XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
214 - Informasi Perang II


Tidak jauh dari gerbang utama Sekte Pedang Langit, terlihat tiga orang pemuda berpakaian putih dengan corak awan merah.


Salah satu diantara ketiganya berusia hampir 26 Tahun, dua lainnya seumuran dengan Xiao Shuxiang. Mereka tidak lain adalah Wen Tian, Tan Bao dan Tou Li.


Pakaian ketiganya penuh dengan bekas sayatan pedang, terlihat penuh darah, bahkan wajah ketiganya juga lebam dan nampak pucat.


!!


"Senior Bos..!?"


Tan Bao dan Tou Li terkejut saat Wen Tian terjatuh. Keduanya membantu Senior Bos mereka berdiri.


"A-Aku.. Baik-baik saja.."


Suara Wen Tian terputus-putus, lemah, dan terdengar gemetar. Dia beberapa kali muntah darah, kondisi tubuhnya jauh lebih parah daripada kedua temannya.


"Bagaimana bisa kau baik-baik saja dalam keadaanmu yang seperti ini, Senior Bos?!"


Tan Bao yang pipi sebelah kanannya terdapat bekas sayatan pedang begitu panik, dia tidak bisa melakukan apapun untuk menyembuhkan Wen Tian.


"Aku rasa.. Ini sudah waktuku.."


!!


"Senior Bos..! Kau jangan bicara seperti itu, kita hampir sampai. Kumohon bertahanlah.."


Tou Li memapah Wen Tian, dirinya dibantu oleh Tan Bao. Tujuan ketiganya adalah mencari bantuan di Sekte Pedang Langit.


Penyebab dari keadaan mereka tidak lain adalah serangan dari para kultivator Aliran Hitam serta saudara seperguruan mereka sendiri.


Entah bagaimana, keadaan Sekte Awan Merah yang begitu tenang dan damai tiba-tiba berubah menjadi penuh kekacauan.


Bukan hanya sekte Wen Tian dan kedua temannya ini, tetapi kekacauan juga terjadi di sekte lain termasuk sekte besar di Kekaisaran Matahari Terbit.


Tidak seorang pun kultivator dari sekte besar tersebut yang dapat meminta bantuan. Mereka kesulitan melawan musuh di dalam diri sendiri, yakni rasa kantuk.


Pilar atas Scarlet Bayangan yang menduduki kursi ketiga, Liao Fa Xun memiliki kemampuan memanipulasi aroma.


Bersama rekannya, Meng Yaoya, seorang wanita cantik berambut dan berpakaian terlalu terbuka berwarna merah, telah membuat hampir delapan puluh persen tempat di Kekaisaran Matahari Terbit berada dalam kondisi kacau.


Membuat para kultivator tak mampu menahan rasa kantuk lalu mengendalikan mereka saat tertidur, memberi mimpi seakan-akan mereka di serang oleh musuh, padahal nyatanya mereka melawan rekan sendiri adalah tontonan menarik bagi Meng Yaoya dan rekannya.


Beruntung Wen Tian memiliki mata yang dapat melihat hati manusia sehingga dirinya cepat tahu ada yang tidak beres.


'Perang senyap', sebuah strategi kuno yang sudah jarang dipakai dalam peperangan. Memiliki tingkat kegagalan tinggi, namun bila berhasil akan sangat mematikan.


Kata 'senyap' mengacu pada ketidaktahuan wilayah lain bahwa ada perang di luar wilayah mereka. Sama seperti sekarang, dimana Kekaisaran Matahari Tengah yang berdekatan dengan Kekaisaran Matahari Terbit tidak mengetahui bahwa terjadi perang besar di wilayah tetangga mereka itu.


Dalang dari 'Perang Senyap' ini menentukan bocor tidaknya informasi perang tersebut keluar, mereka tak akan membiarkan satu orang pun dari wilayah yang menjadi target mereka bisa lolos dan mencari bantuan.


Keberuntungan Wen Tian dan kedua temannya tidak lain merupakan taktik Meng Yaoya, pilar keenam Scarlet Bayangan ini sengaja membuat ketiganya seakan berhasil melarikan diri.


Tujuannya tentu saja memancing seseorang yang sudah lama diincar oleh Scarlet Bayangan.


Bruk!


Tan Bao tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya hingga dirinya dan kedua temannya terjatuh. Mereka bertiga memang sudah hampir mencapai batas, luka ketiganya terlalu parah, bahkan terlihat bekas darah sejauh kaki mereka melangkah.


