XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
483 - Ling Qing Zhu VIII [Revisi]


Kaki kiri Xiao Shuxiang menyentuh ujung daun sebelum melesat kembali. Dia mengerahkan banyak tenaga untuk bergerak secepat sekarang.


"Kondisi tanah Benua Tengah memang tidak layak dipandang remeh. Kultivator harus bekerja keras jika ingin meningkatkan praktiknya di tempat semacam ini,"


Biasanya, Xiao Shuxiang tidak pernah terlalu menggunakan Qi yang tersimpan pada dantiannya untuk melesat di tanah Benua Timur, ini karena pada kondisi tubuh yang biasa----dia dapat langsung menggunakan Qi dari alam. Bahkan, kecepatannya akan makin bertambah jika dia menggabungkannya dengan sebuah teknik pernapasan.


Namun, di tempat ini sangat sulit untuk menyerap Qi secara langsung dari alam. Apalagi kalau boleh jujur, kondisi tubuh Xiao Shuxiang sekarang jauh berbeda dari sebelum Qian Kun menyerangnya dengan segel Cincin Api.


!


Kaki Xiao Shuxiang kembali bersentuhan dengan dedaunan, dia nampak mengembuskan napas dan fokus menatap ke depan. Pikirannya lebih tertuju pada kondisi Kucing Putihnya daripada kekacauan yang tengah terjadi.


Dari sorot mata dan ekspresi wajahnya itu, Xiao Shuxiang seakan berkata bahwa dia tidak peduli jika Benua Tengah hancur atau menghilang selamanya. Baginya, satu-satunya yang dia anggap penting sekarang ini adalah keselamatan istrinya.


!


"Kau harus bertahan Kucing Putih, aku percaya padamu..."


Perjalanan Xiao Shuxiang dari Partai Pagoda Langit menuju Partai Pedang Tengkorak sebenarnya tidak hanya jauh, tetapi juga tidak mudah. Lokasi partai dari Aliran Hitam terbesar itu jujur saja sulit ditemukan, namun karena penciuman Bocah Pengemis Gila yang tajam--dia mampu memberi arahan yang tepat pada Xiao Shuxiang beserta jalan mana yang harus dilewati oleh Koki Alkemis itu agar bisa mengurangi sedikit waktu perjalanannya.


Jika saja Xiao Shuxiang adalah kultivator biasa, maka butuh berhari-hari melakukan perjalanan menuju ke Partai Pedang Tengkorak. Ini pun, dia masih harus tertahan dengan angin malam yang berhembus memberinya tekanan.


?!


Semakin tiba di suatu tempat, kening Xiao Shuxiang sedikit demi sedikit berkerut saat dirinya mulai melihat sebuah hutan yang bernuansa aneh. Diperhatikan dengan seksama pepohonan yang ada, Xiao Shuxiang menjadi yakin itu adalah hutan beringin yang lebat.


"Bocah Pengemis Gila mengatakan wilayah Partai Pedang Tengkorak meliputi hutan ini. Kurasa aku tidak boleh bertindak gegabah,"


Xiao Shuxiang menapakkan kakinya di sebuah dahan pohon. Hutan Beringin Hitam masih berjarak sekitar 7 meter di hadapannya dan dia memutuskan untuk berhenti sejenak.


"......."


Bila diingat, sebenarnya tindakan Xiao Shuxiang yang datang kemari tanpa ditemani siapa pun sudah merupakan tindakan gegabah. Namun karena dia menyadari hal tersebut lebih awal, makanya dia melesat turun.


Sebagai orang yang berpengalaman dalam dunia hitam, dia hapal benar bahwa di dalam hutan sana pasti telah banyak orang yang menunggu untuk menghabisinya. Di dalam hutan itu kemungkinan juga telah dipasang berbagai macam perangkap, masuk ke dalamnya meski sudah tahu ada jebakan yang menunggu sama saja dengan kebodohan.


"Baiklah, aku akan melewatinya saja. Kalau pun nanti harus bertarung, kuharap aku masih cukup waras untuk tidak memakan, ah-" Xiao Shuxiang spontan menoleh kesekitaran saat sadar dengan kata yang dia ucapkan. Dia seperti memastikan tidak ada orang yang mendengar perkataannya barusan.


Xiao Shuxiang mengembuskan napas lega saat melihat kondisi di sekitarnya hanya dipenuhi suasana gelap yang mencekam. Dia pun kembali memandang ke depan dan lalu melesat, bermaksud melewati Hutan Beringin Hitam lewat bagian atasnya.


