XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
415 - Pengakuan IV [Revisi]


Bagi Xiao Shuxiang, saat bersama Ling Qing Zhu----suasananya benar-benar berubah.


Ada sesuatu yang membuat momen-momen seperti ini berbeda dibandingkan saat dia bersama teman-temannya yang lain. Bahkan sangat berbeda saat dia hanya berdua dengan Lan Guan Zhi.


Ling Qing Zhu juga merasakan hal yang sama. Dia canggung ketika bersama Lan Guan Zhi, tetapi lebih canggung lagi saat bersama Wali Pelindungnya. Apalagi sekarang, cara pemuda ini memegang tangannya dan tatapan mata teduh nan mempesona itu terlalu mematikan baginya.


Dalam hati, dia mengembuskan napas dan mencoba untuk tetap tenang serta berusaha mengontrol jantungnya yang entah sejak kapan berdetak tidak karuan.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" suara Ling Qing Zhu datar dan dingin, namun bila pemuda seperti Lan Guan Zhi yang mendengarnya----maka orang tersebut akan tahu bahwa saat ini suara Ling Qing Zhu terdengar gugup.


"Jangan memandangiku begitu. Katakan jika ada yang ingin kau bicarakan," Ling Qing Zhu tidak nyaman terus ditatap oleh pemuda di depannya.


"......."


Xiao Shuxiang memang hanya menatap Kucing Putihnya tanpa mengatakan apa pun. Dia seakan hanya memandangi keindahan makhluk ciptaan Tuhan di depannya ini.


"Apa kau tidak pernah mencintai seseorang?" Xiao Shuxiang akhirnya bicara.


"Mn?" Ling Qing Zhu menjawab seadanya.


"Aku sedang serius, Kucing Putih."


"Aku juga,"


Xiao Shuxiang, "Jangan menjawabku dengan gumaman singkat karena aku sedang tidak ingin berpikir untuk menebak arti dari gumaman itu. Aku pernah mengatakan padamu bahwa jika kau menyukai seseorang, maka akan kubantu kau lepas dari tradisi kuno klanmu. Jadi, biar kuulangi lagi. Apa tidak ada seseorang yang kau suka?"


"Aku tidak tahu.." pandangan Ling Qing Zhu sedikit turun, "... Sejauh ini... Mungkin hanya satu,"


Xiao Shuxiang tersentak, "Jadi ada? Siapa dia?" sorot matanya terlihat antusias.


Ling Qing Zhu terdiam sejenak sambil memandangi pemuda di depannya. Dia pun mulai menjawab pertanyaan barusan, tatapan matanya mengandung ketegasan.


"Kau."


Xiao Shuxiang tidak terkejut, dia malah mengembuskan napas dan kemudian menggeleng. "Apa kau bodoh? Bukankah sudah kubilang untuk mengatakan siapa orang yang kau sukai padaku? Jika kau jujur mengatakannya, aku janji akan membantumu."


Pernikahan antara dirinya dan Ling Qing Zhu sudah bisa dipastikan dengan kedatangan Yang Shu serta kedua orang tuanya di sekte ini.


Namun Xiao Shuxiang tidak ingin menikah bila Kucing Putihnya melakukan itu karena terpaksa, apalagi dipaksa oleh tradisi klan. Dia sangat tidak menyetujuinya.


"Kau tidak perlu takut memilih takdirmu, Kucing Putih. Aku sendiri yang akan membunuh para penentangmu. Kau hanya perlu jujur padaku, dan jangan pikirkan yang lainnya. Aku yang akan mengatasi sisanya,"


"........"


Ling Qing Zhu tahu arti dari ucapan Xiao Shuxiang. Genggaman hangat dari Wali Pelindungnya menjadi bukti bahwa pemuda ini mendukungnya. Namun sepertinya, Xiao Shuxiang-lah yang tidak mengerti maksud dari kata-katanya.


Dia berusaha menarik napas pelan dan seakan mengumpulkan tenaga untuk bicara. Tatapan mata teduhnya mulai terarah pada pemuda di hadapannya, dia memasang raut wajah yang datar, namun tetap berwibawa.


