XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
45 - Xiao Shuxiang [Revisi]


"Se-seratus tahun? Ini su-sudah seratus tahun? Apa aku ba-bangkit setelah seratus tahun berlalu?!"


Xiao Shuxiang begitu sangat terkejut, dia menyentuh dadanya sendiri. "Ti-tidak mungkin. Ba-bagaimana ini terjadi...?!"


Begitu tidak percaya dengan yang dia saksikan membuat Xiao Shuxiang mengulang membaca nama-nama kultivator yang tertulis di Batu Kisah. Nama pertama adalah Zhou Yuan, disusul oleh Bai Wu Chang, Li Fu Chen, dan yang membuatnya semakin terkejut adalah adanya nama Guan Wei pada batu tersebut.


!!


"Ini..." Xiao Shuxiang terlalu lemas untuk berdiri, seketika dia terduduk di tanah dengan raut wajah pucat dan napas yang tidak beraturan.


!?


"Xiao'Er...?!"


Yang Shu, Gu Ta Sian dan yang lainnya terkejut saat melihat kondisi Xiao Shuxiang. Dengan segera Yang Shu menyentuh pundak cucunya sambil berusaha menenangkan anak berusia tujuh tahun ini.


"Kau kenapa, Nak?" Yang Shu cemas serta kebingungan. Gu Ta Sian dan yang lainnya pun demikian. Mereka tentu saja cemas sebab wajah Xiao Shuxiang seakan baru saja mengalami kematian.


Qi Xuan menyentuh pundak Xiao Shuxiang, "Saudara Xiao?!"


"Xiao'Er? Kau kenapa?! Ada apa?!" Yang Shu mengusap pelan punggung cucunya sambil bertanya dengan penuh rasa cemas.


"Saudaraku?!" Jing Mi juga ikut melakukan hal yang sama. Dia khawatir sebab saudara seperguruannya ini tidak mengatakan apa pun dan hanya memperlihatkan wajah yang pucat.


"Hah... Hah, A-Aku..." Xiao Shuxiang tidak bisa melanjutkan ucapannya, dia tidak tahu harus berkata apa setelah menyadari bahwa ini ternyata sudah seratus tahun berlalu sejak dirinya menggunakan Jurus Kebangkitan Kembali.


"Ke-kenapa ini bisa terjadi...?! Aku menggunakan Jurus itu dua setengah bulan yang lalu...!! Aku sangat yakin itu!! Ta-tapi..."


Xiao Shuxiang memeluk kedua lututnya sambil menenggelamkan wajahnya, dia----menangis.


"Bagaimana ini mungkin..."


Kenyataan yang ada dihadapannya terlalu kejam, semua usahanya kini sia-sia. Untuk menghancurkan Benua Timur kembali, dia harus mengulang dari awal lagi.


Xiao Shuxiang sudah frustrasi karena harus bangkit dengan tubuh anak kecil yang memiliki dantian cacat, serta tempat awalnya bangkit memiliki kepadatan Qi yang sangat tipis. Apalagi dantian barunya adalah Dantian Berakar, dan sekarang...!


"AAAAH!! Takdir Macam Apa Ini...?! Aku yang harusnya menertawai mereka karena tidak berhasil membunuhku...! Aku yang harusnya tertawa karena tidak ada lagi yang menjadi penghalangku untuk membuat kekacauan..!. Tapi yang kulihat justru malah Keempat Tetua Menyebalkan itu yang saat ini sedang menertawaiku...!!"


Xiao Shuxiang bisa membayangkan wajah para kultivator yang sudah dibunuhnya---kini tertawa girang sambil memegang perut mereka. Bayangan itu jelas dan membuatnya marah.


Hanya saja, dia tidak bisa meluapkan kemarahannya sekarang sebab berada di keramaian, hal ini membuatnya semakin frustrasi saja.


"Saudara Xiao? Kau sebenarnya kenapa...?" Jing Mi benar-benar bingung dengan tingkah saudara seperguruannya.


Dia lalu menatap Yang Shu, "Guru. Apa hubungan Saudaraku ini dengan nama kultivator yang tertulis di Batu Kisah itu? Mungkinkah gara-gara nama Saudara Xiao tertulis di batu itu, Guru?"


Zong Ming dan Ying Liu menaikkan sebelah alis mereka saat mendengar pertanyaan tersebut. Dengan suara yang pelan, Zong Ming bertanya kepada Xiao Lu, "Memangnya nama Saudara Xiao tertulis di sana?"


!?


Xiao Lu tersentak, "Sepertinya aku lupa memperkenalkan adikku dengan benar kepada kalian..." suaranya mulai terdengar pelan, nyaris berbisik. "... Namanya Xiao Shuxiang, tapi jangan langsung menyebut namanya. Dia agak sensitif dengan itu,"


!!


Saat mendengar kata 'Xiao Shuxiang'----Zong Ming dan Ying Liu sudah tersentak kaget. Secara bersamaan keduanya langsung menoleh ke arah bocah laki-laki berusia 7 Tahun itu.


