
Xiao Shuxiang saat ini berada di pinggiran Danau Teratai, dia terduduk sambil sesekali memandang langit yang tertutup awan gelap di atas sana.
Rambutnya terurai panjang, terlihat masih basah. Dia memakai selapis pakaian, sebuah kain berwarna merah. Sementara pakaian luarnya yang berwarna hitam nampak menjadi penutup tubuh bagi seseorang yang masih belum sadarkan diri di sampingnya.
"Haah... Aku pasti sudah gila..."
Untuk kesekian kalinya Xiao Shuxiang mengembuskan napas. Dia mengusap-usap wajahnya, sesekali memijat dahinya, menggelembungkan pip, dan kembali mengembuskan napas.
"Oke, baiklah. Sekarang aku harus meluruskan ini. Aku sama sekali tidak bersalah. Situasi dan kondisilah yang memaksaku melakukannya. Aku tidak punya pilihan dan cara lain. Dan jujur, aku juga seorang pria, kau tahu? Dihadapkan hal semacam itu... Ehm... Siapa yang bisa menolaknya?! Aah..! Tidak mungkin kukatakan itu,"
Xiao Shuxiang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wajah menawannya terlihat pucat, tetapi ujung telinganya masih memerah. Dia bicara dengan diri sendiri sejak tadi dan seakan berlatih mengucapkan kata-kata yang tepat sebagai persiapannya nanti jikalau sosok di sampingnya ini terbangun.
"Apa yang harus kukatakan..." Xiao Shuxiang lagi-lagi mengembuskan napas. "... Akan kukatakan bahwa aku tidak bersalah. Kau yang mulai duluan. Dan kita juga sudah resmi sebagai suami-istri, jadi hal semacam itu... Pasti akan terjadi cepat atau lambat. Aaah.. Tidak. Dia akan menyebutku tidak tahu malu atau yang lebih buruk--leherku langsung akan ditebas."
Kedua tangan Xiao Shuxiang spontan menyentuh lehernya. Dia sudah membayangkan kemungkinan terburuk yang akan dirinya alami jika gadis berambut putih di sampingnya ini telah terbangun.
"Bagaimana ini..? Apa.. Aku pukul saja kepalanya sampai dia gegar otak hingga melupakan kejadian itu?" Xiao Shuxiang berkedip saat pilihan tersebut terlintas di benaknya.
Hanya saja, ketika masih berpikir.. Tiba-tiba terdengar gumaman pelan, namun cukup mengejutkan Xiao Shuxiang. Pemuda itu pun segera menoleh dan langsung menarik pakaian hitam miliknya yang sebelumnya digunakan untuk menyelimuti tubuh gadis di sampingnya.
Xiao Shuxiang bergeser, mengambil jarak aman sambil menatap penuh waspada ke arah gadis yang perlahan membuka mata itu.
Entah dia sadar atau tidak, tetapi kedua tangannya memegang kuat pakaian hitamnya dan digunakan untuk menutupi dadanya sendiri. Xiao Shuxiang terlihat seperti habis menjadi korban pelecehan, namun dengan tampilan yang menggemaskan.
"......"
Gadis yang merupakan adik dari Ling Lang Tian tersebut nampak tidak bicara, dia hanya menatap langit yang tertutup awan, berkedip pelan, kemudian mulai bangun. Wajah dan tatapan matanya begitu datar, dingin, namun penuh wibawa.
"......"
Ling Qing Zhu memperhatikan pakaiannya. Dia baru sadar pakaian putihnya sangat basah, bahkan rambut dan seluruh tubuhnya juga. Dia pun mengedarkan pandangan kesekitaran dan sedikit tersentak saat melihat seorang pemuda yang duduk tidak jauh darinya.
"Mn?"
Meski wajah dan tatapannya tenang, namun Ling Qing Zhu agak keheranan sebab Wali Pelindungnya terlihat sedikit aneh. Xiao Shuxiang seperti takut-takut melihatnya, dan bahkan kembali bergeser menjauh.
