
Lagi-lagi Ara bangun kesiangan. Membuka matanya matahari sudah tinggi, jendela-jendela dan gorden kamar itu sudah dibuka. Disadarinya dia terbangun diatas tempat tidur, sepertinya Jack memindahkannya semalam.
Saking nyenyaknya sampai tidak terasa berpindah tempat bahkan apapun yang dilakukan pria itu padanya dia tidak ingat sama sekali, tapi melihat pada dirinya yang berpakaian utuh, pastilah Jack tidak macam-macam padanya. Ah pria itu sangat manis, dia tahu memperlakukan istrinya dengan baik.
Dilihatnya dimeja sudah ada bunga, itu pasti bunga dari Jack untuknya. Senyum mengembang dibibirnya, Jack depresinya sudah kembali, hatinya sangat senang.
Ara bangun dari tempat tidur, mengambil bunga itu yang ada kartu nama disana. Dia sudah bisa menebak pasti isinya untuk istriku dari suamimu. Lalu dibukanya kartu itu dan ternyata tidak seperti dugaannya, ada kata-kata lain di kartu itu.
“Untuk istriku, aku mencintaimu, suamimu,” baca Ara, membuat hatinya berbunga-bunga dan langsung mencium kartu dan bunganya. Jack menuliskan kata cinta yang selama ini dia keluhkan.
Tapi kemana suaminya? Kamarnya ini sangat sepi. Ara menoleh ke pintu balkon kamar yang terbuka, diapun keluar kamar dan berdiri di pinggir pagar tembok itu. Ternyata dugaannya benar, suaminya sedang berenang bertelanjang dada hanya menggunakan celana renangnya, memperlihatkan tubuhnya yang sexy.
Bagi Ara sama saja dengan telanjang, karena dia tahu isi dibalik celana itu. Rasanya tidak percaya kalau semalam dia tidur di dada yang rata itu.
Sedang asyik memperhatikan suaminya berenang, raut wajahnya langsung berubah merah dan kecut.
Dibawah sana dia melihat seorang gadis yang dia lihat tadi malam, berjalan ke arah kolam renang dengan membawa sebuah kantong entah apa isinya, menghampiri suaminya.
“Jack!” panggil wanita itu pada Jack yang sedang berenang.
Hati yang berbunga-bunga langsung terbakar habis melihat kehadiran wanita itu, yang tiada lain adalah Arum. Mau apa Arum kemari? Apa perkataannya tadi malam tidak cukup jelas?
Ara melihat Jack menghentikan berenangnya dan pergi ke pinggir. Arum menghampiri Jack.
Hati Ara sudah terbakar habis, dia tidak suka suaminya didekati Arum, apalagi feelingnya mengatakan Arum punya niat terselubung bekerjasama dengan keluarganya Jack.
Ara segera menyimpan bunganya diatas meja, lalu bergegas keluar kamar. Amarahnya sudah diubun-ubun, dia tidak akan membiarkaan wanita manapun mendekati suaminya.
Jack menatap Arum yang menghampirinya. Kalau benar wanita ini Arum, dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Tapi cuma itu yang ada dibenak Jack, tidak ada yang lain. Tetap saja yang paling cantik dimatanya adalah istrinya tercinta, meskipun kadang istrinya itu telat mandi.
“Jack, aku kesini membawa makanan untukmu,” ucap Arum, sambil tersenyum. Jantungnya langsung berdebar kencang saat melihat tubuh sexynya Jack. Pria itu sungguh sempurna, batinnya.
Jack tidak menjawab, dia kembali berenang.
Arum menyimpan kantong itu diatas meja, lalu berdiri menatap Jack, memperhatikan pria itu. Rasanya tidak percaya kalau waktu kecil dia pernah dekat denga pria setampan ini.
Seandainya dia tidak tinggal dipantai dan tinggal bersama Ny.Imelda, mungkin dia sudah menjadi kekasihnya Jack, wanita yang akan disayangi Jack sampai dewasa tidak tergantikan oleh wanita yang menjadi istrinya Jack itu.
