Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-34 Memandikan Jack


Ara bagun tidur dengan kepala yang terasa sedikit pusing, karena semalam mimpi buruk membuatnya tidur dengan gelisah. Dia merasa heran kenapa tiba-tiba mimpi seperti itu.


Saat melihat ke sampingnya Ara terkejut karena Jack tidak ada disampingnya. Diapun langsung bangun apalagi saat melihat pintu kamar terbuka. Kemana Jack?


Ara pergi dulu ke balkon dilihatnya di kolam renang itu tidak ada yang berenang, diapun segera memakai mantelnya dan mencari Jack diseluruh ruangan yang ada di rumah itu.


Ketika ketaman belakang barulah Jack ditemukan. Dia sedang bersama Pak Beni berdiri diatas rumput yang hijau.


“Jack! Aku mencarimu!” kata Ara. Pria itu sama sekali tidak menoleh.


“Kau jangan pergi-pergi tanpa sepengetahuanku! Aku cemas!” kata Ara lagi, menatap Jack lalu pada Pak Beni.


“Sebaiknya pintunya di kunci, akan tidak baik kalau Tuan berkeliaran sendiri,” kata Pak Beni.


“Aku tidak tahu Jack bisa keluar kamar, aku masih tidur tadi,” jawab Ara.


“Saya sudah menelpon perawat untuk mengurus Tuan,” kata Pak Beni.


“Perawat?” tanya Ara, terkejut.


“Iya Nyonya, yang mengurus mandinya juga makannya,” jawab Pak Beni.


“Apa? Mandi? Jack dimandikan perawat?” tanya Ara terkejut.


“Iya Nyonya, Tuan meskipun sakit harus terawat dengan baik,” jawab Pak Beni.


Ara diam, dia membayangkan perawat itu memandikan Jack. Pasti perawat itu akan menyentuh-nyentuh tubuh Jack yang bagus, ah tidak, rasanya dia tidak rela wanita lain menyentuh-nyentuh tubuh suaminya.


“Tidak usah pakai perawat, aku saja yang mengurusnya,” kata Ara.


Pak Beni menatap Ara.


“Dari kemarin sore Tuan belum mandi,” kata Pak Beni, membuat Ara terkejut. Dia lupa memandikan Jack, dia hanya mengganti pakaiannya saja.


Ara langsung menoleh pada suaminya.


“Aku lupa,” ucap Ara.


“Maaf  Jack, aku lupa memandikanmu, sekarang ayo kita mandi!” kata Ara tangannya langsung mengulur memeluk tangan Jack, mengajaknya meninggalkan Pak Beni sendirian.


Pak Beni mengeluarkan ponselnya menelpon seseorang.


“Pak Nanang, maaf saya tidak jadi mempekerjakanmu, istrinya Tuan ingin mengurus Tuan Sendiri,” ucap Pak Beni.


“Iya Pak, tidak apa-apa, kalau butuh bantuan saya tinggal hubungi saya saja,” kata Pak Nanang. Telponpun ditutup.


Ara memeluk tangannya Jack mengajaknya kembali ke kamarya.


“Pak Beni apa-apaan, mau menyuruh perawat memandikanmu!” keluh Ara.


“Aku tidak mau ada wanita yang menyentuh-nyentuhmu,” keluhnya lagi, sambil membuka pintu kamarnya. Ara tidak tahu kalau perawat yang Pak Beni maksud seorang perawat laki-laki.


“Setelah kau mandi, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman?” tanya Ara yang tentu saja tidak akan mendapat jawaban dari Jack.


Ara masuk ke kamar mandi menyalakan air hangat untuk Jack.


“Jack kemarilah!” panggil Ara, tentu saja Jack tidak menghampirinya, pria itu hanya duduk dipinggir tempat tidur.


Ara kembali melongokkan kepalanya melihat suaminya.


“Jack!” panggilnya, tapi diapun sadar percuma memanggil manggilnya, Jack tidak akan menghampirinya. Diapun segera menghampiri Jack dan membawanya kekamar mandi.


“Jack kita mandi,” ucap Ara, sambil tangannya mengulur membuka kancing baju tidurnya Jack satu persatu.


Kenapa dia jadi deg-degan begini? Apalagi pria itu menatapnya. Apakah Jack sudah mulai sembuh? Apakah dia harus melepaskan seluruh pakaiannya Jack? Ini pertama kalinya dia melepaskan pakaian laki-laki.