"Ehm.. Kau.. Kau sudah bangun, Kucing Putih..?"
"Mn,"
Ini pertama kalinya Ling Qing Zhu melihat Wali Pelindungnya begitu gugup saat bicara padanya. Xiao Shuxiang aneh, jelas tidak seperti yang dia ketahui.
"Kau kenapa?"
!?
Xiao Shuxiang tersentak, dia menjawab pertanyaan Ling Qing Zhu dengan suara yang pelan. "Kau.. Apa tidak ingat dengan yang sudah kau lakukan padaku..?"
Ling Qing Zhu berkedip, Wali Pelindungnya duduk, namun dengan posisi meringkuk. Bahkan pemuda itu menarik pakaiannya untuk menutupi kakinya yang masih memakai sepatu.
"Dia seperti kucing," Ling Qing Zhu kembali berkedip. Tidak tahu kenapa, tapi melihat Wali Pelindungnya seperti takut-takut padanya nampak sangat mempesona.
"Apa yang kulakukan padamu?"
!!
Suara Ling Qing Zhu datar, tidak punya rasa sama sekali dan itu hampir meruntuhkan jantung Xiao Shuxiang. Dia bernapas pelan dan berusaha memutar otaknya untuk bisa menyelamatkan diri dari masalah ini.
"Tunggu. Dia terlihat seperti tidak ingat apa-apa. Mungkin.. Aku bisa sedikit menggodanya," Xiao Shuxiang nyaris saja tersenyum, untunglah dia masih bisa mengendalikan diri hingga kembali bertingkah layaknya anak kecil yang ketakutan.
"Ehm... Kucing Putih. Kau.. Kau harus bertanggung jawab..." suara Xiao Shuxiang dan tingkahnya terlihat malu-malu. "... Kau tahu, saat ini aku tidak punya muka untuk bertemu siapa pun. Aku sangat malu sekali. Dan kau melakukannya padaku.. Ehm.. Aku sama sekali tidak bersalah. Jadi aku..."
Ling Qing Zhu melihat Wali Pelindungnya memberi tatapan yang memang seperti anak kucing. Pandangan malu-malu dari pemuda itu membuatnya teringat kejadian beberapa saat yang lalu.
!!
Ling Qing Zhu sudah ingat semuanya. Dia masih berekspresi tenang, namun tangan kirinya nampak mencengkeram kuat kain pakaiannya. Bukankah harusnya dia yang malu saat ini? Kenapa malah Wali Pelindungnya yang justru bersikap demikian?
"Kucing Putih.. Kau jangan diam saja.." Xiao Shuxiang berujar pelan, namun dalam hati dia tersenyum. Dia pasti akan membuat gadis ini berada di pihak yang salah.
"Kucing Putih.. Apa yang harus kulakukan..? Bagaimana aku menanggung beban ini. Apa kau tidak mau.. Bertanggung jawab padaku..?"
Bertanggung jawablah! Akui kesalahanmu, Kucing Putih. Kapan lagi ada pria yang jadi pelakunya, sementara Sang Wanita yang bertanggung jawab. Xiao Shuxiang, kau luar biasa.
"......"
Ling Qing Zhu masih tenang, memang tidak ada yang bisa membaca ekspresinya kecuali anggota keluarganya sendiri. Dia mungkin terlihat dingin, tetapi dalam hati----jujur dia sangat malu sekali.
Bagaimana bisa mereka melakukan 'itu' di tempat seperti ini? Alam terbuka dan di dalam air?! Belum lagi ekspresi wajah Wali Pelindungnya itu seakan pemuda tersebut adalah korban di situasi ini.
"Mn.. 'Bertanggung jawab'? Tapi bukankah kita sudah menikah? Jadi bagaimana aku harus bertanggung jawab padamu?"
!!
Pertanyaan yang tidak terduga. Ling Qing Zhu justru sangat tenang menanggapi dirinya dan itu membuat kecemasan Xiao Shuxiang menghilang. Dia pikir dirinya akan dibenci, dikatakan 'mesum', atau lebih buruk dari itu.
