
"Sa-Saudara Xiao..! Le-lepaskan aku..! Aduduh..!"
Rintihan Yi Wen mengalun merdu, dia meminta Xiao Shuxiang untuk melepaskannya. Saudara Xiao-nya ini niat sekali menggilas kepalanya dengan buku jari tangan.
"Tolong ampuni aku..! Kau mengapitku di ketiakmu terlalu kuat. Leherku.. Leherku Saudara Xiao..! Aduuh!"
"Beruntung aku hanya memberimu hukuman kecil semacam ini. Apa kau bisa untuk tidak membuat masalah sehari? Kalian dapat bertarung sesuka hati, bahkan sampai saling membunuh, tapi jangan libatkan Lan Xiao..!"
Suara Xiao Shuxiang terdengar kesal, dia nampak mengapit Yi Wen di ketiak kirinya dan menggilas kepala gadis cantik tersebut dengan memakai buku jari tangan kanannya.
Saat mendengar penjelasan Saudara Seperguruannya ini--Xiao Shuxiang mengambil kesimpulan bahwa Yi Wen adalah yang bersalah. Tidak hanya melumuri pedang dengan racun saat berlatih bersama Ling Qing Zhu, Yi Wen juga melakukan serangan dengan niatan membunuh.
".. Kau cobalah sayangi aku sedikit, Yi Wen.. Tidak seharusnya kau bertarung seperti tadi dengan Kucing Putih. Bagaimana jika aku dan Lan Zhi tidak bergerak cepat, mungkin saja Lan Xiao benar-benar akan tewas. Dan yang terburuk, Kucing Hitam juga bisa dalam bahaya,"
"Bukankah yang harusnya disalahkan adalah kau.." Bocah Pengemis Gila yang sejak tadi diam kini mulai bicara, ".. Kau sendiri yang mengirim kita tepat di tengah-tengah pertarungan mereka. Jadi daripada menyalahkan gadis itu, lebih baik kau salahkan diri sendiri."
Nyawn!
Lan Xiao setuju dengan ucapan Bocah Pengemis Gila. Dia sendiri tidak menyalahkan Yi Wen atau Ling Qing Zhu karena menurutnya yang lebih bersalah adalah induknya ini.
Mengetahui Lan Xiao tidak membelanya membuat Xiao Shuxiang tersentak. Dia tidak menyangka bisa disalahkan oleh Harimau Bulan yang selama ini menganggapnya sebagai 'Induk'. Dan rupanya bukan hanya Lan Xiao, tetapi Kucing Hitam juga ikut menyalahkannya.
Yi Wen akhirnya bisa lepas dari apitan Saudara Xiao-nya. Dia nampak memijat-mijat lehernya yang untung saja tidak apa-apa. Ling Qing Zhu dan Lan Guan Zhi sendiri hanya diam sambil terus memperhatikan teman-temannya mulai saling menyalahkan.
Mereka semua masih ada di halaman dan masih disaksikan oleh para murid Sekte Pagoda Langit. Perdebatan Xiao Shuxiang dengan Bocah Pengemis Gila, Yi Wen, Lan Xiao, dan Xiao Qing Yan berakhir saat seorang anak perempuan berusia 7 Tahun datang menemui Ling Qing Zhu.
Anak itu tidak lain adalah Ling Ya Bing, putri dan merupakan anak satu-satunya dari Ling Lang Tian. Dia datang untuk memberi tahu Ling Qing Zhu bahwa sudah waktunya pulang, Bibi Cantiknya tidak boleh terus berada di wilayah murid luar Sekte Pagoda Langit.
Awalnya, Ling Ya Bing datang dalam keadaan raut wajah yang tenang dengan tatapan mata dingin. Namun saat dirinya melihat Xiao Shuxiang--raut wajahnya tiba-tiba berubah cerah dan bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman menggemaskan.
"Calon Paman Ipar..!!" Ling Ya Bing begitu semangat, dia melompat ke arah Xiao Shuxiang. Tubuhnya spontan ditangkap oleh pemuda berpakaian hitam tersebut.
"Calon Paman Ipar..! Aku sudah lama tidak bertemu denganmu, kau semakin tampan~"
!!
