aku enggak percaya dengan semua ini Pa, berat banget rasanya, aku enggak tahu gimana Icha nanti," tak terasa air matanya menetes membayangkan reaksi sang istri.
Bayu menepuk pundak menantunya beberapa kali, "Kita sama-sama menguatkan Icha," ucapnya. "Papa akan segera lapor polisi setelah ini, orang itu harus bertanggung jawab dengan perbuatannya," tambahnya.
"Iya Pa, harus di cari sampai ketemu," ucap Al, sekakan ia ingin memukuli hingga babak belur pelaku yang menyerempet Icha.
"Om, Icha ada di ruangan lantai tiga," Nayla datang menghampiri dua laki-laki itu, "Dia masih belum sadarkan diri," tambahnya, ia menundukan kepala. "Maafkan aku yah Om," ucapnya ia begitu menyesal.
"Sudah Nay, ini sudah kehendak Allah yang penting Icha selamat," Bayu tidak bisa menyalahkan Nayla karena ini kecelakaan.
"Makasih Om,"
"Iya, sekarang kita temui Icha," ajak Bayu pada dua orang yang berada diantaranya.
Mereka pun berjalan menuju ruang rawat Icha, dengan pemikiran yang berbeda-beda.
Bersambung....
Maaf ya ini memang sudah jalan ceritanya sejak awal sudah aku buat seperti ini. Tapi tenang setelah ini badai akan berlalu berganti dengan cerahnya pelangi.