
Pak Beni terkejut saat membuka pintu kamarnya, Ara sudah berdiri disana. Istri Tuannya itu belum berganti pakaian.
“Nyonya, kau bisa sakit! Kau juga harus menjaga dirimu!” kata Pak Beni.
“Iya, nanti aku berganti pakaian, aku mau minta tolong!” ucap Ara.
“Silahkan Nyonya,” jawab Pak Beni.
“Tolong ke rumahku, ambilkan minitur Jenderal yang Jack berikan saat melamarku. Nanti aku telpon ibu untuk menyiapkannya. Mungkin dengan adanya miniature yang masih utuh akan mengurangi rasa sedihnaya Jack,” kata Ara.
Ada binar senang dimatanya Pak Beni, diapun langsung mengangguk.
“Baik, saya akan segera pergi kesana,” ucap Pak Beni dengan semangat.
“Terimakasih,” ucap Ara, lalu meninggalkan tempat itu dan kembali ke kamarnya.
****
Di kamarnya Ny. Inez.
“Sayang, seharusnya kau dan Bastian tidak membiarkan itu terjadi! Aku tidak mau Jack terluka!” kata Ny. Inez.
“Aku tidak peduli. Malah seharusnya Jack itu lenyap dari muka bumi ini!” kata Tn.Ferdi.
“Jangan sembarangan bicara! Jack itu putra kandungku! Meskipun aku tidak pernah menjenguk nya di RSJ tapi semua keperluannya tercukupi, dia tidak pernah kekurangan! Aku masih punya hati nurani untuk mensejahterakannya!” kata Ny. Inez.
“Ini semua karena kau lemah!” tuduh Tn.Ferdi.
“Lemah? Apa maksudmu? Aku sudah tidak pernah menjenguk Jack sejak dia masuk RSJ!” teriak Ny. Inez dengan kesal.
“Lihat saja kemunculannya malah menggangu kita!” Kata Tn. Ferdi.
Ny. Inez pun terdiam.
“Kita harus mengirimkan Jack ke Perancis secepatnya, masukkan dia ke RSJ, juga Pak Beni. Kalau Pak Beni tidak mau, kita harus mengancamnya! Terpaksa kita mengambil jalan ini karena sudah tidak ada jalan lagi!” kata Tn. Ferdi.
Ny. Inez menatap Tn. Ferdi.
“Aku tidak setuju kalau kau dan Bastian melakukan hal yang diluar batas! Kita masih bisa menikmati hartanya Jack tanpa perlu melukai Jack!” ujar Ny. Inez.
“Ah tetap saja kita bukan pemilik. Itu akan mengancam kita suatu saat nanti. Seharusnya dari dulu semua asset diambil alihkan padaku. Jadi sudah tidak ada lagi hartanya Jack,” keluh Tn.Ferdi.
“Tidak bisa seperti itu, banyak pengacara ayahnya Jack di Perancis, mereka akan mengusut jika tiba-tiba harta Jack menghilang. Untuk mengeluarkan uang yang banyak saja harus melalui sidang itupun harus alasan untuk keperluan Jack,” ujar Ny. Inez.
“Benar-benar merepotkan! Sekarang malah muncul istrinya yang sok berkuasa itu. Jack tetap harus dimasukkan ke RSJ atau dia lenyap!” kata Tn.Ferdi.
Ny.Inez langsung berdiri menatap suaminya.
“Apa maksudmu lenyap? Kau akan membunuh putrau? Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!” teriak Ny. Inez.
“Aku hanya mengumpamakan saja. Dia masuk RSJ saja sudah cukup,” elak Tn. Ferdi.
“Awas kalau kau berani menyakiti putraku!” ancam Ny. Inez.
“Pokoknya sekarang kita harus mengembalikan Jack ke Perancis dan mengurus perceraian istrinya,” kata Tn. Ferdi.
“Istrinya tidak mau bercerai,” ucap Ny. Inez.