Penglihatan Tan Bao memburam, dia memuntahkan darah dan masih menanyakan keadaan Senior Bos-nya.


"Ayo.. jalan.. Kita tidak boleh mati sekarang.."


Wen Tian berusaha mengatur napasnya, dia berusaha menyembuhkan luka dalamnya sekaligus melindungi jantungnya dari racun yang ada di dalam tubuhnya saat ini. Jika konsentrasinya kacau, maka berakhir sudah.


"Sialan.. Padahal sedikit lagi, tapi aku sudah tidak kuat.."


Wen Tian menyentuh pundak Tou Li. Dengan Qi miliknya yang sedikit, Wen Tian berusaha memberikan sisa kekuatannya pada Tou Li dan meminta agar rekannya tersebut segera pergi ke Sekte Pedang Langit.


".. Kau jangan khawatirkan kami.. Keselamatan semua orang.. Hah.. Hah.. Bergantung padamu.."


!!


"Se-Senior Bos..!"


"Pergilah.. Tou Li.."


Tan Bao juga ikut ambruk di samping Senior Bos-nya setelah meminta temannya untuk segera pergi.


Tou Li sebenarnya tak ingin meninggalkan kedua saudara seperguruannya, namun dia tidak punya pilihan. Dirinya berkata pada kedua rekannya untuk menunggu, dia akan segera kembali dengan bala bantuan.


".. Tolong jangan mati, Senior Bos.. Tan Bao.."


Hanya Tou Li yang tidak memiliki racun di tubuhnya, tapi tetap saja kondisi fisiknya begitu buruk. Untung gerbang Sekte Pedang Langit sudah di depan mata, walau jaraknya masih sejauh dua puluh meter. Semoga saja kedua rekannya dapat bertahan.


*


*


Xiao Shuxiang kini dapat berjalan normal, Lan Guan Zhi telah melepaskan segel yang membuatnya tidak dapat merasakan Qi. Saat ini keduanya berjalan meninggalkan Balai Hukuman dengan pakaian lengkap.


Murid Sekte Pedang Langit yang sebelumnya mengantar Xiao Shuxiang kembali melaksanakan tugasnya.


Xiao Shuxiang benar-benar menerima hukuman cambuk yang harusnya memang untuk dirinya. Pakaiannya sampai koyak hingga menembus kulit saat terkena cambuk yang entah datang dari mana.


Untung dirinya memiliki tulang yang kuat hingga cambuk tersebut tidak membuat tubuhnya terpisah-pisah. Sekarang dirinya tahu alasan mengapa banyak kultivator bar-bar yang menjadi jinak setelah keluar dari Sekte Pedang Langit.


".. Lan Zhi, kau keterlaluan sekali pada temanmu ini. Jangan bilang kau sebenarnya benci padaku..? Apa kau membenciku?"


"..."


Sepanjang jalan, Xiao Shuxiang banyak mengoceh. Dia mengeluhkan aturan Sekte Pedang Langit, hukuman yang tidak wajar, sampai sifat tenang dan dingin milik temannya ini.


"Lan Zhi? Ayo jawab pertanyaanku, jangan diam saja. Kau ini sebenarnya benci padaku, kan?"


"Tidak juga,"


!!


"Apa maksudnya itu?! Lan Guan Zhi..?! Kawan..?!"


Xiao Shuxiang mempercepat langkahnya hingga mendahului Lan Guan Zhi, dirinya lalu berbalik sambil berjalan mundur dan memberi beberapa nasehat pada pemuda tampan dengan wajah penuh pesona ini.


"Perbaiki cara jalanmu,"


Xiao Shuxiang mendengus saat temannya malah mengomentari caranya berjalan. Dia berkata tidak akan tersandung atau menabrak apapun sebab dirinya ahli dalam berjalan mundur.


"Lan Zhi, aku sebenarnya sangat iri padamu. Bisa dibilang, aku iri pada pria yang memiliki sifat seperti dirimu. Ini masalah para gadis, kau tau? Mereka menyukai pria yang dingin dan ketus, tapi pria yang ramah seperti diriku malah tidak dilirik sama sekali. Apa mereka itu suka dikasari..?"


Xiao Shuxiang ingat dengan Ling Lang Tian, kultivator yang berasal dari Benua Tengah tersebut belum tiga hari berada di sini dan sudah memiliki banyak penggemar.


