XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
456 - Miao Gang [Revisi]


Di Benua Utara, wilayah Kekaisaran Salju Putih bisa dibilang merupakan keluarga besar Xiao Shuxiang. Di sinilah tempat kelahiran Yang Shu, Kakeknya.


Tidak ada dari warga Kekaisaran Salju Putih yang tidak mengenal Yang Shu, bahkan sampai sekarang rasa penuh suka cita masih terasa hangat. Yang Shu merupakan 'Kaisar' yang sudah lama mereka tunggu.


Yang Chai Jidan sudah melakukan banyak persiapan untuk tiga hari penting ini. Yang mana di hari pertama pada malamnya akan diadakan prosesi pernikahan cicitnya.


Acara ini dilakukan secara tertutup dengan dihadiri para anggota keluarga terdekat Kaisar Salju Putih saja dan beberapa anggota inti keluarga 'Ling'.


Prosesi ini sedang berlangsung sekarang. Murid Sekte Kupu-Kupu seperti Yi Wen, Jing Mi, Hou Yong dan yang lainnya tidak bisa menyaksikan prosesi itu walau mereka selalu menganggap Xiao Shuxiang sebagai saudara.


Meskipun demikian, mereka sama sekali tidak keberatan. Justru Yi Wen dan teman-temannya bersemangat menjaga keamanan istana sambil sesekali bermain melempar bola salju.


Di Benua Timur, hanya tempat tinggal Patriarch Pertama Sekte Pedang Langit, Yu Changhai sajalah yang dipenuhi dengan salju. Tempat itu merupakan bukit bersalju yang tidak mengenal musim.


Yi Wen dan teman-temannya pun jarang pergi ke sana. Karenanya saat di Benua Utara, apalagi berada di istana yang halaman luarnya terdapat tumpukan salju----dia dan yang lainnya gatal jika tidak bermain.


Bocah Pengemis Gila juga berada di antara teman-teman Yi Wen. Dia tidak mau ditinggal sendirian di Sekte Pagoda Langit, dan dia hanya memiliki Lan'Er Gege-nya sebagai tempat pulang.


Namun saat Lan'Er Gege-nya tidak ada, dia hanya bisa mengikuti Xiao Shuxiang walau memang sekarang dia harus menunggu sampai Koki Alkemis itu selesai melakukan prosesi pernikahan.


!!


Bocah Pengemis Gila refleks mengayunkan tongkatnya saat merasakan adanya serangan. Itu rupanya merupakan sebuah bola salju yang dilempar oleh Hou Yong.


"Hei...! Kenapa kau berdiri saja? Kedinginan ya...?!" Hou Yong tertawa meledek, dia pun kembali melempar bola salju pada Bocah Pengemis Gila dan berseru kepada Hai Feng untuk membantunya.


Hai Feng tersenyum dan mulai memadatkan segenggam salju yang secara pasti menyerupai bola seukuran kepalan tangan. Dia bersiap melemparnya pada Bocah Pengemis Gila saat tangannya sengaja dia pelesetkan ke arah Hou Yong.


!!


Jing Mi dan Yi Wen yang melihat adegan itu tertawa. Mereka berdua lantas membantu Hai Feng untuk melempari Hou Yong dengan bola-bola salju. Sementara itu, Bocah Pengemis Gila hanya memperhatikan kelakuan kekanakan teman-teman Xiao Shuxiang.


Sebenarnya selain Bocah Pengemis Gila, di sekitar Yi Wen dan yang lainnya juga ada para prajurit Yang Chai Jidan.


Beberapa dari mereka terlihat mengembuskan napas dan ada juga yang menggeleng pelan.


Mereka seolah kasihan pada orang-orang asing ini yang melihat tumpukan salju bagai melihat tumpukan emas. Di pikiran mereka hanya satu, Yi Wen dan teman-temannya sangatlah...


"恥ずかしい."


["Hazukashī."]


["Memalukan."]