“Kalau tidak mau, ya sudah sekalian saja dengannya ikut ke Peracnis, tapi pastikan istrinya itu mau menyerahkan semua kekayaannya Jack pada kita. Dia itu pura-pura baik pada Jack tapi berniat busuk, jangan sampai semua harta Jack pindah ketangannya,” kata Tn. Ferdi.
Ny. Inezpun diam. Dia memang tidak suka semua kekayaan Jack berpindah ke tangan Ara.
“Kita harus membuat negosiasi dengan istrinya Jack dan Pak Beni,”ucap Ny. Inez.
“Tidak perlu negosisasi, kau bisa memberinya perintah dan harus dia lakukan! Kalau dia menolak, ancam saja! Aku tidak mau banyak buang-buang waktu dengan cara halus! Pak Beni dan istrinya Jack pasti tidak mau kan ada kejadian yang lebih buruk dari kejadian tadi,” kata Tn. Ferdi.
Ny. Inez tidak bicara lagi, diapun bangun dari duduknya.
“Kau mau kemana?” tanya Tn. Ferdi.
“Menemui Jack,” jawab Ny. Inez.
“Buat apa? Tidak usah!” kata Tn. Ferdi.
“Aku hanya ingin melihat keadaannya! Apa Pak Beni sudah memanggilkan Dokter?” ucap Ny. Inez.
“Huh!” gerutu Tn. Ferdi. Ny.Inezpun keluar dari kamar itu.
************
Ara kembali ke kamarnya, dilihatnya Jack masih seperti itu. Diapun segera menghampiri Jack dan mengganti semua pakaiannya Jack dengan pakaian yang bersih hanya tubuhnya tetap dibiarkan terbuka dan hanya diberinya selimut menggantung dibahunya Jack.
“Sebentar lagi waktunya makan dan minum obat, aku akan mandi dulu,” ucap Ara, menatap suaminya yang sudah bersih, duduk diatas tempat tidur dengan box yang lagi-lagi ada dipangkuannya itu.
Ara mendekatkan wajahnya pada wajahnya Jack yang menunduk menatap boxnya itu, lalu mencium pipinya Jack, kemudian segera pergi ke kamar mandi.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Ara mengambilkan makan untuk Jack dan menyiapkan obat. Kali ini Jack mau disuapi karena tangannya memangku box mainan itu terus.
Terdengar suara ketukan di pintu.
“Itu Pak Beni!”seru Ara, sambil menyimpan piring diatas meja. Bergegas dia menuju pintu. Tapi saat dibuka bukan Pak Beni yang berdiri disana tapi Ny. Inez.
“Aku mau melihat Jack,” kata Ny. Inez, tanpa dipersilahkan masuk langsung masuk kedalam dan menghampiri Jack.
Dia berdiri di dekat tempat tidur, menatap Jack yang tidak peduli dengan kehadirannya. Kemudian Ny. Inez duduk dipinggir tempat tidur, melihat banyak luka ditangan dan tubuhnya Jack.
“Jack, apa kau sudah lebih baik?” tanya Ny. Inez.
Jack tidak menjawab.
Ny. Inez melirik pada Ara.
“Apa kau sudah memanggil Dokter?” tanya Ny. Inez.
“Sudah! Sebentar lagi tiba,” jawab Ara, sambil mendekati Ny.Inez.
Ny.Inez menatap Jack tanpa bicara apa-apa, lalu diapun berdiri dan menatap Ara.
“Jack akan segera dikembalikan ke Perancis,” kata Ny. Inez. Membuat Ara terkejut.
“Apa? Nyonya mau mengirim Jack kembali ka Perancis?” tanya Ara.
“Iya, dia lebih baik dirawat di RSJ!” jawab Ny. Inez.
“Aku tidak setuju!” tolak Ara.
“Terserah kalau kau tidak setuju. Kau hanya perlu bercerai dari Jack. Jack tetap akan kembali ke Perancis,” kata Ny. Inez.
“Tidak Nyonya, aku tidak setuju Jack dimasukkan kembali ke RSJ!” tolak Ara.
Ny. Inez menatap Ara.
“Kau tidak mau berpisah dari Jack?” tanya Ny. Inez.