Xiao Shuxiang sebenarnya terkejut karena mendapat serangan yang tidak diduga oleh seorang anak kecil. Apalagi sekarang, anak di gendongannya ini mulai mengusap-usap pipi dan menarik-narik gemas hidungnya.
Teman-teman Xiao Shuxiang, termasuk Ling Qing Zhu juga merasa terkejut. Mereka bertanya-tanya tentang bagaimana bisa Ling Ya Bing dan Xiao Shuxiang begitu dekat. Padahal sejauh yang diketahui, keduanya hanya sekali pernah bertemu.
"Calon Paman Ipar, kau sebenarnya dari mana saja? Pergi begitu lama tanpa memberitahuku, aku kan juga mau ikut.."
"Anak nakal, aku ini sedang kekenyangan dan kau melompat seperti itu hampir membuat isi perutku keluar tahu," Xiao Shuxiang tanpa sadar malah berjalan pergi meninggalkan teman-temannya, dia terus menggendong Ling Ya Bing sambil menanyakan berbagai hal pada anak kecil tersebut.
Yi Wen mengerjap, dia tidak menyangka Saudaranya itu bisa dengan mudah pergi begitu saja dan seakan tidak mengingat mereka.
"Saudara Xiao..!" Yi Wen menghentakkan kakinya kesal dan terus memanggil Xiao Shuxiang, namun saudaranya sama sekali tidak menghiraukannya.
".. Keterlaluan, apa dia lebih suka bersama anak kecil daripada denganku? Memang seberapa bagusnya anak kecil itu, aku jelas yang terbaik."
Bocah Pengemis Gila memberikan tatapan aneh pada Yi Wen, dirinya menggelengkan kepala pelan dan merasa geli sendiri saat mendengar gadis ini mengoceh.
Dia lalu berjalan menyusul Lan Guan Zhi dan Ling Qing Zhu. Harimau Bulan yang ditunggangi Xiao Qing Yan mengikutinya dari belakang.
Saat kedatangan Ling Ya Bing tadi, para murid Sekte Pagoda Langit yang sebelumnya menjadi penonton segera berhamburan menuju kamar mereka masing-masing. Ling Ya Bing memang kecil dan jelas begitu sangat muda, namun karena statusnya sebagai anak dari Ling Lang Tian.. Dirinya begitu disegani.
Selama ini, tidak ada orang yang benar-benar akrab dengan Ling Ya Bing. Seluruh anggota keluarganya termasuk ayahnya sendiri terlalu kaku, dirinya bahkan sulit meminta digendong apalagi berbicara banyak hal pada mereka.
Sejak Bibi Qing Zhu-nya membawa teman-teman baru kemari--Ling Ya Bing penasaran dengan mereka semua. Dia awalnya ingin mendekati Lan Guan Zhi karena pemuda tersebut begitu tampan.
Namun mengetahui sifat pemuda itu yang mirip dengan ayahnya, Ling Ya Bing jadi mengurungkan niat untuk lebih dekat pada Lan Guan Zhi.
Berikutnya adalah Jing Mi, pemuda itu terlalu besar dan membuat Ling Ya Bing sedikit takut, sementara Hou Yong sendiri tidak pernah jauh-jauh dari Jing Mi.
Untuk Yi Wen dan Xiao Lu--Dirinya merasa kedua gadis itu tidak suka anak kecil, mereka selalu punya dunia sendiri dan terkadang membahas hal yang sama sekali tidak dimengerti oleh Ling Ya Bing.
Namun, berbeda dengan Xiao Shuxiang. Ketika dirinya melihat pemuda ini, kesan pertamanya adalah Xiao Shuxiang merupakan pendekar yang mengerikan.
Ling Ya Bing menyukai bagaimana pemuda tampan tersebut menebas tubuh lawan dan membuat mereka menjadi potongan daging, dia memang paling suka dengan kebrutalan pemuda ini.
Satu hal yang membuat hatinya seakan direbut oleh Wali Pelindung Bibi Qing Zhu-nya ini adalah kala Ling Ya Bing melihat seringaian Xiao Shuxiang. Dia juga menyukai aroma susu dan teratai yang berasal dari tubuh pemuda tampan ini.
