
"Baiklah, aku pergi ya," pamit Al.
Icha mengangguk lalu berkata, "Makasih sayang,"
Al menggangguk dan tersenyum, lalu dia melangkahkan kakinya keluar kamar. Al menuruni anak tangga, terlihat ruangan bawah sudah gelap karena lampu telah dimatikan. Dia menyalakan beberapa lampu supaya terang. Membuka pintu utama, lalu melangkahkan kakinya menuju garasi, dimana temapat mobilnya berada.
Al memencet klakson saat berada di depan gerbang, terlihat dua satpam rumahnya yang berada didalam pos satpam, salah satu dari mereka menghampiri Al.
"Mau kemana mas malam-malam gini?" tanya satpam yang bernametag Ujang.
"Keluar sebentar Mang, buka gerbangnya ya," jawab Al dan satpam itupun mengangguk lalu membukakan gerbang untuk Al.
Al melajukan mobilnya, menuju mini market terdekat. Setelah sepuluh menit berjalan dia sampai di sebuah mini market yang sudah terlihat sepi, karena jam sudah menunjukkan pukul 22.15.
Al masuk kedalam mini market tersebut, lalu dia menelfon istrinya, untuk menanyakan dimana letak benda yang dia inginkan.
"Sayang aku sudah sampai, tunjukkan dimana letaknya," ucap Al saat melihat wajah istrinya dilayar ponsel.
"Coba arahkan kameranya kedepan, biar aku lihat," perintah Icha di seberang sana.
Al pun mengarahkan kamera kearah depannya.
"Kamu jalan terus, belok kiri, benda itu ada disebelah kiri kamu," Icha memberi arahan, Al seperti diremot saja, dia menuruti ucapan Icha.
Saat melihat banyak bungkusan yang dia sendiri tak faham apa isinya, ada yang berwarna biru, pink, oranye, hitam juga ada. Dia bingung harus ambil yang mana.
"Yang mana sayang? Aku gak tau?" tanyanya pada istrinya disebrang sana.
"Yang warna biru aja," titah Icha di seberang sana.
"Oke, aku tutup ya telfonnya," ucap Al lalu dia menekan tombol merah pada layar ponselnya.
Dia mengambil lima bungkus besar, supaya lebih awet pikirnya. Al membawa roti tawar itu kearah kasir, karena sepi jadi dia tidak mengantri dengan yang lain.
"Mau aja Mas disuruh beli ginian sama ibunya, menantu idaman banget," celetuk seseorang yang berada dibelakang Al, dia mengantri.
Al tersenyum canggung, dia tidak menggubris ucapan ibu-ibu yanga da dibelakangnya itu.
"Beneran ini Mas? Banyak banget?" kini giliran mbak-mbak kasir yang berujar.
"Iya Mbak," jawabnya singkat.
"Biasanya anak muda kaya kamu malu kalo disuruh beli pembalut wanita seperti ini, saya jadi kagum sama kamu Nak, kalo kamu jadi suami anak saya pasti dia bahagia sekali," Ibu-ibu dibelakang Al terus saja mengomentari, tapi Al hanya membalas dengan tersenyum canggung, dia malu sebenarnya. Kalau bukan karena istri tercintanya mana mau dia.
"Semuanya dua ratus ribu Mas," ucap mbak-mbak kasir tersebut.
Al mengambil kartu debitnya lalu menyerahkan pada kasir itu.
Al baru nyadar jika ada bebrapa orang yang mengantri dan melihat Al dengan tersenyum, Al jadi salah tingkah sendiri. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Kasir itu mengembalikan kartu debit Al lalu Al mengambilnya dan memasukkan kedalam dompetnya lagi. Dia mengambil bungkusan plastik yang masih didepan kasir, lalu pergi dengan tersenyum canggung. Karena banyak yang melihatnya dengan tatapan aneh.
Setelah masuk mobil, dia melempar bungkusan plastik besar itu ke kursi sebelah kursi kemudi. Lalu menjalankan mobilnya.
Sesampainya dirumah, dia langsung masuk kamar dan menghampiri Icha yang duduk di kursi depan meja rias.
Icha terkejut melihat banyak sekali yang dibawa oleh Al.