“Aku tidak akan meninggalkannya!” jawab Ara
“Terserah kalau kau masih mau bersama Jack, yang pasti Jack tetap harus kembali ke RSJ di Perancis!” kata Ny. Inez.
“Aku harus membicarakan ini dengan Pak Beni,” ujar Ara.
“Tidak perlu, kau majikannya sekarang, dia akan menurut apapun yang kau putuskan!” kata Ny. Inez.
Arapun diam, dia masih bingung apa dia harus membawa Jack ke Perancis dan memasukkannya ke RSJ? Apa itu akan membuat Jack sembuh? Buktinya dari kecil Jack tidak sembuh-sembuh.
“Satu hal lagi jika kau tidak mau bercerai dari Jack,” kata Ny. Inez.
“Apa?” tanya Ara.
“Kau harus memberikan kuasa padaku atas kekayaannya Jack,” kata Ny. Inez.
Ara menatap Ny. Inez.
“Jadi semua ini kembali pada uang, Nyonya? Kau rela memasukkan Jack ke RSJ lagi demi uang?” tanya Ara.
“Jack memang sakit, lihat sendiri dia seperti apa,” jawab Ny. Inez.
“Tapi apa perlu masuk RSJ?” tanya Ara.
“Itu yang terbaik. Sejak Jack di RSJ semua tidak ada masalah, semua kebutuhan Jack tercukupi, dan kami juga merasa tenang, Tapi sejak Jack kembali ke rumah dan ingin menikah, semuanya jadi kacau. Aku ingin keadaan seperti dulu lagi,” kata Ny. Inez, diapun menatap Ara.
“Jangan membuat keributan dengan keluargaku, kau juga tidak ingin terjadi apa-apa pada Jack bukan? Begitu juga aku! Jack lebih baik tinggal di RSJ, karena itu memang sudah jadi rumahnya. Tidak perlu berangan- angan Jack akan sembuh, lukanya terlalu dalam untuk disembuhkan,” lanjut Ny. Inez.
Ara masih diam mendengarkan apa yang akan disampaikan Ny. Inez.
“Kalau kau tidak mau bersuamikan pasien RSJ, kau tinggal cerai saja, gampang kan? Kalau kau tidak mau bercerai juga, sungguh aneh! Aku semakin yakin kau berniat buruk dibalik kebaikanmu,” kata Ny. Inez.
“Jack tidak sembuh karena ibunya tidak mensupportnya! Jack tidak hanya butuh Dokter, dia juga butuh perhatian dan kasih sayang dari keluarganya!” kata Ara.
“Sudahlah, jangan membuat pertengkaran di rumah ini. Kau hanya tinggal mengambil keputusan saja. Kau bercerai dari Jack dan silahkan pergi bebas, tidak ada urusan apa-apa lagi dengan keluarga ini, atau kau tidak mau bercerai, kau bisa bersama Jack dan ikut ke Perancis, terserah! Tapi kau harus mengembalikan kuasa kekayaan Jack padaku, kau faham?” ujar Ny. Inez.
Arapun kembali diam.
Ny. Inez menoleh pada Jack, menatapnya sebentar, lalu keluar dari ruangan itu.
Arapun menoleh pada Jack dan menghampirinya lalu duduk dipinggir tempat tidur, mengambil kembali piring itu dan menyuapi Jack lagi. Sesekali tangannya melap makanan yang menempel di bibirnya Jack, membuat Jack tetap bersih.
Ara mengakui pernikahannya dengan Jack tidak seindah yang dibayangkan. Terlalu banyak kemelut dirumah ini. Bahkan diapun merasa takut kalau nyawanya terancam. Tapi, apakah dia tega meninggalkan Jack dalam kondisi seperti ini? Apakah Jack memang lebih aman di RSJ? Apakah Jack benar-benar tidak ada harapan untuk sembuh?
Dilihatnya Jack mengunyah makanannya sambil menatap miniaturnya itu. Ara menyentuh tangan Jack yang penuh luka.
“Aku tidak bisa meninggalkanmu Jack, aku tidak tega meninggalkanmu!” ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
*********
Jangan lupa like di tiap bab ya..
*************