Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-70 Berdansa dengan Jack


Jack duduk sendirian cukup lama tapi istrinya tidak datang-datang juga. Di edarkannya pandangannya ke tempat sajian makan yang tadi Ara katakan karena ingin membawakan makanan kecil lagi untuknya.


Istrinya benar-benar akan membuatnya gemuk, apalagi belakangan ini dia jarang berolahraga, sepertinya mulai besok dia harus mulai mengurus tubuhnya karena sudah dipastikan istrinya akan selalu menyuapi banyak makanan dan dia tidak bisa menolaknya.


Mata Jack terhenti pada sudut itu, dilihatnya Ara berbicara dengan Kinan dan beberapa orang gadis yang tentu saja pasti itu teman-temannya Kinan. Entah apa yang mereka bicarakan yang pasti melihat tawa-tawa dari Kinan dan teman-temannya pastilah mereka sedang mencemooh Ara. Sepertinya dia harus secepatnya menyelesaikan urusannya disini lalu membawa istrinya ke Paris.


Tidak berapa lama dilihatnya Ara ditinggal sendirian. Wajah istrinya tampak terlihat memerah, apakah istrinya menangis? Hati Jack terusik melihatnya, dia tidak mau melihat istrinya bersedih apalagi itu disebabkan karena kondisi dirinya. Sebenarnya apa yang dilakukan Kinan dan teman-temannya itu?


Ara cepat-cepat menghapus airmata yang tidak terasa menitik dipipinya. Tidak, dia tidak boleh bersedih. Dia sudah memutuskan akan selalu mendampingi Jack. Apapun yang terjadi dia harus menerima kelebihan dan kekurangannya Jack. Mungkin dia tidak bisa menjadi pasangan normal seperti yang lain, tapi dia cukup bahagia bisa selalu bersama Jack terikat dalam suatu ikatan pernikahan.


Sikapnya Ara tidak luput dari perhatiannya Jack, dia melihat istrinya menghapus airmatanya. Tidak berapa lama, Ara menghampirinya dengan membawa makanan kecil untuknya. Seperti biasanya, istrinya itu selalu tersenyum padanya. Hatinya semakin jatuh cinta pada wanita yang segera duduk disampingnya itu.


“Jack, maaf kau menunggu terlalu lama,” ucap Ara, duduk disamping Jack dan menyimpan makanan diatas meja.


Meskipun Ara tersenyum, tapi Jack bisa melihat raut sedih diwajahnya. Apalagi istrinya itu hanya mengambil buah dengan garpu dan menyodorkannya ke mulutnya. Ara kembali menunduk tidak mau menatapnya.


“Sayang,” panggil Jack, membuat Ara mengangkat wajahnya, menatapnya dengan heran.


“Sekarang kau sering memanggilku sayang,” ucapnya.


Kini ada lagi senyum di bibirnya Ara, tapi meskipun tersenyum, Jack bisa melihat raut sedih itu dari wajahnya Ara.


Jack ingin bertanya ada apa tapi dia bingung untuk bicara. Dia hanya bisa membuka mulutnya saat istrinya itu menyuapinya lagi. Dengan tidak banyaknya Ara bicara sudah jelas bagi Jack kalau istrinya memang sedang bersedih.


Jack melihat arah pandangannya Ara pada lantai dansa. Kinan dan Bastian juga teman-temannya Kinan yang tadi itu sedang melantai disana bersama pasangannya masing-masing.


Jack kembali menoleh pada wanita yang duduk disebelahnya yang kembali menunduk memotong-motong buah di piring. Sungguh wanita ini wanita yang baik, dia sama sekali tidak berkeluh kesah kalau terjadi sesuatu tadi, Jack merasa yakin Kinan dan teman-temannya melakukan sesuatu yang membuat Ara sedih.


Ara sesekali menatap kelantai dansa lalu menunduk lagi. Melihat orang-orang melantai bersama pasangannya tidak dipungkiri hatinya merasa iri tapi dia mencoba berlapang dada menerima kenyataan kalau suaminya tidak normal seperti yang lain.


 Ara menusukkan lagi garpu ke buah-buahan yang ada di piring itu lalu diberikan pada Jack tapi dia terkejut saat menyadari pria itu tidak ada disampingnya. Rasa terkejutnya bertambah saat sebuah tangan sudah terulur ada dihadapannya. Arapun kembali menyimpan garpu ke piring buahnya diatas meja.


