
Xiao Shuxiang tahu kekhawatiran Hu Li dan jujur sekarang dia memang ingin kembali pada masa-masa jayanya. Namun tentu, dampak dari keinginannya itu harus dipikirkan baik-baik.
Andai bila dia menjadi sosok yang selalu menebarkan ketakutan, maka risiko terbesarnya adalah Xiao Shuxiang akan dibenci oleh semua orang, termasuk orang tua dan teman-temannya sendiri.
Hu Li, "Tuan.. Saya tahu Anda sudah menahan diri selama ini. Rasanya pasti tidak mengenakkan harus hidup di lingkungan yang bukanlah mencerminkan diri Anda, namun jujur saja--saya senang melihat Anda yang sekarang,"
Hu Li tidak ingin membayangkan jika Tuan Mudanya kembali menjadi sosok yang ditakuti. Namun meski dia berusaha sekeras mungkin melarang tuannya, keputusan tetaplah bukan miliknya.
".. Selama ini, saya hanya mengikuti Anda, Tuan. Bahkan walaupun tindakan yang Anda lakukan salah sekali pun, saya akan selalu berada di sisi Anda.." tatapan mata Hu Li memandang lurus ke bawah sebelum mengarahkannya pada pemuda berpakaian serba hitam di sampingnya.
".. Tidak peduli seberapa besar dunia membenci Anda, saya akan tetap berjalan di sisi Anda. Bagi saya.. Anda adalah segalanya."
Xiao Shuxiang menatap Hu Li sejenak sebelum tersenyum tipis. "Aku tahu kau yang paling setia padaku, Hu Li. Kau mendukung apa pun keputusanku dan selalu mempercayaiku. Kau bahkan tidak pernah ragu melakukannya.."
Kejernihan dari mata Xiao Shuxiang membuat Hu Li merasakan ketentraman hati. Ucapan Tuan Mudanya terdengar begitu tulus.
Dia tidak menyadari bahwa sebenarnya terdapat sebuah kebenaran yang disembunyikan dalam kejernihan tatapan mata yang dilihatnya ini.
Xiao Shuxiang mengembuskan napas pelan, dia lebih memilih untuk tidak membicarakan ataupun memberi tahu Hu Li mengenai fakta terdalam tentang dirinya.
Xiao Shuxiang hanya mengatakan bahwa dia beruntung karena memiliki teman seperti Hu Li. Sosok yang tidak pernah meninggalkannya, bahkan saat seluruh dunia membencinya.
".. Untuk sekarang, tempat ini adalah yang paling tenang. Rasanya seperti berada di dunia yang lain. Suasana di mana ingatan masa lalu dan bayangan masa depan terlihat di hadapanku."
"Tuan benar, ketenangan ini dapat membuat kita mengingat sesuatu," Hu Li mengambil napas pelan, dia mengingatkan Xiao Shuxiang tentang awal pertemuan mereka.
Keduanya bicara banyak hal, termasuk mengungkit tentang pertemuan mereka dengan Mu Zan yang kemudian menjadi penyebab awal dari perpisahan keduanya.
".. Sudah lebih dari seratus tahun berlalu, tapi rasanya baru saja terjadi kemarin. Aku bahkan masih ingat setiap wajah dari para tetua yang pernah kulawan di tebing kala itu.. Tetua Li Fu Chen, senior Guan Wei, Nona Liu Xuling, tetua Bai Wu Dang, dan senior Zhou Yuan. Wajah-wajah mereka.. Masih dapat kuingat,"
Xiao Shuxiang sepertinya tidak bisa melupakan kejadian yang melibatkan dirinya dengan para tetua ketiga Aliran di masa lalu.
Dia jadi bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah kejadian yang sama akan terulang jika orang-orang yang saat ini bersamanya tahu siapa dirinya--paling tidak, saat mereka melihat wujudnya yang sebenarnya.
Xiao Shuxiang mengembuskan napas pelan. Terdapat keraguan di dalam dirinya. Dia ragu akan diterima oleh teman-temannya kembali.
Para manusia saja saling merendahkan dan menghina satu sama lain, apalagi jika mereka dihadapkan dengan makhluk yang tidak sekaum dengan mereka.
Hu Li saja, yang identitasnya merupakan sosok Demonic Beast berwujud rubah selalu dicap sebagai monster oleh manusia, apalagi jika itu adalah Xiao Shuxiang.
"Tuan Muda Xiao? Anda kenapa?" Hu Li bertanya saat melihat Tuan Mudanya begitu diam dan nampak memikirkan sesuatu.
