Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-38 Jendralku ( part 2 )


Ara bersimpuh duduk disebelahnya Jack, menatap pria itu yang sebagian tangannya masih mencari-cari Jendralnya. Ara melihat kemejanya Jack yang sudah compang camping dan menghitam karena  asap api juga bolong terkena lelehan dari mainan itu.


Kedua tangan Ara memegang wajahnya Jack supaya menatapnya. Mata merekapun bertemu. Mata Jack itu memerah, ada genangan airmata disana.


“Jack lihat aku!” ucap Ara. Jack kembali menunduk, Ara mengangkat lagi wajahnya Jack. Jack akan menunduk lagi tapi Ara kembali mengangkat wajahnya.


“Jack! Dengarkan aku! Lihat aku!” ucap Ara,memaksa Jack untuk menatapnya.


“Kau harus sembuh Jack! Kau harus sembuh! Jangan biarkan orang lain menyakitimu!” kata Ara.


“Jendralku!” gumam Jack.


“Ya Jendralmu! Kau harus sembuh untuk bisa menjaga Jendral-Jendralmu!” ucap Ara, airmata kembali menetes dipipinya.


Jack menunduk melihat Jendral-Jendralnya yang ada di pelukannya. Ara masih menangisi keadaannya Jack ,ternyata tetesan airmatanya tidak sekedar membasahi pipinya, tubuhnyapun perlahan basah saat tetes-tetes air hujan mulai turun.


“Tuan! Hujan, ayo kita pergi dari sini!” kata Pak Beni.


“Jendral! Jendral!” ucap Jack, kembali bangun lalu tangannya mengais-ngais lagi tumpukan mainan yang sudah mulai padam, mencari-cari miniatur yang belum ditemukannya, sampai minitaur yang ada dipangkuannya berjatuhan lagi ke paving blok itu.


“Jack, ayo kita masuk!” ajak Ara, tapi Jack tidak menghiraukan, masih mencari miniature nya membiarkan hujan mengguyur tubuhnya juga tumpukan mainan yang perlahan mulai padam terkena hujan.


Ara menoleh pada Pak Beni. Sekarang Pak Benipun jadi kehujanan.


“Jack!” panggil Ara lagi, tapi Jack tidak menghiraukannya, dia masih mencari miniature lainnya yang tertimbun itu meskipun hujan semakin deras mengguyurnya. Tidak dirasanya luka-lukanya yang tertimpa air hujan.


“Nyonya, sebaiknya Nyonya masuk kedalam,” kata Pak Beni.


“Aku akan menemani Jack,” ucap Ara.


Pak Benipun tidak bicara lagi, segera pergi meninggalkan mereka.


Ara menatap Jack yang berhujan-hujanan mencari miniaturnya, begitu juga diirnya yang sudah basah kuyup. Dia merasa heran karena Jack tidak ada raut kesakitan yang Jack rasa, padahal tangannya terluka, dia saja melihatnya merasa perih.


Apa Jack tidak merasa sakit? Atau Jack memang sudah terbiasa dengan luka? Kenapa fikirannya menjadi kemana mana? Mana ada orang yang terbiasa dengan luka atau rasa sakit.


Tiba-tiba dirasanya dia tidak kehujanan lagi, saat dilihatnya keatas ternyata Pak Atam sedang memayunginya. Pak Beni juga membawa dua payung dan memayungi Jack yang masih mengais-ngais di tumpukan mainan yang sudah padam apinya terkena air hujan.


“Entah sampai kapan Jack akan seperti itu?” gumam Ara.


Kemudian datang beberapa orang kesana dengan memakai jas hujan lengkap. Mereka membantu Jack mencari miniatur yang ada dibawah tumpukan itu, sekalian membersihkan tempat itu dan memilah mainan yang bisa diselamatkan tapi sayang tidak ada mainan yang utuh. Bahkan miniaturpun tidak ditemukan yang utuh. Kalau ada yang tidak terbakar semua tapi bagian tubuhnya ada yang sudah terbakar dan meleleh.


Arapun berdiri menatap mereka, sepertinya Pak Beni yang menyuruh pelayan-pelayan rumah membantu Jack mencari miniature itu.


Cukup lama mereka mengumpulkan semua miniature itu, karena Jack begitu hafal berapa jumlah miniatur yang dimilikinya. Dia tidak mau pergi sebelum memastikan kalau miniaturnya sudah terevakuasi semua.


“Tuan, semua miniaturnya sudah ditemukan!” kata Pak Beni, sambil terus memayungi Jack.


Jack berdiri menatap tumpukan miniature itu. Kini pelayan-pelayan itu memasukkan semua miniature yang rusak  dalam sebuah box plastic bening yang langsung berubah menjadi hitam. Kalau mainan itu tidak kehujanan mungkin box plastic itu akan ikut meleleh terkena panas lelehan miniature.


“Kita masuk Jack, nanti kau sakit, lukamu harus diobati! Jendralmu sudah ditemukan semua,” ucap Ara.


Jack tidak bicara, saat Pak Beni mengangkat tempat putih itu. Ara mengulurkan tangannnya memeluk lengan Jack dengan hati-hati karena lengan Jack terdapat banyak luka bakar.  Lalu diajaknya masuk ke rumah meninginggalkan halaman rumah itu.


Pak Beni menyimpan kotak miniatur itu di atas meja dikamarnya Jack.


