Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 82


Pagi hari seperti biasa, Icha selalu merasakan mual, tapi dia bisa menghalau dengan minum vitamin saat mual datang. Setelah subuh dia juga malas beranjak dari ranjang, rasa kantuk terus menyerang, bahkan di pagi hari pun kantuknya tak kunjung menghilang.


Hari ini dia memasksakan untuk turun, membantu sang Mama memasak. Dia lupa jika tak menyukai bau bawang putih.


Saat masuk dapur, perutnya kembali mual, seperti diaduk-aduk, dia pun lari keluar dari dapur.


"Sayang, kenapa? Mau muntah lagi?" Sang Mama yang kala itu melihat anaknya langsung mendekatinya.


"Ma, aku enggak suka bau bawang putih, singkirkan dulu ya, selama aku disini. Isi perutku mau keluar semua kalau bau itu Ma," Icha menjelaskan alasan dia mual.


"Iya sayang, Mama juga dulu sama, malahan Mama gak suka semua bumbu dapur. Kamu tau, selama kurang lebih empat bulan Mama makan dengan sayur tanpa bumbu, hanya menggunakan penyedap rasa Alko, tapi Mama menikmatinya," sang Mama menceritakan dulu saat dia hamil.


"Alko apa Ma?" pertanyaan itu muncul dari seseorang yang baru saja mendekat, Raffa.


"Ngagetin aja kamu Dek," protes Icha.


"Alko apa Ma?" mengulangi pertanyaannya, karena belum mendapat jawaban, dia bahkan tak menggubris ucapan sang Kakak.


"Penyedap rasa, kamu enggak bakalan tahu," bukan Mamanya yang menjawab, justru Icha.


Raffa mendengus, dia meninggalkan dua wanita yang masih berdiri didepan ruang keluarga.


"Sekarang kamu mau makan apa? Biar Mama buatkan. Kamu tunggu aja di taman belakang, sambil olah raga biar seger," titah sang Mama.


Di taman belakang, ada tiga laki-laki yang sedang berolah raga. Menikmati hari libur dengan olahraga, supaya tubuh kembali segar dan sehat.


"Apa ya Ma?" Icha berfikir, "aku mau makanan kesukaam Al aja, ayam kecap pedas manis, tanpa bawang putih ya Ma," tambahnya, setelah menemukan dia ingin makan apa.


Entah kenapa, dia selalu ingin memakan makanan kesukaan suaminya. Makanan kesukaannya justru dia tolak. Aneh bukan.


"Oke, Mama buatkan ya. Kamu enggak usah bantu," lalu sang Mama meninggalkan Icha menuju dapur.


Icha melangkahkan kakinya menuju taman belakang rumah, dia akan berjemur saja.


Melihat tiga lelaki yang dia cintai, dia tersenyum karena mereka terlihat sangat akrab saat berolahraga, terlihat mereka tertawa bersama, sambil menikmati joging mereka. Taman yang cukup luas untuk olahraga joging, meskipun hanya bisa berputar-putar sekitar taman itu.


Icha duduk di kursi yang ada di taman itu, menikmati sinar matahari yang baru saja menampakkan diri, udara pagi ini begitu cerah.


"Teh Kak," ucapan Raffa membuat Icha menoleh. Anak itu membawa dua cangkir teh di tangannya. "Mama yang buat, bukan aku," seakan tahu pemikiran Kakaknya.


"Makasih, buat yang lain mana?" Icha bertanya, karena Raffa hanya membawa dua gelas saja.


"Masih di dapur, biar Bibik yang bawa," jawabnya lalu duduk di sisi sang Kakak.


"Kak gimana sekolah di SMA Kakak? Aku masih bingung mau SMA dimana?" Raffa memang lebih dekat dengan sang Kakak, dia lebih suka bercerita atau curhat dengan sang kakak.


"Di SMA Kakak aja, gak usah jauh-jauh, disana juga lengkap fasilitasnya," Icha merrkomendasikan SMA nya untuk sang adik.


"Nanti aku pikir-pikir lagi," dia memang masih bingung.


Keduanya larut dalam obrolan seputar sekolah, ujian dan sesekali bercanda, hingga ketiga laki-laki yang tadinya sedang olah raga datang mendekati mereka.


Semakin asyik mengobrol ditambah ketiga orang itu.


"Mau sarapan dulu apa mandi dulu?" pertanyaan sang Mama mengalihkan atensi mereka.


"Sarapan dulu lah, udah laper Ma," Farhan yang menjawab, di angguki semuanya.


