XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
73 - Ruangan Batu Putih [Revisi]


Catatan Penulis:


Jika tidak suka dengan 'karya' ini, maka jangan menganggu. Terima kasih atas pengertiannya.


*


*


*


*


Yang Shu dan murid-muridnya kini berada di dalam sebuah ruangan. Ada lima orang murid Sekte Pedang Langit yang jika dilihat secara kasat mata, mereka seperti berusia 30 sampai 32 tahun.


Salah satu di antara kelimanya, mulai menjelaskan mengenai Teknik Penguatan Mental dan Pembersihan Iblis Hati. Murid-murid Yang Shu hanya diam sambil mendengarkan penjelasan dari murid Sekte Pedang Langit ini.


"Aku sama sekali tidak mengerti..."


"Pakaiannya bagus..."


"Dia Kakak yang tampan..."


"Aku ingin peluk..."


"Lapar..."


Di antara kesembilan murid Sekte Kupu-Kupu, hanya empat orang termasuk Xiao Shuxiang yang mampu menangkap penyampaian dari murid Sekte Pedang Langit di depan mereka. Sementara untuk Bao Yu, Hou Yong, Yi Wen, Ro Wei dan Feng Ying.. mereka malah memikirkan hal yang lain.


"... Akan ada yang membantu di dalam sana. Mari, ikut dengan saya." ajak murid Sekte Pedang Langit.


Yang Shu dan murid-muridnya berjalan menuju sebuah pintu. Saat terbuka, sebuah ruangan dengan dinding batu putih menyambut mereka.


Jing Mi dan Hou Yong seakan-akan berada di dalam sebuah gua. Suasana yang dingin nan tenang mulai mereka rasakan.


Feng Ying sedikit takut, dia tidak suka jika terlalu tenang. Dia terlihat bersembunyi di belakang Jing Mi.


Di dalam ruangan ini, terlihat juga dua belas orang murid Sekte Pedang Langit yang duduk bersila sambil memejamkan mata. Mereka seakan terlihat berusia 40 tahun ke-atas.


Murid Sekte Pedang Langit yang membawa Yang Shu dan murid-muridnya, kini mempersilahkan mereka untuk memilih dan ikut duduk bersila di depan murid-murid Sekte Pedang Langit.


"... Merekalah yang akan membantu dalam Teknik Penguatan Mental, silahkan..!"


Jing Mi dan Hou Yong saling berpandangan, keduanya kemudian mengangguk dan mulai melangkah menuju tempat yang mereka pilih.


Jing Mi duduk bersila di depan seorang murid wanita yang menurutnya secantik Xiao WeiWei. Jing Mi bermaksud ingin berkenalan, apa lagi saat murid wanita di depannya ini mengulurkan kedua tangannya sambil terus memejamkan mata.


"Kakak yang cantik, apa kau belum menikah?!" Jing Mi bertanya sambil memegang kedua tangan wanita di depannya, dia bisa merasakan wanita ini memiliki sifat lembut seperti Xiao WeiWei.


Pertanyaannya barusan membuat teman-temannya tersentak kaget. Yi Wen merasa seperti di dahului, dia juga ikut mencari murid Sekte Pedang Langit yang menurutnya terlihat tampan.


Yang Shu mengusap-usap dadanya, dia berusaha menenangkan diri saat melihat murid-muridnya mulai satu per-satu duduk bersila di depan murid-murid Sekte Pedang Langit, sambil melemparkan berbagai pertanyaan yang menurut Yang Shu belum pantas untuk ditanyakan oleh anak-anak seusia mereka.


"Kakak tampan, apa kau mau menikah denganku?" Yi Wen dengan tatapan genitnya mulai melancarkan aksi untuk membuat murid Sekte Pedang Langit di depannya ini membuka mata.


"..Kakak tampan, saat dewasa nanti.. aku pasti akan melahirkan sepuluh anak untukmu. Jadi, menikahlah denganku.."


Yang Shu menepuk pelan dahinya dan mengusap wajahnya. Dia bisa merasakan bahwa saat ini dirinya sedang dipermalukan.


Yang Shu meminta maaf kepada murid Sekte Pedang Langit didekatnya. Dia berusaha meyakinkan bahwa tingkah murid-muridnya bukan berasal dari didikannya.