"Aku memang tidak suka dengan tradisi klanku, tetapi mereka bukanlah orang yang pemaksa. Mereka tetap memberiku pilihan dan aku sudah membuat keputusan sendiri."


"Apa keputusanmu itu adalah kau menerima pernikahan ini? Menikah denganku?" Xiao Shuxiang bertanya dengan ekspresi wajah yang serius.


Ling Qing Zhu mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Xiao Shuxiang. Dia bisa melihat Wali Pelindungnya mengerutkan kening.


"Kau yakin? Apa kau tidak pernah menaruh dendam padaku? Akulah yang sudah membunuh pamanmu, dan kau sendiri menyaksikannya secara langsung..." Xiao Shuxiang tersenyum sambil menggelengkan kepala pelan, "... Aku sama sekali tidak percaya bila kau tidak benci padaku,"


"Aku..."


Jujur, Ling Qing Zhu jelas merasakan kesedihan saat pamannya dibunuh, tepat dihadapannya. Dia membenci Xiao Shuxiang saat itu. Yang dia ketahui, pemuda tersebut adalah monster. Di waktu bersamaan juga, dia takut padanya.


Hanya saja, seiring waktu berjalan----pemuda yang dia anggap monster mempunyai kepribadian yang jauh dari perkiraannya.


Ling Qing Zhu awalnya berpikir, Xiao Shuxiang merupakan kultivator yang selalu serius dalam segala hal, kejam, tidak berperasaan, dingin dan memiliki kepribadian yang sama seperti kultivator berbakat yang sering dirinya temui.


Namun, sangat tidak terduga ketika dia melihat sifat Xiao Shuxiang yang jauh dari dugaannya. Pemuda ini terlihat bersahabat, sangat ramah, bahkan sampai dapat melakukan tindakan tidak tahu malu yang membuat orang lain salah paham.


"......."


Kepribadian unik dari Xiao Shuxiang membuatnya lebih menarik dan mempesona. Ling Qing Zhu kadang menganggap Wali Pelindungnya seperti sebuah buku kuno yang pada setiap halamannya selalu penuh kejutan.


Di saat dia pikir sudah memahami pemuda ini, di saat itu juga dia merasa belum memahaminya. Wali Pelindungnya tidaklah sesederhana itu.


"Kucing Putih.. Kenapa kau diam?"


"Aku.. Tidak tahu..." jeda sedikit sebelum Ling Qing Zhu kembali bersuara, ".. Aku tidak tahu apakah waktu itu aku memang pernah membencimu. Aku hanya sedih melihat pamanku..."


Xiao Shuxiang bisa merasakan tangan gadis yang dipegangnya sedikit gemetar. Dia tahu Ling Qing Zhu sedang mengingat masa lalu, dan nampak juga bahwa gadis tersebut tengah berusaha untuk tidak terlihat ketakutan.


"........"


Ling Qing Zhu tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menatap pemuda di depannya dan berusaha mencari sesuatu pada kedalaman mata yang jernih itu.


"........"


Wajah Xiao Shuxiang memang terlihat prihatin, namun sebenarnya dia sama sekali tidak merasakan apa-apa.


"Kau tahu..." suara Xiao Shuxiang sedikit rendah, "... Selama hidupku, tidak pernah sekalipun aku menyesal melakukan pembunuhan, apalagi sampai berniat meminta maaf."


Xiao Shuxiang mengeratkan pegangan tangannya. Suaranya kini terdengar tegas. "... Kau harus tahu, Kucing Putih. Untuk bisa hidup di dunia yang kejam ini----penyesalan akibat rasa bersalah tidaklah diperlukan. Aku bisa melihat, kau memiliki perasaan itu."


Tidak ada yang lebih menikmati hidup selain Xiao Shuxiang. Dia mungkin sering mengeluh dan merutuki takdirnya, namun itu hanya berlangsung beberapa saat sebelum dia kembali menjalani hidup seperti biasa.