"Aku baik-baik saja, Hu Li. Aku hanya sedang berpikir, apa Lan Zhi akan tetap ada di sisiku jika suatu hari nanti aku menjadi Xiao Shuxiang yang dahulu.."
Dia mendengus pelan dan tersenyum tipis. Xiao Shuxiang kembali melanjutkan ucapannya, kali ini suaranya terdengar rendah.
".. Lan Zhi mungkin menjadi orang yang berdiri paling depan untuk menentangku. Dia akan sama seperti senior Zhou,"
"Itulah sebabnya, Tuan Muda. Tolong jangan pernah sekali pun Anda membuat keputusan tanpa memikirkannya dengan baik, apalagi jika keputusan tersebut adalah sesuatu yang besar."
Hu Li sudah melihat Tuan Mudanya memiliki keluarga dan hubungan yang dekat dengan orang-orang seperti Jing Mi, Ling Qing Zhu, Nie Shang, Mo Huai, dan lainnya.
Mustahil jika Tuannya sama sekali tidak merasakan apa pun, apalagi banyak hal yang sudah mereka lalui bersama. Tuan Mudanya tidak mungkin memiliki hati yang begitu keras sampai tidak menyadari kasih sayang dari keluarga dan teman-teman di sekeliling mereka.
Jujur saja, dahulu Hu Li juga membenci manusia. Banyak hal buruk tentang makhluk itu yang bisa dijadikan alasan dari kebenciannya. Namun, semua itu berubah seiring berjalannya waktu.
Pertemuan pertamanya dengan sosok penyelamat sekaligus orang yang sudah dia anggap Tuan telah mengubah sedikit pemikirannya tentang manusia. Dia bahkan rela memberikan nyawanya sebagai bukti dari kesetiaan.
Sayang sekali, Hu Li tidak menyadari bahwa 'Tuannya' itu adalah makhluk yang lebih buruk daripada manusia. Dia merupakan sosok mengerikan yang benar-benar sulit untuk berubah.
Jika saja Tuannya berada dalam situasi yang mengharuskannya membunuh orang paling dicintai demi untuk hidupnya sendiri, maka tanpa ragu Tuannya pasti akan melakukan hal tersebut.
'Tidak ada yang lebih berharga daripada nyawa sendiri'. Xiao Shuxiang selalu memegang prinsip itu. Dan kalaupun dia melakukan satu kebaikan, tentu selalu ada alasannya.
Kedekatannya dengan Lan Guan Zhi, hubungannya dengan Jing Mi dan para saudaranya di Sekte Kupu-Kupu, serta ikatan yang terjalin antara dirinya dengan Xiao WeiWei, Yang Hao, Yang Shu, termasuk Ling Qing Zhu sama sekali bukanlah ketulusan. Dia melakukannya hanya karena menginginkan sesuatu.
"Aku menyayangimu, Hu Li. Aku menyayangi ayah, ibu, kakek, Lan Zhi, saudara Jing, saudara Hou, dan lainnya. Kalian adalah orang-orang yang berharga, sesuatu yang kuanggap bagian dari diriku.."
Xiao Shuxiang tidak pernah berbohong. Dia jujur dengan ucapannya barusan dan itu membuat Hu Li menaruh kekaguman padanya. Hanya saja, pemuda di sampingnya tidak mengetahui bahwa terdapat maksud lain dari ucapannya tersebut.
Di saat Hu Li masih bicara dengan Tuan Mudanya--jauh di tempat lain, Lan Xiao kelabakan mencari keberadaan induknya.
Awalnya, Harimau Bulan itu berlari ke kamar Xiao Shuxiang dan malah tidak menemukannya. Dia pun keluar dan mencari ke setiap tempat, namun induknya sama sekali tidak ditemukan.
Lan Xiao tidak tahu siapa lagi yang harus dia mintai pertolongan kecuali Bocah Pengemis Gila. Pemuda tersebut bergegas ke kamar Lan Guan Zhi namun tertahan di depan pintu.
"Lan'Er Gege..?! Lan'Er Gege..!" Bocah Pengemis Gila menggedor-gedor pintu di depannya sambil berusaha membukanya. Raut wajahnya terlihat panik.
"Lan'Er Gege, buka pintunya..! Lan'Er Gege, kau kenapa..?! Jangan membuatku takut, ayo buka pintunya..!"
Nyawn..!
Bocah Pengemis Gila terus memanggil-manggil Lan Guan Zhi dan sama sekali tidak ada jawaban dari dalam kamar dihadapannya. Dia benar-benar cemas saat ini, perasaannya sangat tidak enak.