“Lukanya Tuan biar saya obati,” ucap Pak Beni, menatap Jack yang dibawa Ara duduk dikursi yang ada di kamar itu.


“Tidak, biar aku yang akan mengobatinya,” ucap Ara.


Pak Beni menatap Ara.


“Saya minta maaf, saya tidak menjaga Tuan dengan baik,” ucap Pak Beni.


“Tidak, Pak Beni, kau sudah menjalankan tugasmu dengan baik,” kata Ara, balas menatap Pak Beni.


“Pak Beni, ada yang ingin aku tanyakan!” seru Ara, menghampiri Pak Beni.


Pak Beni langsung menoleh dan menatap Ara.


“Kenapa Jack seperti tidak kesakitan? Apa dia kebal dengan rasa sakit?” tanya Ara.


“Tuan sudah terbiasa dengan rasa sakit,” jawab Pak Beni, lalu mengangguk dan keluar dari kamar itu dan menutup pintunya.


Ara terdiam, masih tidak mengerti, kenapa Jack terbiasa dengan rasa sakit?


Ara menoleh pada Jack yang sedang memangku kotak miniature itu. Diapun segera pergi ke kamar mandi, mengambil air hangat untuk mencuci lukanya Jack.


Ara duduk disamping Jack, tangannya mengambil kotak itu dari pangkuan Jack lalu disimpan di meja. Jack membiarkannya mengambil kotak itu dengan berat hati, dia bersedih Jendral-Jendralnya hangus terbakar.


“Kau pasti sedih Jendralmu terbakar,” ucap Ara, tangannya terulur membuka kancing kemejanya Jack yang compang camping dan melepasnya perlahan. Diambilnya handuk dan melap tubuh tegap itu dengan hati-hati takut mengenai bagian tubuh Jack yang luka.


Ara menatap tubuh tegap itu dengan banyak fikiran dalam benaknya. Butuh waktu  bertahun-tahun untuk membentuk tubuh seatletis itu. Saat Ara membersihkan luka bakar itu pun tidak ada reaksi meringis sedikitpun dari pria itu.


“Apa kau benar-benar tidak punya rasa sakit? Apa yang kau lakukan tadi itu berbahaya Jack,” ucap Ara. Mulai mengobati luka ditubuh Jack dan membalutnya. Dadanyapun ada yang terluka karena memeluk miniature yang meleleh.


“Lukamu cukup serius Jack, terpaksa sementara ini kau tidak bisa berpakaian, aku hanya akan menyelimutimu supaya kau tidak kedinginan,” ucap Ara, lalu menatap wajah pria itu yang tidak henti-hentinya menatap box miniature itu.


Ara bisa merasakan kesedihannya Jack. Hadiah dari ayahnya yang tidak mungkin dia dapatkan lagi itu benar-benar sudah rusak.


“Jack, kau harus sembuh. Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan supaya kau sembuh Jack? Jangan biarkan orang lain menyakitimu! Kau harus berjuang Jack, kau harus berjuang! Semua kuncinya ada pada padamu, kau harus punya keinginan dan keyakinan untuk sembuh,” ucap Ara.


“Sebenarnya aku takut dengan kejadian ini Jack. Aku takut kau terluka, aku takut Pak Beni terluka, aku takut diriku sendiri terluka. Tidak ada yang melindungiku disini Jack, tidak ada,” ucap Ara, lagi-lagi airmata menetes dipipinya.


“Aku ingin kau sembuh Jack supaya kau bisa melindungiku,”lanjut Ara, masih menatap Jack.


“Aku heran kenapa kondisimu semakin memburuk. Padahal waktu itu kau sudah bisa bicara banyak, ada apa denganmu Jack?” tanya Ara, airmata semakin deras menetes dipipinya.


Ara menangis sambil menunduk menahan tangis tapi ternyata rasa sedihnya tidak tertahankan lagi, diapun menangis sesenggukan.


 Tiba-tiba dia dikejutkan dengan tangan Jack yang menghapus airmatanya. Ara langsung mengangkat  wajahnya menatap Jack.


“Kau tidak mau aku menangsis?” tanya Ara. Pria itu tidak menjawab.


“Jendral tidak boleh mati!” ucap Jack kemudian, dalam bahasa Perancis.


“Kenapa kau mengatakan itu lagi? Aku tidak mengerti,” ucap Ara, tangannya menyentuh pipinya Jack, diapun tersenyum, dia merasa semakin menyayangi Jack meskipun keadaan Jack seperiti ini. Dalam hati Ara masih berharap Jack akan sembuh dan kembali normal supaya mereka bisa menjalani pernikahan dengan normal.


“Aku yakin suatu saat kau akan sembuh Jack!” ucap Ara, mencoba bersemangat lagi.


Tiba-tiba dia teringat sesuatu.


“Jack! Kau tunggu disini!” seru Ara, lalu bangun dari duduknya dan berlari menuju ruangan tempat menyimpan mainan itu.


Saat pintu dibuka, hatinya kembali merasa hancur melihat ruangan itu benar-benar sudah hancur. Bastian dan teman-temannya menghancurkan semua kaca di ruangan itu dari pintu depan. Beberapa orang sedang membersihkan tempat itu. Ara kembali menutup pintu itu, dilihatnya Jack kembali memangku box itu. Diapun segera keluar dari kamar  itu mencari Pak Beni.


 


 


**************


Jangan lupa like di tiap bab


 


************