"... Sejauh ini, aku sudah banyak melihat orang-orang yang menjalani hidupnya dengan penuh penyesalan. Mereka kuat dan tak tertandingi, namun kedalaman mata mereka menyembunyikan beban yang penuh rasa bersalah. Mereka memiliki kehidupan yang baik dengan banyak orang disekelilingnya, namun hati mereka terasa hampa dan seakan tidak benar-benar hidup,"


Kecanggungan yang sebelumnya ada perlahan memudar. Xiao Shuxiang juga mulai merasa seperti sedang bicara dengan seorang teman dan seorang anak yang sedang belajar sesuatu darinya.


Dia mengangguk dan membenarkan ucapan Ling Qing Zhu. Pada awal pertemuan mereka, memang hanya sedikit kesan yang tertinggal. Dan selanjutnya, ada di saat kejadian mengerikan itu.


Xiao Shuxiang, "Kau jangan marah, tapi jujur saja. Pertama kali melihatmu, kau seperti gadis yang menyedihkan. Kau mirip seperti Lan Zhi saat dia kecil. Namun, dia lebih beruntung karena bertemu denganku,"


Xiao Shuxiang juga mengatakan bahwa suasana Sekte Pedang Langit yang ketat aturan tersebut sudah selayaknya disandingkan dengan tempat pemakaman. Untung saja dia datang di waktu yang tepat dan membuat cukup banyak keributan.


"... Hidup dalam lingkaran aturan tidaklah menyenangkan. Aku saja, yang dahulunya pernah tinggal di sekte itu----hanya butuh satu hari untuk dapat memberimu penjelasan bahwa suasana sekte itu amat menyesakkan."


Hal yang paling menarik dari hidup adalah saat kau tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Jadi, bila kau hidup dengan jadwal yang terencanakan setiap hari--rasanya akan sangat membosankan.


Xiao Shuxiang tidak menyukainya. Dia tidak suka terkungkung dengan peraturan, dirinya lebih memilih kebebasan dibandingkan apa pun di dunia ini. Sesuatu yang merupakan keinginan terdalamnya.


"Aku.. Dahulunya pernah berdebat dengan seorang teman tentang 'Kedamaian'. Dia berpendapat bahwa itu bisa tercipta bila makhluk di dunia ini, bisa saling memahami satu sama lain. Tapi untukku, kedamaian dapat terwujud----jika kultivator ataupun pendekar tidak ada di dunia ini."


Xiao Shuxiang mengembuskan napas dan lalu tersenyum, dia berkata perdebatannya saat itu menimbulkan kegaduhan hingga melahirkan perang tak berkesudahan. Namun sekarang, dia sepertinya tahu----bahwa kedamaian tidak akan pernah bisa diwujudkan.


"... Yang kutahu, seseorang harus memahami diri sendiri sebelum mencoba memahami orang lain. Hidup dengan beban dan rasa penyesalan tidak akan menciptakan kedamaian.."


Entah Xiao Shuxiang sadari atau tidak, tetapi saat ini dia mengusap-usapkan telapak tangan Ling Qing Zhu pada pipinya. Dia kembali bicara seolah tidak menyadari bahwa saat ini Kucing Putihnya sedang memberinya tatapan yang sulit diartikan.


"... Aku benar-benar bodoh. Aku telah lama mencari arti dari 'kedamaian', namun sebenarnya aku sudah lebih dulu memiliknya,"


Hidup tanpa merasa ada beban adalah kedamaian yang sudah lama Xiao Shuxiang dapatkan. Dia hanya baru menyadarinya.


"Aku suka membunuh," mata Xiao Shuxiang terpejam sejenak saat mengatakannya. Dia membuat Ling Qing Zhu menatapnya dengan serius.


"... Rasanya sangat menyenangkan saat tubuh lawan terpisah-pisah dengan tanganku sendiri. Jantungku selalu berdebar penuh gairah saat mematahkan tulang lawan dan menariknya keluar. Rasanya sungguh tidak tertahankan.."