*


*


Di tempat lain, prosesi pernikahan Xiao Shuxiang dan Ling Qing Zhu diadakan di kediaman khusus, tempat yang biasa dijadikan sebagai Aula Pengadilan dan penerimaan tamu.


Dalam ruangan ini, seluruh keluarga Yang Chai Jidan, mulai dari istri-istrinya, anak, cucu dan cicitnya berkumpul. Ruangan ini bisa dibilang penuh oleh keluarga besar Kaisar Salju Putih.


Yang Chai Jidan memiliki 28 cicit laki-laki dan 17 cicit perempuan. Di antara mereka terlihat Yang Ni dan Yang Shiwu. Keduanya merupakan orang yang pernah bertukar serangan dengan Xiao Shuxiang beberapa waktu lalu.


"Dia mendahului kita menikah..." suara Yang Shiwu pelan, namun tetap bisa terdengar oleh pemuda di sampingnya.


"........."


Yang Ni tidak mengatakan apa-apa selain tangan kanannya yang mencengkeram pakaian biru muda miliknya. Dia merupakan cucu dari pangeran kelima, sosok pemuda tampan yang pernah tertipu dengan penyamaran Xiao Shuxiang sebagai perempuan.


"Yang Ni, bagaimana dengan gadis yang selama ini kau cari? Apa kau benar-benar menyerah padanya...?"


"Shiwu, bisakah kau berhenti bicara?"


Yang Shiwu mengatupkan bibirnya walau dia sebenarnya tersenyum. Yang Ni selalu bereaksi seperti ini saat dia membahas mengenai gadis misterius bernama 'Shu Xiang' itu. Sosok yang dicari oleh saudaranya hingga nyaris membuat kakaknya ini menggila.


Yang Ni sendiri nampak berusaha tenang. Dia memperhatikan Xiao Shuxiang yang tengah serius melakukan ritual pernikahan bersama sosok berpakaian putih yang sampai sekarang kepala dan wajahnya tertutup oleh kain.


"Apa dia menikah dengan perempuan?"


!!


Yang Ni terkejut mendengar pertanyaan yang terlontar dari pemuda di sampingnya, dia pun menoleh.


Sosok yang nampak berusia sekitar 21 Tahun dengan sebuah kipas putih di tangan kanannya ini merupakan salah satu saudaranya, Yang Shiju.


"Kakak Ni, apa kau tidak merasa bahwa Saudara Xiao itu menikah dengan laki-laki dan bukannya perempuan? Dia terlihat seperti pemuda yang tidak akan tertarik pada seorang gadis..."


Yang Shiju setengah berbisik, dia menggunakan kipasnya untuk menutupi sebagian wajahnya sambil bicara dengan saudaranya yang berdiri paling dekat. Dia memang merupakan sosok pangeran yang suka sekali dengan rumor apalagi menggosipkan dan menyebarkannya.


"Kau jangan bicara yang bukan-bukan," Yang Ni memperingatkan. Dia meminta saudaranya diam dan fokus saja memperhatikan prosesi ini sampai selesai.


*


*


*


"Hu Li...! Untunglah kau cepat datang. Aku nyaris mati kedinginan di sini..." Bocah Pengemis Gila menyatukan kedua tangannya sebelum diusap-usap.


Setiap kali dia mengembuskan napas atau bicara, pasti akan ada semacam asap tipis yang keluar dan itu merupakan pertanda betapa dinginnya suhu di tempat ini.


Hu Li memberikan sebuah mantel bulu berwarna putih pada Bocah Pengemis Gila. Dia juga tidak bisa masuk dan mengikuti acara prosesi pernikahan Tuan Muda Xiao-nya, tetapi bukan berarti dia tidak melakukan apa-apa.


Hu Li membelikan mantel bulu untuk teman-teman baik Tuan Mudanya, sekaligus menjaga Lan Xiao, O Zhan dan Xiao Qing Yan.


Di sisinya, Hu Li juga bersama Ling Ya Bing. Anak perempuan dari Ling Lang Tian itu tidak ikut menyaksikan prosesi pernikahan di dalam aula dan lebih memilih tetap bersama Xiao Qing Yan.