"Aah, benar. Kalau begitu kau tidak perlu bertanggung jawab." Ekspresi Xiao Shuxiang kembali normal, dia terlihat tersenyum dan senang karena kejadian tadi tidak diakhiri dengan kecanggungan.
"Ayo pulang." Ling Qing Zhu mulai berdiri, dia merobek kain pakaiannya dan menggunakannya sebagai kain cadar untuk menutupi wajahnya sendiri.
Mereka akan pulang, tentu dia tidak boleh sampai memperlihatkan wajahnya sendiri di depan orang lain. Walau memang saat di Dunia Demon, dia tidak bisa menutupi wajahnya.
Makhluk di dunia itu seperti tidak memperhatikan wajahnya dengan jelas karena berada dalam kondisi panik. Apalagi, Lui Me Tian terus mendesak mereka untuk fokus dan tidak memikirkan hal yang bukan-bukan.
"......"
Ling Qing Zhu berjalan dengan tenang, dia disusul oleh Wali Pelindungnya yang nampak memakai kembali pakaian luarnya.
Xiao Shuxiang lalu mengikat rambutnya, dia akhirnya bisa tenang saat penampilannya sudah lebih rapi dibanding yang tadi. Dia baru memperhatikan cara berjalan gadis di sampingnya ini yang lebih pelan, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ehm.. Kucing Putih, apa lututmu tidak sakit? Aku bisa menggendongmu jika kau merasa tidak baik.." suara Xiao Shuxiang pelan, terdengar lembut dan penuh perhatian. Dia membuat gadis di sampingnya menoleh padanya.
"......"
Ling Qing Zhu tahu benar arti kata 'lutut' yang dimaksud oleh Wali Pelindungnya. Dia mungkin terlihat seperti gadis polos, namun kebenarannya----Tidak ada gadis berusia 20 Tahun ke atas yang masih memiliki pemikiran polos anak-anak hingga tabu pada hal berbau dewasa.
"Aku baik-baik saja."
"Kau yakin?" Xiao Shuxiang cemas jika Kucing Putihnya memaksakan diri untuk berjalan. Tapi melihat tatapan datar gadis di sampingnya, dia menjadi agak ragu dalam bertanya.
"Kau yakin baik-baik saja? Mm.. Aku tahu itu adalah yang pertama kali bagimu, tapi-"
"Apa kau lihat semuanya?" Ling Qing Zhu memotong ucapan Wali Pelindungnya, dia berhenti berjalan dan tatapan matanya seperti gunung es yang beku.
!!
Xiao Shuxiang mengangkat tangannya dan menggeleng, "Tidak. Sama sekali tidak. Aku bahkan tidak menyentuh hal lain, sungguh." wajahnya terlihat serius.
"Meski sempat kehilangan kerasionalanku. Ini juga kan karenamu. Tapi saat itu yang kupikirkan hanyalah menyelamatkanmu. Aku tidak punya cara lain. Sebenarnya kau yang lebih dulu menarikku,"
"Mn," Ling Qing Zhu tidak lagi mengatakan apa-apa. Dia sudah tahu dari jawaban Wali Pelindungnya. Pemuda ini tidak pernah berbohong. Dia pun kembali lanjut berjalan.
Xiao Shuxiang sebenarnya beruntung karena nafsu akan darah, pembantaian dan menebas leher lawan masih lebih besar daripada nafsu birahi-nya. Dia bukannya tidak tertarik pada perempuan, tapi dia menghargai mereka. Baginya, perempuan bukanlah tempat pemuas nafsu hingga harus diperlakukan secara kasar.
Jika ingat tentang itu, Mu Zan adalah salah satu rekan Xiao Shuxiang di masa lalu yang tidak kenal tempat jika sedang bergairah.
