XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
441 - Kekhawatiran II [Revisi]


Xiao Shuxiang tidak tahu harus mengatakan apa pada Shuai Niao. Saat ini dia bernapas pelan-pelan dengan mata yang terus memandangi sosok di hadapannya.


Jarak antara dirinya dengan Shuai Niao begitu dekat. Tangan halus nan dingin pemuda cantik ini menyentuh pundaknya, lutut Shuai Niao bahkan berada di dekat pinggulnya. Dia tidak bergerak sama sekali, apalagi memikirkan cara untuk melarikan diri.


"Xiao'Er.. Kau bilang tidak mau melakukan 'itu' di sini, jadi apa kau ingin pindah ke tempat lain?" nada suara Shuai Niao lemah tapi begitu merdu di telinga. Perlahan, dia menaruh lututnya di antara paha Xiao Shuxiang dan dengan sengaja menggoda area terlarang itu.


Ruas-ruas jari Xiao Shuxiang bergemeretakan. Suasananya sangat panas meski dirinya sedang berada dalam air. Deru napasnya pendek karena berusaha keras untuk menahan diri agar tidak menyerang Shuai Niao dan melakukan hal-hal yang kasar.


Sebenarnya, Xiao Shuxiang bisa saja melarikan diri atau menegur Shuai Niao karena telah berani menggodanya. Namun jika Xiao Shuxiang melakukan itu, keberuntungan semacam ini tidak akan dia dapatkan di masa depan.


"Paman.. Jangan uji batas kesabaranku. Menjauhlah.." suara Xiao Shuxiang rendah. Entah ilusi atau bukan, namun sekilas terdapat kilat pada tatapan matanya.


"Xiao'Er, aku hanya ingin membantumu. Kau masih terlalu awam untuk paham dengan hal-hal yang dewasa. Jika tidak kuberi ajaran sedikit, kau akan mempermalukan dirimu sendiri-!!"


Shuai Niao terkejut saat sebuah tangan meraih pinggangnya. Keterkejutannya bertambah kala Xiao Shuxiang bergerak maju hingga mendorongnya jatuh ke air.


Seluruh tubuh Shuai Niao kini basah, termasuk wajahnya. Dia kesulitan membuka mata dan tidak percaya ditindih oleh keponakan sendiri.


Dalam satu tarikan napas, Shuai Niao tidak lagi berada di dalam air. Dia ada di atas tempat tidurnya dengan pergerakan yang dikunci oleh Xiao Shuxiang. Dirinya terbatuk dan mulai membuka mata perlahan.


!!


Mata Shuai Niao menangkap pemandangan yang menakjubkan. Dia bertatapan langsung dengan Xiao Shuxiang, ada tetesan air yang nampak pada bulu mata sosok di atasnya.


Sebagian rambut Xiao Shuxiang yang basah menyentuh pipi dan tubuh Shuai Niao. Rasanya sedikit geli dan nyaris sulit untuk menahan godaan semacam ini.


"Xiao'Er.."


Xiao Shuxiang memang luar biasa. Sebelumnya, dia mendorong Shuai Niao sambil mengeluarkan Cermin Pemindah di dalam air.


Punggung paman angkatnya langsung masuk ke cermin itu bersamaan saat dirinya menerjang maju, dan di sinilah dia. Berakhir di tempat tidur Shuai Niao dalam posisi sebagai pemangsa.


"Xiao'Er.."


Shuai Niao tidak bisa menggerakkan kakinya. Saat ini posisi Xiao Shuxiang seperti sedang membalas dendam padanya. Dia bisa merasakan lutut kiri pemuda ini tengah menyentuh pangkal pahanya.


Tanpa sadar, Shuai Niao sulit menelan ludah. Pipinya nampak merona merah.


Pertama kalinya dia melihat Xiao Shuxiang seperti pemuda perkasa. Ada sesuatu di dalam dirinya yang mulai tegang karena khawatir dengan keselamatan tubuhnya.


!!


Xiao Shuxiang merunduk, dia membuat jantung Shuai Niao berhenti berdetak dan detik berikutnya berdebar kencang. Napasnya dangkal dan seakan menggelitik daun telinga Shuai Niao.


