XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
461 - Pendekar Aliran Hitam [Revisi]


Sosok tersebut merupakan seorang pendekar dari sebuah partai Aliran Hitam. Dia terlihat seperti pria berusia 30 Tahun dengan wajah yang cukup tampan.


["Inilah sebabnya aku membenci pendekar dari Aliran Putih seperti kalian. Setelah apa yang para musuh lakukan, berani sekali kalian menatapnya dengan rasa kasihan. Apa kalian tidak punya otak?!"]


["Kami berasal dari Aliran Netral, tidak membeda-bedakan siapa pun. Jadi meski dia musuh sekali pun, dia masih bisa mendapat kesempatan kedua."]


["Ha ha ha, lucu sekali. Maka kaulah yang terburuk."] pria itu menatap saudara seperguruan Ling Jian Tou dengan tatapan yang merendahkan, nada suaranya pun terkesan meledek.


[".. 'Kesempatan kedua' katamu? Ini bukanlah kondisi di mana kau dapat bermurah hati pada musuh! Apa mereka akan melakukan hal yang sama jika ada di posisimu?! Apa mereka akan berubah menjadi lebih baik jika mendapat pengampunan darimu?! Kau benar-benar naif! Lihatlah sekelilingmu dan amati baik-baik,"]


Pria dengan tatapan penuh kemarahan itu menyuruh kedua murid dari Sekte Pagoda Langit untuk memperhatikan sekeliling mereka.


Ada banyak pendekar dan kultivator yang bertarung. Mereka mengalami luka parah, namun masih tetap berusaha melawan. Di sisi lain, musuh seakan-akan memperlakukan mereka seperti layaknya mainan.


["Kalian lihat? Apa orang-orang seperti itu layak mendapat pengampunan?"] pendekar itu memegang kuat pedangnya, dia menggeleng dan lalu berkata, ["Pahamilah. Tidak semua pendekar dari Aliran Hitam layak mendapat kesempatan kedua."]


Pendekar itu berkata, ["Banyak yang menganggap bahwa orang-orang dari Aliran Hitam adalah mereka yang salah jalan, padahal terkadang mereka sadar saat melakukannya dan sudah membuat keputusan. Pilihan tersebut bahkan terjadi tanpa desakan atau karena dipaksa oleh keadaan. Ini hanya tentang ideologi. Orang-orang seperti kalian tidak akan pernah mengerti bagaimana cara kami memahami dunia ini.."]


Pria itu melirik ke arah dua murid Sekte Pagoda Langit dan menyuruh mereka untuk pergi. Tatapan matanya memang mengandung kemarahan, tetapi bila diperhatikan lebih teliti--ada kesedihan yang tersembunyi pada tatapan mata itu.


[".. Biar kuurus orang ini, sementara kalian bantu saja mereka. Tidak perlu khawatir tentang melanggar peraturan bijak sekte kalian atau menyesali tindakan tidak manusiawi ini. Biar aku yang menanggung semuanya. Lagipula sudah menjadi aturan dunia bahwa apapun yang buruk, pasti berasal dari yang hitam."]


!!


Entah karena terpukau atau syok atas apa yang terjadi, namun Ling Jian Tou dan saudara seperguruannya tidak mengatakan sepatah kata pun. Mereka hanya memberi salam hormat dan kemudian pergi untuk membantu pendekar yang lain.


Pria berusia 30 Tahun itu berbalik dan melihat pendekar dari Partai Pedang Tengkorak yang sepertinya sudah lelah terus mengerang kesakitan.


Seakan tanpa sadar, tangan pria itu terulur dan menyentuh dada dari pendekar Partai Pedang Tengkorak. Ekspresi wajahnya biasa saja dan sama sekali tidak mengandung rasa kasihan.


["Sebenarnya bagaimana kau bisa memiliki tubuh yang abadi? Apa kau menyerahkan jiwamu pada iblis..? Kenapa kau tidak mempunyai kelemahan..? Aku bahkan tidak bisa merasakan detakan dari jantungmu.."]