Mu Zan sering menangkap banyak gadis di desa, menyetubuhi mereka bahkan tepat di hadapannya. Anak-anak hingga wanita yang sudah tua juga tidak luput dari penglihatan Mu Zan. Sepuluh orang sehari termasuk angka kecil baginya.
Xiao Shuxiang kadang tidak habis pikir kenapa rekannya itu masih sehat-sehat saja bahkan tak terkena penyakit apa pun setelah melakukan banyak hal yang demikian. Buruknya, setelah melakukan tindakan tidak manusiawi itu----para korbannya langsung dibunuh. Yaah.. Meski untuk yang satu ini Xiao Shuxiang kadang ikut terlibat di dalamnya.
"Kucing Putih, aku khawatir padamu. Bagaimana jika kugendong saja?" Xiao Shuxiang ragu bila gadis di sampingnya ini tidak merasakan sakit. Apalagi mengingat dia mengeluarkan 'itu' dalam tubuh manusia biasa.
Walau Ling Qing Zhu adalah kultivator hebat sekali pun, Xiao Shuxiang masih tidak yakin gadis ini akan selamat. Kalau bukan lima menit dari sekarang, mungkin kondisi Kucing Putihnya akan memburuk sekitar tujuh menit lagi.
Ling Qing Zhu sendiri hanya menggumam pelan, dia melirik sejenak ke arah Wali Pelindungnya dan kemudian kembali memandang ke depan.
"Terima kasih,"
!?
"Kenapa kau berterima kasih? Jangan mengatakan itu, aku tidak terbiasa mendengarnya. Apalagi dengan orang sepertimu, itu agak menakutkan."
"Terima kasih karena sudah menolong." Ling Qing Zhu mengulanginya kembali tanpa mempedulikan perkataan Wali Pelindungnya barusan, "Kau punya jempol kaki yang besar."
!!
Xiao Shuxiang nyaris terjatuh akibat tersandung akar pepohonan. Dia terkejut bukan main saat mendengar ucapan terakhir dari Kucing Putihnya. Anehnya, Ling Qing Zhu mendengus singkat dan mempercepat langkahnya.
Sebenarnya kalimat terakhir yang diucapkan gadis berambut putih itu mempunyai niatan untuk bercanda dan Xiao Shuxiang mengetahuinya. Tetapi karena ekspresi dan nada bicara Kucing Putihnya itu yang terlalu datar serta serius, candaannya justru tidak lucu sama sekali.
"Gadis itu.. Mungkin aku terlalu lembut padanya. Lain kali akan kubuat dia tidak bisa bergerak selama tiga hari. Kucing Putih, tunggu..!"
Xiao Shuxiang menyusul Ling Qing Zhu, mereka berjalan di hutan bambu buatan milik Sekte Pagoda Langit. Keduanya nampak berbincang, walau memang Xiao Shuxiang-lah yang lebih banyak bicara.
"Aku bisa menggunakan Cermin Pemindah agar kau bisa langsung tiba di kamarmu, itu kalau kau mau."
"Mn, tidak perlu."
"Tapi kalau jalan kaki seperti orang biasa begini malah akan lama.."
"Kau tidak mau jalan denganku?"
!!
Xiao Shuxiang berkedip, dia menatap wajah Kucing Putihnya yang tertutup kain dan mencoba mencari sesuatu pada mata sebiru langit itu. Sayang bagaimanapun ia melihat, gadis ini tetap sulit dimengerti.
"Jadi... Kau ingin jalan-jalan berdua.. Bersamaku, begitu?"
"......"
Ling Qing Zhu terdiam, namun kebungkamannya membuat Xiao Shuxiang tersenyum. Koki Alkemis itu pun secara sengaja berjalan berdekatan dan kemudian menyenggolnya.
"Tidak kusangka kau juga bisa semanis ini, kau suka padaku kan?"
!?
Ling Qing Zhu mengembuskan napas ketika Wali Pelindungnya mulai lagi. Dia yakin sebentar lagi pemuda ini akan membangga-banggakan diri sendiri seperti yang selalu Wali Pelindungnya lakukan.