Bukan hanya Zong Ming dan Ying Liu yang terkejut, tetapi Gu Ta Sian juga. Dia mendengar ucapan Xiao Lu meski anak perempuan ini bersuara pelan. Jujur, sejak perjalanan bersama para pedagang di hari itu, dia memang belum sempat mendengarkan nama lengkap dari anak yang menurutnya sangat berani ini.


"Xiao Shuxiang..." Gu Ta Sian lalu berlutut dan membisikkan sesuatu ke arah Yang Shu. "Senior, kenapa kau memberinya nama itu?"


Yang Shu hanya mengusap-usap janggutnya sambi tersenyum tipis ke arah Gu Ta Sian. Tindakannya membuat pria tersebut menghela napas pelan.


Gu Ta Sian, "Haah Senior... Kau ternyata terpengaruh hal itu juga."


"Kita bicara lain kali, yang penting urus Cucu kesayanganku dulu," Yang Shu mencoba mengangkat Xiao Shuxiang kemudian menggendongnya.


Tidak ada perlawanan apa pun dari bocah tersebut sebab dia terlihat depresi akibat kenyataan yang harus diterimanya.


Gu Ta Sian, "Sebaiknya kita mencari tempat istirahat terlebih dahulu dan baru melanjutkan perjalanan saat kondisinya membaik."


Yang Shu setuju, "Baiklah. Mari cari tempat istirahat dulu."


Gu Ta Sian dan Yang Shu kemungkinan besar menganggap bahwa Xiao Shuxiang seperti ini karena mendengar cerita tentang namanya yang sama persis dengan Kultivator pembawa Kekacauan di Benua Timur. Keduanya tidak tahu bahwa bukan hal itu yang mengakibatkan kondisi Xiao Shuxiang menjadi seperti sekarang ini.


*


*


*


Yang Shu, Gu Ta Sian dan yang lainnya saat ini berada di sebuah ruangan. Mereka meminta izin pada salah satu pemilik kedai terdekat yang ada di pelabuhan untuk menyewa kamarnya.


Xiao Lu terlihat duduk bersila bersama dengan Ying Liu dan Zong Ming. Mereka bertiga sedang serius mendengarkan ucapan Yang Shu dan Gu Ta Sian.


Di sisi lain, Xiao Shuxiang nampak meringkuk di pojok ruangan. Jing Mi dan Qi Xuan berusaha menenangkannya.


Xiao Shuxiang, "Semua salahku. Harusnya aku menyempurnakan Jurus itu sebelum menggunakannya. Ini adalah kesalahanku karena terlalu malas... Ini kesalahanku.."


Qi Xuan, "Saudara Xiao. Bicaralah pada kami.."


Xiao Shuxiang berusaha dibujuk oleh kedua temannya untuk menceritakan apa yang sedang dirasakannya saat ini, namun dia tidak mau mengatakan apa-apa.


Yang Shu melihat cucu kesayangannya, "Xiao'Er... Nak? kemarilah dan duduk di dekat Kakek,"


Xiao Shuxiang menggelengkan kepala pelan sebagai jawaban. Dia hanya terus meringkuk dan memeluk erat lututnya.


Xiao Lu berkedip dengan tingkah adiknya, dia pun menatap Yang Shu dan bertanya. "Kakek, apa sebegitu tidak baiknya nama 'Xiao Shuxiang' sampai-sampai Xiao'Er seperti itu? Aku penasaran sekali dengan cerita dibalik nama Xiao'Er. Meski sudah membaca tulisan di Batu Kisah, namun tidak akan sama jika bukan Kakek yang bercerita."


Jujur saja, tingkah Xiao Lu terkesan tidak peduli pada adiknya----namun sebenarnya dia tengah menahan senyum. Ini pertama kali dia melihat Xiao Shuxiang bertingkah seperti itu.


Zong Ming dan Ying Liu sendiri khawatir dengan Xiao Shuxiang, tetapi mereka beranggapan bahwa anak laki-lakit itu mungkin butuh waktu untuk sendiri saat ini.


Gu Ta Sian menggeleng pelan, "Aku tidak menyangka Senior memberikan nama itu kepadanya..." dia pun bercerita, "... Nama 'Xiao Shuxiang adalah trauma bagi sebagian besar masyarakat di Benua Timur. Banyak yang membenci nama itu karena mengingatkan mereka dengan perang mengerikan yang pernah terjadi. Namun entah kenapa, ada juga masyarakat yang menamai anak mereka 'Shuxiang' karena berharap dengan nama ini anak-anak tersebut bisa lebih terkenal dari Sang Bintang Penghancur..."


Gu Ta Sian lalu menatap Yang Shu. "Jadi Senior, apa ini juga alasanmu memberikan nama itu kepada Cucumu...?" tatapan matanya seolah menunjukkan ketertarikan terhadap jawaban yang akan dikeluarkan pria di sampingnya atas pertanyaannya barusan.


