
Lan Guan Zhi saat ini berada di dalam sebuah kedai makan. Dia duduk sendiri, begitu tenang menikmati teh yang disajikan pelayan kedai padanya.
Keberadaannya yang tidak bisa diabaikan ini membuatnya menjadi pusat perhatian.
Banyak pengunjung kedai yang duduk di meja lain membicarakan Lan Guan Zhi, bahkan para pelayan kedai tidak ingin ketinggalan.
Bila pendengaran difokuskan, kebanyakan dari mereka memuji betapa tampan dan berwibawanya Lan Guan Zhi. Sebagian dari mereka begitu jujur mengatakan tidak bisa melepaskan perhatian untuk terus memandangi dirinya.
[".. Dia memiliki wajah yang sempurna. Matanya yang teduh, menenangkan, namun saat bersamaan begitu dingin--rasanya aku seperti disetrum~astaga.."]
["Ssst.. Pelankan suaramu. Jika dia mendengarnya, ini akan sangat memalukan,"]
["Bicara keras pun dia tidak akan mengerti. Dilihat baik-baik, Tuan Muda itu bukan berasal dari Benua Ini. Aaah~ Dia tampan sekali.. Aku bahkan ingin menangis..]
Suara dari tiga orang gadis yang berpakaian hitam dengan rompi kuning mampu didengar jelas oleh Lan Guan Zhi. Ketiga gadis tersebut merupakan murid dari Partai Pasak Bumi, salah satu Partai Aliran Netral yang berasal dari Benua Tengah.
Lan Guan Zhi dengan tenang meminum kembali teh di cawan gioknya. Ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah. Dia sangat mengerti bahasa penduduk Benua Tengah, itu semacam cemilan malam yang selalu rutin dirinya makan.
Selama ini, Lan Guan Zhi merupakan tipe orang yang lebih suka menghabiskan waktu di dalam Pagoda Tingkat Sembilan milik Sekte Pedang Langit.
Kamarnya yang dipenuhi banyak rak-rak buku dan satu atap dengan perpustakaan sektenya membuat dia sangat jarang terlihat berkeliaran di luar.
Pertama kali Lan Guan Zhi mempelajari bahasa asing adalah saat usianya masih 5 Tahun, dan baru mendalaminya saat dia berusia 7 Tahun.
Dia juga lebih banyak membaca teori tentang gerakan berpedang daripada mempraktekkannya sendiri.
Meski begitu, dalam sekali percobaan--Lan Guan Zhi bisa melakukannya dengan sangat sempurna. Bila bukan 'Jenius', maka dia bisa dikatakan adalah monster.
"Tuan Muda, silahkan.."
Seorang pelayan menyajikan tiga jenis makanan di atas meja Lan Guan Zhi. Itu adalah semangkuk nasi, semangkuk sayur, dan satu ekor ikan yang baru selesai dibakar.
Lan Guan Zhi mengucapkan terima kasih, dia begitu sopan saat melakukannya. Tindakan dirinya barusan, entah mengapa membuat para pelayan kedai serta pengunjung seperti tiga gadis dari Partai Pasak Bumi merasa bahwa tempat ini baru saja diberkahi.
Lan Guan Zhi seperti biasa, dia hanya makan tiga sumpit nasi dan lalu berhenti. Dirinya sama sekali tidak menyentuh sayur maupun ikan yang tersaji di atas meja.
?
Tersadar, Lan Guan Zhi sedikit menoleh kala seseorang mendekat dan mencoba menyapanya. Dari yang terlihat, orang tersebut adalah wanita cantik berpakaian merah yang di tangan kanannya memegang sebuah kipas berwarna senada dengan pakaiannya.
"Apa aku boleh duduk di sini?"
Suara gadis tersebut terdengar lembut, namun ekspresi wajahnya nampak biasa-biasa saja, sama sekali tidak mengandung kegugupan.