Pria itu sudah berdiri menatapnya. Kapan Jack bangun dari duduknya? Ara menengadah menatap pria tampan yang bertubuh tinggi itu.


Ara melihat pada tangan Jack yang terulur padanya, lalu menengadah lagi menatap Jack dengan heran.


“Dance,” ucap Jack.


“Ap-apa?” Ara kebingungan.


“Dance,” ulang Jack.


Ara langsung tertawa dan menggelengkan kepalanya.


“Ah tidak, aku tidak pandai berdansa,” ucapnya lalu tawanya hilang saat dia sadar dengan apa yang Jack katakan.


“Kau serius mengajakku berdansa?” Tanya Ara membelalakkan matanya tidak percaya, masih menengadah menatap Jack. Sikap Jack sangat membuatnya terkejut.


Sebelum Jack menjawab pertanyaannya, Ara semakin terkejut lagi karena pria itu langsung membungkuk mencondongkan tubuhnya kearahnya dan memeluk pinggangnya, menariknya berdiri.


“Jack!” Teriak Ara, kagetnya tertahan menyadari semua orang akan melihat kearah mereka kalau dia bersuara keras.


Ara langsung memegang lengannya Jack. Karena pria itu memeluk pinggangnya, membuat tubuhnya menempel pada tubuhnya Jack,  jantungnya langsung berdebar kencang. Sungguh aneh, mereka adalah pasangan suami istri tapi berada dalam posisi berpelukan seperti ini saja rasanya sungguh tidak karuan.


Wajah mereka yang berdekatan membuat Ara leluasa menatap matanya Jack yang sedang menatapnya.


Ara tidak bisa berkata-kata, hembusan nafas dari ucapannya Jack membuatnya mati kutu, merasakan kuat dan kekarnya tubuh yang memeluknya benar-benar membuatnya gugup.  Tatapan mata Jack semakin membuatnya salah tingkah. Tatapan mata itu seakan mengisyaratkan sesuatu yang ingin diungkapkan.


Sebelum dirinya benar-benar sadar, Jack membawanya melangkah ke lantai dansa tanpa melepaskan pelukan dipinggangnya. Pria itu seakan tidak ingin menjauhkan tubuhnya darinya.


Kinan yang sedang berdansa dengan Bastian juga teman-temannya tadi tampak terkejut melihat Jack membawa Ara ke lantai dansa.


“Apa yang dilakukan kakakku itu? Jangan-jangan dia berulah!” gerutu Bastian, masih bergerak mengikuti irama.


“Pasti kakakmu dipaksa wanita itu, sepertinya akan ada tontonan yang menarik, mereka pasti akan saling injak kaki dan jatuh,” ucap Kinan sambil terkekeh.


“Semoga itu tidak terjadi, aku tidak mau mereka merusak pesta kita,” keluh Bastian.


“Tidak apa-apa, sedikit hiburan tidak masalah,” ucap Kinan.


Dalam hatinya dia akan semakin puas kalau bisa membuat Ara malu. Dia tidak mau dalam keluarga mertuanya nanti malah Ara menantu yang paling menonjol.


Jack menggenggam telapak tangan kanan Ara, menggenggam erat jemarinya. Genggaman tangan pria itu terasa begitu kuat.  Berada dalam pelukan Jack sama sekali tidak ada ruang untuk melarikan diri, Ara hanya bisa memeluk lengan bisepnya Jack dengan gugup dan kaku, dia langsung merasa kepanasan saking gugupnya.


Ini pertama kalinya suaminya memeluknya seperti ini dengan tatapannya yang  tidak bisa membuatnya lari. Ah pria itu seperti akan menelannya hidup-hidup.


“Apa kau bisa berdansa?” tanya Ara dengan pelan hampir tidak terdengar, dia ingin menutupi rasa gugupnya yang tentu saja tidak akan ada jawaban dari Jack.


Seiring music yang mengalun berpindah ke melodi dance romantic, Ara mengikuti langkahnya kakinya Jack. Untung saja dia pernah memperlajari gerakan dansa saat ada acara family gathering di kantornya. Ilmunya lumayan bisa membuatnya mengimbangi gerkannya Jack. Ternyata pria itu piawai berdansa, ya tentu saja pasti di Perancis Jack sudah terbiasa melakukannya. Tapi tunggu! Terbiasa melakukannya? Dengan siapa Jack berdansa? Di RSJ ada pelajaran berdansa?