"Sungguh, bukan aku yang mengajari mereka..!" Yang Shu secara tak sadar memegang erat kedua tangan murid Sekte Pedang Langit sambil menatapnya dengan penuh keyakinan.


Murid Sekte Pedang Langit tentu tersentak saat Yang Shu tiba-tiba meraih kedua tangannya dan memegangnya erat. Apalagi melihat tatapan orang tua dengan kumis dan janggut tebal ini, membuatnya gugup.


"Te-tenanglah Senior, tidak ada yang menyalahkanmu."


Patriarch Lan menahan senyum. Menurutnya, tatapan Yang Shu mirip sekali dengan Huan Fei saat sedang memohon kepadanya.


Patriarch Lan menyentuh pelan pundak Yang Shu, "Ini semua tidak menjadi masalah. Anda sebaiknya juga ikut duduk bersila di depan salah satu murid yang ada."


Yang Shu mengangguk dan mulai berjalan ke salah satu murid Sekte Pedang Langit.


"Nak, kau tak ke sana..?" Patriarch Lan menyentuh pundak Xiao Shuxiang, dia keheranan sebab hanya anak ini sajalah yang masih berdiri tanpa mengikuti teman-temannya.


Xiao Shuxiang dalam hati mendesah panjang, dia paling tidak suka berada di antara sekte yang murid-muridnya begitu terikat dengan peraturan, dirinya pasti tidak akan bisa bergerak bebas.


Xiao Shuxiang kembali mendesah panjang, dia kemudian mulai melangkahkan kaki menuju ke salah satu tempat. Dia duduk bersila dan berhadapan dengan murid Sekte Pedang Langit yang berusia sedikit lebih tua dari murid lainnya.


Tanpa membuka mata, murid di depan Xiao Shuxiang mengulurkan tangan seakan memberi isyarat agar Xiao Shuxiang juga melakukan hal yang sama.


Murid-murid Sekte Pedang Langit mulai memegang tangan murid-murid Yang Shu, kesunyian mulai terasa kental kembali.


Jing Mi, Hou Yong dan saudara seperguruan mereka juga ikut menutup mata. Patriarch Lan mengangguk dan mulai meminta murid didekatnya untuk segera keluar, karena Teknik Penguatan Mental sudah dimulai.


Tian Ri, Lan Guan Zhi, dan kedua saudara seperguruan mereka mulai memberi hormat. Mereka kemudian mulai melangkah pergi meninggalkan Patriarch Lan.


Di dalam ruangan, Hou Yong, Bao Yu, dan Yi Wen terlihat berkeringat dingin dan memejamkan mata dengan erat. Tidak hanya mereka, bahkan Zhi Shu, Hai Feng dan Ro Wei juga terlihat sama.


Saat ini, mereka seperti melihat dan seakan mengalami sendiri kejadian yang paling mengerikan dan tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.


Tidak ada suara, tak ada jeritan, mereka tidak bisa berteriak meminta tolong atau apa pun. Sia-sia saja usaha mereka membuka mata, karena semakin mereka melawan, semakin mereka melihat hal mengerikan tersebut.


Jing Mi pernah sekali dibantu oleh Zong Ming dengan Teknik Penguatan Mental, tetapi apa yang dilihatnya jauh lebih mengerikan.


Dia bisa melihat dan merasakan dirinya berada di kegelapan tanpa mendengar suara apa pun. Langkah dan napasnya tidak beraturan, hal nyata dirasakannya adalah kedua tangannya seperti memegang sesuatu yang hangat.


Detik berikutnya, sebuah cahaya terang nan hangat menerangi Jing Mi dan sekelilingnya. Cahaya hangat yang begitu menenangkan.


Sebuah tangan menyentuh lengan kanannya dan saat dia menoleh dan berkata 'siapa?', dia mulai melihat pamannya, Jing Bai dengan leher dan wajah bersimbah darah.


Keterkejutan yang amat sangat menghampiri Jing Mi. Apalagi saat pamannya, Jing Bai menatapnya dengan tatapan mata tak percaya.


"Mi'Er, ke-kenapa kau me-melakukan ini?"


bruk!


Jing Bai langsung terjatuh dengan kepala yang terlepas, hal ini membuat jantung Jing Mi hampir berhenti berdetak.


Dia lalu merasakan tangan kanannya memegang sebuah pedang dan tangan kirinya memegang sesuatu yang sama sekali tidak diduganya. Itu adalah kepala bibinya sendiri. Segera Jing Mi merasakan ketakutan yang amat sangat.


