XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
410 - Firasat


Sembilan hari merupakan keseluruhan waktu yang dibutuhkan dalam proses Teknik Pemurnian Kolam Darah.


Selama jangka waktu itu, kondisi Xiao Shuxiang mengalami cukup banyak perubahan. Dia banyak memuntahkan darah di hari pertama, wajahnya begitu pucat dengan urat-urat tipis kehitaman.


Keadaannya semakin kacau di hari kedua, apalagi darah yang dimuntahkan Xiao Shuxiang memiliki warna yang begitu pekat dan nyaris mendekati hitam.


Dia mulai tidak sadarkan diri tepat di hari ketiga.


Yang Hao langsung masuk ke dalam kolam dan duduk di belakang Xiao Shuxiang sambil menjadi sandaran bagi putra kesayangannya itu.


Awalnya dia begitu cemas, namun Grand Elder Sekte Pagoda Langit mengatakan Xiao Shuxiang tidak sadarkan diri merupakan hal yang wajar.


Hari keempat adalah masa-masa kritis bagi Xiao Shuxiang. Terjadi sesuatu di dalam tubuhnya, salah satunya berada di bagian jantung.


Selama proses Pemurnian Kolam Darah, muncul urat-urat tipis di jantungnya hingga membuat detakan organ tersebut lebih cepat dari biasanya.


Seseorang yang mendengar detakan jantung secepat itu pasti tidak akan percaya bahwa orang yang memilikinya merupakan manusia.


Yang Hao bahkan sempat berpikir jantung Xiao Shuxiang akan meledak.


Di hari kelima, urat-urat kehitaman di tubuh Xiao Shuxiang sedikit berkurang. Perubahan terjadi pada Dantian utamanya yang terlihat lebih besar dari biasanya. Hanya saja, secara samar terdapat sehelai benang tipis berwarna keemasan di dalam Dantian itu.


Kondisi Xiao Shuxiang mulai membaik di hari ketujuh meski dirinya tidak sadarkan diri.


Grand Elder, Para Patriarch, termasuk Yang Shu, Zhi Shu, Hai Feng, dan Bocah Pengemis Gila awalnya sudah hampir mencapai batas. Beruntung Hu Li, Jing Mi, Hou Yong, dan Siu Yixin datang sebagai bantuan.


Yi Wen sendiri baru ikut membantu di hari kesembilan. Kehadirannya membuat proses dari Teknik Pemurnian Kolam Darah berjalan lebih singkat dan tidak menumbangkan korban jiwa di dalamnya.


Urat-urat di wajah, leher dan tubuh Xiao Shuxiang memudar saat hari kedelapan dan menghilang sepenuhnya di hari kesembilan, raut wajahnya sudah tidak pucat lagi.


Walau proses dari teknik ini berjalan lancar, namun semua orang yang ikut membantu Xiao Shuxiang merasa kelelahan, termasuk Sang Harimau Bulan.


Lan Xiao menggunakan energi kehidupannya untuk membantu semua orang yang ada di ruangan ini. Dia melakukannya agar tidak ada seorang pun yang kehilangan nyawa.


Paku Penembus Tulang masih tertancap di tubuh Xiao Shuxiang, tetapi saat sadar nanti--dia tidak akan mengerang kesakitan lagi.


Air kolam terlihat sangat pekat, berwarna merah kehitaman. Yang Hao dibantu oleh Hu Li--mulai mengangkat Xiao Shuxiang hingga keluar dari kolam.


Yi Wen, "Sebaiknya tubuh Saudara Xiao dibersihkan terlebih dahulu sebelum membawanya beristirahat di dalam kamar."


Yang Hao mengangguk, tubuh putranya memang harus dibersihkan. Ini juga karena air kolam sudah tidak sejernih sebelumnya, malah sekarang terlihat seperti kolam yang penuh darah.


Setelah tubuh Xiao Shuxiang dibersihkan dan diberi pakaian oleh Hu Li dan Yang Hao, dia pun dibawa ke salah satu kamar. Koki Alkemis itu masih tidak sadarkan diri.


Ling Ya Bing, Lan Xiao, dan O Zhan terus menemani Xiao Shuxiang di dalam kamar. Sementara teman-temannya yang lain hanya sesekali datang, itu pun di sela-sela kegiatan mereka yang juga membantu para murid Sekte Pagoda Langit untuk melakukan beberapa perbaikan.