Koki Alkemis itu yakin jika lewat dari atas, meski menguras banyak Qi--namun dirinya dapat menghindari perangkap di dalam hutan serta para pembunuhnya. Sayangnya, pemikiran Xiao Shuxiang bahwa dengan cara ini membuatnya aman adalah sebuah kesalahan.


!?


Di bawah Xiao Shuxiang sudah nampak pepohonan beringin, namun tidak butuh waktu lama sampai dia tersentak oleh sebuah tekanan yang menariknya turun dengan paksa.


!!


Dia tidak bisa mengambil posisi dengan baik hingga tubuhnya harus terkena dahan pohon sebelum ambruk ke tanah. Xiao Shuxiang meringis dan mengusap pelan belakang pinggangnya, dia merutuk karena jatuh dengan posisi yang tidak elegan.


"Tsk, menyebalkan. Kupikir mereka tidak terlalu pandai, rupanya mereka sudah mengantisipasi ini..."


Xiao Shuxiang tidak bisa melayang di atas Hutan Beringin Hitam. Dalam artian kata, dia dipaksa untuk melewati hutan ini dengan cara klasik, yakni berjalan di dalamnya dan harus menghadapi bahaya yang sudah dia perkirakan sebelumnya.


Saat ini Xiao Shuxiang tidak memegang Pedang Jiwanya, pusaka itu tidak bisa terlalu lama dikeluarkan, apalagi di tanah yang sulit menyerap energi alam. Dia butuh jeda bila ingin mengeluarkannya lagi.


"......"


Xiao Shuxiang melihat kesekitaran, rasa-rasanya dia berjalan di tempat yang lembap, dingin, sekaligus menekan. Dirinya menyentuh salah satu pohon dan benar saja, tangannya agak basah.


"Kalau aku berjalan lurus... Mungkin aku akan tiba di tempat Kucing Putih berada. Semoga saja aku tidak terlambat," Xiao Shuxiang tidak mau memikirkan yang bukan-bukan, dia yakin gadis berwajah papan datar itu bisa melindungi dirinya sendiri.


!?


Baru saja beberapa langkah, kaki Xiao Shuxiang menginjak sesuatu yang spontan membuatnya melompat. Segera apa yang diinjaknya itu meledak keras dan disertai dengan lesatan belasan anak panah.


!!


Xiao Shuxiang menghindar, namun kakinya justru menginjak hal serupa yang mana kembali meledak. Dia bergerak gesit menghindari serangan yang datang, baik dari yang ada di tanah, maupun yang melesat dari celah pepohonan.


Tubuh Xiao Shuxiang berputar di udara saat lesatan-lesatan berwarna merah mengkilap seakan ingin mencabik-cabiknya.


?!


Ada salah satu lesatan yang nyaris mengenai telinga Xiao Shuxiang, namun dengan hal itu--pendengarannya jadi lebih tajam dan dia yakin benda yang nampak seperti jarum ini bukan dilesatkan secara manual oleh manusia.


Tubuh Xiao Shuxiang semakin rendah, dia pun berhenti dengan posisi tangan kiri yang dengan sengaja tertanam di tanah. Dalam waktu cepat, kelima indranya bekerja dengan baik dan dirinya dapat merasakan posisi jebakan serta lawannya berada.


Bersamaan saat semakin dalamnya tangan kiri Xiao Shuxiang terbenam, dia mengeluarkan Qi yang begitu besar dari tangan kirinya hingga terdengar banyak bunyi ledakan.


!!


Kejadian tersebut amat sangat mengejutkan. Ledakan terus beriringan di sepanjang Hutan Beringin Hitam, terlihat saling sahut-menyahut satu sama lain. Akibat ledakan itu banyak jebakan yang juga ikut aktif dan membuat hutan tersebut bagai sedang berpesta pora.


Xiao Shuxiang mulai menapak di salah satu dahan pohon. Dia mendengar banyak suara, namun yang menarik adalah suara teriakan dan bunyi dua senjata yang saling berbenturan. Perlahan, bibirnya membentuk sebuah garis senyuman.


Dua buah pohon besar di hadapannya seketika meledak, namun tidak cukup membuat Xiao Shuxiang terkejut, apalagi sampai menghindar. Senyumannya bahkan lebih lebar dari yang biasanya.


Ada sekitar lima orang yang memperlihatkan wajah penuh amarahnya saat dua pohon itu sudah tak berdiri kokoh lagi. Mereka rupanya adalah murid Partai Pedang Tengkorak yang teramat benci pada Xiao Shuxiang.


["Bedebah sialan..!"]


"Ha ha ha," Xiao Shuxiang tertawa, dia tidak mengerti ucapan salah satu pemuda, namun dari raut wajah itu bisa dia artikan dengan sangat baik.