Jack tidak menjawab. Kalau tidak salah perkiraannya, istrinya bersedih karena tidak bisa berdansa seperti pasangan lain. Dia tahu sikapnya ini akan menimbulkan pertanyaan banyak orang dan besepekulasi tentang kesembuhannya, tapi dia tidak peduli, dia lebih tidak ingin melihat istrinya bersedih.


Setiap kali Jack melonggarkan pelukan dipinggangnya dan menariknya lagi menempel ketubuh pria itu, Ara merasakan jantungnya sudah tidak tahan untuk copot. Seluruh tubuhnya benar-benar menempel pada dadanya Jack. Pria itu memeluknya sangat erat. Untung saja Ara masih sadar untuk menggerakkan kakinya mengikuti langkahnya Jack mengiringi music yang slow romantic, kalau tidak, dia akan menginjak kakinya Jack dan terjatuh.


Sekarang wajahnya Ara menempel di lehernya Jack. Ini pertama kalinya Ara merasakan sentuhan kulit lehernya Jack. Pria itu tercium sangat harum, membuatnya bisa berbetah betah mencium lehernya. Ara memeluk bahunya Jack agak tertahan dan menahan nafasnya saking tegangnya. Apakah dia berhak berada dalam pelukan Jack seperti ini? Tentu saja dia berhak, pria itu adalah suaminya.


Tidak ada kata yang terucap dari bibirnya Ara selain merasakan kehangatan pelukannya Jack dan mencium aroma harum tubuhnya.


Sungguh sebenarnya sebuah ironi, pernikahan yang sudah berlangsung berhari-hari yang lalu baru sekarang merasakan romantisnya pelukan suaminya. Apalagi dirasanya Jack mencium rambutnya. Rasanya Jack benar-benar menyayanginya.


Sungguh diluar dugaan Jack mengajaknya berdansa romantis seperti ini, membuat hatinya merasa dicintai oleh Jack. Perlahan Ara memberanikan diri menengadah menatap wajahnya Jack, ternyata Jack juga melakukan hal yang sama, menunduk menatapnya, membuat wajahnya hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya Jack, tapi tidak ada satupun kata yang terucap.


Pandangan merekapun bertemu. Lagi-lagi ada rasa lain muncul dihatinya Ara saat melihat tatapan mata itu. Mata pria itu focus padanya, tatapan mata itu seakan menunjukkan sesuatu, tatapan itu terasa begitu hidup dan berbinar penuh cinta, tidak seperti tatapan kosong seorang pria yang depresi.


Tiba-tiba Jack melonggarkan pelukannya, membuat Ara tersadar dari lamunannya dan tubuhnya bergerak menjauh mengganti gerakan dansanya ke tahap berikutnya, mundur beberapa langkah dan memutar tubuhnya di depan pria tampan itu yang masih memegang tangannya, serasa dia wanita paling cantik di dunia bisa berdansa dengan pria setampan itu.


Tubuh Ara kembali merapat dan mendapat pelukan lagi dipinggangnya. Tangannya kembali memeluk tangannya Jack.


“Aku tidak tahu kau bisa berdansa,” ucap Ara, tersenyum menatap Jack.


Banyak kata yang ingin Jack ucapkan tapi semua terkunci dalam hatinya. Dia hanya ingin membuat istrinya bahagia, dia ingin istrinya mendapatkan perlakuan yang sama seperti pasangan yang lainnya.


Jack hanya ingin menghapus kesedihan istrinya, seperti yang sudah dilakukan istrinya selama ini yang selalu berusaha membahagiakannya dengan senyumnya begitupun dirinya. Dia senantiasa ingin melihat istrinya selalu tersenyum padanya seperti yang biasa Ara lakukan.


Kinan melihat kemesraan Jack dan Ara menjadi sebal bukan main. Perkiraan kejadian saling menginjak kaki itu tidak terjadi, malah mereka terlihat begitu romantis, menunjukkan perasaan mereka yang saling mencintai diiringi melodi dansa.


Cemoohannya pada Ara yang bersuamikan pria gila dan tidak bisa mengajaknya berdansa ternyata salah. Kakaknya Bastian itu justru terlihat begitu lihai dilantai dansa dan begitu mesra memeluk Ara, seakan music dansa ini hanya untuk mereka berdua.


************