Bagi Ling Ya Bing, Xiao Shuxiang merupakan calon Paman yang ideal untuknya.
".. Paman, apa aku boleh tidur bersamamu?"
"Mn? Bukannya kau punya kamar sendiri," Xiao Shuxiang masih tetap menggendong Ling Ya Bing, dia tidak menolak saat anak berusia 7 Tahun ini terus menyentuh dan sesekali mencium pipinya.
"Aku ingin tidur dengan Calon Paman Iparku. Boleh ya~ aku mau mendengar banyak tentangmu~ ayolah Paman,"
"Baiklah, tapi kau harus memanggilku 'Senior Xiao' mulai sekarang. Jangan menyebutku 'Paman' dan berhenti menarik pipiku, mengerti?"
Ling Ya Bing tersenyum senang, dia terlihat begitu manis. "Aku tidak akan menarik pipimu lagi, aku akan menciumnya~"
!!
Yi Wen terkejut, dia mengepalkan erat kedua tangannya karena merasa kesal pada Ling Ya Bing. Sungguh, anak kecil itu sangat tidak tahu malu. Berani sekali dia memeluk dan mencium pipi Saudara Xiao-nya, ini tidak bisa dibiarkan..!
Sayangnya, belum sempat dia memanggil Xiao Shuxiang--pemuda itu sudah begitu jauh. Dirinya ingin menyusul namun Bocah Pengemis Gila menghentikannya.
".. Sebaiknya besok saja kau menemuinya. Ini sudah terlalu larut dan kami semua begitu lelah. Kau mengenal Shuxiang sudah lama jadi pasti kau tahu seperti apa dia saat sedang marah,"
Bocah Pengemis Gila lalu menarik lengan Lan Guan Zhi dan mengajak pemuda itu untuk beristirahat. Dia juga sangat butuh tidur saat ini.
"Nona Ling, bagaimana denganmu?" Lan Guan Zhi sebenarnya bermaksud menanyakan kondisi Ling Qing Zhu, ini karena gadis tersebut sebelumnya terkena racun dari Yi Wen.
Dia sebelumnya telah mengeluarkan racun Yi Wen dari dalam tubuhnya. Tentu racun tersebut mengalir keluar bersama dengan darahnya.
Nyawn~
Lan Xiao dan Xiao Qing Yan mengikuti Lan Guan Zhi, keduanya juga ingin segera tidur. Bagi Harimau Bulan, meninggalkan induknya satu kamar dengan pemuda seperti Bocah Pengemis Gila adalah hal yang membahayakan, dia tentu tidak akan membiarkannya.
Yi Wen mengembuskan napas pelan saat memperhatikan teman-temannya berjalan menjauh, ".. Menyebalkan. Malam hari tidak cocok jadi waktu tidur, ini harusnya jadi waktu sempurna untuk bersenang-senang.."
Yi Wen berdecak, sangat disayangkan Xiao Lu tidak ada di sini. Dirinya memutar-mutar sebagian rambutnya dengan jari telunjuk dan mulai berjalan pergi.
Semakin melangkah, asap tipis kehitaman mulai terbentuk di bawah kaki Yi Wen dan terus naik menyelimuti tubuhnya. Perlahan tubuhnya menyatu dengan asap tersebut dan lalu menghilang.
Entah ada yang sadar atau tidak, tetapi selain ahli racun--Yi Wen juga merupakan kultivator yang mempelajari ilmu taois, dia memiliki bakat mengendalikan roh orang mati, termasuk para roh yang tergolong jahat.
Selain itu, praktik Yi Wen berada di GrandMaster Tingkat Bumi, jauh lebih tinggi di antara saudara-saudaranya yang lain. Dengan kemampuannya, bahkan Segel Pelindung yang terpasang di Sekte Pagoda Langit tidak bisa menghalangi Yi Wen untuk keluar dan masuk ke tempat ini sesuka hati.
"Dengarkan aku.. Siapa yang kau ajak bicara.."
Suara lembut perempuan terdengar bagai dibawa oleh angin malam. Sekte Pagoda Langit terlihat begitu indah bila dilihat dari atas.