!!
Dan benar saja, Xiao Shuxiang sudah mulai cerewet. Dia mengatakan pesonanya memang tidak terbantahkan, gadis mana pun akan sulit menolaknya karena dirinya sangat 'Luar Biasa'.
"Shuxiang, apa kau sangat suka memuji dirimu sendiri?"
"Tentu saja. Pujian manusia itu semu, tapi pujian dari Xiao Shuxiang ini tulus untuk dirinya sendiri. Aku mengagumi diriku sampai di titik di mana orang lain tidak sanggup melihatnya."
"Memalukan. Kau sudah tidak waras."
"Ayolah, wajar jika pemuda mempesona sepertiku melakukan sesuatu yang tidak waras. Tidak ada yang akan menuntut. Lagipula memuji diri sendiri bukanlah kejahatan. Aku tidak merugikan orang lain, aku juga tidak menyusahkan mereka, jadi tidak masalah."
"Apa di masa lalu sifatmu juga seperti ini?"
"Mm.. Aku bahkan lebih tidak waras lagi."
"......"
Ling Qing Zhu melihatnya. Senyuman dari Wali Pelindungnya penuh dengan rasa percaya diri dan kebanggaan. Dia pun tidak kuat lagi dan mengulurkan tangan untuk menarik hidung pemuda tersebut.
!!
Xiao Shuxiang terkejut dan spontan merintih ketika hidungnya diapit dengan dua jari kemudian ditarik keras. Terdengar suara, bahkan matanya sedikit berair.
"Kucing Putih! Kau ini suka sekali menarik hidungku, bagaimana jika tiba-tiba copot? Aduh, hidung sempurnaku.." Xiao Shuxiang merasakan hidungnya berdenyut. Tidak disangka dia bisa mendapat serangan dadakan semacam ini.
"......"
Koki Alkemis itu mungkin tidak tahu, tetapi di balik kain yang menutupi wajahnya----Ling Qing Zhu terlihat tersenyum tipis. Dia suka melihat hidung Wali Pelindungnya memerah, Xiao Shuxiang nampak lebih menggemaskan.
"Aduuh, kenapa kalian yang berwajah papan datar ini suka sekali bertindak mengejutkan. Lan Zhi sering menyentuh bokongku dan kau malah suka menarik hidungku. Kalian melakukannya tanpa ekspresi dan itu menakutkan, tolong jangan lakukan lagi."
"Itu karena kau memang pantas mendapatkannya."
!?
"Kau.. Menjawab? Hei! Aku ini tidak semurahan itu. Meski aku tidak mengambil hati setiap tindakan kalian, tapi bukan berarti kalian bisa seenaknya.." Xiao Shuxiang menggelembungkan pipinya, ".. Rasa-rasanya seperti aku ini tidak punya harga diri,"
"Mn, kami juga tidak melakukannya pada sembarangan orang. Hanya kau."
"Mn? Lalu kenapa hanya padaku?"
"Karena kau pantas mendapatkannya."
!!
Xiao Shuxiang berkedip saat pipinya ditepuk lembut oleh Kucing Putihnya. Dia tidak pernah berhenti dikejutkan oleh tingkah Ling Qing Zhu, karena baginya----adik dari Ling Lang Tian itu adalah sosok yang mustahil akan melakukan tindakan semacam ini.
*
*
Saat Xiao Shuxiang dan Ling Qing Zhu masih berjalan-jalan sambil sesekali berbincang, kericuhan terjadi di bagian gerbang depan Sekte Pagoda Langit.
Itu bukan karena adanya pertarungan, tetapi lebih kepada ricuh akibat Ling Chu Zhen yang membawa pulang Ling Lang Tian dan membuat putranya itu mengatakan kebenaran dari identitas Xiao Shuxiang.
Para murid Sekte Pagoda Langit, baik yang terluka maupun tidak----serta para pendekar dari Partai dan Sekte Lain yang juga dirawat di tempat ini sangat terkejut mendengar ucapan Ling Lang Tian.