“Hei! Hie! Apa yang kau lakukan disini? Pergi!” Terdengar suara Ara berteriak- teriak sambil berjalan dengan cepat menghampiri Arum yang terkejut karena mendengar suara teriakannya Ara yang melengking.
“Sudah aku katakan semalam, kau tidak boleh mengurusi Jack! Urus saja dirimu sendiri! Jack bukan urusanmu! Dia sudah beristri!” teriak Ara, mendekati Arum yang menoleh kearahnya.
Jack yang mendengar suara istrinya berteriak-teriak langsung menghentikan berenangnya, mencari sumber suara.
Istrinya menghampiri Arum dengan langkahnya yangc epat. Dia juga melihat istrinya mengambil satu sandalnya dan dipegangnya, mengacung-acung kearah Arum.
“Apa peduliku?” tanya Arum.
“Apa? Kau tuli ya? Cepat pergi! Jangan ganggu suamiku!” teriak Ara.
Sontak saja suara ribut-ribut itu terdengar ke ruangan lain.
Tn.Ferdi yang belum berangkat bekerja karena semalam tidur larut diruang kerjanya, keluar dari kamarnya menuju balkon kamar dan melihat ke bawah kearah kolam renang.
Dia melihat Arum sudah ada dikolam renang dan menantunya itu berteriak-teriak dengan mengacungkan satu sandal pada Arum.
“Aku kesini ingin bicara dengan Jack, aku ingin dia sembuh!” kata Arum.
“Eh kau kan bukan Dokter, tidak perlu kesini-kesini lagi untuk membantu menyembuhkan Jack. Jack bukan urusanmu!” teriak Ara, dia tidak bisa bicara pelan dia sudah sangat emosi.
Jack yang melihat Ara marah pada Arum, segera naik ke darat lalu mengambil handuknya.
“Jack depresi karena aku, jadi aku berkewajiban untuk membantunya sampai sembuh. Aku harus sering-sering bertemu Jack supaya Jack tahu kalau aku masih hidup,” kata Arum.
“Tidak, tidak, kau punya niat yang lain!” ucap Ara, menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kenapa? Kau takut? Kau takut kalau Jack sadar dan dia menyadari kalau dia mencintai orang lain?” tanya Arum.
“Maksud kamu apa?” tanya Ara, terkejut mendengar perkataannya Arum.
“Aku dengar, Jack menikahimu karena dia mengira kau adalah aku, Arum,” ucap Arum.
“Hem, kau ini bicara apa? Jack menikahiku karena dia mencintaiku!” kata Ara dengan penuh emosi.
“Apa benar begitu? Kau ingat, dia itu gila, mana tahu dia soal cinta? Yang ada dalam ingatannya adalah aku, Arum,” ucap Arum.
“Jack tidak gila, dia depresi!” kata Ara, dengan ketus.
Mendengar perkatatan Arum membuat Ara kesal, tapi dia tidak mau kalah, sekarang di kartu nama itu ada tulisan aku mencintaimu, jadi Jack sekarang juga masih mencintainya meskipun sudah sembuh.
“Kau salah, Jack mencintaiku, bukan mencintaimu. Kau hilang dari kecil, tidak ada jaminan kau dewasa dia akan mencintaimu. Kau ada-ada saja!” ujar Ara, meskipun dalam hati ada was-was seperti itu. Jack menikahinya karena mengira dia adalah Arum.
Ara menoleh pada Jack yang sedang melap tubuhnya dengan handuk, pria itu mendengar ribut-ribut sama sekali tidak menghampiri.
Jack mengambil gelas air minum dan meminumnya.
Arum tersenyum melihat Jack yang mengabaikan Ara. Diapun menghampiri Jack.
“Jack, aku kesini mau mengajakmu bermain,” kata Arum.
“Bermain apa? Memangnya Jack anak kecil?” bentak Ara.
“Aku juga akan mengajakmu membeli eskrim, kau ingat kan kau suka eskrim,” kata Arum.
Mendengar kata eskrim mebuat Jack memutar momorynya. Dia ingat saat pertama kali melihat Arum di café itu, gadis itu mengeluhkan tidak suka eskrim karena giginya ngilu kalau makan eskrim.