Nie Shang kembali ke Penginapan Seribu Tahun setelah merawat Xiao Shuxiang selama tiga hari. Kondisi temannya memang terlihat membaik, tetapi sampai sekarang Koki Alkemis itu belum juga terbangun.


Jing Mi, Hou Yong, Zhi Shu, dan Hai Feng merasa cemas. Mereka khawatir bila Xiao Shuxiang ternyata melakukan hibernasi lagi.


".. Scarlet Darah dan Partai Pedang Tengkorak, bila mereka menyerang di saat Saudara Xiao belum terbangun, maka bisa dipastikan kekacauan akan terjadi di mana-mana,"


Hai Feng membayangkan suasana saat perang melawan Wyvern. Dia khawatir kondisi yang sama akan terjadi di benua ini.


".. Kita semua tahu, Benua Tengah tidak cocok dengan para kultivator. Bertarung sekuat tenaga melawan para pendekar apalagi Scarlet Darah membuatku yakin kita tidak dapat bertahan, bahkan selama tiga hari."


"Saudaraku, kau jangan menakut-nakuti.." Jing Mi menatap Hai Feng sebelum kembali bersuara.


".. Partai Pedang Tengkorak mengincar Saudara Xiao merupakan fakta, tidak bisa dipungkiri mereka menaruh dendam padanya. Dan Scarlet Darah merupakan musuh yang sudah ada lebih dulu, entah apa yang mereka inginkan--tetapi mereka adalah biang dari masalah yang menghampiri Saudara Xiao,"


Yi Wen meraih tangan Xiao Shuxiang dan mengusapnya dengan pelan. Rasanya sangat hangat dan juga lembut, namun sayangnya tidak ada respon apa pun dari Saudara Xiao-nya ini.


"Saudara Jing.." suara Yi Wen terdengar rendah, ".. Saudara Xiao memiliki takdir yang tidak biasa. Dia merupakan kegelapan, sosok yang tidak peduli nyawa manusia. Sosok yang sebenarnya tidak menginginkan hidup di lingkungan kita, lingkungan para pendekar baik hati yang bermimpi menjadi pahlawan.."


Yi Wen memperhatikan garis tangan Xiao Shuxiang. Wajah dan tatapan matanya seakan menyiratkan sesuatu. Dia lalu mengatakan bahwa apa yang terjadi pada Saudara Xiao-nya merupakan ujian.


".. Sebuah ujian untukmu. Ujian untuk kita yang dekat dengan Saudara Xiao. Dia yang merupakan kegelapan, walau tanpa sadar sedang berusaha mengubah dirinya. Tugas kita adalah tetap ada di sampingnya dan mencegahnya untuk kembali menjadi kegelapan,"


Yi Wen tidak akan pernah melupakan bagaimana Xiao Shuxiang mengajarkannya cara membunuh yang benar.


".. Saudara Xiao memiliki wajah tampan, mempesona, dan seakan sosok polos yang tanpa dosa. Namun siapa sangka, Saudara Xiao merupakan orang yang tidak akan ragu bermandikan darah. Dia menganggap kita teman sekaligus keluarga, tetapi bila diperlukan--dia bahkan sanggup membunuh kita tanpa berkedip. Kalian harus mengingat ini,"


Jing Mi, Hou Yong, dan Zhi Shu mengerti maksud dari ucapan Yi Wen. Keempatnya masih ingat jelas bagaimana mereka dihajar habis-habisan oleh Xiao Shuxiang saat dia bangun dari hibernasi untuk pertama kalinya.


Hai Feng juga ingat, "Waktu itu, karena Saudara Jing memberikan Lentera Phoenix Kembar pada Kultivator Sekte Tengkorak Darah demi menyelamatkan Saudara Wen, kita semua mendapat jatah darinya,"


Mendengar Hai Feng membuat Jing Mi mengusap-usap dadanya. "Saat itu, aku memang yang lebih dewasa dibanding Saudara Xiao, tapi entah kenapa--aku seperti tidak bisa menang melawannya. Ada sesuatu di dalam hatiku yang memperingatkan untuk tidak mencari masalah dengan Saudara Xiao,"


"Itu adalah hal yang wajar," Zhi Shu ikut bicara. "Kita semua tahu identitas sebenarnya dari Saudara Xiao dan tentang siapa dirinya di masa lalu,"


Yi Wen, "Kalau boleh jujur. Aku sebenarnya tidak yakin Saudara Xiao akan terus bersama kita. Dalam darahnya mengalir hasrat akan pembantaian, dia sedang berusaha mengendalikan hasrat tersebut. Tetapi sampai berapa lama dia bisa bertahan adalah hal yang tidak dapat kita dipastikan.."


