Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-134 Hati Jack Masih Tertutup


Sejak kedatangannya Ny.Inez, Jack terlihat tidak banyak bicara. Jika berkaitan dengan masalah keluarganya, pria itu sangat tertutup .


Hari sudah siang, Jack masih berada di ruang kerjanya. Ara mengetuk pintu itu beberapa kali.


Pintu kerja itu terbuka, ternyata Pak Beni yang membukakan. Ara melongokkan kepalanya menoleh kearah Jack. Ternyata pria itu tidak menoleh kearahnya, meliriknyapun tidak, hanya sedang membaca saja sambil bersandar di kursi kerjanya.


Ara memberengut melihat sikap pria itu yang mengabaikannya, lalu menoleh pada Pak Beni yang segera mundur memberi jalan. Ara menoleh lagi pada suaminya yang tidak menghiraukannya. Ada apa ini? Pria itu marah padanya? Dari kemarin pria itu hanya diam saja, apa Jack memang sedang marah?


“Sepertinya kalian sedang sibuk, aku pergi saja,” kata Ara tidak jadi masuk, dan membalikkan badannya.


“Ada apa?” terdengar suara Jack bicara, membuat Ara tersenyum, dia fikir suaminya tidak akan bicara lagi, diapun kembali melongokkan kepalanya.


Ternyata pria itu masih duduk bersandar sambil membaca berkas yang ada ditangannya, sama sekali tidak menoleh pada Ara. Melihat suaminya masih seperti itu, senyumnya jadi hilang dan kembali memberengut.


“Sepertinya kau sibuk, aku pergi saja,” kata Ara, kembali membalikkan badannya akan keluar dari ruangan itu.


“Ada apa?” tanya Jack, melihat pergerakan Ara akan keluar dari ruang kerjanya, barulah menoleh pada istrinya lalu menyimpan berkasnya di meja.


Ara kembali membalikkan badannya dan tersenyum pada suaminya itu yang hanya menatapnya saja tanpa membalas senyumnya.


“Saya menunggu di mobil, Tuan,” kata Pak Beni, tanpa menunggu jawaban dari Jack langsung keluar dari ruang kerja itu.


Ara hanya melirik pada Pak Beni yang menutup pintu ruang kerja itu. Saat menoleh pada Jack, pria itu sedang menatapnya tanpa bicara. Ditatap begitu membuatnya merasa risih.


“Jack!” panggil Ara. Pria itu tidak menjawab hanya menatapnya saja, membuat Ara jadi serba salah.


Ara berjalan mendekati meja kerja suaminya. Pria itu tidak merubah sikapnya, masih bersandar di kursinya dan menatapnya tanpa senyum.


“Apa kau tidak punya senyum sedikit saja untukku?” keluh Ara.


“Apa?” tanya Jack, kenapa istrinya bertanya yang aneh-aneh?


“Dari kemarin kau cemberut terus padaku, apa kau marah padaku? Bahkan kau tidur juga tidak memelukku tadi malam,” jawab Ara.


“Kau ini bicara apa? Kau datang ke ruang kerjaku cuma untuk bertanya itu?” tanya Jack.


“Iya,” jawab Ara.


Jack terdiam, istrinya itu ada-ada saja.


Ara berjalan semakin dekat.


“Kau akan berangkat kerja?” tanya Ara.


“Iya,” jawab Jack, akan mengambil berkas yang tadi disimpannya, tapi ternyata tangan Ara sudah ada diatas berkas itu, membuatnya menatap istrinya.


“Ada apa?” tanya Jack.


“Apa kau tidak ada waktu mendengarkan istrimu bicara? Kau mengacuhkanku!” protes Ara.


“Aku sedang sibuk,” jawab Jack.


Mendengar jawaban dari Jack, Ara menatapnya.


“Ya sudah kau kerjakan saja pekerjaanmu,” ucapnya, lalu membalikkan badannya dan keluar dari ruang kerja itu.


Melihat istrinya pergi, Jack tertegun, apa dia terlalu keras pada istrinya? Diapun segera bangun dari duduknya dan menyusul istrinya ke kamarnya.