Pria berpakaian ungu dengan rompi hitam itu menggumam sendiri. Dia memang tidak lagi ikut bertarung, tetapi kewaspadaannya sama sekali tidak menurun.


Murid Sekte Pedang Tengkorak yang tubuhnya terikat pada batang pohon dengan kondisi tanpa tangan dan kaki itu hanya bisa pasrah. Darah terus mengucur keluar pada bagian tubuhnya, tetapi dia masih belum mati.


Pendekar dari Partai Pedang Tengkorak itu ingin secepatnya mati. Dia sudah tidak kuat merasakan sakit yang amat sangat ini. Jika dia mati, maka tubuhnya akan terbentuk ulang kembali dan dirinya bisa membalaskan semua rasa sakit ini berkali-kali lipat.


["Aku menyadari hasratmu. Kau benar-benar tidak belajar dari kesalahan."]


Ucapan dari pria berpakaian ungu dan berompi hitam itu membuat pendekar dari Partai Pedang Tengkorak memberi tatapan penuh dendam. Andai mulutnya tidak disumpal oleh kain, maka dia pasti sudah melontarkan kata-kata kutukan.


Pria yang menyentuh dada pendekar di hadapannya perlahan menyadari sesuatu. Dia mulai ingat dengan musuh yang ditebas beberapa kali oleh salah seorang kultivator. Saat itu tubuh musuh terpisah-pisah dan organ dalamnya berhamburan.


Sebagai pendekar yang berasal dari Aliran Hitam dan akrab dengan organ dalam manusia, dia tentu tahu bentuk dari setiap organ tersebut meski minim cahaya.


["Jantung.. Pendekar itu tidak memiliki jantung, dan aku juga tidak bisa merasakan jantung dari orang ini. Kalau benar dugaanku bahwa musuh yang kami lawan menggunakan teknik iblis, maka tidak menutup kemungkinan jantung mereka bisa sampai tidak ada."]


Sekarang pria itu tahu bahwa bisa jadi jantung adalah titik kelemahan musuh. Namun untuk membuktikan firasatnya, dia harus menemukan jantung tersebut dan menghancurkannya.


*


*


Memang benar jantung merupakan kelemahan lawan, dan ini sudah disadari oleh Siu Yixin sejak awal.


Pria dengan penampilan yang meriah itu bertarung melawan dua orang dari Enam Pendekar Bayangan. Dia datang ke Sekte Darah Roh dan langsung memasuki perisai pelindung yang terpasang, dia bersama dengan seorang murid dari Sekte Pagoda Langit.


Siu Yixin datang di saat yang begitu genting. Kehadirannya membuat para tetua dan murid senior yang terluka parah seakan memiliki sedikit harapan.


Di sisi lain, nyawa seorang pendekar yang tak lain adalah Sekar Aji telah berada di ujung kepala. Dia hampir mati di tangan Hawa Raynar andai tidak ditolong murid Sekte Pagoda Langit yang datang bersama Siu Yixin.


Murid itu menyerang Hawa Raynar dan mengaburkan penglihatannya. Dia lantas menggunakan kesempatan tersebut untuk membawa Sekar Aji ke tempat yang lebih aman walau masih berada di lingkungan Sekte Darah Roh.


Dia tahu perisai pelindung yang membungkus wilayah sekte ini berada di bawah kendali musuh. Karenanya dia dan Siu Yixin dapat masuk, namun tidak bisa keluar.


Sekar Aji sendiri disandarkan pada sebuah dinding bangunan. Murid Sekte Pagoda Langit itu menyentuh dadanya dan mengalirkan Qi untuk membantu penyembuhan pada luka dalamnya.


Dia terlalu lemah untuk bersuara, penglihatannya sudah sejak tadi memburam. Dia benar-benar hampir kehilangan nyawa andai semangat hidupnya tidak ada lagi.


Murid Sekte Pagoda Langit di samping fokus pada pendekar di hadapannya, dia juga fokus mendengar suara pertarungan. Saat ini, kemungkinan besar pria yang bersamanya tadi tengah bertarung sengit.


Trang..!


TRAANG..!


