XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
41 - Musuh Baru [Revisi]


Jing Mi dan Zong Ming terus bertukar serangan. Pertarungan keduanya berlangsung cukup lama, sampai akhirnya Jing Mi mulai terlihat kelelahan.


"Kenapa kau tidak menyerah saja, Saudara Jing?"


"Tidak, masih belum!"


Traaang!


Jing Mi terus melancarkan serangan kepada Zong Ming meskipun kaki dan tubuhnya sudah sangat berat.


Zong Ming menggeleng pelan, dia mengundurkan dan melambatkan tempo serangannya karena tidak ingin melukai teman barunya.


"Jangan keras kepala Saudara Jing, menyerahlah!"


"Kau saja yang menyerah Saudara Zong...!"


Tidak ada yang mau menyerah, baik Jing Mi maupun Zong Ming. Teman-teman mereka terlihat beberapa kali berseru agar pertarungan mereka sebaiknya dihentikan karena sudah terlalu lama, namun tetap saja Jing Mi terus memberikan serangan kepada Zong Ming.


"Ini sudah cukup, aku harus menghentikan Saudara Jing sekarang...!" Zong Ming yang awalnya mengendurkan serangan, kini mulai menyerang dengan cepat.


Traaanng!


Jing Mi tertarik mundur, dia kesulitan menahan serangan dari Zong Ming. "Rupanya kau selama ini menahan tenagamu, Saudara Ming...!"


Ada perasaan sakit di dalam hati Jing Mi ketika ia menyadari bahwa selama pertarungannya----Zong Ming ternyata menahan diri.


Padahal dia sendiri merasa sudah jauh lebih kuat karena bisa membuat Zong Ming berada dalam posisi bertahan.


Menyadari dirinya diremehkan, Jing Mi tidak berniat untuk bertarung lagi. "Ini menyakitkan... Sakit yang tidak berdarah,"


Saat Jing Mi akan menyarungkan kembali pedangnya, tiba-tiba saja sebuah belati terbang dan mengenai lengan kanannya membuat Jing Mi berteriak kesakitan.


AAAAAARGH!


Teriakan Jing Mi membuat Zong Ming, Qi Xuan, Xiao Lu dan Ying Liu terkejut. Mereka kemudian bergegas mendekati anak laki-laki itu yang jatuh berlutut sambil memegang lengan kanannya yang berdarah.


"Saudara Jing?!"


"Saudara Jing!!"


Qi Xuan panik saat melihat darah keluar dari sela-sela jari tangan kiri Jing Mi, dia tidak bisa berbuat apa pun untuk meringankan sakit yang diderita oleh saudara seperguruannya ini.


Sebuah belati kembali terbang dan hampir mengenai leher Jing Mi kalau saja Zong Ming tidak cepat menangkisnya.


Ying Liu langsung mengambil posisi untuk melindungi ketiga teman barunya, tatapan matanya mengedar sekitaran dan berusaha mencari asal serangan tiba-tiba tersebut.


"KELUAR KAUU!!" Zong Ming berteriak, raut wajahnya begitu kesal sebab ada yang berani menyerang temannya secara diam-diam saat mereka sedang berlatih.


"PENGECUT!! BERANINYA KAU MENYAKITI TEMANKU!!" Zong Ming mengepalkan tangan kirinya dengan erat, sementara tangan kanannya mencengkeram kuat pedangnya. Sebuah suara tawa seketika terdengar, membuat Zong Ming dan yang lainnya tersentak.


"Ha ha ha, jadi benar. Dia adalah temanmu...? Kau berteman dengan anak yang lemah, Zong Ming!"


Terlihat tanah di depan Zong Ming mengeluarkan akar hijau yang meliuk-liuk dan perlahan semakin banyak.


Zong Ming mundur ke belakang sambil mengambil sikap waspada, akar itu berkumpul pada salah satu titik dan mulai membentuk wujud manusia.


"KAU...?!" Zong Ming tersentak saat akar itu mulai menjadi seorang anak laki-laki berusia sekitar 14 tahun.


Anak laki-laki ini memiliki pakaian berwarna hijau dengan motif akar putih menjalar, dia menatap Zong Ming dengan tatapan merendahkan.


"Apa teman-temanmu juga akan mengikuti Turnamen? Hah! Sebaiknya suruh mereka pulang jika tidak mau mati!"


"Siapa dia...?" Xiao Lu keheranan dengan kehadiran anak laki-laki yang menurutnya datang secara misterius.


"Dia murid dari Sekte Akar Teratai, Dai Chen. Anak yang sombong dan licik, dia selalu menjadi biang masalah," Ying Liu menatap penuh kekesalan kepada Dai Chen.


"Terima kasih atas perkenalannya, kau mengatakannya dengan sangat baik."


Dai Chen merupakan kultivator muda yang berasal dari aliran putih. Dia memiliki wajah bersih dan juga tampan, mempunyai tatapan mata yang seakan bisa menyihir para gadis untuk bertekuk lutut padanya.


Hanya saja sifat Dai Chen sangatlah arogan, itu diakibatkan karena dirinya memiliki segalanya. Dia adalah anak dari pendiri Sekte Akar Teratai, di usia yang ketujuh tahun dia sudah berada di Forging Qi tingkat dua.


Dai Chen juga memiliki dantian khusus berupa 'Dantian Emas Hijau'. Dantian ini mampu menyerap Qi tumbuhan tanpa Dai Chen perlu bermeditasi.