"Kau.. Jangan lakukan ini lagi. Aku tidaklah sepolos itu sampai harus belajar darimu. Dan jika kau masih nekat, maka aku tidak akan pernah ragu memperkenalkan 'Piton' padamu."


Xiao Shuxiang mulai menjauh dari Shuai Niao, dia mengambil kain terdekat dan menutupi tubuh paman angkatnya.


Dalam hati dirinya mengembuskan napas pelan, tidak disangka dia mencoba menghafalkan aturan Sekte Pedang Langit untuk mengalihkan perhatiannya dari meneliti wajah serta tubuh Shuai Niao. Demonic Beast ular itu benar-benar berbisa.


Shuai Niao mulai bangun, pipinya menggelembung dan masih merona merah. Dia menatap Xiao Shuxiang yang berjalan ke arah sekat.


Pemuda itu hanya memakai celana putih panjang dan nampak basah. Sekarang baru terlihat sebuah lukisan Phoenix Api di punggung keponakannya, bergerak seperti nampak nyata.


Shuai Niao menyelimuti tubuhnya, dia masih berada di tempat tidur dan membayangkan apa yang terjadi beberapa saat lalu. Dia bahkan tetap di tempatnya meski Xiao Shuxiang sudah berpakaian lengkap.


"Paman, kenapa kau masih di sana?"


?!


Shuai Niao menatap kesal ke arah keponakan angkatnya. Dia lalu memalingkan wajah sambil mendengus, bibirnya komat-kamit seperti sedang mengutuk seseorang.


Xiao Shuxiang mengembuskan napas, "Baiklah.. Baiklah. Jika Paman tidak mau bicara, maka aku akan pergi."


"Tunggu!" Shuai Niao segera menoleh, dia meminta pertanggung-jawaban dari Xiao Shuxiang. Bagaimana bisa pemuda itu pergi meninggalkannya setelah apa yang terjadi barusan, dia tentu tidak akan membiarkannya.


Dengan wajah tanpa dosanya, Xiao Shuxiang mengerutkan kening dan menatap Shuai Niao dengan keheranan. Dia tidak melakukan apa pun yang merugikan paman angkatnya tersebut, justru kalau bukan tindakan tidak tahu malu Shuai Niao lebih dahulu--dia pasti tidak akan berbuat seperti tadi.


".. Aku kemari hanya ingin melihat keadaanmu, Paman. Syukurlah kau nampak baik,"


"Kau sungguh akan pergi? Tidak ingin menginap?"


Xiao Shuxiang melambaikan tangannya, dia mulai menggeser pintu kamar Shuai Niao dan meninggalkan Demonic Beast Ular Putih tersebut.


Di luar kamar, Xiao Shuxiang bertemu dengan Tianqi Mao. Anak berusia 10 Tahun itu nampak bersandar pada salah satu dinding sambil memainkan kipasnya. Xiao Shuxiang segera menghampiri Wali Kota Awan Dingin itu dan mengomelinya.


"Tianqi Mao, kenapa kau meninggalkanku bersamanya tadi? Aku hampir saja dalam bahaya. Kau sangat tidak setia kawan. Bukankah kau adik angkatku? Harusnya kau melindungi kakakmu ini. Kau keterlaluan,"


"Shuxiang, apa kau pikir aku bisa memberimu perlindungan dengan keadaan seperti tadi? Instingku mengatakan, aku tidak boleh ikut campur. Dan aku, lebih percaya pada instingku."


Tianqi Mao mulai berjalan, dia disusul oleh Xiao Shuxiang. Dirinya melirik sekilas pemuda di sampingnya dan lalu menutup mulutnya dengan kipas.


"Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan pada Shuai Niao di dalam sana?"


"Kau penasaran? Kenapa tidak mengintip saja tadi?" Xiao Shuxiang tersenyum dan mulai merenggangkan otot-otot lengannya, ".. Shuai Niao yang sangat cantik itu tidak akan bisa turun dari tempat tidurnya dalam waktu yang lama."


!!


Tianqi Mao tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, dia menatap Xiao Shuxiang dari atas sampai bawah dengan ekspresi wajah yang aneh.


