Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-91 Tetaplah Bersamaku


Malam semakin larut …


Tn.Ferdi berada diruang kerjanya. Kepalanya rasanya mau pecah, amarahnya tidak terlampiaskan, dia inginnya menghajar Jack sampai pria gila itu mati. Tuntas sudah semua dendamnya.


Tn.Ferdi meneguk minuman dalam gelas yang ada ditangannya, matanya kembali memandang foto pernikahannya dengan Inez yang tertempel di dinding.


Inez, dulu istrinya Constantine juga ibu kandungnya Jack. Wajah anak itu terus membawakan bayang-bayang kesalahannya Constantine. Pria yang menikahi wanita yang dicintainya yang sekarang sudah menjadi istrinya.


Dari dulu Constantine memang populer diantara teman-temannya. Karena selain tampan, pria itu putra bangsawan yang sangat kaya raya. Tidak ada wanita yang tidak tertarik padanya, termasuk Inez.


Wanita yang dikenalnya sejak lama itu ternyata menolak cintanya dan memilih menikah dengan Constantine, padahal dia tahu kalau Inez sebenarnya menyukainya, tapi karena dia kalah kaya dibandaing Constantine, Inez memilih menerima cintanya Constantine. Sungguh sangat menyakitkan!


Itulah awal-awal kebenciannya pada Constantine, karena Constantine pria sempurna yang memiliki segalanya, semua hal begitu mudah baginya, termasuk mendapatkan Inez.


Ternyata setelah Inez menikah dengan Constantine, rasa cintanya pada Inez tidak berubah. Dalam setiap acara pesta ataupun berkumpul dengan teman-temannya dia hanya bisa melihat kemesraan mereka. Rasa iri yang muncul karena terkalahkan segala hal dari Constantine dan rasa cemburu menimbulkan dendam yang bertumpuk tumpuk di dalam hatinya, yang akhirnya memutuskan untuk merebut Inez dari Constantine.


Sekarang dia sudah bisa hidup dengan Inez setelah Constantine tenggelam, bahkan menikmati kekayaannya Constantine, tapi kehadiran Jack kembali ke rumah ini telah mengusik ketenangannya.


Buah hati Constantine dan Inez itu ada diantara mereka. Dia sudah bisa menjauhkan Inez dari Jack, tapi kenapa pria itu malah datang ke rumah ini?


Selama ini dia sudah sabar untuk tidak menyentuh Jack karena selain dia masih kecil juga karena permintaan Inez. Dia tidak mau Inez meninggalkannya karena menyalahkannya menyentuh Jack. Tapi membiarkan Jack hidup ternyata menjadi bumerang baginya.


Berbagai cara sudah dilakukannya untuk membuat Jack tetap gila dan tetap jauh dari  kehidupannya Inez. Tapi melihat sikap Jack yang tenang saat bertemu Arum, membuatnya merasa was-was jika Jack sudah mulai sembuh.


Usahanya membuat Jack tetap gila sepertinya akan sia-sia, posisinya semakin terancam. Belum kehadiran istrinya yang kemungkinan akan hamil, akan menimbulkan banyak masalah kedepannya, semua akan kacau.


Apa yang harus dilakukannya sekarang untuk menyingkirkan Jack? Terus menerus mengupayakan Jack gila sangat melelahkan dan dia sudah tidak bisa bersabar lagi, jika perlu dia akan melenyapkan Jack secepatnya, tentu saja tanpa Inez tahu kalau dia yang melenyapkannya.


Tn.Ferdi berjalan menuju meja kerjanya , diisinya gelas minumnya yang sudah kosong itu dengan minuman botol yang ada diatas mejanya, lalu meminumnya.


“Maaf istriku, aku terpaksa akan melenyapkan Jack,” gumamnya, lalu minum minuman dalam gelasnya.


***


Di kamarnya Jack.


Padahal hari sudah larut, tapi pria itu masih duduk diluar. Ara hanya bisa melihat bayangan tubuhnya Jack dari balik kaca jendela. Pria itu duduk bersandar dikursi dan berselonjor ke atas meja yang ada di depannya.


Pintu yang masih terbuka membuat angin malam yang dingin masuk kedalam kamar. Ara melihat jam didinding sudah hampir tengah malam. Sudah berjam-jam Jack disana sendirian. Mungkin Jack tertidur di kursi. Arapun bangun lalu mengambil selimut.


Dengan perlahan Ara menghampiri Jack diluar. Dilihatnya pria itu memejamkan matanya, apa Jack sudah tidur? Arapun diam mematung, dia ragu untuk memberikan selimut itu.