Belum sempat Lan Guan Zhi memberi jawaban, gadis bercadar merah tipis di depannya ini langsung duduk begitu saja. Dia pun tidak ada pilihan lain selain memberikan izin.
"Kau menunggu seseorang?" gadis cantik dengan pakaian yang terbuka pada bagian atasnya itu mencoba mengajak pemuda tampan di depannya bicara.
"Iya,"
"Siapa yang kau tunggu?"
"Teman,"
Lan Guan Zhi hanya menjawab singkat, ekspresi wajahnya tidak berubah. Sulit mengartikan bagaimana perasaannya sekarang saat diajak bicara oleh seorang wanita cantik yang bahkan pada pakaian bagian bawahnya pun terlalu terbuka.
"Aah.. Jadi menunggu teman. Apa dia perempuan?"
Wanita cantik bercadar merah tersebut nampak berusia 30 Tahun, dia tidak lain adalah Nona Darah Madu. Salah satu pendekar Aliran Hitam yang cukup terkenal di Benua Tengah.
Bagi orang lain, menganggap Nona Darah Madu memiliki usia 30 Tahun adalah sebuah penghinaan. Wanita cantik tersebut haruslah disebut masih berusia 23 atau 24 Tahun. Dia memang semuda itu.
"Jadi bagaimana? Temanmu itu perempuan? Atau laki-laki?" Nona Darah Madu kembali bertanya karena tidak mendapat jawaban. Dari tatapan matanya, jelas dia sedang berusaha keras.
"Laki-laki,"
"Bagus kalau laki-laki. Ah iya, siapa namamu?"
Rasa-rasanya ini mulai mengganggu. Lan Guan Zhi dalam hati mengembuskan napas pelan dan lalu memperkenalkan dirinya begitu sopan.
Dia sebenarnya merasa tidak nyaman dengan wanita di depannya ini, sebab menurut firasatnya--wanita cantik tersebut memiliki Aura Pendekar yang tipis. Dalam artian kata, wanita ini mempunyai Aura Pembunuh yang kuat.
"'Lan Guan Zhi'? Namamu sepertinya pernah kudengar.." Nona Darah Madu mengipas-ngipas pelan wajahnya, dia terlihat sedang berusaha mengingat-ingat sesuatu.
"Aah! Lan Guan Zhi.. Kau Wali Pelindung Nona Qing Zhu, iya kan?"
"Bukan. Aku wakil wali pelindungnya,"
Dalam hati, Nona Darah Madu tersenyum. Dia baru saja membuat pemuda tampan di depannya bicara lebih dari satu kata. Ini adalah salah satu kemajuan dari teknik pendekatan yang dia lakukan.
"Wakil Wali Pelindungnya? Aku tidak mengerti.. Apa kau bisa jelaskan padaku?"
Lan Guan Zhi berkedip sebelum mulai membuka suara kembali. "Aku tidak tahu pasti. Nona bisa menanyakannya dengan Tuan Muda Ling,"
Kehadiran Nona Darah Madu membuat kedai makan dipenuhi banyak suara berbisik. Para pelanggan jelas membicarakan kedekatan antara dirinya dengan wanita di depannya ini.
Nona Darah Madu sendiri bisa mendengar beberapa pelanggan mengatakan bahwa dia sangat serasi dengan Lan Guan Zhi. Ini jadi membuatnya bersemangat untuk semakin mengenal pemuda tampan dari Sekte Pedang Langit tersebut.
Alasan sebenarnya Lan Guan Zhi datang ke tempat ini adalah untuk mencari tahu informasi tentang Scarlet Bayangan. Tetapi bukannya mendengar gosip kelompok tersebut, dirinya malah mendengar hal yang sama sekali tidak penting.
Meski terus berwajah tenang, namun dalam hati dirinya sangat ingin pergi dari sini. Untung saja, teman-teman yang ditunggunya datang di waktu yang tepat.