"Lan'Er Gege..?! Apa kau mendengarku?! Tolong jawab aku..! Lan'Er..!" Bocah Pengemis Gila menenangkan dirinya dan kemudian memfokuskan pikiran untuk menggunakan salah satu dari enam jenis Tenaga Dalam.
Dia mengepalkan tangan kanannya dan menggunakan Tenaga Dalam Berat untuk meninju pintu di depannya.
!!
Suara debamannya amat keras, bahkan membuat dinding dan atap di atas Bocah Pengemis Gila bergetar. Sayangnya, dia masih belum bisa menghancurkan pintu di depannya.
Nyawn!
"Tsk, segel apa yang digunakan Lan'Er Gege hingga pintunya tidak bisa dihancurkan? Dia membuatku sangat takut. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya di dalam sana?! Apa yang akan kulakukan?! Lan'Er..!"
Bocah Pengemis Gila menggunakan pukulan dan tendangan untuk bisa masuk ke dalam kamar Lan Guan Zhi. Dia terus memanggil-manggil nama pemuda itu tanpa henti.
Lan Xiao juga ikut menyerukan nama induknya. Dia sangat cemas dan terus mendesak pemuda di sampingnya untuk menyelamatkan induknya dari dalam kamar.
Suara keras yang ditimbulkan akibat ulah Bocah Pengemis Gila mengundang keterkejutan dan rasa penasaran dari beberapa murid Sekte Pagoda Langit, termasuk Jing Mi.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, orang-orang mulai berdatangan untuk memergoki siapa yang telah berani membuat keributan di saat mereka tengah memperbaiki kondisi sekte ini.
!!
Semuanya terkejut termasuk Yi Wen dan Hou Yong yang berada di antara murid Sekte Pagoda Langit saat mengetahui Lan Guan Zhi terkurung di dalam kamarnya sendiri.
Yi Wen sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi, namun perasaannya mengatakan Lan Guan Zhi berada dalam situasi yang berbahaya.
Dia menduga, ini semua karena pemuda dari Sekte Pedang Langit itu menolong Saudara Xiao-nya yang terkena Paku Penembus Tulang.
"Tuan Muda Lan..! Apa kau bisa mendengarku?! Tuan Muda Lan..!"
Yi Wen menggelengkan kepalanya, tidak ada jawaban apa pun dari dalam kamar dan itu membuatnya cemas.
"Jika terjadi sesuatu padanya, Saudara Xiao pasti akan membunuh kita. Ini sangat gawat," Yi Wen mencoba menenangkan diri, tetapi tidak bisa. Dia benar-benar panik.
Jing Mi ikut memanggil-manggil Lan Guan Zhi, "Tuan Muda Lan..! Tuan Muda..!" dia menggedor-gedor pintu dan sesekali berusaha mendobraknya.
"Minggir, biar aku yang lakukan." Bocah Pengemis Gila kembali menggunakan tenaga dalam dan kemudian meninju pintu di depannya.
!!
Suara yang dihasilkan keras, namun yang terjadi justru kekuatannya terpantul dan malah mendorong mereka semua. Beberapa murid bahkan terlempar sejauh 10 meter.
!!
Hou Yong dan Hai Feng nyaris menghantam pohon andai keduanya tidak gesit menghindar. Mereka jelas terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
Nyawn!
!!
Jing Mi terkejut mendengar seruan dari Lan Xiao, matanya membulat kala mengetahui Lan Xiao mencari bantuan untuk menyelamatkan induknya yang terus memuntahkan darah.
Hou Yong, Yi Wen, dan Bocah Pengemis Gila juga ikut terkejut mendengarnya. Jika yang dikatakan oleh Harimau Bulan ini benar, maka Lan Guan Zhi memang tengah terluka parah.
"Apa dia melakukan sesuatu yang bodoh? Tuan Muda Lan..!!" Yi Wen berseru nyaring memanggil Lan Guan Zhi. Dia tidak ingin terjadi apa pun pada teman baik saudaranya itu.
"Tuan Muda Lan..!"
"Tuan Muda Lan, apa Anda dengar?! Tolong buka pintunya..!"
"Tuan Muda Lan..!"
Murid-murid Sekte Pagoda Langit juga ikut berseru. Mereka menggedor dinding kayu dan juga pintu kamar Lan Guan Zhi. Sebagian dari mereka bahkan mencoba menghancurkan dinding yang ada.