"... Kenapa wajah kalian masam begitu? Aku hanya merasa, tidak baik bila hanya Xiao Shuxiang ini yang berusaha menghindari jebakan yang kalian buat."


"KAU..!!"


Dua orang pria yang tidak mampu lagi menahan amarahnya langsung melesat dan bertukar serangan dengan Xiao Shuxiang. Gerakan mereka gesit, apalagi dengan Pedang Penebas Bayangan tersebut. Hanya saja bukan Xiao Shuxiang namanya bila tidak mampu memprovokasi lawan.


BAAAM..!!


"Ada apa dengan kalian ini? Begitu malunya terkena jebakan sendiri, huh?"


"Aku akan membunuhmu Xiao Shuxiang! Kau akan mati di tanganku!"


"Hah, aku bahkan tidak mengenalmu."


Xiao Shuxiang menangkis dua serangan yang mengarah padanya dengan hanya memakai tangan kosong. Dirinya berusaha mencari sebuah posisi terbaik untuk merebut salah satu pedang dari pendekar ini dan tidak butuh waktu lama sampai dia menemukannya.


"Dapat." Xiao Shuxiang memukul keras tangan kanan salah satu pendekar dan merebut pedangnya. Tanpa ragu dia mengayunkan pedang tersebut dan memberi lima kali tebasan pada tubuh lawannya hingga benar-benar terpisah.


!!


Kejadian ini mengejutkan, pendekar yang tahu rekannya tertebas langsung mengambil jarak mundur dan menatap Xiao Shuxiang dengan amarah yang lebih besar dari sebelumnya.


Teman-temannya menyusul dari belakang. Mereka memang pantas marah, atau bisa dikatakan kemarahan itu ada lantaran malu serta tidak terima jebakan yang harusnya ditujukan oleh Xiao Shuxiang malah berbalik pada mereka sendiri.


!


Saat ini, bahkan ledakan-ledakan masih terdengar jelas. Rekan-rekan mereka yang lain pasti tengah kesusahan dan semuanya karena pemuda asing yang memiliki wajah polos orang baik itu, namun mempunyai senyum seringai seorang penjahat.


Xiao Shuxiang sendiri begitu senang melihat raut wajah lawannya yang nampak buruk. Dirinya lantas mendengus saat memperhatikan tubuh pendekar yang sebelumnya terpisah-pisah mulai terbentuk ulang kembali.


"Luar biasa, bukankah harusnya kau berpura-pura sudah tewas saja? Atau.. Apa kau memang suka mati berkali-kali di tangan Xiao Shuxiang ini?"


["Kutu busuk! Kau sebentar lagi tidak akan bisa memperlihatkan wajah senangmu itu."] pria itu melirik teman-temannya dan seakan memberi isyarat, ucapan yang dia lontarkan justru malah membuat kening lawannya mengerut.


"Kau ini sedang mengumpat padaku atau pada teman-temanmu? Gunakanlah dengan bahasa yang mudah kupahami agar umpatanmu itu bisa tersampaikan dengan baik,"


Xiao Shuxiang hanya tahu beberapa kata sederhana dari bahasa warga Benua Tengah, namun bila mereka terlalu cepat bicara--dia justru menjadi bingung sendiri.


".. Jangan membuatku merasa kasihan jika umpatan kalian tidak bisa menyinggungku."


"Nah, begitu lebih baik. Aku juga jadi punya alasan untuk merobek mulutmu."


Xiao Shuxiang tiba-tiba saja menghilang dan muncul tepat di hadapan salah satu murid Partai Pedang Tengkorak dengan pedang yang terayun kuat.


!!


Hanya saja, bilah pedangnya nyaris benar-benar akan merobek mulut pendekar itu, namun dengan cepat ditahan oleh pedang dari dua orang rekan lawannya. Suara keras saat senjata itu berbenturan bahkan menghasilkan sebuah angin kejut.


Xiao Shuxiang dan para pendekar itu terdorong mundur, namun sedetik berikutnya mereka kembali melesat dan bertukar serangan. Kali ini yang terlihat di udara adalah lesatan-lesatan cahaya yang berbenturan satu sama lain.


*


*


Hutan Beringin Hitam benar-benar kacau. Bukan hanya karena pertarungan Xiao Shuxiang, tetapi juga disebabkan oleh banyak jebakan yang aktif akibat ulah Koki Alkemis itu.


Dia membuat para musuh yang menunggunya kelabakan mengatasi jebakan yang mereka pasang sendiri. Jika dilihat dari atas, pemandangan yang nampak ini sangat mengagumkan. Tentu dalam artian yang buruk.