"Dia ada didekatmu.. Tepat di depanmu..
Tanpa kaki.. Tanpa Tubuh.. Tanpa Bulan..
Kau melihatku..
Aku sendiri..
Begitu sepi..
Dan masih menanti..
Kekasih yang belum mati.."
Suara yang begitu lembut, namun sepertinya tidak ada orang yang bisa mendengarnya. Lihat saja, para manusia di Pasar Besar Kota Bintang Biduk sama sekali tidak menyadari suara itu.
Mereka seakan terlalu sibuk dengan urusan masing-masing, atau bisa saja ramainya suasana pasar tidak membuat seorang pun dari mereka yang mampu mendengar suara lembut barusan.
.
.
Semakin larut, suasana pasar di Kota Bintang Biduk semakin ramai. Angin malam ini terlalu dingin, nyaris membuat badan mengigil. Namun melihat betapa indahnya langit, rasa dingin itu sangat sepadan.
Salah satu tempat di kota ini yang juga begitu ramai adalah Penginapan Seribu Tahun yang dibangun Nie Shang dengan bantuan teman-temannya serta para rekan bisnisnya.
Di sebuah halaman luas penuh cahaya dari lentera dan obor bambu.. Sembilan orang wanita berpakaian merah terang begitu anggun meliuk-liukkan tubuh mereka mengikuti suara alunan dari alat-alat musik.
Hiburan ini merupakan salah satu bagian pelayanan dari Penginapan Seribu Tahun. Nie Shang terlihat duduk di antara para tamunya sambil memegang sebuah kipas hijau bercorak daun bambu yang senada dengan warna pakaiannya.
Di belakangnya, berdiri dua orang pria yang begitu menarik perhatian. Satunya memiliki tubuh besar dan berorot, sementara satunya lagi merupakan pria yang berpakaian begitu meriah.
"♬♩ Gadis-gadis menari begitu cantik, membuatku ingin bergabung untuk menyanyikan lagu terhebatku, yo♪♩"
Suara khas dari pria yang tubuhnya penuh perhiasan itu tidak akan pernah bisa dilupakan. Pria dengan riasan bulu mata merah tersebut tak lain adalah Siu Yixin, salah satu pilar dari kelompok yang menyebut diri mereka sebagai 'Scarlet Bayangan'.
"Semua orang hanya akan lari dari tempat ini bila mendengarmu menyanyi. Kau sebaiknya jangan memikirkan akan melakukan itu,"
Sekarang giliran pria bertubuh besar nan berotot tersebut yang bicara. Bila diperhatikan dengan baik, suara dan wajah pria itu mirip seperti milik Jing Mi.
Tidak jauh dari tempat pria itu berdiri--Asap tipis kehitaman perlahan muncul di udara, itu berkumpul pada satu titik di tanah dan lalu memadat.
".. Dengarkan aku.."
Suara lembut tersebut kembali terdengar, kali ini rasanya bagai bisikan.
".. Aku melihatmu..
Kau memandangku..
Aku mengintaimu..
Mendekatlah.. Akan kutarik roh dari dalam tubuhmu.."
Asap hitam yang memadat membentuk kaki manusia dan bagian tubuh itu pun mulai berjalan begitu santai saat bagian tubuh lainnya masih belum terbentuk sempurna.
Baru setelah langkah kelima, asap hitam mulai menipis dan menghilang. Yang terlihat sekarang merupakan sosok manusia yang mengalunkan nada-nada lembut sambil memain-mainkan sedikit rambut pendeknya dengan mamakai jari telunjuk kiri.
"♬♩ Mmm.. mmm..♬♪ ..mmm..♪♩ Kau ingin aku menyayangimu walau sedikit, huh..? Akan kuberikan semua rasa sayangku.. Saudara Xiao,"
Senyuman tipis terlukis di wajah sosok yang berjalan ke tempat di mana Nie Shang duduk bersama dengan para tamunya. Suara lembut dan seakan menyatu dengan angin kembali terdengar.
".. Siapa yang kau ajak bicara.. Apakah aku?
Jika demikian, maka dengarkanlah..
Ini pesan kematian..
Undangan untuk kekasihku yang belum mati.."
***