Dilihatnya istrinya cuma diam saja duduk dipinggir tempat tidur sambil memberengut.


Melihat Jack datang, Ara merobah posisi duduknya jadi menyamping. Jack menghentikan langkahnya menatap istrinya, menghela nafas sebentar lalu menghampirinya dan duduk disamping Ara yang duduknya miring.


“Maaf, kau mau bicara apa tadi?” tanya Jack.


Ara tidak menjawab, hanya memberengut saja.


“Aku tidak bisa berangkat kerja kalau kau marah begini,” ucap Jack, tangannya langsung memeluk pinggangnya Ara dan menempelkan dagunya ke bahu istrinya lalu mencium pipinya Ara.


“Aku minta maaf,” ucap Jack, menatap pipi yang baru diciumnya.


Mendapat pelukan dan ciuman dari suaminya, marahnya Ara sedikit bekurang, tapi dia mau jual mahal sedikit tidak akan langsung menerima maafnya Jack.


“Kau masih marah?” tanya Jack, mencium lagi pipinya Ara, tapi istrinya hanya diam saja, sepertinya Ara membalas perlakuannya tadi yang mengacuhkannya.


“Ya sudah aku bilang pada Pak Beni, batalkan saja meetingnya, tidak usah ke kantor hari ini,” kata Jacak sambil melepaskan pelukannya.


“Jangan!” seru Ara membalikkan badannya menghadap Jack. Pria itu menatapnya.


“Aku tidak bisa pergi kalau kau seperti ini,” ucap Jack.


“Ibumu meneleponku, mengajakku makan siang diluar, apa kau mengijinkan?” tanya Ara.


Jack terkejut mendengarnya.


“Mau apa dia mengajakmu makan?” Jack balik bertanya dengan ketus.


“Ya mungkin hanya ingin dekat denganku saja,” jawab Ara.


Jack tidak menjawab, dia masih tidak mau berhubungan dengan Ibunya lagi.


“Aku tidak akan pergi kalau kau tidak mengijinkan,” kata Ara.


Jack masih diam.


“Aku tahu Ibumu sangat menyakitimu tapi kalau Ibumu mau berubah dan memperbaiki kesalahannya, tidak ada salahnya kan kalau kau memaafkannya?” tanya Ara, menatap wajah tampannya Jack.


“Bagaimana aku bisa memaafkannya? Ibuku berselingkuh dari Ayahku dengan pria brengsek itu!” kata Jack, dengan nada tinggi.


Melihat sikap Jack itu, Arapun mengerti itu artinya Jack memang belum bisa menerima Ibunya lagi.


“Baiklah, aku minta maaf, aku tidak akan makan siang dengan Ibumu, aku akan menolaknya,” jawab Ara.


“Aku berangkat,” ucap Jack, tidak mau membicarakan Ibunya lagi. Diapun memeluk pinggangnya Ara, lalu mencium bibirnya, barulah dia berdiri.


Saat dia berdiri ada telpon masuk yang segera diangkatnya ponsel itu dari sakunya. Jack berjalan sambil menerima panggilan itu. Ara hanya mendengarnya sekilas kalau Jack berbicara bahasa Perancis.


Setiap kali ada tamu atau telpon berbahasa Perancis hatinya langsung saja tidak nyaman, memikirkan Jack akan dipanggil bertugas dan sementara waktu akan meninggalkannya. Jika itu terjadi mungkin ini pertama kalinya dia di tinggalkan Jak dalam waktu lama entah berapa hari, mungkin seminggu atau mungkin satu bulan?


Setelah kepergiannya Jack, Ara mengambil ponselnya lalu menelpon Ny.Inez, terpaksa dia harus menolak untuk makan siang bersama dengan Ibunya Jack. Dia tidak bisa memaksa maksa Jack untuk memaafkan Ibunya. Terlalu dalam luka hatinya Jack, entah kapan dia akan membuka hatinya lagi untuk ibunya.


Ara mendial nomor ponselnya Ny.Inez.


“Aku minta maaf, aku tidak bisa keluar,” kata Ara pada Ny.Inez, saat Ibu mertuanya itu mengangkat telponnya.