Penglihatannya mulai terlihat jelas, di sekitarnya terlihat mayat-mayat warga Desa Tani, termasuk saudara-saudara seperguruannya.


Jing Mi bisa melihat Yi Wen dan Ro Wei yang menatapnya sambil mengulurkan tangan. Tatapan mata keduanya mengandung kesedihan dan seolah memberi tanda agar dia menyelamatkan mereka.


Saat Jing Mi perlahan berjalan, dia begitu terkejut ketika Yi Wen dan Ro Wei bersuara dengan suara serak. Mereka seperti membutuhkan penjelasan dari Jing Mi mengenai apa yang dilakukan oleh saudaranya.


"... Ke-kenapa Sa-saudara... Jing...?"


Yi Wen dan Ro Wei seketika mengembuskan napas terakhir saat Jing Mi bisa mendengar jelas ucapan keduanya.


Tidak hanya Yi Wen dan Ro Wei. Dia juga melihat Hou Yong dan Qi Xuan. Kedua saudaranya ini sudah tak memiliki anggota tubuh yang lengkap.


Hou Yong menatap Jing Mi penuh kebencian, dia berteriak sambil terus mengeluarkan darah dari mulutnya. Hou Yong menyalahkannya yang telah melakukan semua ini kepada warga Desa Tani dan saudara seperguruan mereka.


"Sa-saudara Jing, A-aku Membencimu... AKU MEMBENCIMU...!"


!!


Jing Mi terjatuh dengan wajah yang pucat dan berkeringat dingin. Dia seketika melihat dirinya sendiri menebas dan membunuh warga Desa Tani serta saudara-saudara seperguruannya.


Dia begitu ketakutan. Dia melihat kedua tangannya yang penuh dengan darah. Sebuah tangan kemudian menyentuh pundak Jing Mi, tangan yang terasa aneh dan dingin secara bersamaan.


Dia tidak tahu tangan siapa yang menyentuh pundaknya, dan dia tidak bisa menoleh untuk melihatnya. Seakan, Jing Mi harus terus melihat kejadian mengerikan di depannya.


"Apa... orang itu kau...?"


Sebuah suara didengar oleh Jing Mi, suara seorang wanita. Jing Mi tak pernah mendengar suara seperti ini sebelumnya, dia tidak tahu siapa.


CRAAASH!


Jing Mi tersentak saat mendengar suara tebasan, dia kemudian melihat bahwa dirinya sendiri membunuh orang yang paling dia kagumi.


"Bibi WeiWei..."


Jing Mi ketakutan, tubuhnya gemetar. Apalagi sekarang tubuh kaku Xiao WeiWei kini terbaring di depannya.


"I-ini semua... bu-bukan aku yang melakukannya.. A-aku tidak melakukan apa pun..! Bu-bukan Aku..!"


"Saudara Jing, kau pembunuh... Kau membunuh orang tuaku...!"


"Jing Mi...! Kau jangan pernah menganggapku 'Saudara' lagi...! Xiao Shuxiang tidak akan mengakuimu sebagai 'Saudara'. Kau sudah membunuh orang tuaku. Kau pembunuh!"


Jing Mi juga mendengar suara dari Xiao Lu dan Xiao Shuxiang. "Ti-tidak... Bukan aku yang melakukannya. Bukan, Saudara Xiao...! Bukan aku,"


Xiao Shuxiang, "Apa salah ibuku padamu?! Apa pernah dia menyakitimu hingga kau tega membunuhnya. Aku membencimu...! Seumur hidup aku akan membencimu...!!"


Xiao Lu, "Kau pembunuh...! Kau membunuh ayah dan ibuku...! Kau tidak pantas untuk hidup Saudara Jing, kau monster...!!"


Keduanya menuntut dan berteriak sedih karena Jing Mi begitu tega membunuh ibu mereka.


Jing Mi dilema, sekarang dia tidak bisa membedakan mana kenyataan dan penglihatan yang dibuat oleh murid Sekte Pedang Langit.


Jing Mi tenggelam dalam penyesalan dan ketakutannya. Berbagai penglihatan pun mulai dilihatnya dan semua itu berakhir dengan dia yang melakukan pembunuhan, serta mendengar kutukan dari orang-orang yang dibunuhnya.


***