Kalau Jack depresi mungkin dia tidak akan ragu untuk menyelimutinya, tapi sekarang dia merasa ragu apapun yang dilakukannya buat Jack. Mungkin saja Jack tidak suka dengan apa yang dia lakukan. Mungkin saja Jack tidak suka dengan perhatiannya. Dia sadar, Jack sudah menjadi sosok yang berbeda sekarang.


Jack yang memiliki kekurangan sekarang justru sebaliknya. Selain karena dia tampan dan kaya, dia juga memiliki karir yang bagus.  Dia seorang Jendral yang disegani, Jendral muda yang berprestasi dan dihormati di negaranya.


Ara merasa celutak kalau sok sok akrab dan mengganggunya, meskipun sebenarnya dia istrinya. Dia memang istrinya, tapi istri Jack yang depresi, bukan istri seorang Jendral.


Jack masih memejamkan matanya, dia tidak tahu kalau istrinya berdiri dipintu dengan membawa selimut tapi tidak berani menghampirinya.


Setiap kali..setiap kali..Jack bukan tidak ingin memberikan efek jera pada Ibu dan ayah tirinya, apalagi kalau sampai tahu kalau ibunya berselingkuh dari saat masih jadi istri ayahnya.


Hatinya masih merindukan sebuah keluarga yang harmonis, tidak berantakan sepeti ini. Hatinya masih tidak tega untuk membalas perbuatan mereka. Dia masih mengharap ada kasih sayang dari keluarganya tidak lebih. Dia masih merindukan keluarga yang hangat, karena dia merasakan begitu sepinya hidup sendirian diParis tanpa kasih sayang ayah dan ibunya.


Tiba-tiba Jack mendengar langkah kaki tertatih berjalan perlahan mendekatinya, kemudian sebuah selimut tebal terasa menutupi tubuhnya yang  kedinginan. Saat kaki itu melangkah menjauh, Jack membuka matanya dan mengulurkan tangannya memegang tangannya Ara.


Ara terkejut saat tangan itu memegang tangannya dengan kuat, diapun membalikkan badannya menatap Jack.


“Jack, kau bangun?” tanya Ara, dia langsung gugup saat melihat tangannya dipegang Jack.


Jack tidak menjawab, hanya menatapnya.


“Sudah larut, angin juga sangat dingin, jadi aku membawakan selimut supaya kau tidak kedinginan. Aku tidak mungkin menggendongmu memindahkanmu ke dalam, tubuhmu pasti sangat berat,” kata Ara, sambil tertawa, menghilangkan rasa canggungnya.


Jack tidak mengatakan sepatah katapun, cuma tiba-tiba Ara berteriak kaget saat dengan cepat tanganya ditarik Jack ke pangkuannya.


“Jack!” teriaknya kaget, tahu-tahu tubuhnya sudah duduk dipangkuannya Jack. Pria itu selalu mengagetkannya.


Jantung Ara langsung saja bertalu-talu setiap kali Jack bersikap seperti ini, canggung dan gugup


langsung menyerangnya, udara yang dingin juga langsung berubah menjadi panas.


Lebih terkejut lagi, saat tangan Jack membetulkan selimut menyelimuti tubuh mereka berdua, kedua tangan Jack memeluk tubuhnya.


Ara melirik selimut yang kini menyelimuti tubuhnya, lalu menoleh pada Jack yang ternyata sedang menatapnya. Dulu juga Jack pernah bersikap seperti ini, Ara bisa menebak kalau Jack sedang gelisah.


Jack masih tidak bicara, dia hanya menarik bahu Ara supaya bersandar ke tubuhnya. Bukan main ramainya suara dalam dadanya Ara. Duduk dipangkuannya Jack, dipeluk begini dan berselimut berdua, rasanya sudah tidak terlukiskan betapa gugupnya dia. Merasakan tubuhnya menempel di dadanya  pria itu.


“Aku…” Ara mulai bicara lagi.


“Dulu aku bermimpi,” ucap Ara, lagi-lagi mencoba untuk tidak canggung.


Jack sedikit menunduk melihat wajah istrinya itu yang kini bersandar padanya dan menunduk.


“Aku jujur padamu, aku cemburu, aku tidak mau ada wanita lain dalam pernikahan kita,” kata Ara.


Jack tidak bicara, hanya Ara merasakan pelukannya Jack semakin erat.


Lama-lama duduk dalam pangkuannya Jack terasa membuatnya nyaman, Arapun sedikit merebahkan tubuhnya dan menempelkan kepalanya ke dadanya Jack. Pria itu kembali membetulkan selimutnya, memastikan istrinya tidak kedinginan.