Terus bagaimana kalau dia mau buang air kecil? Apakah dia harus melihat seluruh tubuhnya Jack? Apa lebih baik perawat saja? Tapi masa perawat yang melihat tubuhnya Jack, dia benar-benar tidak rela.


“Jack apa kau mau buang air? Aku bingung,” ucap Ara, dengan wajah yang memerah.


Seluruh pakaian Jack sudah terlepas, hanya tinggal bagian yang privasi saja yang belum dilepasnya.


“Aduh bagaimana ya?”gumam Ara.


Masalahnya dia juga tidak pernah berdua duaan dengan pria yang tidak berpakaian, apalagi kalau harus melihat bagian yang privasi. Meskipun Jack sedang tidak sehat sekarang tapi Jack pria dewasa yang tampan dengan tubuhnya yang sangat sexy.


“Jack aku tidak berani melepas bagian privasimu, aku bingung bagaimana caramu buang air? Masa aku harus menyentuhnya? Jangan-jangan perawatmu itu suka menyentuh-nyentuhmu juga,” ucap Ara, lalu melangkah mundur.


 Tapi dia terkejut saat kakinya ternyata masuk kedalam bathub, membuatnya kehilangan keseimbangan terjungkal ke belakang, spontan tangannya menarik tangan Jack.


“Jack!” teriaknya kaget.


Karena sebelah kakinya sudah masuk sebelah ke bathub yang berair, membuat Ara terpeleset dan semakin membuatnya menarik tubuh Jack dan byur! Dia terjatuh ke bathub, bukan dia saja tapi dengan Jack.


Ara terkejut karena seluruh tubuh dan kepalanya masuk kedalam air yang sudah penuh,dan itu membuatnya panic karena dia tidak bisa berenang apalagi bathub itu berukuran besar, serasa seperti kolam kecil di kamar mandi.


Tapi dia lebih terkejut lagi saat menyadari tangan Jack yang memeluk pinggangnya dengan cepat dan tubuh itu memutar membuatnya berada diatas tubuhnya Jack dan tidak tenggelam dalam bathub.


Ara menatap Jack dengan hati yang terkaget-kaget.


“Jack,” ucapnya, dengan jantung yang berdebar kencang, dipeluk Jack dengan erat dengan tubuhnya yang basah kuyup.


Hampir saja dia membentur pinggiran bathub atau terendam air bathub tapi Jack dengan cepat membuatnya berada diatas tubuhnya. Pria itu meskipun sedang sakit tapi insting melindunginya begitu kuat.


“Dalam keadaan sakitpun kau selalu menjagaku Jack,” gumamnya.


Ara tidak bisa membayangkan kalau dia benar-benar terjatuh tadi bagaimana kalau kepalanya terbentur pinggiran bathub?


Pria itu menatapnya, ini adalah tatapan pertama Jack sejak kemarin Jack tidak focus dengan apapun yang ada di sekitarnya. Apakah Jack sudah sembuh?


“Jack, kau harus mandi!” ucap Ara, menutupi rasa gugupnya.


Ara cepat-cepat bangun dari tubuhnya Jack, lalu duduk dengan seluruh tubuh dan rambutnya basah kuyup.


“Bukan kau saja yang mandi tapi aku juga,” ucap Ara sambil melihat pakaiannya yang basah lalu tertawa.


“Sangat lucu kan?” ucapnya, sambil menoleh pada Jack.


“Lucu!” ucap Jack, membuat Ara terkejut dan menatapnya.


“Jack, kau bicara? Obat dari Dokter Mia sangat membantumu!” seru Ara, dengan wajah yang sumringah senang rasanya meskipun hanya mendapatkan satu kata saja.


“Jack apa kau sudah sembuh?” tanyanya, sambil meraih tangannya Jack, lalu menyentuh pipinya.


“Kau sudah lebih baik?” tanyanya lagi, terus mengusap wajahnya Jack.


Tapi Jack tidak bicara, membuat Ara kembali lesu.


“Tidak apa-apa kau hanya bicara sedikit, itu sudah bagus, itu tandanya kau lebih baik,” ucapnya.


“Baiklah Jack, aku akan memandikanmu, setelah itu kita pergi ketaman, bagaimana? Kau pasti jenuhkan dirumah terus?” kata Ara.


