Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH- 137 Hadiah Buat Jack


Setelah Jack berangkat bekerja, Ara hanya bengong saja dirumah, kadang dia bingung harus melakukan apa. Dirumah ini semua pekerjaan sudah ada yang mengerjakan. Bahkan urusan keuangan juga sudah ada yang mengurusnya. Dia juga bukan tipe yang suka shoping. Ibu mertuanya mengajaknya makan siang tapi Jack keberatan. Akhirnya dia hanya dirumah saja dengan bosan.


Jack benar, mungin kalau mereka cepat memiliki bayi dia bisa sibuk mengurus bayi. Ara memegang perutnya sambil tersenyum, dia juga pasti bahagia kalau bisa hamil buah cintanya dengan Jack.


“Aku mencintaimu, Jack,” ucapnya, masih memegang perutnya.


Ara melihat kearah jendela ternyata sudah sore, dia ingin menelpon Jack menanyakan kapan dia pulang, tapi difikir lagi tidak mau mengganggunya, lagi pula tadi Jack berangkat kerjanya juga siang, masa dia harus menelponnya sekarang? Sepertinya tidak usah menelponnya.


Terdengar ketukan dipintu kamarnya. Ara segera menuju pintu kamar dan membukanya.


Beberapa pelayan rumah membawa baju-baju bersih yang sudah digantung.


“Kami mau memasukkan pakaian ke lemari, Nyonya,” kata salah satunya.


“Ya masuklah,” jawab Ara, membuka pintu lebar-lebar. Merekapun masuk dengan membawa baju baju yang tergantung rapih.


Ara mengikuti mereka dari belakang, memperhatikan mereka yang masuk ke ruangan walk in closet memasukkan pakaian-pakaian itu. Diapun ikut masuk dan membantu merapihkan pakaian-pakaian itu.


Kemudian Ara duduk disalah satu kursi itu, matanya melihat ke sekeliling ruangan, kemudian dia tertuju pada lemeri tempat koleksi jam tangannya Jack. Diapun pergi kesana, membuka kaca etalase itu. Dilihatnya salah satu jam tangan itu.


Dia baru sadar dia belum pernah memberikan hadiah apapun pada Jack. Pria itu selalu memberikannya bunga, kira-kira dia akan memberi Jack hadiah apa? Memberikan sesuatu yang special untuk pria yang dicintainya.


Dilihatnya lagi seluruh jam tangan di etalese itu, pria itu memilki banyak jam tangan, bahkan dari toko jam tangan bermerk selalu mengirimkan jam tangan jam tangan model terbaru, yang mungkin cuma akan dipakai satu dua kali saja.


Dilihatnya lagi ke rak sepatu, banyak sepatu disana, sepertinya memang Jack tidak butuh apa-apa.


Mata Ara tidak sengaja melihat laci lemari itu, disana dia menyimpan fotonya Arum, karena merasa cemburu saat Jack melihat foto itu. Ditariknya laci itu dan dibukanya. Foto itu masih ada disana. Lalu di ambilnya foto itu, disana ada fotonya Jack dan Arum waktu kecil.


Sementara itu Jack sedang sibuk dikantornya. Sebenarnya dia ingin berlama-lama dirumah saja menemai istrinya sebelum dia pergi ke Paris tapi dia juga harus bergerak cepat merombak menejemen perusahaannya membersihkan kaki tangan ayah tirinya yang ada diperusahaannya, supaya tidak ada duri dalam daging. Apalagi dia memutuskan akan tinggal di Paris bersama istrinya, jadi dia harus memilih orang-orang yang benar-benar bisa dipercaya.


Dilihatnya jam didinding sudah sore, dia langsung menelpon sekretarisnya.


“Panggil Pak Beni,” perintah Jack.


Tidak berapa lama Pak Beni masuk keruangannya.


“Aku ingin pulang cepat,” kata Jack.


“Baik,Tuan,” jawab Pak Beni.


Jackpun bersiap-siap pulang. Dia memberikan beberapa berkas yang akan dia kerjakan dirumah saja.


Sesampainya di rumah istrinya tidak ada menyambutnya, membuatnya keheranan, kemana istrinya?


Dengan langkah yang cepat dia bergegas masuk kerumah, langsung menuju kamarnya yang ternyata pintunya sudah terbuka lebar. Tumben sekali istrinya tidak menutup pintunya.