"Lan'Er Gege..!"
!!
Sebuah suara seruan membuat para pelanggan di kedai, termasuk Nona Darah Madu menoleh ke arah pintu. Mereka melihat seorang pemuda dengan tongkat bambu di tangan kanannya berjalan terburu-buru.
"Lan'Er Gege~ Maaf membuatmu menunggu lama. Aku tadi harus menjawab panggilan alam terlebih dahulu~ kau baik-baik saja, kan?"
"Mn,"
?!
Nona Darah Madu tersentak saat pemuda dengan tongkat bambu tersebut duduk di samping Lan Guan Zhi dan langsung merangkul lengan pemuda tampan itu.
Tatapan dan ekspresi wajah di balik cadarnya nampak memberi arti bahwa dia sudah lama duduk di tempat ini dan bahkan sedikit pun belum pernah memegang tangan Lan Guan Zhi.
Jelas sekali bahwa Nona Darah Madu sedang kesal pada siapa pun orang yang berani merangkul pria tampan yang diincarnya, bahkan jika orang tersebut berjenis kelamin laki-laki. Namun untuk sekarang, dia masih menahan diri.
"Lan'Er Gege~ kau memesan makanan? Bukannya kau tidak terlalu butuh ini?" Bocah Pengemis Gila sepertinya belum sadar bahwa Nona Darah Madu duduk tepat di depannya. Dia hanya fokus pada makanan sederhana di atas meja dan Lan Guan Zhi.
"Aah~ kau memesankannya untukku? Aku memang bukan orang yang suka pilih-pilih makanan. Aku akan memakan semuanya~ Lan'Er Gege, kau sangat baik.."
"Itu.."
Lan Guan Zhi ingin mengatakan pada Bocah Pengemis Gila bahwa dia sudah memakan tiga sumpit nasi sebelumnya, namun sepertinya pemuda di sampingnya ini tidak peduli hal tersebut dan langsung makan begitu lahap.
Nona Darah Madu terlihat tercengang, dalam hati dia ingin sekali marah dan mencekik leher pemuda menyebalkan yang sedang makan di depannya. Namun, bila diperhatikan lagi.. Wajah pemuda tersebut cukup tampan juga.
"Ehm.. Tunggu dulu. Bila kuperhatikan dengan jelas.. Dia sedikit mirip seseorang.." Nona Darah Madu merasa mengenal pemuda yang membawa Tongkat Bambu hitam ini, keningnya mengerut kala berusaha mengingat-ingat di mana dia pernah bertemu orang ini.
"Tuan Muda, siapa namamu?" Nona Darah Madu akhirnya bertanya. Dia sepertinya sudah menyerah untuk menebak-nebak sendiri nama pemuda di samping Lan Guan Zhi.
?!
Bocah Pengemis Gila baru tersadar ada orang lain selain Lan'Er Gege-nya. Dia pun mulai menatap wanita di depannya dan langsung tersedak makanannya saat tahu bahwa orang di depannya adalah wanita yang cukup dia kenal.
Nona Darah Madu, "Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Aku merasa seperti mengenalmu, tapi aku lupa.. Jadi, siapa namamu?"
"A-Itu.. Ohok hok!" Bocah Pengemis Gila mengusap-usap dadanya dan lalu menuangkan teh pada cawan giok Lan Guan Zhi, lalu mulai meminumnya.
".. Wajahku memang pasaran. Kau mungkin sudah salah orang," Bocah Pengemis Gila berusaha menyembunyikan kegugupannya. Dalam hati dirinya begitu kelabakan, yang ada di depannya sudah jelas adalah Nona Darah Madu.
"Benarkah..? Apa mungkin aku salah orang.. Tapi kau tak mengatakan namamu? Tidak mau memberitahuku?"
!!