Apa yang murid itu pikirkan memang benar. Pria yang datang bersamanya tidak lain adalah Siu Yixin, mantan Pilar Scarlet Bayangan yang wujudnya mencolok tersebut.


Siu Yixin merupakan petarung jarak dekat, dia memakai empat pedang yang memiliki bilah bergerigi dan dua di antaranya mempunyai racun yang mematikan.


Dia bertarung melawan dua orang dari Enam Pendekar Bayangan, Tong Due dan Wisesa. Kedua pendekar itu adalah ahli Tenaga Dalam Suhu dan Tenaga Dalam Udara.


Teknik berpedang Tong Due dan Wisesa saling melengkapi. Mereka bergerak lincah, menangkis setiap serangan Siu Yixin dan memberikan serangan balasan. Tiap kali ada yang lengah dan nyaris terkena serangan, maka yang lain akan bertindak sebagai pelindung.


Mereka bergerak dan saling menutupi kekurangan satu sama lain. Apalagi sekarang, keduanya tidak perlu khawatir dengan kematian sebab memiliki tubuh yang abadi.


Trang..!


Tong Due dan Wisesa tersenyum penuh keangkuhan. Keduanya seakan meledek lawan yang berjuang keras, padahal kemenangan sudah mutlak berada di pihak mereka.


Siu Yixin sendiri terlihat biasa saja, dia tidak khawatir atau cemas. Setiap gerakannya terukur, padat, dan tanpa celah. Dia bahkan sesekali menyanyikan lagu bernada rap miliknya.


TRAANG..!


TRANG..!


"Teknik berpedang yang mengagumkan. Tapi aku mau lihat, sampai kapan kau bisa bertahan..!"


Tong Due berseru dengan bahasa penduduk Benua Timur. Dia dan Wisesa melesat ke arah Siu Yixin, nafsu membunuh keduanya nampak semakin pekat.


!!


Siu Yixin merendahkan tubuhnya saat bergerak, ini membuat serangannya juga ikut merendah. Dia seperti menargetkan bagian bawah tubuh lawan dan memaksa lawannya untuk bertahan dengan posisi tubuh yang sama.


TRANG..!


"Sialan..!!"


Tong Due mengumpat saat gerakannya mampu dikacaukan oleh teknik berpedang Siu Yixin. Dia seperti bertarung dengan hewan liar berkaki empat yang memiliki taring beracun.


Murid senior dari Sekte Darah Roh yang menyaksikan pertarungan sengit Siu Yixin nampak terpukau. Dia tidak tahu siapa orang asing dengan penampilan aneh tersebut, namun dari gerakan berpedang itu--dirinya yakin bahwa sosok yang dilihatnya sangatlah kuat.


Trang..!


Kedua tangan Siu Yixin memegang pedang, kemudian dua pedangnya yang lain berada pada lipatan lututnya. Dia mungkin saja terlihat bermain-main sebab masih sering bernyanyi dengan nada suara yang aneh, tetapi jika diperhatikan lebih teliti--setiap serangannya sangatlah mematikan.


Siu Yixin akhirnya dapat mengacaukan kerja sama Tong Due dan Wisesa. Ini memang butuh waktu yang lama, namun hasilnya mulai terlihat jelas. Hal itu bisa nampak pada luka-luka dan tendangan yang didapatkan kedua pendekar tersebut.


Walau Siu Yixin datang sebagai bantuan, tetapi kekacauan di sekte ini masih tetap berlangsung dan kemenangan belum berada di pihak mereka.


TRANG..!


TRAANG..!!


Nuansa penuh pertumpahan darah masih amat kental, entah di Sekte Darah Roh maupun di Partai Pasak Bumi. Kedua tempat itu memang yang paling parah, namun tempat-tempat lainnya di Kekaisaran Langit Tengah juga tidak luput dari serangan lawan.


Salah satu tempat itu ada di Kota Bintang Biduk, yakni Penginapan Seribu Tahun yang pemiliknya tidak lain adalah Nie Shang.