Tanpa Ara bicarapun Jack sudah tahu kalau istrinya cemburu, tentu saja, dia tidak akan pernah bisa menyakiti istrinya.


“Kau tahu, dulu saat aku datang ke rumahmu?” tanya Ara.


Jack mengerutkan dahinya mengingat-ingat kapan pertama kalinya Ara datang kerumahnya. Dia tidak terlalu ingat, mungkin saat dia depresi.


“Rumahmu sangat bagus, aku suka air mancurnya. Aku membayangkan anak-anak kita yang lucu-lucu bermain ditaman itu,” ucap Ara, sambil tersenyum tapi sejurus kemudian dia kaget menyadari ucapannya.


Arapun mengangkat kepalanya menatap Jack yang juga menunduk menatapnya.


Pria itu pasti kaget mendengar ucapannya yang keceplosan, mengatakan anak-anak yang lucu-lucu. Ah kenapa harus mengatakan hal itu? Jack saja belum jujur soal kesembuhannya dan menyatakan cintanya dengan resmi, ini dia bicara anak-anak, sangat memalukan. Wajah Ara langsung memerah.


Jack menatap Ara dengan terkejut, istrinya bicara tentang anak-anak. Apakah istrinya menginginkan sesuatu? Apa istrinya ingin segera memiliki anak?


“Ah Jack, aku salah bicara, aku minta maaf, bukan begitu maksudnya. Maksudku taman di rumahmu sangat luas seperti taman kanak-kanak, begitu,” ralat Ara, membuat Jack merasa geli mendengarnya. Sudah jelas-jelas istrinya mengatakan anak-anak mereka kenapa jadinya taman kanak-kanak?


Melihat Jack yang menatapnya seperti yang ingin menerkamnya membuat Ara berkeringat dingin, kenapa dia membangunkan macan yang sedang tidur?


“Jack, aku mengantuk, aku pindah dulu ya, aku mau tidur,” ucap Ara, bergerak akan bangun, tapi tidak bisa karena pelukan Jack sangat kuat, tentu saja kuat, pria itu memiliki otot yang kuat.


Wajah Ara berubah pucat  tidak bisa lepas dari pelukannya Jack.


“Tidur,” ucap Jack.


“Tidur? Iya aku mau tidur,” ucap Ara, dengan cengengesan menutupi gugupnya yang amat sangat.


“Tidur,” kata Jack lagi.


“Apa maksudmu? Kau menyuruhku tidur disini?” tanya Ara, kebingungan.


Bukannya menjawab, Jack malah menarik kepala Ara kembali bersandar ke tubuhnya. Terpaksa dengan senang hati Ara melakukannya, apanya dengan senang hati? Apa dia akan tidur dalam posisi seperti ini? Pria ini tidak membiarkannya pergi. Malah dirasakannya Jack kembali memeluknya lebih erat dan membetulkan selimutnya.


Akhirnya Ara mencoba menyamankan diri tidur diatas tubuh Jack yang memeluknya. Tapi  jangankan untuk tidur, yang ada jantungnya berdebar terus menerus, karena dia sadar yang memeluknya sekarang adalah Jendral Jack Delmar.


Jack tersenyum melihat sikap istrinya yang gugup, diapun menunduk dan membisikkan sesuatu ketelinganya Ara.


“Tetaplah bersamaku,” ucap Jack.


Ara terkejut mendengar perkataannya Jack, dia langsung menengadah menatap Jack


“Tetaplah bersamaku,” ulang Jack, masih menatap mata cantiknya Ara. Sinar mata yang membuatnya menikahi wanita ini.


“Jack,” gumam Ara, balas menatap matanya Jack.


Itu adalah kata-katanya Jack dulu saat depresi sambil memeluknya seperti ini. Ara merasakan sekarang berada dipelukan Jack depresinya. Jack-ku sudah kembali!


Beberapa detik kemudian dia merasakan Jack mencium bibirnya dengan lembut.


“Tidurlah,” ucap Jack, sambil melepaskan ciumannya.


Ara tidak berkata-kata lagi, dia merasa bahagia, dia merasa Jacknya sudah kembali.


Ara membuat dirinya nyaman diatas tubuhnya Jack. Kata-kata itu membuatnya semakin merasakan kalau Jack sedang membutuhkannya. Pria itu sedang resah dan pasti sangat kesepian.


“Aku akan selalu bersamamu, Jack,” ucapnya dalam hati dan mulai memejamkan matanya.


*********