"Gawaat..! Wanita iblis ini.. Kalau sampai dia mengenaliku.. Aku pasti akan tamat..!" Bocah Pengemis Gila kesulitan menelan ludahnya, dia berusaha tersenyum namun rasanya begitu canggung.
"Namaku.. Namaku.. Wu Xian!"
?!
Lan Guan Zhi sebenarnya heran karena Bocah Pengemis Gila baru saja berbohong. Ini membuatnya penasaran dengan hubungan kedua orang yang dia perhatikan tersebut.
Nona Darah Madu, "Wu Xian? Jadi kau juga berasal dari Benua Timur? Tampangmu terlihat seperti orang asli benua ini.."
"Itu karena wajahku lebih mirip Ayah. Beliau warga asli benua ini,"
"Aah.. Kau campuran. Bagus juga," Nona Darah Madu terlihat manggut-manggut.
Sebelum ditanya-tanya lagi, Bocah Pengemis Gila lebih dulu melontarkan pertanyaan pada Nona Darah Madu.
"Nona ini.. Sedang menunggu seseorang?"
"Mm, begitulah. Tapi ini sudah terlalu lama, aku mulai bosan menunggu."
Bocah Pengemis Gila kembali melanjutkan makannya, dia sesekali melirik dan memperhatikan wanita bercadar tipis di depannya.
Nona Darah Madu dahulunya adalah orang yang pernah mengejar-ngejarnya, itu sekitar 16 Tahun yang lalu, sebelum dia memalsukan kematiannya untuk yang kesekian kalinya.
"Wanita Iblis ini menyebalkan. Dulunya dia pernah mengatakan tidak bisa hidup tanpa diriku, tapi yang terlihat dia malah sehat-sehat saja dan masih bernapas. Cih! Sudah kuduga, wanita memang penuh kebohongan dan tipu muslihat.."
Bocah Pengemis Gila menguyah begitu cepat, tatapan matanya terlihat mengandung kekesalan yang dalam. Target tatapannya tentu tidak lain adalah wanita di depannya ini.
Seorang anak laki-laki yang nampak berusia 5 Tahun berlari ke arah Lan Guan Zhi sambil menyeru kata 'Ayah'. Tindakannya cukup membuat terkejut semua orang.
"Ayah.."
Lan Guan Zhi mengusap pelan kepala anak kecil berpakaian putih yang menatapnya ini.
"Ayah.."
Anak laki-laki dengan tatapan polos itu tidak lain adalah Lan Xiao, Sang Harimau Bulan. Dia sekarang sedang berada dalam wujud manusianya.
Kedatangannya kemari tentu tidaklah sendirian, dia bersama Hu Li dan O Zhan. Kedua temannya itu nampak berjalan di belakangnya.
"Tuan Muda Lan, maaf membuat Anda menunggu lama.." Hu Li begitu sopan meminta maaf, tubuh, dan wajahnya yang manis dengan rambut putih panjangnya sekilas membuat para pelanggan di kedai ini menganggap dirinya adalah perempuan.
Nona Darah Muda bahkan mengira bahwa Hu Li merupakan istri dari Lan Guan Zhi. Namun bila diperhatikan baik-baik, Hu Li adalah pemuda yang manis dan mempesona.
"Mereka-mereka ini sangat menawan. Anak kecil itu pun terlihat manis, dan anjing kecil di kepala pemuda ini juga menarik perhatianku.." Nona Darah Madu tersenyum sambil memain-mainkan kipas di tangannya.
Hu Li menyadari kehadiran Nona Darah Madu. Dia jadi mengurungkan niat untuk melaporkan informasi yang dirinya dapatkan pada Lan Guan Zhi.
O Zhan juga menyadarinya, dia lebih memilih untuk tidak bersuara dan seakan berpura-pura menjadi topi bulu bagi kakaknya, Hu Li.
Untuk Demonic Beast seperti O Zhan dan Hu Li, membaca kepribadian manusia dari aroma yang keluar di tubuhnya adalah hal yang wajar. Mereka bisa melakukannya, itu semacam bakat bawaan yang ada sejak lahir.