Mereka yang ada di luar tidak mengetahui keadaan di dalam ruangan Lan Guan Zhi yang sangat sunyi dengan banyaknya noda darah hitam kemerahan di lantai kamar.
Sosok Lan Guan Zhi terlihat duduk bersila di atas tempat tidurnya. Kulit tubuh hingga wajahnya nampak berwarna ungu pucat, matanya tertutup dan sama sekali tidak bergerak.
Seluruh aliran darahnya berhenti, termasuk detakan pada jantungnya. Dantiannya yang retak kini telah melebur dan kemudian menghilang.
Satu hal yang bisa dipastikan, Lan Guan Zhi telah tiada dengan tetap mempertahankan posisi duduknya.
Walau seorang kultivator dan merupakan sosok yang dibanggakan, Lan Guan Zhi masih belum bisa dibandingkan dengan Xiao Shuxiang yang merupakan makhluk dari Dunia The Fallen Angel.
Darah Lan Guan Zhi tidak sama dengan milik teman baiknya, begitu pula dengan kekebalan tubuh keduanya terhadap racun. Apalagi racun yang menggerogotinya merupakan racun dari Paku Penembus Tulang.
Pusaka itu merupakan benda khusus yang ditujukan untuk makhluk seperti Xiao Shuxiang. Andai seseorang melepaskannya, maka racun yang tersembunyi di dalam Paku Penembus Tulang akan menyerangnya. Dan itulah yang terjadi pada Lan Guan Zhi saat ini.
Dia memang berbakat, tetapi perlu diketahui usianya masih sangat muda. Ada banyak hal yang belum dipahami olehnya tentang dunia. Pengetahuan yang dia peroleh dari buku dan kitab jurus tidak bisa dibandingkan dengan yang ada di kehidupan nyata.
Perjalanan waktu membuat banyak perubahan pada perkembangan ilmu pengetahuan, utamanya tentang teknik pertarungan, apalagi bila itu berhubungan dengan siasat-siasat licik yang dapat membawa marabahaya.
Lan Guan Zhi memanglah seorang kultivator, namun praktiknya belum mencapai tahap kesempurnaan apalagi menuju kepada 'keabadian'. Dia masihlah manusia yang dapat merasakan sakit, termasuk kematian.
Kultivator memang memiliki umur yang lebih panjang daripada pendekar atau pun manusia biasa. Namun, sekuat apa pun kultivator--mereka tidak akan bisa lepas dari takdir, apalagi kematian.
Sebenarnya, tidak ada pengetahuan yang mengatakan menjadi kultivator akan menjadikan diri sebagai makhluk yang abadi. Ling Qing Zhu pernah membicarakan ini dengan Xiao Shuxiang.
Saat seorang kultivator berada di tahapan praktik paling tinggi, dia akan pergi menuju alam yang kadang disebut 'Alam Para Dewa' atau 'Nirwana'. Sebuah alam yang dikatakan lepas dari siklus hidup dan mati.
Sayangnya, tidak ada yang tahu kebenaran dari alam tersebut. Kultivator yang pergi ke alam itu pun tidak pernah kembali.
*
*
Sebuah tempat yang luas dengan bentangan tanah kering terlihat di bawah birunya langit.
Terdapat puluhan mayat dengan kondisi tubuh yang mengerikan, beberapa bahkan dalam keadaan hangus terbakar tanpa kepala.
Langkah kaki seorang pemuda terdengar. Dia satu-satunya yang berjalan di antara puluhan mayat, pakaiannya yang putih tak bernoda membuatnya terlihat bagai sosok suci yang baru saja turun dari langit.
!!
Tatapan matanya teduh, jernih, dan mempesona. Dalam keteduhan matanya itu, ada rasa keterkejutan saat melihat begitu banyaknya manusia yang terkapar tak bernyawa.
Pandangan matanya mengarah pada salah satu mayat yang memiliki pakaian berwarna dan bermotif sama dengan dirinya.
Mayat tersebut adalah sosok pemuda dengan sebuah pita dahi, pakaian putihnya penuh koyakan dan juga darah. Dia mempunyai wajah yang pucat dan hancur di beberapa tempat.
"Ini masih bagian terkecil dari dampak kekacauan yang ditimbulkan oleh Xiao Shuxiang,"
!!
Sebuah suara terdengar dan membuat pemuda berpakaian serba putih itu terkejut. Padahal di antara banyaknya mayat, hanya dia seoranglah yang masih tegak berdiri.
"Mayat-mayat yang kau lihat sekarang ini tidak lain adalah korban dari keganasan Sang Bintang Penghancur dengan Pedang Pusaka Langitnya. Seseorang yang kau anggap sebagai teman baik,"
Suara tersebut kembali muncul dan bahkan lebih jelas daripada sebelumnya.