“Apa? Makan eskrim? Sudah aku bilang jauhi Jack! Aku tidak suka kau mengajaknya makan eskrim! Aku juga bisa mengajaknya makan eskrim!” teriak Ara, dan langsung saja mendorong tubuh Arum dengan keras.
Karena tidak menyangka kalau akan di dorong Ara seperti itu, Arum kehilangan keseimbangan dan byur! Arum jatuh ke kolam.
Ara juga terkejut tidak menyangka Arum akan jatuh ke kolam.
“Jack! Jack! Tolong aku! Aku tidak bisa berenang!” teriak Arum, tangannya menggapai-gapai keatas.
“Jack, tolong aku! Aku tidak bisa berenang!” teriak Arum lagi.
Ara yang melihat Arum akan tenggelam langsung panik , lalu menoleh pada Jack.
“Jack! Tolong Arum! Aku tidak sengaja menjatuhkannya ke kolam! Dia tidak bisa berenang! Tolong dia! Aku tidak mau membuat orang lain meninggal!” kata Ara dengan panik.
Jack menoleh kearah Arum yang pengap-pengap di kolam renang sambil melambai- lambaikan tangannya keatas.
“Jack, kenapa kau diam saja? Ayo tolong Arum!” Teriak Ara dengan bingung. Karena Jack diam saja.
Diapun berjalan kedekat kolam.
“Kau tenang saja! Jack akan menolongmu!” teriak Ara, walaupun dia tidak suka pada Arum tapi dia tidak mau Arum mati tenggelam karena dia yang mendorongnya tadi.
Ara menoleh lagi pada Jack yang hanya diam saja, melihat pada Arum yang sudah kelabakan mengap-mengap di air kolam.
“Jack kenapa kau diam saja? Tolong Arum! Tapi kau tidak boleh memberinya nafas buatan!” teriak Ara.
Yang diajak bicara malah mengambil piyama handuknya lalu membalikkan badannya melangkah pergi.
“E eh kenapa kau pergi Jack? Itu Arum bagaimana?” teriak Ara.
Tapi pria itu sama sekali tidak menghiraukannya, dia terus berjalan semakin jauh meninggalkan kolam renang .
“Jack! Kenapa kau pergi? Tolong Arum!” teriak Ara lagi.
Jack sama sekali tidak menengar. Dia ingat bukankah Arum tinggal dipantai? Masa sih tidak bisa berenang?
Ara kebingungan melihat pada Jack lalu pada Arum.
“Tolong! Tolong!” teriak Ara berteriak minta tolong pada siapa saja yang mendengarnya. Beberapa orang pelayan rumah berlarian kearah kolam.
“Cepat cepat tolong dia!” teriak Ara.
Salah seorang dari pelayan rumah loncat ke dalam kolam renang dan mencoba menyelamatkan Arum, membawa Arum keluar dari kolam.
Ara langsung menghampiri Arum.
“Kau baik-baik saja?” tanya Ara. tapi Arum tidak menjawabnya.
Seorang pelayan memberikan handuk pada Arum. Ara berjongkok dan mendekatkan wajahnya pada Arum.
“Kau lihat kan? Suamiku tidak peduli, jadi sebaiknya kau pulang saja atau aku akan menenggelamkanmu dilaut untuk yang kedua kalinya!” ancam Ara, kemudian berdiri dan menoleh pada Jack yang sudah masuk kedalam rumah.
“Jack! Tunggu!” teriak Ara, berlari meninggalkan kolam.
Ada senyum sinis dibibirnya Tn.Ferdi. Tangannya mengepal dengan kuat diatas pagar tembok.
“Sepertinya kau sudah sembuh, Jack! Aku harus menemui Dokter Mia,” gumamnya.
*******
Readers sayang, besok satu bab satu bab lagi ya…rutinitas pekerjaan dan anak-anak sudah menunggu.
Jangan lupa like, gift, vote, dan tips jika ada.
Mohon bersabar ya dengan novelku, waktu nulisnya terbatas.
*******