Pemuda berpakaian hijau dengan corak bambu dan membawa kipas berwarna senada itu terlihat panik. Dia berusaha mengarahkan para tamunya untuk ke tempat yang lebih aman. Dia dibantu oleh Mo Huai.


Penginapan Seribu Tahun sebenarnya memiliki banyak pengawal, dan saat ini mereka semua tengah bertarung dengan pendekar dari Partai Pedang Tengkorak.


Pertarungan itu sangat sengit, suara benturan pedang dan debaman keras membuat siapa pun yang mendengarnya bergidik merinding.


Para tamu dari penginapan ini seperti bulu-bulu yang beterbangan, mereka kelabakan mencari jalan untuk menyelamatkan diri. Bahkan ada satu kejadian di mana seorang tamu tewas terinjak oleh para tamu lainnya.


"Kenapa jadi kacau sekali..!" Nie Shang hampir menjerit histeris. Banyak kerusakan pada bangunan-bangunan penginapan miliknya. Wajahnya terlihat pucat dengan air yang membentuk di pelupuk matanya, dia tidak menduga tempatnya menjadi target penyerangan.


"Tidak bisakah kalian bertarung di tempat lain?! Masih banyak kota yang indah dan butuh dihancurkan. Ini adalah tempatku, kalian tidak boleh menggunakannya untuk-!!"


BAAAAM..!!


Nie Shang tiba-tiba saja tercekat saat sesuatu melesat di hadapannya dan seketika menghantam dinding. Itu adalah seorang pendekar dari Partai Pedang Tengkorak yang baru saja mendapat tendangan keras dari salah satu pendekar pengawalnya.


"Tuan Nie Shang..!" Mo Huai berlari dari balik kerumunan orang, dia menarik lengan Nie Shang dan mengajaknya pergi.


".. Tinggalkan semua barang-barang Anda. Tidak ada yang lebih penting daripada keselamatan nyawa Tuan, ayo pergi..! Para tamu yang lain ada di sebelah sana,"


!!


Nie Shang terkejut dan spontan menutup telinga kala mendengar suara ledakan keras. Mo Huai juga melakukan hal yang sama. Keduanya nyaris terjatuh akibat getaran pada pijakan kaki mereka.


"Ini tidak bisa dibiarkan.." Nie Shang berwajah buruk, ".. Tempat ini akan hancur bila kita tidak melakukan sesuatu. Benar-benar sialan..! Aku yakin pasti Scarlet Darah yang melakukannya. Hanya mereka yang bisa bertindak tidak beradab semacam ini."


"Tuan Muda Nie, tidak ada penjahat yang melakukan penyerangan secara sopan, apalagi memberi Anda surat penghormatan terlebih dahulu. Mereka ingin tempat ini hancur, itu saja..!"


Wajah Mo Huai begitu cemas. Dia adalah orang yang paling biasa-biasa saja di antara teman-temannya. Dapat hidup dalam waktu lama merupakan keberuntungan tidak ternilai baginya.


"Tuan Siu Yixin sedang tidak ada, dan aku yakin Tuan Muda Nie hanya bisa melindungi dirinya sendiri. Akulah yang akan mati. Aku tidak tahu cara bertarung, aku pasti yang akan mati. Ini mungkin adalah malam kematianku."


"Mo Huai..!"


!


Nie Shang menepuk pundak Mo Huai. Dia berdecak kesal karena tahu apa yang dipikirkan pemuda ini dari raut wajahnya.


Mo Huai bisa dipastikan tengah meratapi riwayat hidupnya, itu adalah kebiasaan buruk dari seseorang yang menganggap diri sendiri sebagai tokoh figuran yang hanya ada untuk mati secara mengenaskan.


"Tuan Muda Nie.. A-Anda pergilah. Aku sudah berakhir. Aku senang mengenal Anda dan Tuan Muda Xiao. Kalian tidak akan pernah kulupakan,"


"Tsk, apa kau bodoh?! Ucapanmu seolah-olah kau akan mati saja..!" Nie Shang jadi tidak panik lagi akibat tingkah Mo Huai, pemuda ini tidak bisa percaya diri sedikit--malahan menjadi sosok yang tidak punya harapan, dia sangat pesimis.