Suara itu diikuti dengan kepulan asap tipis yang terbentuk di udara, memadat, hingga berubah menjadi sosok pemuda yang nampak berusia 39 Tahun.
Dia memiliki wajah rupawan, warna matanya abu-abu kehitaman dan terasa sedingin es. Pakaiannya berwarna giok hitam, begitu berwibawa dengan rambut hitam panjangnya yang bagaikan malam.
Sosok itu berdiri tepat di samping pemuda berpakaian serba putih yang jika diperhatikan dengan seksama--maka diketahui bahwa dirinya adalah Lan Guan Zhi.
Saat ini, Grand Elder masa depan Sekte Pagoda Langit tersebut tengah berada di sebuah tempat yang tidak terikat dengan dunia mana pun. Rohnya ditarik kemari tanpa dia ketahui bagaimana itu bisa terjadi.
"Anda ini.. Siapa?" Lan Guan Zhi akhirnya bicara. Dia merasa belum pernah bertemu dengan sosok pemuda yang aura wibawanya begitu sangat kuat.
Sosok itu memperkenalkan dirinya sebagai 'Shouxing', roh pedang dari salah satu Pusaka Langit. Dia juga mengatakan mempunyai hubungan dekat dengan Xiao Shuxiang. Mendengarnya membuat Lan Guan Zhi terkejut.
"Aku tidak tahu ini bisa disebut keberuntungan atau bukan. Tapi saat ini.. Tubuhmu mungkin sudah membusuk dan hancur, jika kau berada di tubuhmu yang sekarang.. Kau tidak akan mungkin bisa menahan rasa sakitnya," Shouxing tidak menatap Lan Guan Zhi ketika bicara, dia hanya berdiri sambil memandang lautan mayat di depannya.
"Apa Anda yang membawaku kemari?"
"Bukan, tapi takdir. Cahaya roh leluhur yang masuk ke dalam tubuh Xiang'Er menyatu dengan Paku Penembus Tulang, dan sekarang cahaya itu ada padamu."
Shouxing mengatakan dia juga tidak tahu bagaimana. Harusnya dia sudah lama menghilang bersamaan dengan lenyapnya Pedang Bintang Malam.
".. Aku hanyalah roh pedang. Sekarang tidak bisa kembali, ataupun memiliki 'Tuan'. Xiang'Er adalah 'Tuan' terakhir yang pernah kupunya, dan mereka semua merupakan korban dari ketidakwarasan kami."
Shouxing sedikit berkedip dan seketika tubuhnya mulai melayang. Lan Guan Zhi juga ikut terangkat hingga keduanya dapat melihat lautan mayat secara jelas.
Jumlah yang awalnya terlihat seperti puluhan mayat kini semakin bertambah hingga sulit dihitung. Kemungkinan ada sekitar ratusan ribu nyawa manusia.
!!
Namun, semakin tinggi Shouxing dan Lan Guan Zhi melayang--keduanya yakin jumlah mayat di bawah mereka mencapai ratusan ribu. Tempat yang luas ini, benar-benar dipenuhi oleh lautan manusia yang tak bernyawa.
"Aku yakin kau tidak akan percaya.." Shouxing menyadari arti dari tatapan mata Lan Guan Zhi, dia pun tersenyum tipis dan kembali bersuara.
".. Percaya atau tidak, tapi beginilah kehidupan teman baikmu di masa lalu. Dia sangat menyukai mengoyak tubuh manusia, menjadikan mereka semua tidak berbentuk. Dan kau tahu apa yang paling menakutkan tentangnya? Xiang'Er tidak pernah menyesali perbuatannya itu,"
!!
Lan Guan Zhi terkejut saat keadaan di sekelilingnya tiba-tiba berubah.
Kedua kakinya menapak di tanah, sekelilingnya gelap, ini adalah suasana malam dengan sinar rembulan. Padahal beberapa detik yang lalu, langit masih sangat biru.
Terdapat beberapa pohon di sekitarnya dan ada sebuah rumah besar yang tak jauh di hadapannya. Rumah tersebut dalam keadaan yang terbakar.
"Ini.."
"Ayah..!"
?!
Lan Guan Zhi ingin bertanya pada Shouxing saat telinganya mendengar suara menggemaskan seorang anak. Pandangan matanya lalu tertuju pada sosok anak laki-laki berusia 7 Tahun yang berusaha menarik tangan seorang pria dewasa.
***