Gong Zitao yang berada di dalam ruangan, salah satu bangunan di Partai Pedang Tengkorak juga ikut mendengar suara ini. Walau tidak bisa melihat kekacauan yang terjadi karena ruangan ini tertutup, namun dirinya yakin orang yang dia tunggu sudah datang.


"Kurasa Wali Pelindungmu sebentar lagi akan sampai kemari, Nona Ling. Namun sayang sekali, dia mungkin akan terlambat."


Seringai Gong Zitao mengembang, tangan kirinya nampak mencengkeram leher Ling Qing Zhu yang saat ini sedang ditindihnya. Dia merupakan pemuda yang tidak bisa menepati kata-katanya sendiri.


Sebelumnya, Gong Zitao pernah berkata akan memperlakukan Ling Qing Zhu tepat dihadapan Xiao Shuxiang dan disaksikan langsung oleh pemuda itu. Namun sepertinya dia terpengaruh dengan uap yang menyebar di ruangan ini, atau mungkin... Dia tidak bisa menahan diri lagi melihat keindahan gadis di hadapannya.


"Memohonlah, Nona Ling. Mungkin aku masih bisa melepaskanmu sebelum bertindak terlalu jauh,"


"......"


Ling Qing Zhu tidak mengatakan apa pun. Kedua tangannya jujur saja sedang bebas, tidak dicengkeram apalagi diikat. Namun dia tidak menggunakan kedua tangannya untuk melepaskan cengkeraman Gong Zitao dari lehernya.


Ling Qing Zhu seperti patung kayu. Dia berada di ujung keruntuhan harga diri, namun tetap ngotot mempertahankan wibawanya. Dia bahkan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara bahkan satu gumaman pun.


Gong Zitao sudah melihat wajahnya. Wajah yang seputih salju tanpa bersemburat. Walau demikian, pemuda ini hanya memandanginya saja dan memaksanya untuk memohon.


"Kenapa kau tidak memberontak, Nona Ling. Kau membosankan. Setidaknya menangislah atau memberiku tatapan penuh kebencian,"


"......."


Ling Qing Zhu tetap tidak bicara dan sama sekali tidak berekspresi apa pun. Matanya sesekali terpejam karena menahan sakit pada cengkeraman di lehernya, namun saat terbuka--yang terlihat adalah mata tanpa dendam dan amarah.


Ling Qing Zhu tahu benar, jika dia memberontak atau mengeluarkan satu gumaman pun--Bukannya dilepaskan, Gong Zitao justu malah akan semakin menjadi dan melakukan sesuatu yang membuatnya akan mengutuk orang ini seumur hidup.


Tubuh Gong Zitao merendah, napasnya seperti menggelitik telinga gadis di bawahnya. "Hmm? Masih tidak mau menyerah, baiklah.. Aku sendiri yang akan membuatmu menangis,"


"......."


Ling Qing Zhu tetap tidak bicara, jantungnya pun berdetak normal seperti biasa walau jujur ini adalah yang sangat berat dia lakukan. Kedua tangannya terkepal, namun sama sekali tidak digerakkan bahkan saat sebuah tangan mulai meraba sekitaran pahanya.


"......."


Gadis manapun jika dalam posisi ini kemungkinan sudah menangis atau mulai memohon untuk dilepaskan, namun tidak dengan Ling Qing Zhu. Semenjijikkan apa pun Gong Zitao baginya, dia tetap tidak akan melakukan apa yang diinginkan pemuda ini.


"......"


Terlihat seperti pasrah dan menerima keadaan, tetapi sebenarnya tidak. Ling Qing Zhu hanya membutuhkan waktu mengumpulkan tenaga dan membuat Gong Zitao lengah sedikit.


!!


Hampir saja ketenangan pada wajahnya menghilang ketika merasakan sentuhan lembut di lehernya. Ling Qing Zhu benar-benar akan mengutuk Gong Zitao sampai mati dan tidak akan pernah memaafkannya.


"Kau wangi, Nona Ling~"


Sepertinya uap di ruangan tertutup ini sudah menghilangkan kewarasan Gong Zitao. Tidak adanya penolakan dari gadis yang rambutnya tergerai indah ini membuatnya merasa bahwa Ling Qing Zhu juga menyukainya.


Dia pun menjauhkan wajah dari leher gadis itu dan menatap manik biru yang tenang tersebut. Tatapan Gong Zitao melembut dan dirinya mulai mengangkat perlahan dagu Ling Qing Zhu.