"... Hmph, sayang sekali dantian yang bisa menolong orang lain dimiliki oleh anak yang tidak punya perasaan dan empati sepertinya..!" ucap Ying Liu.


Zong Ming, "Apa Yang Kau Inginkan?! Berani Mengganggu Teman-Temanku!"


Dai Chen tersenyum jahat saat melihat ekspresi wajah Zong Ming yang begitu marah. "Kalau kukatakan aku ingin nyawamu, apa kau akan memberikannya?"


Xiao Lu mengepalkan erat kedua tangannya, dia kemudian meneriaki Dai Chen sambil menunjuk-nunjuknya.


"KAU!! Kami kidak punya masalah denganmu...! Kenapa kau melukai saudaraku, HAH?! Kami bahkan tidak mengenalmu...!"


"Aku juga tidak mengenalmu, tapi aku sangat mengenal Zong Ming... dan siapa pun teman Zong Ming adalah musuhku!"Suara Dai Chen terdengar dingin, dia menatap tajam ke arah Xiao Lu sambil mengeluarkan aura pembunuhnya.


Aura yang begitu luas dan juga pekat, seakan menjadi penanda bahwa di usia Dai Chen yang masih 14 tahun, dia sudah banyak melakukan pembunuhan.


!!


Xiao Lu jatuh lemas dan tubuhnya terasa berat, dia bahkan merasa sesak dan dadanya sakit. Jing Mi dan Qi Xuan merasakan hal yang sama.


Melihat keadaan anak-anak di depannya membuat Dai Chen tersenyum tipis, dia kemudian menarik aura pembunuhnya. "Lemah sekali...! Kalian akan mengikuti turnamen dengan kemampuan kalian itu...? ck ck ck, kalian hanya mengantar nyawa ke sana, sebaiknya kalian pulang."


Traaang!


Ying Liu secara mengejutkan menyerang Dai Chen, namun dengan cepat sebuah akar hijau yang muncul di pinggir kaki Dai Chen dan langsung menahan serangan Ying Liu. Akar hijau ini sangat kuat dan juga keras, suaranya seperti pedang yang saling berbenturan.


Dai Chen hanya menyilangkan kedua tangannya tanpa bergerak sedikit pun. "Hh, menyerang dengan tiba-tiba seperti biasa... Kau benar-benar tak ada kemajuan."


Dai Chen menggerakkan sedikit jari telunjuknya, seketika akar yang lain muncul menyerang Ying Liu dan hampir menusuk perutnya kalau saja Zong Ming tidak cepat melompat untuk menyerang akar milik Dai Chen.


Slaang...!


"Kau ingin membunuh Liu'Er...? Apa kau sudah gila?!" Zong Ming menatap penuh kebencian kearah Dai Chen, hanya saja orang yang ditatapnya cuma memasang wajah tenang nan dingin.


"Kalau iya, kenapa?"


"DAI CHEN!!"


Zong Ming berteriak, dia lalu mengalirkan Qi ke pedangnya dan melompat menyerang Dai Chen.


Akar-akar Dai Chen bermunculan dan menangkis serta memberikan serangan balasan kepada Zong Ming, Ying Liu juga ikut membantu Zong Ming. Keduanya bekerjasama untuk mengalahkan Dai Chen.


*


*


*


Xiao Shuxiang perlahan membuka matanya. Dia lalu mencoba untuk bangun dan mengambil posisi duduk bersila. Dia mengusap darah yang ada di mulut, hidung dan telinganya.


"Haaah, luar biasa. Rasa sakit ketika mengganti dantian sangat tidak terbayangkan. Pantas banyak orang yang lebih memilih memperbaiki dantiannya daripada menggantinya... Haah"


Xiao Shuxiang menghembuskan napas lelah, dia lalu teringat dengan dantian baru yang belum diperiksanya.


Dengan segera Xiao Shuxiang memfokuskan pikiran untuk merasakan Qi di sekitarnya, kemudian mengarahkan Qi tersebut ke dantian baru miliknya.


Qi mulai berkumpul, perlahan mengisi dantian Xiao Shuxiang. Tidak ada kecacatan atau pun kebocoran lagi pada dantian ini, seulas senyum mulai tergambar di wajah Xiao Shuxiang. Sang Bintang Penghancur telah kembali!


Sangat normal jika Xiao Shuxiang dapat menyerap banyak Qi dan naik tingkatan praktik dengan cepat, sebab dirinya mengingat semua jurus dan ilmu-ilmu silat di kehidupan pertamanya, apalagi saat itu dia adalah anak jenius dengan Dantian Api Poenix.


"Meski sekarang ini aku tidak mendapatkan dantian Api Phoenix-ku kembali, namun dantian baruku ini juga lumayan. Aplagi jauh lebih besar dan tentu saja lebih kuat daripada dantian yang biasanya."


Xiao Shuxiang yakin, naik dua tingkatan dalam sehari bukanlah hal yang mustahil dilakukannya.


Qi terus mengisi dantian Xiao Shuxiang, perlahan dantian miliknya bersinar dan menandakan bahwa dia akan naik tingkatan.


Hanya saja, detik berikutnya senyum di wajah Xiao Shuxiang terlihat memudar, keningnya mengerut. Dia bisa merasakan dantiannya berubah.


"Jangan-jangan dantianku adalah Dantian Khusus...!"


Jika Xiao Shuxiang mendapatkan dantian khusus apalagi Dantian Api Poenixnya, maka kehancuran Benua Timur tidak perlu menunggu musim berikutnya. Itulah yang ada dibenaknya sekarang.


***