"Shuxiang. Kau.. Apa yang sudah kau lakukan padanya..?" suara Tianqi Mao pelan dan jelas dirinya sedang bersikap hati-hati.


Xiao Shuxiang dengan tenangnya berkata bahwa dia hanya menggertak Shuai Niao. Dirinya senang karena bisa membalas kelakuan paman angkatnya itu.


Tianqi Mao mengembuskan napas lega, hampir saja dia mengira Koki Alkemis ini melakukan hal yang tabu. Dia lalu memberi beberapa nasehat pada Xiao Shuxiang sambil terus berjalan bersebelahan.


Tianqi Mao menggunakan Cermin Pemindah untuk pergi dari bordil ini bersama Xiao Shuxiang. Mereka tidak ingin dicegat oleh para pelanggan dan wanita cantik yang ada di sini.


*


*


Xiao Shuxiang dan Tianqi Mao tiba di halaman depan Sekte Tengkorak Darah. Bagus juga mereka memakai Cermin Pemindah, setidaknya Xiao Shuxiang tidak perlu berurusan dengan Lai Mian.


Lai Kuan Ye, Grand Elder Sekte Tengkorak Darah merupakan salah satu dari orang yang mengenal identitas Xiao Shuxiang sebagai Sang Bintang Penghancur. Dia juga sosok yang pernah terlibat dalam perang besar lebih dari seratus tahun lalu.


Walau pernah menaruh dendam pada Xiao Shuxiang, namun tetap saja Lai Kuan Ye tidak bisa melupakan bagaimana peran pemuda itu dalam meningkatkan kekuatan sektenya di masa lalu. Bahkan, termasuk bisa membuat Sekte Tengkorak Darah menjadi salah satu yang disegani di Benua Timur.


Lai Kuan Ye kebetulan saja baru keluar dari kediamannya. Dia seperti mau pergi ke suatu tempat, namun saat melihat Tianqi Mao dan Xiao Shuxiang dirinya tentu kaget karena kedatangan tamu yang tidak terduga.


"Xiao'Er..?"


"Paman..!"


Xiao Shuxiang menyapa Lai Kuan Ye seperti biasa, dia memperlihatkan senyuman ramah miliknya. Beberapa murid yang sedang berjaga malam juga nampak gembira ketika tahu Koki Alkemis itu datang.


Lai Kuan Ye terpaksa membatalkan kepergiannya. Dia menjamu Xiao Shuxiang dan Tianqi Mao bahkan ketiganya berbincang sampai sinar matahari pagi kembali terbit.


Hanya topik sederhana yang mereka bahas dan beberapa berhubungan dengan kehidupan setelah pernikahan. Lai Kuan Ye menasehati Xiao Shuxiang agar mengurangi kesadisannya dalam membunuh lawan, ada baiknya pemuda tersebut juga menghindari permusuhan sebisa mungkin.


".. Kau pasti sudah tahu mengapa banyak kultivator yang menahan diri untuk tidak menikah. Beberapa di antara mereka ingin terlepas dari keduniawian, dan lainnya karena tidak ingin merasakan kepedihan."


"Paman.."


"Xiao'Er, kau sudah lama hidup di lingkungan yang baik.." Lai Kuan Ye menyentuh lutut Xiao Shuxiang, tatapannya begitu dalam. ".. Kau memiliki keluarga dan teman-teman yang menyayangimu. Tapi aku yakin, kau tidak akan lupa dengan aturan di lingkungan buruk ini,"


Tianqi Mao sejak tadi memperhatikan pembicaraan Lai Kuan Ye dan Xiao Shuxiang. Dia melihat Koki Alkemis itu menatap tua bangka di sampingnya sambil mengangguk pelan.


"Aku tahu, hubungan dengan siapa pun tidak boleh sampai melemahkan hati. Jika hati lemah karena hubungan itu, maka lebih baik memutuskan hubungan tersebut sebelum makin membesar."


"Benar, tapi andai kata kau tahu sebuah hubungan akan berakhir buruk, apakah kau masih sanggup memutuskan hubungan itu saat masih terasa indah?"


!!