"Serius ini? Banyak banget sayang, harusnya satu aja cukup," ucap Icha tak percaya.
"Kamu tau nggak, aku malu banget. Gak mau lagi kalo kamu suruh beli bantalmu itu," ucap Al kesal.
"Maaf ya aku jadi membuat kamu malu. Mungkin mereka heran kenapa kamu beli banyak banget, ini mah buat satu tahun gak habis," Icha terkekeh saat mengucapkan itu.
"Udah sana pakai, dah malem cepetan tidur," ucap Al masih dengan raut kesal.
Icha hanya tersenyum, lalu dia masuk kamar mandi dan memakai 'bantal' yang dibilang oleh Al.
Setelah selesai Icha langsung menghampiri suaminya yanh sudah berada diatas ranjang menunggunya, karena Al terlihat masih duduk sambil bersandar kepala ranjang.
"Maaf ya sayang, kamu malah jadi bete gini, aku jadi merasa bersalah," tutur Icha kala sudah duduk disamping suaminya.
Al menghela nafas, dia sebenarnya masih sedikit kesal, tetapi mendengar ucapan permintaan maaf Icha kesalnya berangsur-angsur hilang. Apalagi ucapan Icha yang begitu lembut saat meminta maaf.
Al meraih tangan Icha, "Iya sayang, aku sudah memaafkanmu. Besok-besok kalo sudah jatahnya kamu datang bulan periksa masih punya bantal itu apa enggak, biar aku gak mau lagi buat beli barang seperti itu," tutur Al dengan lembut.
"Iya sayang, maaf ya," ucap Icha lalu dia memeluk suaminya.
Al membalas pelukan Icha lalu mengelus-elus rambut panjang Icha.
"Sudah, ayo sekarang kita tidur, ini sudah malam, besok kita telat lagi bangunnya," ucap Al lalu melepaskan pelukannya.
Dia merebahkan dirinya lalu disusul oleh Icha. Al menarik tubub Icha supaya merapat dengannya. Lalu dia mengecup sekilas seluruh bagian wajah istrinya yang berada di dalam dekapannya.
"Selamat malam sayang, selamat tidur, semoga mimpi indah," ucapnya setelah selesai menjelajahi wajah cantik istrinya.
"Selamat malam juga sayang," timpal Icha.
Keduanya pun terlelap dan saling mendekap. Karena memang kebiasaan mereka yang seperti itu. Tapi entah kenapa Al masih saja bisa menahan dirinya, padahal tidur selalu sedekat itu. Entah sampai kapan Al akan menahannya.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Pagi hari, Al terbangun lebih dulu, dia melihat wajah istrinya yang masih terlelap. Tetapi ada yang berbeda dari wajah Icha, dia terlihat pucat. Lalu Al reflek menempelkan punggung tangannya di kening Icha, tidak panas. Tapi kenapa wajahnya pucat sekali.
Lalu dia membangunkan Icha dengan pelan.
"Sayang, kamu sakit? Kok pucet banget?" tanya Al khawatir.
"Perutku sakit Al," jawab Icha masih dengan mata terpejam, karena memang semalam tidurnya tidak nyenyak karena sakit perutnya itu.
"Kita kerumah sakit ya, aku takut kamu kenapa-napa sayang," Al khawatir sekali melihat Icha seperti itu.
Icha menggeleng, menandakan dia tidak mau dibawa kerumah sakit.
"Gak usah sayang, ini sudah biasa terjadi, jadi kamu nggak usah khawatir ya. Sekarang kamu sholat subuh dulu, ini sudah hampir siang lho," tutur Icha.
"Yaudah aku sholat dulu, kamu tidur lagi aja, nanti gak usah sekolah ya, biar sembuh dulu perutnya," pinta Al.
Icha tersenyum dan mengangguk. Dia bahagia karena Al begitu menghawatirkan keadaannya. Sudah tidak diragukan lagi Al begitu mencintai Icha.
Al mengambil wudhu lalu sholat subuh sendiri tanpa istrinya. Setelah selesai sholat subuh Al menghampiri Icha yang masih terbungkus oleh selimut.
Bersambung....
Jangan lupan like dan komennya ya. Makasih ya🥰😘