“Apa Jack tidak mengijinkanmu?” tanya Ny.Inez.


“Tidak, hanya aku sedikit sakit badan saja,” jawab Ara, berbohong.


“Sakit badan?” tanya Ny.Inez, terkejut.


“Iya, sedikit, mungkin hanya masuk angin saja,” jawab Ara, mencari-cari alasan, dia tidak mau kalau Ny.Inez tahu Jack tidak mengijinkannya dan membuat Ny.Inez sakit hati.


“Masuk angin?” tanya Ny Inez, agak keras, membuat suaminya yang sudah berjalan-jalan diluar akan masuk rumah lagi menghentikan langkahnya.


“Apa kau hamil?” tanya Ny.Inez.


Tentu saja Tn.Ferdi dan Ny.Imelda terkejut mendengarnya. Tn.Ferdi semakin meruncingakn telinganya. Bertanya-tanya siapa yang hamil?


“Ah tidak, jawab Ara terkejut mendengar pertanyaan mertuanya.


“Kau harus periksa, mungkin saja kau hamil,” kata Ny.Inez.


Ara mengerucutkan bibirnya, meskipun dia sudah berkali-kali berhubungan dengan Jack  tapi baru beberapa hari ini saja mereka melakukannya, rasanya tidak mungkin langsung hamil.


Ny.Imelda yang duduk dekat Ny.Inez menatap temannya itu.


“Cepat ke Dokter, atau mau aku antar? Bisa jadi kau hamil,” kata Ny.Inez  bersemangat, ternyata rasanya begitu senang membayangkan dia punya cucu dari Jack.


“Ah tidak Nyonya, bukan, sepertinya cuma masuk angin saja,” jawab Ara dengan bingung, maksud hati hanya ingin menolak saja kenapa dia dikira hamil?


“Baiklah kalau begitu, tapi tidak ada salahnya kau periksa, melihat usia pernikahanmu bisa jadi kau hamil,” kata Ny.Inez.


Ara hanya tersenyum kecut mendengarnya.


“Jangan lupa kabari aku jika kau sudah periksa,” lanjut Ny,Inez, sumringah.“Iya Nyonya,” jawab Ara.


“Ya sudah tidak apa apa kita tidak makan siang bersama, lain waktu saja kalau kau sudah merasa lebih baik,” kata Ny.Inez.


“Iya,Nyonya,” jawab Ara.


Tidak berapa lama telponpun ditutup.


“Siapa yang hamil?” tanya Ny.Imelda juga Tn.Ferdi bersamaan, menatap Ny.Inez.


“Ara tidak bisa makan siang bersama kita sekarang, dia sedang sakit, sepertinya masuk angin katanya. Mungkin dia sedang hamil, cuma belum periksa. Kalau yang baru hamil kan begitu, tidak mengerti, kadang tidak menyadari kalau dia sedang hamil,” jawab Ny.Inez.


“Tidak apa-apa lain waktu saja,” kata Ny.Imelda.


Mendengar jawaban istrinya, raut wajah Tn.Ferdi langsung berubah lagi. Hatinya semakin menggeremet kesal saja.


Dia baru akan buat rencana untuk melenyapkan Jack, kenapa ada kabar baru lagi kalau istrinya Jack hamil?


Itu artinya meskipun Jack meninggal akan ada ahli warisnya, sama saja dengan sia-sia yang dilakukannya, sudah mengeluarkan uang banyak untuk melenyapan Jack ternyata kekayaannya Jack jatuh ketangan bayi itu.


Apakah dia harus melenyapkan 2 orang sekaligus? Jack dan istrinya! Bukan dua tapi tiga dengan bayi itu. Mau tidak mau, terpaksa dia harus melakukannya untuk memutus rantai keturunannya Constantine.


********


Readers maaf kalau banyak typo dan penulisan berantakan. Aku sudah  3x ngedit gagal up terus, jaringan sedang jelek, sampe berjam-jam mau upload juga. Capek deh kalau gini. Semoga ini berhasil up.


 


****