Mereka pun bersama-sama menuju meja makan, disana sudah tersaji beberapa makanan. Manikmati makanan yang mereka suka, sarapan kali ini bertambah ramai karena bertambah dua orang.


Icha pun terlihat menikmati sarapannya, tak seperti biasa dia mau makan nasi sebanyak itu. Setelah selesai sarapan, mereka menuju kamar masing-masing untuk mandi. Begitu pun dengan Icha dan Al.


Hoek Hoek Hoek


Nasi yang baru saja masuk kedalam perut, terpaksa harus keluar lagi.


"Sayang, kamu muntah lagi?" terlihat kepanikan diwajah Al.


Dia memijit-mijit tengkuk Icha, "Kok bisa sih, padahal beberapa hari kemarin udah enggak muntah, cuma mual. Apa vitaminnya enggak kamu minum sayang?"


Icha belum menjawab pertanyaan Al, dia masih fokus mengeluarkan sisa-sisa dalam perutnya, "Minum," ucapnya.


Al bergegas keluar kamar mandi, dia mengambil botol berisi air putih, lalu kembali ke kamar mandi.


Icha sudah membasuh mukanya, sepertinya isi dalam perutnya sudah keluar semua.


"Ini sayang," Al menyodorkan botol minuman yang sudah dia buka sebelumnya.


"Sayang, kamu mau makan apa? Biar aku cariin," Al menawari istrinya, karena biasanya makanan yang di inginkan oleh Icha tidak akan dimuntahkan.


"Entahlah sayang, aku lemes banget, rasanya enggak mau makan apa-apa," Al meneliti wajah Icha, terlihat pucat apalagi setelah dia mengeluarkan isi dalam perutnya.


"Yaudah kamu istirahat aja ya, mandinya nanti kalau usah enakan," ucap Al, lalu menuntun sang istri keluar kamar mandi, membaringkan dia diatas ranjang.


"Aku mandi dulu ya, bau asem banget habis olahraga," Al akan beranjak dari ranajng, tetapi Icha menahannya.


"Enggak usah mandi sayang, jusrtu aku suka bau keringatmu seperti ini," Al membulatkan matanya, yang benar saja istrinya menyukai bau tubuhnya yang bahkan dia sendiri tak tahan menciumnya.


"Yang benar saja?" Al memastikan.


Icha mengangguk, "Iya sayang, sini peluk aku," pintanya dengan manja.


Al tak tega melihat istrinya, dia pun membaringkan tubuhnya, memeluk sang istri dengan erat, lalu menciumi seluruh wajahnya.


"Sayang, kamu baik-baik di perut Mama ya, jangan susahin Mama ya sayang, kasian Mama." Al mengelus perut Icha yang masih rata.


Icha tersenyum melihat tingkah suaminya, "Iya Papa, aku enggak nyusahin Mama kok," Icha menirukan suara anak kecil.


Al terkekeh mendengar ucapan Icha yang seperti itu, "Kamu tambah gemesin kalo seperti itu sayang," ucapnya, lalu dia mengecup singkat bibir sang istri.


"Aku kan emang gemesin," ucap Icha percaya diri.


"Nanti anak kita laki-laki apa perempuan ya? Aku penasaran banget, terus dia mirip siapa, aku aoa kamu ya?" banyak pertanyaan yang Icha lontatkan, tentunya pertanyaan itu tak bisa dijawab saat ini.


"Mau dia perempuan atau laki-laki sama saja sayang, yang terpenting kamu dan anak kita ini sehat," Al kembali mengelus perut sang istri.


"Udah enggak sabar pengen tahu jenis kelamin mereka sayang," celetuk Icha.


"Nanti empat bulan lagi bisa tahu, yang sabar ya sayang,"


Icha mengangguk, "Aku selalu sabar menunggu dia lahir kedunia ini, duh aku bayangin pasti bahagia banget pas dia udah keluar," Icha benar-benar membayangkan saat itu.


"Iya sayang, semoga mual-mual dan muntahnya cepet berlalu, aku enggak tega liat kamu muntah-muntah seperti tadi, kalau bisa aku mau menggantikannya," tutur Al, dia menatap wajah istrinya lekat.


Icha tersenyum, lalu dia bergantian mengecup bibir sang suami dengan singkat, "Makasih sayang, aku bahagia memilikimu," menenggelamkan wajahnya di dada sang suami, dan memeluk erat tubuh suami tercintanya.


Al pun membalas pelukan sang istri sambil mengelus-elus rambut panjang istri tercintanya


Bersambung.....


Jangan lupa like dan komennya yah...