“Taman,” ucap Jack.


“Kau bicara lagi! Iya taman! Kau suka pergi ketaman?” tanya Ara dengan semangat.


“Aku senang kau mau bicara Jack,” ucapnya, sambil meraih tangannya Jack dan menggosoknya.


“Aku akan memandikanmu sampai bersih,” ucapnya lagu menggosok bagian tubuh Jack yang lainnya.


“Tapi..bagaimana kau buang air? Kau harus buang air, tapi aku tidak berani melihatnya apalagi menyentuhnya,” ucap Ara lagi.


Dengan ragu dia melihat ke bagian bawahnya Jack dan dia terkejut saat melihatnya ada perubahan disana, dia langsung menutup muka dengan kedua tangannya.


“Jack apa artinya itu? Apa kau mau buang air?” tanyanya.


“Kau mau buang air kan? Bukan mau yang lain-lain?” tanya Ara dengan jantung yang berdebar kencang.


Ara cemas apakah itu artinya Jack menginginkannya? Ah tidak dia tidak bisa membayangkan itu terjadi dalam kondisi seperti ini.


“Sepertinya kau mau buang airkan Jack?” tanya Ara.


“Seharusnya aku bertanya pada Dokter Mia bagaimana cara mengurusmu,” ucapnya lagi, lalu dia bangun.


“Ayo Jack, kau harus buang air,” ucap Ara, lalu menarik tangan Jack supaya keluar dari bathub itu.


“Tubuhmu sangat berat,” gumamnya, untung saja Jack mau bangun dan melangkahkan kakinya keluar dari bathub, mengikuti langkah kaki Ara menuju toilet.


Setelah Jack berdiri menghadap toilet, Arapun jongkok dengan mata yang terpejam lalu sedikit mengintip. Tangannya gemetaran saat harus membuka bagian itu, yang buru-buru ditariknya kebawah dan buru-buru juga berdiri membelakangi.


“Jack! Ayolah cepat buang airnya!” kata Ara. Tidak mau menoleh.


Tapi tidak terdengar suara air ke dalam toilet.


“Jack, apa kau tidak mau buang air? Kau harus buang air!” kata Ara dia semakin bingung saja harus melakukan apa.


“Aku benar-benar harus konsultasi ke Dokter Mia! Kalau makan aku tahu kapan waktu jam makannya, tapi kalau buang air, aku tidak tahu kau mau buang air bukan? Kenapa sekarang tidak buang air juga?” keluh Ara.


Setelah beberapa menit masih tidak terdengar suara apa-apa.


“Jack kau harus buang air! Apa kau tidak sedang ingin buang air? Aku tidak mau kau mengompol,” ucap Ara.


Diapun berfikir bagaimaa caranya supaya Jack mau buang air sekarang. Tiba-tiba dia kefikiran tehnik ibu-ibu pada anak laki-lakinya jika disuruh buang air dengan cepat.


Ara menimbang-nimbang apakah itu akan berhasil? Katanya kalau anak-anak susah buang air sebelum tidur, harus bersiul. Apakah dia harus bersiul supaya Jack mau buang air? Tidak ada cara lain dia harus mencobanya.


“Jack, aku akan bersiul tapi kau harus langsung buang air ya!” ucap Ara.


Tidak ada jawaban apapun.


“Swit swit!” Ara mencoba bersiul meski tidak mahir.


 Tidak ada suara air sama sekali, Jack belum buang air.


“Swuit swuiiit!” Ara mencoba bersiul lebih kencang, belum ada reaksi.


“Bagaimana  ini? Anak kecil biasanya begitu kata ibu-ibu. Aku lupa kalau kau bukan anak kecil Jack, mungkin aku harus bersiul lebih kencang, ternyata mengurusmu aku harus belajar bersiul juga,” keluh Ara. Diapun berusaha bersiul lebih nyaring.


“Swuit! Swuit wiiw!” Ara bersiul dengan keras dan beberapa saat kemudian mendengar suara air masuk ke toilet. Dia merasa sangat lega. Akhirnya berhasil juga.


“Semoga kau cepat sembuh supaya kau mandi sendiri, Jack dan aku tidak perlu bersiul-siul lagi,” ucap Ara, lalu mengambil gayung membersihkan tubuhnya Jack dan mengambil piyama handuknya.


*************