"Harus ada yang kita lakukan.." Nie Shang berusaha berpikir walau sebenarnya terganggu dengan suara pertarungan yang terjadi.


!!


Debaman keras selanjutnya membuat Nie Shang terkejut sekaligus ingat sesuatu. Dia pun mencari sebuah kertas jimat di balik lengan pakaiannya dan disaksikan oleh Mo Huai.


"Dapat!" Nie Shang memperlihatkan kertas jimat berwarna hitam dengan beberapa coretan bertinta merah. Dia menatap Mo Huai dengan wajah yang seperti menemukan harapan.


"Tuan Muda Nie..? Itu.."


"Ini kertas yang diberikan Hu Li padaku, saudara Xiao yang membuatnya. Dengan ini kita bisa ke tempat saudara Xiao dan menceritakan semua kekacauan yang terjadi."


!!


Mo Huai terkejut, namun detik berikutnya dia merasa sangat bersyukur. Dia pun meminta Nie Shang pergi ke tempat yang lebih aman untuk menggunakan kertas itu karena tempat ini terlalu rawan terkena serangan nyasar.


Nie Shang mengangguk setuju, dia dan Mo Huai pun berlari. Sesekali mereka saling membantu untuk menghindari puing-puing bangunan serta mengajak para tamu yang berpapasan dengan mereka agar berlari lebih cepat.


"Tuan Muda Nie, awas..!!" Mo Huai berseru, dia melompat ke arah Nie Shang dan menabrak pemuda tersebut.


!!


Mereka bergulingan dan baru berhenti setelah beberapa lama. Nie Shang sangat terkejut dan tubuhnya terasa sakit akibat ditabrak oleh Mo Huai.


"Tuan Muda Nie, Anda tidak apa-apa?!"


"Aduuh.. Tidak apa-apa bagaimana?! Punggungku.. Sssh.. Ah! Sakit tahu! Kau ini kenapa?! Ada apa?!" Nie Shang merintih, dia merutuki Mo Huai yang tiba-tiba menerjangnya.


"Saya.. Saya pikir tadi ada musuh yang menyerang kemari. Saya sangat mengkhawatirkan keselamatan Anda,"


"Mo Huai, pendekar yang kusewa adalah orang-orang yang hebat dan tidak takut mati. Kau terlalu panikan dan itu membuatku juga ikut cemas."


"Tapi.."


"Sudahlah. Sekarang sebaiknya kita mencari saudara Xiao-! Ngomong-ngomong, apa kau memegang kertas jimatnya?"


Nie Shang berekspresi serius. Dia membuat Mo Huai terkejut dan pemuda itu segera menggeleng. Yang memegang kertas jimat itu adalah Nie Shang, dia sama sekali tidak menyentuhnya sedikit pun.


"Tuan Muda Nie, Anda jangan bercanda..! Apa Anda menghilangkannya?!"


"Aku tidak sedang bercanda..! Aku memegang kertas itu sebelumnya. Pasti ada di sekitar sini, bantu aku mencarinya. Cepat..!"


Nie Shang dan Mo Huai panik, cahaya di sekeliling mereka terlalu redup dan kertas jimat itu malah berwarna hitam. Mereka meraba-raba permukaan tanah untuk menemukannya.


"Tuan Muda Nie, apa Anda tidak punya kertas jimat yang lain?!"


"Tidak ada lagi. Hanya itu satu-satunya yang kumiliki..! Ini gara-gara kau menabrakku, kita jadi tidak bisa pergi ke tempat saudara Xiao."


"Sa-saya minta maaf..!" Mo Huai benar-benar merasa bersalah, tanpa sadar dia menangis sebab sudah membuat semuanya jadi bertambah runyam.


"Saya tidak berguna sama sekali..! Saya minta maaf Tuan Muda Nie.. Tolong maafkan saya..!"


"Kau ini..!" Nie Shang baru ingin mengumpati Mo Huai, namun dia tersadar bahwa pemuda ini orang yang sangat pesimis. Sekali saja disalahkan, Mo Huai pasti akan menganggap dirinya memang pantas mati.