Hu Li, O Zhan, bahkan Lan Xiao tahu betul bahwa wanita cantik berpakaian merah ini bukanlah manusia baik-baik. Hanya perlu sedikit singgungan, wanita cantik itu pasti akan membuka wajah aslinya.
"Jauh lebih baik bila menjauhi orang ini. Tuan Muda Lan-"
["Nona,"]
!!
Hu Li tersentak saat suara asing menimpali ucapannya, ini adalah suara pria. Saat menoleh, dia melihat seseorang berjubah putih dan bertopeng rubah berjalan seakan mendekatinya.
"Hm? Jadi kau sudah datang Qian Kun?" Nona Darah Madu mengipas-ngipas wajahnya, "Kau membuatku menunggu lama. Apa kau tidak tahu ini membosankan? Untung saja Tuan Muda tampan ini bersedia menemaniku.."
!
Pemuda berjubah putih dengan topeng rubah merah yang menutupi wajahnya tersebut mulai memperhatikan dengan seksama orang-orang yang bersama Nona Darah Madu. Dia tersentak, namun karena memakai topeng--ekspresi wajahnya sulit diketahui.
?!
Lan Xiao memiringkan kepalanya dan kemudian mulai berlari ke arah pria berjubah putih tersebut. Dia memeluk kaki pria itu sambil mengusap-usapkan wajahnya.
"Ibu.."
!!
Lan Guan Zhi, Hu Li, dan Bocah Pengemis Gila terkejut dengan tingkah Lan Xiao. Tidak biasanya Harimau Bulan bersikap seperti itu, apalagi pada orang asing.
"Ibu.." Lan Xiao menengadah dan memperlihatkan wajah serta tatapan mata polosnya. Dia memiringkan kembali kepalanya dan memperhatikan dengan jelas orang yang dirinya peluk.
"Ibu..?"
"Qian Kun? Kau mengenalnya?" Nona Darah Madu terlihat keheranan. Sejauh yang dia ketahui, orang berjubah putih dengan topeng rubah tersebut adalah laki-laki. Jadi sudah pasti anak kecil ini yang salah mengenalinya Qian Kun sebagai ibunya.
!!
Lan Xiao tersentak saat kepalanya diusap-usap pelan oleh pria yang dia peluk. Dengan segera dirinya berlari ke arah Lan Guan Zhi. Dia memberi tatapan aneh pada Qian Kun.
"Ibu.."
Mata Lan Xiao berkilat kebiruan. Dia sebelumnya mengenali orang yang bertopeng rubah itu sebagai induknya, tapi tangan yang mengusap kepalanya terasa sangat asing. Itu bukanlah tangan induk yang dia kenali.
Qian Kun sendiri merasa keheranan, namun dia tidak mengatakan apa-apa. Dirinya lebih memilih mengajak Nona Darah Madu pergi dan mulai berpamitan pada Lan Guan Zhi, Hu Li, serta Bocah Pengemis Gila.
"Tuan Muda Lan, kuharap kita bisa bertemu lagi.." Nona Darah Madu mengedipkan sebelah matanya pada Lan Guan Zhi dan lalu mengikuti Qian Kun pergi.
Kepergian mereka berdua membuat Hu Li merasa lega. Dia juga mengajak Lan Guan Zhi pergi dan sebaiknya mereka mencari tempat lain untuk bicara. Kondisi di kedai ini terlalu memfokuskan mereka sebagai pusat perhatian.
Bocah Pengemis Gila, "Yaah.. Tidak masalah. Aku juga sudah menghabiskan makananku, jadi ayo pergi."
Lan Guan Zhi berdiri, dia meletakkan sekeping emas di atas meja, lalu memegang tangan Lan Xiao dan mulai berjalan meninggalkan kedai diikuti oleh teman-temannya.