Hu Li sibuk di tempat ini dan menjaga semuanya tetap aman. Dia tidak membawa Siu Yixin, Mo Huai, serta Nie Shang ke Benua Utara sebab ketiganya sedang mengurus sesuatu.


Nie Shang dan Mo Huai kembali ke Penginapan Seribu Tahun, sementara Siu Yixin membantu para Patriarch Sekte Pagoda Langit untuk menyelidiki sepak terjang dari Scarlet Darah.


Sebelumnya sudah banyak kabar beredar bahwa Scarlet Darah membantu Partai Pedang Tengkorak untuk menguasai setiap Sekte dan Partai Aliran Hitam yang ada di Kekaisaran Langit Tengah.


Target mereka merupakan sekte dan partai kecil. Siapa pun yang membangkang bisa berakhir menjadi abu dan perguruan mereka pun hanya akan tinggal nama saja.


Buruknya, tidak ada yang bisa membantu. Perguruan Besar tentu tidak mau melibatkan diri untuk masalah yang bukan urusan mereka, bahkan bisa dikatakan----mereka membiarkannya. Toh jika banyak sekte kecil yang menghilang, saingan mereka juga akan berkurang.


Sebenarnya Scarlet Darah seperti melakukan gerakan yang membantu perguruan lain. Karenanya apa pun tindakan mereka, tidak ada yang mau menghentikannya.


Jika banyak perguruan kecil yang menghilang, maka yang diuntungkan di sini justru perguruan menengah dan besar. Adapun yang ingin bersikap layaknya pahlawan----mereka hanya akan berakhir mengenaskan.


Hal yang paling bodohnya adalah, para tetua dari perguruan kecil ini memilih mati daripada harus mencari bantuan perguruan lain. Mereka secara tidak langsung telah meringankan pekerjaan Scarlet Darah.


Qian Kun-lah yang berada di balik ini semua. Tindakannya yang mengincar lawan kecil merupakan strategi dalam persiapannya terhadap serangan besar.


Di antara banyaknya perguruan, kemungkinan hanya Sekte Pagoda Langit dan Partai Pasak Bumi yang bekerja sama untuk menyelesaikan ini.


Masalahnya, pekerjaan Scarlet Darah begitu rapi. Mereka tahu kelompok itu yang membuat masalah, tetapi tidak ada bukti nyata atas kejahatan mereka. Apalagi, kelompok itu bersembunyi di balik bayangan Partai Pedang Tengkorak.


Perguruan tersebut berada di perbatasan antara Kekaisaran Langit Tengah dengan Kekaisaran Langit Utara, wilayah pegunungan yang curam. Luas partai itu mencapai tiga kota dan berada di dalam hutan yang disebut sebagai Hutan Beringin Hitam.


Siapa pun yang berani melangkah masuk ke sana secara diam-diam, atau entah di sengaja dan tidak----pasti akan berakhir pulang tanpa kepala saat tertangkap oleh para muridnya. Ling Lang Tian pun bahkan tidak berani memasuki wilayah tersebut.


Memang beberapa hari yang lalu, ada perwakilan dari Partai Pedang Tengkorak yang ikut menjadi tamu undangan atas pernikahan adiknya. Ling Lang Tian-lah yang mengundang mereka walau sebenarnya dilarang oleh Ling Shen Yue.


Neneknya tentu tidak ingin ada anggota Partai Pedang Tengkorak datang ke pernikahan cucunya, namun menurut Ling Lang Tian----mereka bisa menyinggung partai tersebut apabila tidak diundang, dan tentu saja Ling Shen Yue akan tahu bagaimana akhirnya nanti.


Cara Ling Lang Tian mengantarkan undangan pun tidak seperti yang lainnya. Dia hanya berdiri di batas wilayah kekuasaan Partai Pedang Tengkorak dan lalu menggunakan burung pengantar pesan untuk mengirimkan undangan itu.