Diedarkannya pandangannya ternyata pintu walk In closet itu juga terbuka, dan terdengar suara-suara yang berbicara di dalam sana. Diapun langsung menuju ruangan itu.


Mendengar suara langkah kaki mendekati, pelayan rumah itu menoleh kearah pintu.


“Tuan!” kata mereka, terkejut karena kedatangan majikannya.


“Mana istriku?” tanya Jack.


“Disana Tuan!” jawab mereka, Jackpun segera pergi ke blok lemari-lemari lain yang ditunjuk pelayan itu.


Ternyata istrinya sedang berada di deretan etalase jam tangannya.


“Apa yang kau lakuan?” tanya Jack mengagetkan Ara, yang segera menoleh kearahnya.


“Jack, kau sudah pulang?” Ara terkejut Jack sudah ada dirumah.


“Kenapa kau tidak menyambutku pulang?” tanya Jack, menghampiri Ara.


“Aku fikir kau lembur,” ucap Ara, sambil menyimpan jam tangan itu.


Jack langsung memeluk istrinya dari belakanng dan mencium pipi kanannya Ara.


“Aku tidak betah di kantor, aku selalu merindukanmu,” ucap Jack, kembali mencium pipinya Ara dan lehernya, membuat Ara menghindar karena merasa geli.


“Kau suka merayuku,” kata Ara, menoleh kesampingnya, menatap suaminya sambil tersenyum.


“Tidak, aku bicara sebenarnya,” jawab Jack, beralih mencium bibir istrinya.


“Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya Jack.


“Aku melihat jam tanganmu, aku baru ingat ternyata aku tidak pernah membelikanmu hadiah,” kata Ara, menempelkan kepalanya ke dadanya Jack sambil menengadah keatas menatap wajah suaminya. Sebuah ciuman mendarat di keningnya.


“Kau akan memberiku hadiah?” tanya Jack.


“Iya tapi aku bingung aku harus memberi hadiah apa? Semua yang kau butuhkan sudah ada. Jam tanganmu juga begitu banyak, sepatu, pakaian apalagi,” keluh Ara, mengerucutkan bibirnya.


Jack langsung mencium bibir yang cemberut itu, kemudian mempererat pelukannya  dan menempelkan pipinya ke pipi Ara.


“Kalau begitu tanya aku saja mau hadiah apa?” ucap Jack.


Ara mengerutkan dahinya.


“Kau benar, seharusnya aku bertanya padamu, tapi tentu saja hadiahnya jadi tidak suprice,” kata Ara, sambil tertawa.


“Tentu saja jadi surprice, aku akan senang kalau kau bisa memberinya,” ucap Jack dengan serius.


“Memangnya kau mau hadiah apa?” tanya Ara, menoleh kesampinynya karena Jack menempelkan dagunya dibahu kanannya.


Jack menoleh menatap wajahnya Ara yang sedang menatapnya.


“Apa?” tanya Ara.


“Tanpa kau minta juga aku ingin memberikannya,” jawab Ara.


Jack mencium bibirnya lagi.


“Iya, aku cuma mau itu saja,” jawab Jack.


“Kenapa kau selalu mengatakan itu?” tanya Ara.


“Karena rumahku sangat besar, kalau ada Jendral kecil aku bisa mengajaknya main perang-perangan,” jawab Jack, membuat Ara tertawa, tangannya menyentuh pipi suaminya lalu mencium bibirnya Jack, sekarang dia merasa kalau pernikahannya sangat bahagia.


“Juga kalau aku bertugas, ada pria yang akan menemani dan menjagamu,” lanjut Jack lagi.


“Iya aku yakin dia akan jadi pria yang hebat sepertimu,” ucap Ara.


Jack kembali mencium Ara, dia tidak bosan untuk selalu mencium istrinya.


“Ibumu mengajakku ke Dokter,” kata Ara.


“Apa?” tanya Jack terkejut.


“Ibumu mengira aku hamil,” jawab Ara.


Raut wajah Jack langsung  berubah saja setiap membicarakan ibunya. Ara jadi merasa tidak enak.


“Aku bilang aku masuk angin, dikiranya aku hamil dan ibu mengajakku ke Dokter,” jelas Ara.