Dia sebenarnya penasaran dengan tindakan Lan Xiao tadi. Rasanya seakan-akan Harimau Bulan ini sempat kebingungan karena mengenali orang asing sebagai induknya. Ini tidak seperti Lan Xiao yang biasa.
"Ayah.."
Bocah Pengemis Gila mengerutkan kening saat memperhatikan bagaimana Lan Xiao terus saja mengucapakan kata 'Ayah' tanpa pernah menggantinya dengan kata lain.
"Dia seperti baru belajar bicara.. Apa anak ini memang putramu Lan'Er Gege?"
Lan Guan Zhi mengangguk pelan dan menjawab bahwa Lan Xiao baru berlatih bicara. Dia tidak menjawab pertanyaan tentang apakah Lan Xiao adalah putranya atau bukan, karena Bocah Pengemis Gila harusnya sudah tahu jawabannya.
"Tuan Muda Lan, apa Anda tidak merasa curiga dengan dua orang yang kita jumpai tadi?" Hu Li seketika bukan suara, dia mengatakan menaruh curiga pada wanita cantik berpakaian merah dan pria bertopeng rubah tersebut.
".. Aku merasa khawatir. Topeng rubah yang dipakai pria tadi mengingatkanku pada Scarlet Bayangan. Apa mungkin merekalah dalang dari hancurnya sekte dan partai kecil di Kekaisaran ini?"
Hu Li tidak pernah meragukan firasatnya, apalagi sebelumnya--Dia telah mengumpulkan cukup banyak informasi tentang serangan pada sekte dan partai kecil di Benua ini.
Lan Guan Zhi dan Bocah Pengemis Gila juga sama, tetapi mereka butuh lokasi yang pas untuk merangkum semua informasi yang mereka dapatkan selama seharian ini.
Pii~
O Zhan akhirnya buka suara, dia meminta teman-temannya kembali ke Sekte Pagoda Langit. Hari sudah gelap dan entah bagaimana kondisi Xiao Shuxiang sekarang.
Bocah Pengemis Gila mengangguk setuju, dia lebih nyaman menceritakan apa yang sudah dirinya dapatkan bila lokasinya ada di Sekte Pagoda Langit. Setidaknya tempat itu cukup aman dan jelas dapat digunakan untuk beristirahat.
Di saat mereka memutuskan kembali ke sekte--di saat itu pula Xiao Shuxiang hampir menyelesaikan pertarungannya di lantai dua.
Sebelumnya, ketika Hou Du telah berhasil di kalahkan--tangga mulai muncul di tengah ruangan dan tanpa ragu Xiao Shuxiang menaikinya.
Di lantai dua, dirinya harus bertarung dengan seorang wanita bertubuh bagus, namun mempunyai warna kulit hijau dan wajah yang menyeramkan.
Gerakan wanita tersebut sangat lincah, dia memiliki cakaran yang kuat, serta mampu membuat luka pada bagian paha dan punggung Xiao Shuxiang.
Koki Alkemis itu sendiri menggunakan Seruling Giok Putihnya sebagai senjata. Dia memainkan pusaka tersebut hingga terdengar suara nyaring yang memekakkan telinga.
Di waktu yang pas, Xiao Shuxiang langsung menerjang dan tanpa ragu menebas salah satu lengan lawannya hingga darah segar terjatuh ke lantai.
Sangat disayangkan, rasa darah monster yang dirinya lawan sama sekali tidak enak. Xiao Shuxiang yang kesal mematahkan kaki lawannya, bahkan sampai nekat mencabutnya dengan cara yang paling menyakitkan.
Aaaaargh..!
Dia tidak kenal ampun. Teriakan pilu yang terdengar membuat Xiao Shuxiang semakin semangat mematahkan bagian-bagian tubuh lawan. Dia sangat menikmatinya, apalagi lawannya cukup lama mengembuskan napas akhir.
***