Bahkan beberapa kali dirinya mendengar pembicaraan murid-murid perempuan Sekte Pedang Langit yang membahas tentang Lan Guan Zhi dan Ling Lang Tian.


".. Saudara-saudara seperguruanmu sepertinya punya hobi membicarakan orang lain,"


"Mereka juga.. membahas tentangmu,"


"Hm? Benarkah?"


"Mn,"


"Yaah itu memang harus, karena aku luar biasa, tampan dan mempesona. Haiih.. Aku sangat bangga pada diriku sendiri,"


Lan Guan Zhi tetap berwajah tenang melihat Xiao Shuxiang yang mulai menyirami dirinya sendiri dengan ribuan pujian.


Beberapa murid Sekte Pedang Langit yang melihat dan mendengar perbincangan Xiao Shuxiang dengan Lan Guan Zhi hanya berdecak pelan sambil menggelengkan kepala. Mereka baru pertama kali melihat ada manusia yang begitu memuja diri sendiri tanpa rasa malu sama sekali.


Tujuan Xiao Shuxiang dan Lan Guan Zhi sekarang adalah Pagoda Tingkat Sembilan. Keduanya berniat mengunjungi Patriarch Lan sekaligus melihat keadaan Lan Xiao yang kemungkinan sudah bangun dari tidurnya.


Harimau bulan tersebut hanya memiliki tiga kegiatan setiap hari, yakni menemani Lan Guan Zhi latihan, tidur, dan makan. Tentu saja, porsi tidurnya jauh lebih banyak.


Di tempat lain, yakni Gerbang Utama Sekte Pedang Langit.. Dengan susah payah akhirnya Tou Li berhasil sampai pada titik tujuannya.


Dia mengetuk pintu gerbang sambil memanggil kultivator Sekte Pedang Langit. Suaranya begitu lemah dan beberapa kali dirinya harus terbatuk darah.


Saat pintu gerbang terbuka dan memperlihatkan seorang kultivator berpakaian putih bercampur biru dengan sebuah pita di dahi.. Tou Li langsung meminta pertolongan.


!!


"Kau kenapa, Nak?!"


Murid Sekte Pedang Langit terkejut saat melihat seorang pemuda yang penuh luka dengan wajah pucat di depannya.


"Temanku.. Kumohon selamatkan mereka.. Cepat.."


Tou Li tidak mampu menahan kesadarannya lagi, beruntung tubuhnya segera ditahan oleh murid Sekte Pedang Langit hingga tidak sampai terjatuh.


Murid Sekte Pedang Langit yang terlihat berusia 40 Tahun ini memeriksa nadi di leher kultivator muda yang penuh luka di pelukannya.


Beruntung pemuda tersebut masih bernapas walau kondisinya kritis. Dirinya segera menggendong Tou Li dan membawanya masuk sekaligus meminta bantuan rekannya untuk mencari keberadaan teman yang disebutkan oleh pemuda di pelukannya ini.


Di Kota Awan Dingin, hampir seluruh warganya telah mengusai bela diri tingkat dasar. Ternyata bila bekerja keras, hasil dari pelatihan mereka sudah bisa terlihat.


Buktinya, seorang pria tua yang bekerja sebagai salah satu petugas kebersihan kota mampu mematahkan tangan seorang pendekar yang sering mencari masalah dengannya.


Biasanya, pria tua ini hanya bisa menerima perlakuan kasar pendekar tersebut dan harus merelakan uangnya diambil. Namun sekarang berbeda, dia kini dapat memberi perlawanan dengan tubuh kurus berumur miliknya.


Tidak hanya itu, di Kota Awan Dingin terbentuk sebuah kelompok bernama Walet Kecil, mereka beranggotakan anak berusia 5 sampai 6 Tahun.


Walet Kecil ini awalnya hanya permainan biasa para anak-anak, mereka berpatroli layaknya pelindung kota. Siapa sangka, banyak kejahatan kecil yang dapat diselesaikan oleh mereka.


Kota Awan Dingin merupakan wujud dari keinginan Xiao Shuxiang. Dia sangat membenci melindungi orang lain ataupun sesuatu. Namun bila ada yang dirinya beri bantuan, maka dia tidak akan membiarkan mereka terpuruk kembali, apalagi sampai membuat bantuannya selama ini sia-sia saja.