Xiao Shuxiang terdiam. Tianqi Mao kurang lebih mengerti maksud dari pertanyaan Lai Kuan Ye. Grand Elder dari Sekte Tengkorak Darah itu bisa juga mengucapkan perkataan mendalam.


"Paman.." Xiao Shuxiang akhirnya bersuara setelah terdiam beberapa lama. ".. Banyak orang yang takut menjalani sebuah hubungan karena khawatir akan berakhir buruk. Aku juga pernah merasakannya.. Bahkan rasa itu masih tersimpan di titik terdalam hatiku."


Xiao Shuxiang menyentuh tangan Lai Kuan Ye dan kemudian tersenyum, ".. Aku pernah ingin menghentikannya dan mencoba menjauhkan diri, tidak mau terlibat jauh dalam sebuah hubungan. Saat itu.. Aku takut hatiku melemah. Namun dia menarik tanganku dan mencegahku pergi.."


Xiao Shuxiang menatap langit yang begitu cerah, dia menyukai sinar matahari pagi. Rasanya begitu hangat seperti pelukan seorang ibu.


Xiao Shuxiang ingat dengan teman terbaiknya. Dia tidak akan pernah bisa menemukan cela dari temannya tersebut. Tianqi Mao dan Lai Kuan Ye seperti tahu orang yang dimaksud Xiao Shuxiang.


".. Kalau saja saat itu Paman menyebarkan berita bahwa Sang Bintang Penghancur telah bangkit kembali, mungkin ceritanya akan lain. Atau saat teman-temanku mengetahui kebenaran itu dari Mu Zan dan menghindariku.. Maka aku mungkin tidak akan di sini sekarang,"


Selama ini, Xiao Shuxiang tahu bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak bisa dipercaya. Mereka tidak akan ragu membunuh satu sama lain untuk kepentingan masing-masing. Hanya saja, ada juga tipekal manusia yang naif seperti teman-teman dan keluarganya.


".. Aku tidak pernah habis pikir, kenapa kalian bisa sebaik ini."


Tianqi Mao, "Shuxiang. Kau hanya beruntung. Kau tinggal di desa yang warganya tidak pernah membeda-bedakan siapa pun. Kau belajar di sekte terbaik dan disegani di benua ini. Teman-teman pertamamu merupakan anak polos yang belum tahu dunia luar. Dan kau memiliki teman berharga yang pernah ada. Bisa kubilang, kau sangat beruntung."


Lai Kuan Ye mengangguk dan mulai menepuk pelan bahu Xiao Shuxiang. Dia senang sebab pemuda ini memiliki teman-teman yang baik.


Dia berpesan agar Xiao Shuxiang jangan sampai membuang itu semua, dan juga tidak boleh tenggelam di dalamnya. Biar bagaimana pun, semakin banyak orang berharga yang ingin dilindungi.. Semakin berbahaya dunia ini.


".. Kau harus menanamkan ini jauh di dalam hatimu. Kau hanya bisa melindungi dirimu sendiri. Jika kau ingin melindungi orang lain, maka jangan biarkan mereka lemah. Kalian harus saling membantu. Ingatlah bahwa sesuatu yang berharga dan ingin kau lindungi, bukanlah sebuah beban."


"Aku mengerti Paman, kau juga berharga untukku.." Xiao Shuxiang tersenyum. Lai Kuan Ye memang adalah kultivator dari Aliran Hitam, tapi dia lebih bijak dari kebanyakan orang yang pernah ditemui Xiao Shuxiang dalam aliran yang sama.


Mereka terus berbincang hingga akhirnya Xiao Shuxiang berpamitan sebab ingin mengajak Kucing Putihnya ke suatu tempat. Lai Kuan Ye mengingatkan agar Ling Qing Zhu sebaiknya tidak dibawa ke tempat yang aneh-aneh.


Xiao Shuxiang tidak ingin menyanggupinya, dia hanya tertawa dan mulai membentuk segel Cermin Pemindah. Dirinya pun melangkah masuk dan tak beberapa lama, cermin tersebut memudar sebelum akhirnya menghilang.