Xiao Shuxiang mengembuskan napas dan kemudian tersenyum, "... Dan kau tahu apa yang paling menyenangkan, Kucing Putih. Setelah melakukannya.. Dibandingkan dengan rasa bersalah, hatiku malah merasa baru saja terbersihkan. Aku.. Benar-benar makhluk paling buruk, bukan?"


"........"


Ling Qing Zhu tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatap Wali Pelindungnya dalam diam. Entah mengapa, tetapi perkataan terakhir dari Xiao Shuxiang terdengar menyedihkan baginya.


"Kau tidak akan pernah bahagia bila hidup bersamaku, sosok yang hanya peduli pada dirinya sendiri. Karenanya aku memberimu pilihan untuk menentukan takdirmu sendiri,"


Ling Qing Zhu tahu ucapan Wali Pelindungnya sangat serius. Pemuda dihadapannya tidak ingin dirinya salah memilih. Sorot mata itu.. Seperti memberi keyakinan padanya.


"Shuxiang.."


?!


Xiao Shuxiang tersentak saat Ling Qing Zhu mengusap pelan pipinya. Dia menatap gadis cantik bercadar tipis di hadapannya.


"... Kau baru saja peduli padaku."


"Hmh, itu tidak benar. Aku-"


"Ayo jalani hubungan ini terlebih dahulu."


!!


Xiao Shuxiang terkejut, dia pasti sudah salah dengar. Dia bukannya pemuda polos yang baru lahir kemarin, dirinya justru tahu maksud dari ucapan Ling Qing Zhu.


"Kucing Putih.."


"Pembahasan pernikahan ini tidak akan berlangsung singkat. Aku yakin waktunya sangat panjang. Jadi selama jangka waktu itu.. Kau dan aku.. Mari saling mengenal lebih baik,"


!!


Tidak tiga kata, bahkan tidak satu kalimat. Ling Qing Zhu benar-benar bicara padanya, dan ini jelas bukanlah mimpi. Apalagi, gadis ini malah memberinya solusi yang tidak pernah dirinya duga.


"Tunggu dulu. Maksudmu, kau ingin mengajakku berkencan?" Xiao Shuxiang melepaskan pegangan tangannya dan menatap tak percaya ke arah Kucing Putihnya.


"Mn, terserah kau menyebutnya apa." Ling Qing Zhu merasa ini waktunya pergi, dia sudah terlalu lama di sini.


".. Aku akan menghubungimu nanti. Kau istirahatlah dan jangan tanyakan apa pun, apalagi sampai menemuiku."


Ling Qing Zhu menepuk pelan lengan kanan Xiao Shuxiang dan mulai berdiri. Dia berjalan menuju pintu dan meninggalkan Wali Pelindungnya yang seakan belum tersadar dari rasa tak percaya.


"........"


Xiao Shuxiang berkedip, dia lantas menoleh ke arah pintu yang baru saja ditutup Ling Qing Zhu. Kucing Putihnya sudah pergi dan tidak terlihat lagi.


"Gadis itu.. Terkadang aku merasa dia seperti suka padaku. Tapi di waktu bersamaan, dia terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada malu-malu dan ragunya sama sekali, dia berbeda dari gadis lainnya.."


Xiao Shuxiang membelai sedikit rambutnya. Pandangan matanya lalu mengarah ke tempat di mana Paku Penembus Tulang yang sebelumnya dilempar Lan Guan Zhi berada.


Pusaka itu sekarang terlihat seperti besi tua karatan, nampak berwarna hitam kemerahan karena darah dari Xiao Shuxiang.


Dia mengambil senjata itu dan kemudian memperhatikannya dengan teliti sambil kembali ke kasur lantainya.


"........"


Xiao Shuxiang menimbang-nimbang pusaka di tangannya dan lalu mengalirkan Qi pada senjata itu yang dalam hitungan detik mengakibatkan Paku Penembus Tulang menjadi abu.


"Senjata ini tidak dibuat di Dunia Manusia. Anak itu pasti berusaha keras mengeluarkannya.." Xiao Shuxiang memikirkan teman baiknya, dia merasa khawatir dengan keadaan temannya tersebut.


***