Keadaan Kota Awan Dingin bisa dibilang cukup damai, tidak seperti keadaan Istana Kekaisaran Matahari Tengah sekarang.


Di ruang pribadi Li Jing Huan saat ini sedang diadakan rapat pribadi antara Yang Shu, Yang Fu, dan Dai Chen.


Beberapa waktu lalu, saat Yang Shu dan adiknya menjenguk Li Jing Hua.. Keduanya mendapat surat yang terikat pada sebuah anak panah beracun ketika melangkah turun dari kereta.


Surat tersebut ditujukan untuk Kaisar Matahari Tengah, Li Jing Hua. Isinya adalah informasi tentang serangan yang akan dilakukan oleh Kaisar Matahari Tenggelam secara dadakan.


".. Aku sudah meminta tabib istana untuk meneliti racun pada anak panah tersebut. Hasilnya seperti dugaanku, racun itu sedikit mirip dengan buatan Xiao Shuxiang,"


"Hm?! Xiao'Er bisa membuat racun?"


Dai Chen mengangguk membenarkan atas pertanyaan Yang Shu, bisa dilihat wajah Kaisar Benua Utara tersebut tersentak kala mengetahui cucu kesayangannya pandai membuat racun.


Dirinya menceritakan tentang racun yang pernah dipakai Xiao Shuxiang saat melawan anggota Pilar Bawah Scarlet Bayangan, Mei Ning. Mendengar betapa mematikannya efek dari racun tersebut membuat Yang Shu, Yang Fu, dan Li Jing Hua terkejut.


Yang Shu seakan tidak percaya, bagaimana bisa cucunya membuat racun yang dapat menjadikan tubuh lawan seperti gumpalan daging membusuk hanya dalam hitungan napas?! Menurutnya, Xiao Shuxiang adalah seorang Alkemis herbal penyembuh, bukan Ahli Racun.


Tapi Dai Chen sama sekali tidak bercanda, dirinya serius dengan yang dia ucapkan. Lagipula sekarang, bukan itu masalahnya.. Mereka harus memeriksa kebenaran yang tertulis pada surat di atas meja ini.


"Tulisan pada kertas adalah tulisannya, Xiao Shuxiang punya tulisan yang mirip cacing kepanasan, jelas sekali ini miliknya.."


Saat belajar di Sekte Pedang Langit dahulu, Dai Chen pernah sekali melihat tulisan Xiao Shuxiang. Itu adalah tulisan paling buruk yang tidak akan mungkin dilupakannya.


"Sejak kecil tulisannya memang seperti ini. Dapat mempertahankannya selama bertahun-tahun tanpa perubahan bukanlah sebuah prestasi, melainkan kegagalan mutlak.."


Yang Shu seperti tidak kuasa melihat tulisan pada kertas tersebut, raut wajahnya berubah pucat.


Li Jing Hua dan Yang Fu memiliki pemikiran yang sama, tulisan pada kertas tersebut seperti seekor beruang yang baru saja belajar menggunakan kuas.


Anak panah beracun dengan surat tidak hanya dikirimkan untuk Kaisar Matahari Tengah saja, namun dikirimkan juga pada kediaman Tianqi Mao.


Saat itu, anak panah beracun tersebut hampir mengenai 'kebanggaan' Siu Yixin andai dirinya tidak memiliki keberuntungan.


Siu Yixin juga mengenali racun pada anak panah tersebut, namun tulisan pada kertas di anak panah itu sama sekali tidak dia ketahui.


Tianqi Mao meski dapat membacanya dengan baik namun dirinya juga tidak tahu milik siapa tulisan yang begitu buruk pada kertas di tangannya ini.


"♩♪Menurutku itu Shuxiang, yo. Tulisannya sama hancurnya dengan gelarnya, wii!♬♪"


"Jika yang kau katakan benar, maka ini informasi yang akurat. Kekaisaran Matahari Tengah akan berada dalam bahaya. Kita harus segera bersiap.."


Tianqi Mao meminta salah satu pengawalnya untuk mengumpulkan orang-orang kepercayaannya.


Melihat dari surat yang didapatkannya, Tianqi Mao memiliki dua dugaan. Pertama, yang menulisnya memang Xiao Shuxiang. Dan kedua, andai bukan pemuda itupun, informasinya tetap akurat.


Selama ini tidak banyak kejadian yang berarti, suasana nampak tenang dan damai, tidak seperti biasanya. Mirip seperti hari yang tenang sebelum badai besar.


***