Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 79


Pagi ini mereka bersiap untuk berangkat kerumah orang tua Icha, sesuai kesepakatan beberapa hari yang lalu, mereka akan menginap disana selama ujian berlangsung. Mereka sudah mempersiapkan beberapa pakaian dan juga buku-buku untuk belajar, cukup membawa satu koper berukuran kecil saja, karena hanya membawa seragam sekolah mereka, sedangkan baju sehari-hari disana sudah cukup banyak.


Keadaan Icha masih tetap sama, hanya rasa mualnya bisa di halau dengan meminum obat yang diresepkan dokter Hanny. Sedangkan tingkah manjanya makin bertambah saja, permintaan yang aneh-aneh pun tak jarang ia utarakan. Al selalu saja menuruti permintaan sang istri, beralasan tak mau sang istri merajuk seperti waktu itu.


Sifat jailnya yang dulu hanya dia lakukan pada Kakak dan adiknya, kini justru Al yang berkali-kali dijaili oleh istrinya.


Seperti tadi malam, dia meminta dibuatkan susu oleh suaminya, tapi setelah susu itu selesai dibuat dia tak mau meminumnya. Siapa yang tidak kesal coba? Bahkan Al sudah bersusah payah membuatkan susu untuknya, benda yang amat tidak disuaki oleh Al. Mencium baunya saja dia mual, apalagi jika sampai membuat minuman itu. Tetapi Al tetap sabar menghadapi istrinya itu.


Entah Icha sengaja apa tidak, dia selalu menyusahkan suaminya. Tapi dia bahagia ketika Al memenuhi semua permintaannya itu.


"Sayang, mampir ke supermarket dulu ya, aku mau belanja beberapa keperluan," kini keduanya berada didalam mobil menuju kediaman keluarga Icha.


"Iya, supermarket biasa ya, yang lebih deket," Al tetap fokus menatap jalanan yang mereka lewati.


Beberapa saat kemudian mereka sampai di supermarket yang mereka tuju, memarkirkan mobilnya di tempat parkiran, lalu keduanya turun dari mobil bersamaan.


Masuk kedalam supermarket, mengambil troli berjalan dan Al yang mendorongnya, sedangkan Icha memilih-milih apa yang dia butuhkan. Bertanya pada sang suami ingin membeli apa, setelah di jawab dia pula yang mengambilnya.


Jika di rak atas yang Icha tak sampai makan Al dengan sigap mengambilkan, seperti itu. Sampai pada saat memilih susu untuk ibu hamil ada seseorang yang mengenali keduanya.


"Eh kalian, pagi-pagi udah belanja berdua aja," orang itu lebih dulu melihat Al dan Icha lalu dia mendekat.


"Ah iya De, tadi aku minta Al buat nemenin belanja, kebetulan dia juga sedang enggak sibuk. Kamu sendiri sama siapa De?" ternyata Dea teman sekelas Icha, yang waktu itu mereka pernah belajar satu kelompok.


"Aku sama Mama, biasa nganter Mama belanja." dia menunjuk kearah Mamanya yang juga sedang mencari sesuatu.


Dea tak sengaja melihat isi keranjang yang didorong oleh Al, "Kok ada susu ibu hamil? Siapa yang hamil Cha?" merasa penasaran, karena Icha membeli susu ibu hamil beberapa macam rasa.


Icha gugup, dia melirik Al yang dilirik hanya diam tanpa ekspresi. Sebisa mungkin Icha menetralkan kegugupannya.


"Ah itu, Kakak ku yang hamil, dia tadi pesen minta dibeliin susu," jawab Icha asal, dia tak punya Kakak perempuan lalu siapa yang hamil?


Dea mengernyitkan dahinya menjadi berlipat-lipat. Dia sedikit tahu tentang keluarga Icha, kalau Icha anak perempuan satu-satunya, sedangkan kedua saudaranya laki-laki semua.


Melihat ekspresi Dea yang seperti itu, Icha bertambah salah tingkah sendiri, dia salah menjawab pertanyaan Dea. Bingung harus mengatakan apa lagi.


"Maksud Icha Kakak sepupu gue yang lagi hamil, dia pesen itu saat tahu gue mau nganter Icha ke supermarket," Al memberi alasan yang tepat, meskipun dia berbohong, karena dia berbohong demi kebaikan mereka.