Sayangnya, hewan tersebut mati dibunuh oleh salah seorang murid partai yang menjaga keamanan Hutan Beringin Hitam. Ling Lang Tian tahu itu akan terjadi.


Dan menyebalkannya, murid itu datang menemuinya dan menyerahkan bangkai burung itu dengan perasaan puas disertai senyum penuh provokasi.


Syukurlah bukan Xiao Shuxiang yang ada di posisi itu. Andai Koki Alkemis tersebut yang mengantar undangan, maka kemungkinan dia tidak bisa mengendalikan diri seperti yang dilakukan Ling Lang Tian.


Siu Yixin mengetahui cerita ini dari salah seorang murid Sekte Pagoda Langit yang kebetulan ikut menemani Ling Lang Tian ke Wilayah Hutan Beringin Hitam.


Tap


Kaki Siu Yixin menapak di salah satu dahan pohon sebelum melompat kembali dan menapak di dahan pohon lainnya. Dia bersama dengan enam murid Sekte Pagoda Langit dan tiga orang pendekar dari Partai Pasak Bumi tengah melakukan perjalanan ke arah utara.


Tugas dari kelompok Siu Yixin adalah menyebar di setiap tempat yang di Kekaisaran Langit Tengah. Mereka mengejar setiap pergerakan yang dilakukan oleh Partai Pedang Tengkorak dan Scarlet Darah.


Kebetulan juga, di malam yang sama. Kekacauan terjadi di Sekte Darah Roh, salah satu sekte menengah Aliran Hitam.


Enam Pendekar Bayangan yang diketuai oleh Sri Anyar menyerang sekte tersebut setelah sebelumnya dibantu Miao Gang untuk mengambil alih Segel Pelindung sekte.


BAAAM..!!


Suara debaman terdengar sangat keras dan seiringan dengan benturan senjata yang mengalun merdu tanpa diketahui sudah berapa lama ini semua terjadi.


Para murid Sekte Darah Roh terkurung dalam perguruannya sendiri. Mereka telah bersusah payah bertahan, mengarahkan seluruh kemampuan yang dimiliki untuk melawan para penyusup, namun usaha mereka sia-sia belaka.


["Mereka tidak bisa mati, bagaimana ini?!"]


["Sialan! Makhluk apa yang sebenarnya sedang kita lawan ini?!"]


Dua orang murid berwajah buruk, mereka menangkis serangan yang datang dan sekuat tenaga mempertahankan nyawa.


Keduanya sangat terkejut saat serangan mereka harusnya mampu membunuh lawan, tetapi justru lawan mereka bisa kembali hidup.


["Monster.. Kita bertarung dengan monster..!"]


["Mereka Immortal...!"] salah seorang murid yang lebih tua menekan dadanya, dia baru saja menyemburkan darah dan nampak terengah-engah.


["Senior...!!"]


["Pergilah...! Jangan kemari...!"] dia menghentikan salah satu adik seperguruannya untuk tidak mendekat. ["... Kalian harus mencari cara keluar dari tempat ini. Jika tidak bisa, cobalah untuk bertahan hidup..."]


["Tapi Senior..."]


["Hanya kalian yang kami miliki. Sekte ini tidak akan berakhir jika kalian hidup. Pergi dan sembunyilah. Pergi...!"]


Setelah mengatakannya, murid Sekte Darah Roh tersebut melesat untuk membantu saudara seperguruannya yang nyaria tewas. Dia bertarung hingga titik darah penghabisan dan disaksikan oleh para juniornya yang beberapa juga memiliki luka sayatan.


["Senior...!!"]


Para murid Sekte Darah Roh yang terdiri dari tiga orang perempuan dan dua orang laki-laki, berusia sekitar 14-15 Tahun tersebut berteriak histeris kala menyaksikan bagaimana senior mereka ditebas dari dua arah.


Selain sosok yang mereka lihat, ada juga senior lain yang bernasib sama. Bahkan saudara yang memiliki umur seusia mereka, namun dengan praktik yang lebih tinggi juga meregang nyawa di tangan para penyusup tersebut.