"Kau jangan menangis, itu tidak membantuku sama sekali..! Gerakkan tanganmu dan cari kertas itu. Kita harus bisa menemukannya atau tidak ada lagi yang tersisa, baik kau, aku, maupun tempat ini."


"Anu.. Tuan Muda Nie.." Mo Huai menepuk pelan bahu Nie Shang. Ekspresi wajahnya membeku dengan pandangan mata ke depan.


Nie Shang yang mengerutkan kening mulai menoleh ke arah di mana tatapan mata Mo Huai tertuju. Seketika matanya melebar saking terkejutnya.


Kertas jimat yang pernah diberikan Hu Li padanya entah bagaimana diterbangkan oleh angin ke arah medan pertarungan para pendekar.


!!


Kertas itu nyaris tertebas, Nie Shang dan Mo Huai tanpa sadar menahan napas. Mereka memperhatikan bagaimana kertas tersebut kini berada di antara kaki para pendekar dan seakan bermain-main di titik bahaya.


"Astaga..! Tidak Nak..!!"


Nie Shang benar-benar syok, dia berseru seakan kertas itu adalah anaknya. Mo Huai sendiri sesekali menutup mata karena takut kejadian mengerikan akan menimpa kertas jimat tersebut.


"Aku harus mengambil kertas itu,"


"Tuan Muda Nie, Anda jangan ke sana..! Berbahaya..!"


"Tapi jika dibiarkan, kertas itu akan-"


!!


Ledakan keras terjadi, bersamaan dengan kertas jimat pemberian Hu Li yang terkena serangan itu dan langsung terbakar. Nie Shang sangat terkejut, harapan terakhirnya menghilang--tepat di depan matanya.


"Tidak.. Tidaak..!!"


!!


"Tuan Muda Nie..!" Mo Huai mencegah Nie Shang yang seperti ingin berlari ke arah medan pertempuran. Ini semua salahnya, dia mengacaukan segalanya.


"Bagaimana kita menghubungi Saudara Xiao, Hu Li, atau Tuan Muda Ling. Bagaimana sekarang..!"


"Tuan Muda Nie..! Sa-saya benar-benar minta maaf.. Saya.."


"Bagaimana ini.."


Nie Shang menangis, dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Ini adalah malam yang indah untuk saudara Xiao-nya dan kekacauan yang besar tengah terjadi. Scarlet Darah seperti tidak membiarkan saudaranya itu bisa hidup tenang.


"Kita harus cari cara lain.. Sesuatu yang mungkin bisa memberi pesan pada Tuan Muda Ling atau saudara Xiao,"


"Tapi bagaimana caranya..?"


"Aku tidak tahu, tapi ayo lakukan sesuatu."


!?


Mo Huai tersentak saat tangannya ditarik tiba-tiba. Dia dibawa pergi oleh Nie Shang menuju ke bagian belakang bangunan Penginapan Seribu Tahun, mereka harus berdesak-desakan dengan para tamu dan pelayan yang masih berusaha menyelamatkan diri.


"Mo Huai, kita akan coba melakukan telepati untuk menghubungi saudara Xiao. Mungkin ini terdengar aneh dan mustahil, tapi aku pernah membacanya dalam sebuah buku. Entah benar atau tidak, kita harus membuktikannya."


Nie Shang terus menarik tangan Mo Huai. Dia akhirnya dapat keluar dari kerumunan tamu yang berdesak-desakan itu walau dengan penampilan yang berantakan.


Nie Shang terengah-engah, dia berusaha mengatur napasnya dan lalu menoleh ke arah Mo Huai.


?!


Wajah Nie Shang memperlihatkan keterkejutan saat tahu bahwa pemuda yang dia tarik tangannya tadi bukanlah orang yang dia kenal. Entah bagaimana, tetapi pemuda di sampingnya adalah salah satu dari juru masak di penginapan ini.


"Di mana Mo Huai?!"


"Tuan Muda Nie..!"


!!


***