Icha bisa bernafas lega, saat Al mengatakan itu. Karena memang Kakak sepupu Al dari ayahnya ada yang sedang mengandung, meskipun mereka tinggalnya di luar kota.


"Iya itu maksudku tadi De," Icha tersenyum, hatinya sudah lega.


"Oh gitu, aku kira Kakak mu sudah menikah dan istrinya lagi hamil, tapi kok enggak masuk media kalau sudah menikah, makanya aku bingung tadi," Dea menjelaskan kebingungannya.


Icha menghembuskan nafasnya lega, "Untung kamu nemu alasan itu, jujur tadi aku bingung mau jawab apa," ucapnya pada Al.


"Sudah, enggak masalah sayang, aku juga sempat bingung, terus saat teringat Kakak sepupuku, dan aku jadikan itu alasan," Al kembali mendorong troli yang isinya sudah setengah itu.


"Ayo lanjut lagi, mau beli apa lagi? Beli yang kamu mau," ucap Al lalu dia mengikuti kemana Icha berjalan.


Mereka sedikit memperlambat belanjanya, supaya Dea dan Mamanya keluar lebih dulu dari sana, dia tidak mau lebih di curigai lagi oleh temannya itu. Ya meskipun dia percaya jika Dea mengetahui setatusnya dengan Al, dia pasti tidak akan membocorkannya, tapi tetap saja dia merasa tak enak.


Setelah dirasa Dea dan Mamanya sudah keluar dari supermarket, mereka pun menuju kasir untuk membayar semua belanjaan yang mereka beli. Membayar tagihan dengan kartu debit, lalu keluar dari supermarket dengan membawa beberapa kresek ditangan mereka.


Menuju parkiran, Al memasukkan belanjaan mereka di jok belakang, lalu dia masuk kedalam mobil, sedangkan Icha sudah lebih dulu masuk. Al melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah ramainya jalanan ibu kota, meskipun ini bukan hari minggu, melainkan hari sabtu tetapi banyak kendaraan yang memadati jalanan. Menikmati weekend dengan keluarga maupun pasangan masing-masing.


Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di kediaman keluarga Icha, Al memarkirkan mobilnya dihalaman depan yang luas, disana terlihat mobil sang Papa yang sudah terparkir, sepertinya akan bepergian. Mereka turun dari mobil tanpa membawa belanjaan yang mereka beli tadi.


"Assalamu'alaikum," ucap salam keduanya, karena pintu rumah terbuka lebar, mereka pun masuk.


"Wa'alaikumussalam," jawab semua orang yang berada di ruang tamu, terlihat mereka sedang berkumpul disana.


Menyalami satu persatu orang yang ada di ruang tamu, lalu mereka duduk tanpa menunggu dipersilahkan.


"Sudah sarapan belum?" pertanyaan itu yang pertama muncul dari bibir sang Mama.


"Alhamdulillah sudah Ma. Ini mau kemana kok sudah pada rapi gini?" Icha balik bertanya, karena melihat kedua orang tuanya serta sang Kakak sudah rapi dengan pakaian batik. Mamanya terlihat anggun dengam gamis batik coklat kombinasi warna hitam, senada dengan kemeja yang dikenakan oleh sang Papa.


"Mau keacara pernikahan teman Kakakmu," jawab sang Papa.


"Siapa?" tanyanya, karena Icha mengenal beberapa sahabat sang Kakak, mereka dulu sering menginap dirumahnya saat masih kuliah dulu, dan dia masih duduk di bangku SMP. Sering di godain oleh teman-teman Kakaknya, dan sebaliknya dulu Icha sering mengerjai mereka juga.


"Fahri. Kalau kalian mau ikut boleh banget, Fahri juga bilang suruh ajak kamu, dia belum tahu kalau kamu sudah menikah," Farhan menjelaskan, Fahri salah satu sahabat Farhan yang sering datang kerumahnya.


Icha melirik Al, seakan bertanya mau ikut apa tidak? Al membalas dengan kode mata juga, yang mengartikan aku ikut kamu saja.


"Boleh deh, sekalian kenalan sama istrinya Kak Fahri, tapi tunggu kami ganti baju dulu," ucap Icha lalu dia mengajak Al kekamar mengganti baju yang lebih formal.


Beberapa baju Al memang sudah berada disana, karena mereka seminggu sekali pasti menginap disana.


"Ge-pe-el ya," titah Farhan.


Bersambung.....


Jangan lupa like dan komennya yah, makasih