"Bagaimana bisa kau menyembunyikan hal sebesar ini pada kami, Lang Tian'Er?!" Ling Shen Yue, yang merupakan nenek dari Ling Lang Tian begitu terkejut.
Dia sebenarnya baru kembali dari wilayah Kekaisaran Langit Selatan bersama Wang Rui Chan dan Ling Dong Hun. Mereka membawa beberapa pendekar yang terluka, namun tidak disangka sampai di sini malah disambut kabar yang begitu besar.
Sang Bintang Penghancur telah bereinkarnasi..!
Siapa pun tahu bagaimana kisah Sang Bintang Penghancur. Ini sesuatu yang bahkan tidak hanya terkenal di Benua Timur, tetapi juga di benua lain termasuk Benua Tengah.
"Sekarang sepertinya kita semua sudah tahu penyebab kekacauan besar ini.." suara Wang Rui Chan dingin, tetapi sorot matanya mengandung kemarahan. Dia merasa seperti sudah dibohongi.
Tatapan mata Ling Lang Tian juga nampak tidak baik-baik saja. Dia akui telah menyembunyikan identitas Xiao Shuxiang yang merupakan reinkarnasi Sang Bintang Penghancur dari anggota keluarganya, tetapi dia tidak tahu mengenai identitas lain Koki Alkemis itu yang disebut sebagai jelmaan 'Iblis'.
Ling Lang Tian sama sekali tidak tahu. Dia sendiri juga terkejut mendengar ucapan Ling Chu Zhen serta keterangan dari dua pendekar yang saat ini masih tengah dirawat.
Sejujurnya banyak yang tidak percaya bahwa reinkarnasi itu benar adanya, tetapi mereka semua sedang membahas tentang Sang Bintang Penghancur. Sosok itu dahulu memang sempat membuat para kultivator merasa dia adalah jelmaan 'Iblis', jadi jika dirinya dapat bereinkarnasi----maka itu bukan hal yang mustahil.
"Satu-satunya cara untuk menghilangkan keraguan ini adalah bertanya langsung pada yang bersangkutan." Ling Dong Hun memilih jalan yang terbaik, ucapannya disetujui oleh sebagian pendekar yang mendengarnya.
"Senior benar. Tapi bagaimana jika seandainya Xiao Shuxiang mendengar ini dan tidak mengakuinya? Malah justru menyerang kita karena identitasnya telah terungkap. Apa yang akan kita lakukan?!"
Salah satu pendekar bersuara, dia berasal dari Partai Aliran Hitam dan tahu benar bagaimana jalan pikiran manusia monster seperti itu. Dia sudah lama hidup di lingkungan aliran yang bahkan udara pun bisa bertindak kejam.
"Jika itu benar terjadi, maka kita sendiri yang akan menghadapinya." Ling Chu Zhen memerintahkan para muridnya untuk membawa mereka yang terluka ke tempat ter-aman di sekte ini.
Dia juga memberi perintah pada salah satu muridnya untuk meminta bantuan. Mereka yang mendengarnya segera melesatkan kembang api ke arah langit.
Para pendekar termasuk murid dari Partai Pasak Bumi juga melakukannya. Mereka mengeluarkan sebuah potongan bambu di lengan pakaiannya, menarik sumbu pada bambu tersebut yang mana melesatkan sebuah kembang api.
!!
Sebenarnya sejak kekacauan ini berlangsung, sudah banyak terlihat kembang permintaan bantuan. Tetapi jika melihatnya di satu titik secara beruntun, apalagi simbol kembang api itu berbeda-beda sesuai ciri khas perguruan masing-masing, maka tentu akan ini lebih mengundang banyak perhatian.
!?
Bocah Pengemis Gila yang berada di tempat jauh dari Sekte Pagoda Langit pun ikut melihatnya. Dia terkejut dan khawatir. Perasaannya mengatakan bahwa kekacauan ini telah menuju pada bab yang baru.
***