Yang Shu mengelus-elus janggutnya sebelum menjawab. "Hm... Aku ingin menutupi pengaruh buruk yang telah ditanamkan kultivator aliran hitam Xiao Shuxiang Sang Bintang Penghancur, dengan kultivator aliran putih Xiao Shuxiang Sang Bintang Pelindung. Itulah sebabnya cucuku..."


Ada sebuah harapan dari kata-kata Yang Shu, "... Aku berharap agar cucu kesayanganku kelak bisa menjadi kultivator hebat yang menandingi, bahkan melampaui Sang Bintang Penghancur."


Yang Shu tersenyum sambil menoleh ke arah Xiao Shuxiang, namun cucunya itu seakan tidak mendengar ucapannya barusan. Xiao Shuxiang terlalu serius meratapi nasibnya.


"Tubuh anak kecil, dantian cacat, tingkat kultivasi yang hilang, kemudian dantian berakar, dan ternyata ini sudah seratus tahun berlalu... Sekalian Saja Jadikan Aku Anak Perempuan!! Kebaikan apa yang kulakukan di hidupku hingga harus dihukum seperti ini..." Xiao Shuxiang bersandar pada pundak Jing Mi yang ada di dekatnya, dia tidak kuat untuk tidak terisak. Jing Mi dan Qi Xuan masih berusaha menenangkannya.


Suara Xiao Shuxiang pelan dan sedikit parau, "Saudara Jing, peluk aku erat sampai sadar bahwa ini semua hanyalah mimpi... Ini memalukan, tapi aku tidak tahu harus melakukan apa. Tidak bisakah aku kembali ke masa lalu?"


Xiao Lu menggeleng melihat tingkah adiknya yang sedang terisak sambil memeluk Jing Mi. Dia lalu menatap Yang Shu sambil menggerutu.


"Kakek jauh lebih sayang Xiao'Er daripada Lu'Er! Aku kan juga mau mendapat gelar 'Bintang Pelindung', bukan hanya anak cengeng itu. Kakek pilih kasih...! Kenapa memberikan nama 'Xiao Shuxiang' yang begitu hebat padanya? Harusnya kan aku...! Karena aku lahir lebih dulu...!"


Xiao Lu menggelembungkan pipinya, dia sepertinya tidak menyadari bahwa nama 'Xiao Shuxiang' menanggung sebuah tanggung-jawab dan beban kebencian yang sangat banyak.


Yang Shu berujar pelan, "Lu'Er... Cucu Kakek yang paling cantik. Bukannya Kakek pilih kasih padamu. Tapi ayahmu sudah lama mempersiapkan nama untukmu dan ibumu juga menyukai namamu sekarang."


Xiao Lu cemberut saat mendengar ucapan Yang Shu, dia lalu berdiri dan melangkah ke arah Xiao Shuxiang sebab adiknya itu sudah terlalu lama memeluk Jing Mi.


Dia berusaha memisahkan Xiao Shuxiang dan Jing Mi. "Kau ini mendengarkan Kakek atau tidak sih?! Lepaskan Saudara Jing!"


"Kau ini cerewet dan suka sekali mengganggu. Tidak lihat aku sedang meratapi nasibku, hah?!" Xiao Shuxiang sebenarnya ingin berteriak, hanya saja suaranya serak dan hampir tidak bisa keluar.


Qi Xuan mengusap pelan kepala dan punggung Xiao Shuxiang. "Saudara Xiao, tenanglah... ya? Kami ada bersamamu, jangan bersedih Saudara Xiao..."


Jing Mi memeluk Xiao Shuxiang, "Kakak Lu Yang Cantik. Kau jangan mengganggu Saudara Xiao dulu, Saudaraku sedang sedih saat ini. Kembalilah ke tempat dudukmu,"


Xiao Lu mendengus, "Kau ini sedih kenapa sih?! Gara-gara kau, perjalanan kita jadi tertunda lagi?!" dia kemudian melangkah menuju tempat duduknya kembali.


"Gadis cerewet. Kalau saja aku tidak mengeluh pada langit atas nasibku ini... Mungkin sudah kupatahkan lehermu, menarik lidahmu keluar lalu memotongnya dan memberikannya sebagai makanan keledai." Xiao Shuxiang terisak, dia memeluk erat Jing Mi dan merutuki nasibnya yang penuh kemalangan luar biasa.


***


-


-


Catatan Penulis :


Revisi, revisi, revisi..! Gomen bila 'Catatan Penulis' selalu bergentayangan di setiap Episode. ( ´ ▽ ` ;) Meski sulit diabaikan, tapi Dasha berharap semoga kamu tetap bijak dalam membaca. Ambil pelajaran yang berharga (jika ada) dan buang jauh-jauh hal negatif lainnya.


*From Dasha to Xiao Shuxiang


"Xiao-Dage. Para kultivator yang sudah kau bunuh di masa lalu benar-benar menertawakanmu. Mereka tidak sabar melihat penderitaanmu yang selanjutnya." (>_<)


.


.


.


saatnya Sesi Pantun dimulai..


.


.


Bunga Cina Bunga Karangan


Tanamlah Rapat Tepi Perigi


Adik Di mana Abang Gerangan


Bilalah Dapat Bertemu Lagi