["Ayo... Kita harus pergi. Ayo...!"] seorang anak laki-laki meraih tangan saudaranya yang berteriak histeris barusan. Sebagai yang tertua, dia bertanggung jawab membawa saudaranya untuk pergi dari tempat ini.


["Keraskan hatimu. Ini bukan pertama kau melihat seseorang mati. Masa depan sekte ini ada di tangan kita sekarang. Ayo pergi...!"]


Anak laki-laki tersebut menarik tangan temannya, dia diikuti oleh saudaranya yang lain dan bergegas menuju gerbang belakang sekte.


Mereka sesekali menghindari serangan nyasar, beberapa kali bersembunyi, dan kemudian bertemu dengan saudara seperguruannya yang juga memiliki tujuan yang sama.


BAAAAM..!!


Debaman kembali terdengar, kali ini tanah berguncang dengan hebat. Seorang murid yang nampak berusia 37 Tahun berhasil menyerang satu-satunya wanita dari Enam Pendekar Bayangan hingga menghantam tanah.


Tubuh wanita tersebut bagai hangus terbakar. Pendekar Bayangan lain yang melihat kejadian ini menyerukan namanya.


Kultivator dari Sekte Darah Roh tersebut memakai pakaian berwarna merah gelap, pakaian khas sektenya. Ada sebuah titik merah di dahinya, murid-murid Sekte Darah Roh termasuk Grand Eldernya memang memiliki titik semacam ini.


Kultivator itu tidak lain adalah Sekar Aji, sosok yang dahulunya pernah bertemu Xiao Shuxiang di Kota Relung Bunga. Praktiknya sekarang masih berada di Grand Master Tingkat Fana, dan dia mengusai salah satu dari Enam Jenis Tenaga Dalam.


Sekar Aji termasuk murid Sekte Darah Roh yang kuat, tetapi yang dia lawan bukanlah musuh biasa. Tubuh wanita yang jelas-jelas sudah hangus itu malah nampak terbentuk kembali.


["Apa-apaan ini..."]


Tentu saja sangat mengejutkan. Sebuah kenyataan di mana meski telah berusaha sekuat tenaga dan mempertaruhkan segalanya, dia tetap tidak bisa membunuh lawan.


Sekar Aji mencengkeram kuat pedangnya, dia tersenyum pahit. Sektenya benar-benar sudah tidak dapat diselamatkan lagi.


Sia-sia mengharapkan keajaiban, tidak ada pertolongan yang akan datang. Kalaupun mungkin ada, mereka juga akan berakhir mengenaskan.


Sekar Aji mengembuskan napas pelan. Dia mengalirkan Qi pada pedang pusakanya dan mengeluarkan teknik terkuatnya. Jika pun cara ini tidak berhasil dan dirinya kehilangan nyawa, setidaknya dia tidak punya penyesalan.


Di sisi lain, lawan di hadapannya mulai berdiri. Kepala wanita itu tertunduk dan perlahan mendongak menatapnya, sebuah senyuman terlihat di wajah yang putih bernoda darah itu.


Hawa Raynar, wanita berpakaian serba hitam dan rambut hitam panjang bergelombang itu nampak memiringkan kepalanya. Di saat yang bersamaan, empat selendang mengembang layaknya ekor rubah di belakang tubuhnya.


Penampilan Hawa Raynar telah banyak berubah daripada yang dahulu. Sekarang dia terlihat jauh lebih mengerikan dan tentu saja penuh pesona.


Sekar Aji menahan napas, ini bukan waktu yang tepat untuk memperhatikan pakaian dan paha mulus yang mungkin sengaja diperlihatkan lawannya. Dia sudah membangunkan singa betina, dan dirinya tidak bisa melakukan apa pun selain mempertaruhkan nyawa.