Tidak ada pemberontakan dan juga tatapan penuh kebencian dari gadis di bawahnya. Gong Zitao pun merunduk dan berusaha menyentuh bibir yang ranum itu saat secara bersamaan gadis cantik di bawahnya mulai memberinya tendangan.


!!


Ling Qing Zhu bergerak cepat saat terdapat celah pada pertahanan Gong Zitao. Dia mengerahkan tenaga yang berusaha keras dia kumpulkan untuk menendang pemuda itu hingga terlempar dan menjauh darinya.


Bukan hanya itu yang Ling Qing Zhu lakukan. Bersamaan saat menendang Gong Zitao tadi, tangan kanannya menarik belati yang ada di belakang pinggang pemuda tersebut walau dirinya harus kembali kehilangan tenaga.


!!


Tubuh Ling Qing Zhu terasa panas, dirinya terengah-engah dan sedang berusaha mengatur napas. Jika bergerak memakai banyak tenaga, apalagi secara cepat----detak jantung dan aliran darahnya jadi tidak terkontrol.


"Ha ha ha, rupanya begitu..." Gong Zitao mulai bangun, senyuman jahat mengembang di wajahnya, "... Siasat yang bagus. Tapi kurasa itu adalah sisa dari tenagamu."


Gong Zitao benar, buktinya kedua kaki Ling Qing Zhu mulai lemas hingga tidak sanggup menopang tubuhnya. Gadis berambut putih itu terjatuh dengan kedua tangan yang bertumpu di lantai.


"......."


Pandangan Ling Qing Zhu yang sebelumnya agak membaik kini makin parah. Jantungnya berdetak terlalu cepat dan tubuhnya benar-benar terasa panas saat ini. Walau demikian, dia tetap berusaha kuat memegang belati dengan tangan kanannya.


?!


Suara langkah kaki mendekat, Ling Qing Zhu mengangkat belati di tangannya seolah bersiap untuk tidak membiarkan Gong Zitao mengambil kesempatan dari dirinya lagi.


"Kau masih tidak mau menyerah? Perlawananmu sia-sia, tapi aku menyukainya."


"Aku akan membunuhmu Gong Zitao."


"Suara yang indah, membuatku jadi semakin bergairah. Kau terlihat seperti kucing yang manis,"


Gong Zitao melesat cepat dan menangkup tangan kanan Ling Qing Zhu yang memegang belati. Dia sudah berada di hadapan gadis itu dengan raut wajah yang penuh kemenangan.


!!


"Sudah kubilang, perlawananmu sia-sia." Gong Zitao tersenyum, dia sudah bisa melihat mata yang dingin dan menusuk itu, perasaan benci yang menyeruak hanya untuknya.


Gong Zitao mencoba mengambil belati pada tangan kanan Ling Qing Zhu yang lemah. Namun saat belati itu akan berpindah, sesuatu yang tidak disangka terjadi.


Ling Qing Zhu menjatuhkan belatinya, tetapi menangkapnya dengan tangan yang lain dan langsung menusuk perutnya sendiri. Tindakannya membuat mata Gong Zitao terbelalak saking kagetnya.


"Nona Ling..!!"


!!


Ling Qing Zhu memuntahkan darah, belati itu bukan senjata biasa. Tetapi mengandung racun dan gadis tersebut malah semakin menancapkannya dengan sangat dalam.


!!


"Nona Ling! Apa yang kau lakukan?!" Gong Zitao menahan tangan Ling Qing Zhu dan berusaha mencabut belati yang menusuk gadis tersebut. Wajahnya pucat dan debaran pada jantungnya bukan lagi karena gairah.


"Aku... Akan membunuhmu," suara Ling Qing Zhu bergetar, dia menguatkan dirinya dan belati di perutnya bergerak. Darah terus mengalir menodai pakaian putihnya.


!!


"Jangan, Nona Ling! Kau jangan melakukan ini..!" Gong Zitao tidak bisa menghentikan tangan Ling Qing Zhu saat gadis ini menggunakan belati itu untuk merobek perut sendiri. Darah mengalir deras dan membuatnya kelabakan.


"Kau akan mati... Dengan wajah ini yang akan membayangimu seumur hidup." Ling Qing Zhu kembali memuntahkan darah, dia tidak menangis tetapi tatapan matanya yang penuh kebencian itu tidak akan pernah bisa dilupakan.


Tenaganya mungkin terkuras, tetapi dia sudah bertekad untuk membuat Gong Zitao mati dengan dibayang-bayangi oleh wajahnya ini.


Bahkan jika nanti Gong Zitao melihat cerahnya langit biru, yang nampak padanya adalah tatapan mata yang penuh kebencian.


***