“Tapi itu tidak mungkin kan, kita masih butuh waktu,” lanjut Ara.


“Akan cepat terwujug kalau sering melakukannya,” kata Jack.


“Bukankah kita sudah sering melakukannya,” keluh Ara.


“Aku masih punya banyak stok dalam tubuhku,” ucap Jack, membuat Ara membelalakkan matanya.


“Stok apa? Ah kenapa kau selalu mengucapkan kata-kata yang aneh,” kata Ara dengan wajahnya yang memerah.


Pria itu malah tertawa dan menciumnya, dia senang sekali kalau melihat wajah istrinya memerah.


“Aku mencintaimu,” ucapnya.


Ara tersenyum senang mendengarnya, dia senang sekali setiap kali Jack mengatakan itu , tangannya menyentuh pipinya Jack.


Tiba-tiba mata Jack tertuju pada bingkai yang tergeletak di etalase.


“Apa yang kau lakukan dengan foto itu? Bukankah kau sudah menyimpannya di laci?” tanyanya.


“Iya, aku tadi iseng saja  membuka laci,” jawab Ara.


 “Tiba-tiba aku ingat sesuatu,” kata Ara.


“Ingat apa?” tanya jack.


“Aku tidak punya foto waktu kecil,” jawab Ara.


“Kau tidak pernah difoto?” tanya Jack.


“Bukan, sepertinya tertinggal saat kita pindah-pindah rumah kata Ibu, tapi memang aku  tidak punya foto waktu kecil. Hanya foto-foto sekolah saja, saat remaja. Sepertinya Ibu tidak suka memfotoku,” jawab Ara.


Jack terdiam mendengarnya dan mengerutkan keningnya, rasanya Pak Beni tidak pernah melaporkan kalau Ara itu pernah pindah rumah atau memilki tepat lain sebelum tinggal disana.


“Mungkin Ibumu tidak suka difoto,” kata Jack.


“Kau benar, aku tidak tahu waktu kecil aku seperti apa? Tidak seperti kau memiliki banyak foto,” ucap Ara.


“Aku yakin foto waktu kecilmu pasti sangat cantik,” kata Jack, membuat Ara merasa senang saja dipuji begitu.


“Nanti kalau kau hamil aku ingin kau difoto tiap bulan,” ucap Jack.


“Difoto tiap bulan?” tanya Ara.


“Iya. Saat kau hamil satu bulan, dua bulan sampai sembilan bulan, sampai bayi kita lahir, usianya sebulan, dua bulan, aku ingin ada dokumentasi perkembangannya,” jawab Jack.


 Ara hanya mengangguk saja.


“Kalau kau tidak punya foto waktu kecil justru aku tidak punya foto waktu aku sekolah, karena aku tidak bersama ibuku,” ucap Jack.


Ara membalikkan badannya menghadap Jack, pria itu kembali memeluknya mendekapnya. Perkataan Ara membuat pertanyaan bagi Jack kenapa Ara tidak memiliki foto waktu kecil? Bukankah dia selalu bersama orang tuanya? Apa benar karena pindah-pindah rumah? Pak Beni tidak melaporkan soal itu.


Dia tidak memiliki banyak foto remaja dan dewasa karena memang tidak ada momen bahagia dengan Ibunya. Berbeda dengan  Ara yang orang tuanya begitu mencintainya. Hal itu mengingatkan Jack pada Ny.Imelda yang sakit karena melihat sikapnya Ara yang mengingatkannya pada Arum. Kenapa dia jadi berfikir yang aneh-aneh lagi? Jack menggelengkan kepalanya.


 “Aku bosan dirumah,” kata Ara.


“Sepertinya kita belum pernah makan malam diluar, apa kau mau makan malam diluar?” tanya Jack, Ara langsung menatap suaminya.


“Kau benar, kita belum pernah makan malam diluar,” jawab Ara.


“Baiklah, bagaimana kalau kita bersiap-siap,” usul Jack bersemangat.


“Iya, aku siapkan air panas untukmu,” ucap Ara, sambil melepaskan pelukannya, dan segera beranjak keluar dari ruangan itu.


“Kita! Kita yang harus mandi! Kau juga! Bukan aku saja!” seru Jack, membuat Ara mencibir padanya, itu tanda-tandanya suaminya mengajak mandi bersama.


******