["Rasanya tidak adil jika kau harusnya sudah menang karena berhasil membunuh lawan, tetapi lawanmu malah mempunyai kemampuan aneh yang bisa bangkit dari kematian. Bahkan mayat hidup pun harusnya akan menjadi abu setelah dibakar. Tetapi..."] Sekar Aji mengigit bibir bawahnya sebelum kembali tersenyum pahit, dia pun mengembuskan napas berat.


["Haah... Kekalahan ternyata mutlak ada padaku."]


["Hmph... Sepertinya sekarang kau mengerti..."] suara lembut Hawa Raynar malah terdengar dingin nan mencekam bagi orang yang mendengarnya. ["... Kalau begitu, mari jadikan ini malam yang indah..."]


Hawa Raynar melesat, di saat yang bersamaan Sekar Aji ikut melesat. Keduanya bertemu di pertengahan dan kembali bertukar serangan.


Pertarungan mereka berlangsung sengit. Sekar Aji adalah kultivator yang memiliki gerakan lincah, di samping dirinya merupakan salah satu Ahli Tenaga Dalam.


Sekar Aji ahli dalam Tenaga Suhu, dia mempunyai indra penciuman dan perasa yang lebih kuat, karenanya dia tahu bahwa selendang lawannya ini mengandung racun yang melumpuhkan.


Berkat kemampuannya, Sekar Aji bisa lebih berhati-hati dalam menahan serangan lawan. Dia pun tanpa ragu melesatkan belati beracun sebagai senjata rahasianya.


TRANG...!


Selendang yang berbenturan dengan pedang itu menghasilkan suara nyaring dan sebuah angin kejut.


Benturan demi benturan mengalun sepanjang malam, entah di sisi Sekar Aji ataupun di tempat saudara-saudara seperguruannya berada.


BAAAM...!


Suara debaman kembali terdengar. Ada seseorang yang berdiri dan menyaksikan kekacauan di sekte ini. Sosok tersebut berpakaian putih dan dia memeluk sebuah boneka kain.


Tangan halusnya mengusap-usap pelan kepala bonekanya, dia memperlihatkan wajah yang sedih. Perlahan, air matanya kembali mengalir membasahi pipinya.


"Kau tahu..." suaranya terdengar pelan, dia seperti mengajak bonekanya bicara.


"... Aku membenci malam ini... Membuatku ingin menangis. Setelah menargetkan perguruan kecil, orang itu kini menargetkan perguruan menengah. Dia ingin mengacaukan semuanya. Membuat mereka menjadi bahan percobaan. Rencananya... Sangat mengerikan.


Aku... Menjadi kasihan melihat mereka."


Sosok berpakaian putih itu adalah Miao Gang, dia berdiri di gedung tertinggi Sekte Darah Roh. Dia menengadah dan menatap langit malam, tatapannya sangat sendu.


Perlahan matanya terpejam, fokus mendengarkan suara benturan senjata, debaman keras, dan teriakan pilu para murid di tempat ini.


Setelah menghirup napas, dia pun kembali membuka mata dan memeluk erat boneka kainnya.


"Aku ingin menangis...


Aku sangat sedih...


Tetuaku hanya menginginkan Xiao Shuxiang. Tapi dia menggunakan mereka semua untuk mendapatkannya, termasuk kau dan aku.


Kita semua hanyalah alat untuk tujuannya...


Menyedihkan... Sangat menyedihkan..."


Miao Gang melihat salah satu dari Enam Pendekar Bayangan yang sedang bertarung dengan Grand Elder Sekte Darah Roh. Pertarungan itu jelas berat sebelah, ini dikarenakan tubuh pendekar bayangan bisa terbentuk kembali walau telah ditebas hingga menjadi beberapa potongan.


"... Mereka semua... Juga hanyalah alat.


Kau dan aku dimanfaatkan dengan sangat indah...


Terlalu indah hingga membuatku ingin menangis.


'Kekuatan butuh risiko besar', mereka tahu itu dan juga mengetahui sedang dimanfaatkan. Namun tetap membiarkannya, bahkan memperlihatkan kesetiaan.


Mereka membuatku sedih... Aku ingin menangis."


***