Suara Yi Wen terdengar sedikit tegas, dia seperti benar-benar serius dengan ucapannya. ".. Tidak ada yang tahu kapan Saudara Xiao akan sulit menahan diri lagi. Dan saat masa-masa itu tiba, jangankan kita--bahkan jika pendekar, kultivator, dan para Demonic Beast bersatu sekali pun--Saudara Xiao tidak bisa lagi dihentikan,"


Yi Wen tidak ingin kondisi itu terjadi. Dia menyukai Xiao Shuxiang, karena itulah dia akan menghentikan mimpi terburuk yang dapat dibawa Saudara Xiao-nya.


Bertambah kuatnya Xiao Shuxiang membuat emosinya menjadi tidak stabil, apalagi hasrat membunuhnya akan semakin menjadi.


".. Kekuatan Saudara Xiao harus ditekan, atau paling tidak dia harus menjadi lemah. Aku kurang tahu cara kerja Paku Penembus Tulang, tetapi firasatku sangat tidak enak." Yi Wen meremas lembut tangan Xiao Shuxiang dan lalu sedikit menunduk untuk mencium tangan saudaranya.


Bocah Pengemis Gila juga ada di dalam ruangan, dia tidak ikut bergabung dengan pembicaraan Yi Wen, Jing Mi, dan lainnya. Raut wajahnya terlihat suntuk, jelas sekali bahwa dia merindukan Lan Guan Zhi.


Sudah beberapa hari ini Bocah Pengemis Gila tidak melihat Lan'Er Gege-nya. Entah di mana pemuda itu sekarang dan sedang melakukan apa. Dia sangat kesepian..


".. Bahkan Lan'Er Gege tidak ikut melakukan Teknik Pemurnian Kolam Darah, dia juga tidak mengantar orang ini ke dalam kamarnya. Sebenarnya di mana dia.."


Bocah Pengemis Gila memanyunkan bibirnya sambil memeluk erat pedang Xiao Shuxiang. Dia tidak tahu di mana tongkat bambunya. Terakhir kali, dia meminjamkannya pada Xiao Shuxiang.


Dibanding memikirkan tentang tongkatnya, Bocah Pengemis Gila lebih memikirkan Lan Guan Zhi. Sebelumnya, dia menanyakan keberadaan Lan'Er Gege-nya pada Ling Qing Zhu, namun gadis itu hanya mengatakan bahwa Lan Guan Zhi tidak bisa diganggu.


Bocah Pengemis Gila jadi semakin memanyunkan bibirnya, dia nyaris menangis. Dia sangat merindukan Lan'Er Gege-nya, begitu rindunya sampai hampir mati.


".. Aku ingin memeluk Lan'Er Gege.. Aku ingin tidur dengannya.. Tidurku sangat tidak nyenyak.. Kapan dia akan kembali.."


Yi Wen bisa mendengar gumaman dari Bocah Pengemis Gila, dia menatap aneh ke arah pemuda itu dan lalu menggelengkan kepalanya pelan.


Bahkan sampai sekarang, dirinya masih tidak percaya ada pemuda dengan kepribadian aneh seperti orang ini. Dunia benar-benar luas..


!!


Yi Wen tiba-tiba tersentak kala merasakan tangan Xiao Shuxiang yang dipegangnya sedikit bergerak. Pandangan matanya langsung tertuju pada Saudaranya itu dan benar saja--Xiao Shuxiang mulai siuman.


"Saudara Xiao..!"


Seruan Yi Wen membuat Jing Mi, Bocah Pengemis Gila, Lan Xiao, dan lainnya terkejut. Mereka serentak mengarahkan pandangannya pada pemuda yang mulai membuka matanya itu.


***