Lai Kuan Ye dan Tianqi Mao tidak lagi melihat sosok Xiao Shuxiang. Suasana di antara mereka mulai sedikit berubah, kali ini menjadi tegang.


"Aku baru ingin menemuimu," suara Lai Kuan Ye terdengar serius, dia menatap Tianqi Mao yang nampak mengipas-ngipas wajahnya dengan pelan.


"Aku tahu apa yang ingin kau sampaikan, Shuai Niao telah mengatakannya padaku,"


"Jarak antara purnama pertama dengan purnama kedua kurang lebih 29 hari, sekarang tinggal empat hari lagi sampai purnama kedua dan kita malah mendapat kabar buruk ini."


Sekarang baru terlihat raut wajah Lai Kuan Ye yang cemas, tidak seperti sebelumnya saat Xiao Shuxiang ada. Dia jelas mengkhawatirkan akan adanya masalah sebelum pernikahan Koki Alkemis itu.


"Tianqi Mao.."


"Tidak perlu cemas, Shuai Niao dan aku akan membantu Yu Changhai. Untuk sekarang, hanya kita berempat yang tahu masalah ini. Tidak akan terjadi apa pun selama kita berhati-hati,"


Lai Kuan Ye mengangguk, namun dia masih sangat risau. Selama ini, semua orang tahu Benua Timur sedang dalam keadaan damai. Tetapi dampak dari perang melawan Wyvern memicu sesuatu yang terkubur jauh di bawah Bukit Salju Tanpa Musim.


Yu Changhai, patriarch Sekte Pedang Langit yang menghuni bukit itu tidak bisa turun bukit terlalu lama. Ini karena kehadirannya sebagai penekan dari makhluk yang bahkan tidak dia ketahui jenisnya.


"Masalah ini tidak boleh sampai menyebar dan menyebabkan kegelisahan di hati semua orang.." Tianqi Mao berujar pelan, dia mengatakan pada Lai Kuan Ye untuk tidak lagi membahas hal ini. Semakin sedikit mereka melakukannya, maka makin minim rahasia ini bocor.


".. Shuxiang tidak boleh sampai tahu. Aku selalu merasa, musuh selalu mengincar dirinya. Ada kemungkinan jika dia tahu, sesuatu yang buruk akan terjadi,"


Lai Kuan Ye mengangguk setuju, "Kehadiran Scarlet Bayangan dan kemunculan Naga Wyvern juga berhubungan dengannya. Xiao'Er dan masalah memang tidak bisa dipisahkan. Aku hanya berharap, semoga pendampingnya nanti tidak ikut terseret ke dalamnya,"


"Mn, itu benar.." Tianqi Mao memandang ke arah langit dan kembali bersuara, ".. Menurutmu, jika Nona Ling dalam bahaya--apa Shuxiang akan mengamuk?"


"Entahlah. Di kehidupannya yang dahulu, Xiao'Er pernah menggoda bahkan sampai melamar Ming Mei. Dia mengatakan menyukai Ming Mei dalam hati yang paling dalam, namun pada akhirnya--dia tanpa ragu mengayunkan pedang pada gadis itu. Aku tidak pernah bisa melupakan bagaimana tatapan dingin Xiao'Er saat bertarung dengannya."


"Ming Mei bukannya Patriarch Keempat Sekte Pedang Langit?" Tianqi Mao menatap Lai Kuan Ye, dia terlihat penasaran.


"Memang dia orangnya. Tapi yang ingin kukatakan adalah--Xiao'Er bisa saja menyukai orang lain, namun tidak mudah untuk membuatnya mengamuk hanya karena orang yang disukainya berada dalam bahaya."


"Tapi.. Bukankah dia pernah mengamuk saat Tuan Muda Lan terluka? Dia bahkan menggorok leher paman Nona Ling tepat di depan mata gadis itu,"


!!


"Jangan mengatakannya lagi, aku tidak ingin membayangkannya.."


"Benar, itu tidak layak dibayangkan.." Tianqi Mao mengembuskan napas pelan, ".. Semoga saja nona Ling tidak menaruh racun di minuman Shuxiang atau menebas leher pemuda itu sebagai pembalasan dendamnya."


***