Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-139 Tes DNA


Sepulang dari rumahnya Ara, Jack banyak diam. Dia masih memikirkan perbedaan keterangan yang dikatakan Pak Amril dan Ara. Meskipun Pak Amril tidak mengatakan kalau Ara anak kandungnya atau bukan, tapi Jack tetap menganggap ini ganjal. Tidak mungkin Ibunya Ara memberikan alasan yang berbeda kalau tidak ada hal yang di sembunyikan.


Pak Amril juga tidak mungkin mengatakan jujur Ara anak adopsi karena itu sangat privasi dan akan menyinggung perasaannya Pak Amril.


“Jack kau kenapa?” tanya Ara, saat mereka masuk ke kamarnya.


Pria itu duduk di sofa membuka sepatunya menggantinya dengan sandal tanpa bicara apa-apa.


“Tidak apa-apa,” jawab Jack.


Ara duduk disamping Jack, menyentuh punggung suaminya dan menatapnya.


“Apa Ayah mengatakan sesuatu?” tanya Ara.


Jack menoleh pada istrinya, menatap wajah cantiknya.


“Tidak, Ayahmu sangat baik, mengijinkanku membawamu ke Paris,” jawab Jack.


Ara menatap wajah Jack, pria itu pendiam sejak tadi.


“Aku ke ruang kerja dulu, kau tidur duluan,” ucap Jack, sambil meraih lehernya Ara dan mencium bibirnya dengan lembut.


“Aku mencintaimu,” ucap Jack, melepaskan ciumannya.


“Aku juga,” jawab Ara, tersenyum pada suaminya.


“Tidurlah,” ucap Jack sambil mengusap-usap rambutnya Ara.


“Mimpikan aku,” ucap Jack lagi.


“Tidak mau bermimpi,  kau sudah ada di hadapanku,” sahut Ara sambil tertawa.


Tawa Ara langsung hilang saat tiba-tiba bibir Jack sudah menggigit bibirnya, ******* habis bibirnya, menciumnya sangat dalam, sampai Ara tidak sempat bernafas dan meremas kemeja suaminya.


Sudah merasa puas mencium istrinya barulah Jack melepas ciumannya.  Dia tersenyum melihat istrinya tampak shock dan wajahnya memerah. Ah suaminya selalu menciumnya dadakan begitu. Jack sangat suka mencium bibir istrinya yang mungil itu.


Diapun menciumnya lagi tapi hanya mengecupnya saja.


“Kau tidur,” ucap Jack, tangannya mengusap pipinya Ara lalu berdiri dan keluar dari kamarnya.


Ara hanya mengangguk, masih merasakan ciumannya Jack itu, bibirnya bisa jontor kalau Jack terus menciumnya seperti itu.


Jack pergi ke ruang kerjanya, langsung memanggil Pak Beni.


“Pak Beni, aku ingin bertanya soal istriku,” kata Jack.


“Kenapa Tuan?” tanya Pak Beni.


“Pak Beni, apa orangmu tidak mengatakan kalau keluarganya Pak Amril pernah pindah rumah?” tanya Jack.


“Tidak Tuan, mereka tidak pernah pindah rumah,” jawab Pak Beni.


Jack terdiam mendengarnya, jadi Ibunya berbohong pada Ara? Apa mungkin Ara memang anak adopsi dan Ibunya menutupi hal itu dari Ara makanya Ara tidak mempunyai foto masa kecilnya? Tapi kata Pak Amril mau anak adopsi atau bukan Ara tidak mungkin Arum. Sebenarnya memang benar begitu tapi dia harus memastikan rasa penasarannya.


Jack menghela nafas panjang, dia terus berfikir keras.


“Pak Beni, sepertinya aku harus melakukan tes DNA,“ kata Jack.


“Tes DNA?” tanya Pak Beni.


“Aku..., entahlah aku hanya ingin memastikan perasaanku saja,” jawab Jack.


“Tes DNA Nyonya?” tanya Pak Beni.


“Iya, istriku dan Ny.Imelda,” jawab Jack.


“Tapi bagaimana  caranya? Apa Tuan akan bicara dengan Ny Imelda?” tanya Pak Beni.


“Tidak, aku tidak mau banyak yang tahu soal ini, apalagi kalau sampai terdengar istriku, dia bisa marah,” jawab Jack.


“Tapi kita butuh bagian tubuhnya Ny.Imelda untuk mencocokkan tes DNA nya,” kata Pak Beni.


“Itu yang sedang aku fikirkan,” ucap Jack.


”Ada caranya, Tuan,” kata Pak Beni, tiba-tiba.


“Bagaimana?” tanya Jack.


“Sepertinya Tuan butuh bantuan Nyonya Inez,” jawab Pak Beni.


“Apa? Bantuannya? Aku tidak mau berurusan dengannya lagi,” kata Jack dengan ketus, hatinya langsung ilfeel saja mendengar nama ibunya disebut.


“Itu cara yang tepat, karena Ny.Inez sahabatnya Ny.Imelda, Tuan bisa meminta Ny.Inez mengambil sample rambut atau data yang lainnya,” ujar Pak Beni.


Jack pun diam. Dia tidak mau bicara dengan Ibunya, tapi dia harus menghilangkan rasa penasarannya ini. Kalau berurusan dengan Ny.Imelda malah semakin ruwet apalagi kalau ternyata feelingnya benar Ara adalah Arum, semua akan tidak terkendali.


Setelah berbicara dengan Pak Beni, Jack duduk bersandar dikursi itu, memikirkan apakah dia harus bicara dengan Ibunya demi memastikan Ara adalah Arum atau bukan?


Akhirnya Jack mengambil ponselnya, menelpon Ibunya.


Nyonya Inez sedang bersiap-siap akan tidur saat ponselnya berdering diatas meja.


“Siapa yang menelponmu malam-malam begini?” tanya Tn.Ferdi mengeluh, dia juga sudah berselimut, akan tidur.


“Aku tidak tahu,” jawab Ny.Inez, diapun turun dari tempat tidur dan mengambil ponselnya diatas meja, dia melihat nomor tidak dikenalnya muncul di layar ponsel.


“Halo, siapa ini?” tanya Ny.Inez.


“Aku, Jack,” jawab Jack, membuat Ny.Inez terkejut, tidak menyangka Jack akan menelponnya.


Ny. Inez menoleh pada suaminya.


“Aku keluar dulu sebentar,” ucapnya pada  suaminya lalu keluar dari kamar itu.


Tn.Ferdi mengerutkan keningnya, memangnya ada telpon dari siapa sampai harus keluar kamar?


Ny. Inez pergi keruang keluarga lalu duduk di salah satu sofa.


“Halo Jack!” sapanya.


Jack tidak menjawab, sebenarnya dia tidak ingin bicara dengan Ibunya. Dia masih membenci Ibunya.


“Ada apa Jack?” tanya Ny.Inez.


“Sebenarnya aku tidak ingin bicara denganmu, hanya saja aku butuh bantuanmu jadi aku terpaksa menelponmu,” jawab Jack, membuat hati Ny.Inez sakit mendengarnya, putranya masih membencinya tapi dia harus menerima itu.


“Butuh bantuanku? Apa? Katakan saja! Ibu pasti akan bantu,” kata Ny.Inez, bersemangat.  Meskipun ini sangat terlambat, tapi dia akan berusaha untuk menjadi Ibu yang baik buat Jack.


“Aku..” Jackpun diam, dia berfikir apakah itu baik atau tidak.


“Aku butuh sampel dari tubuhnya Ny.Imelda,” jawab Jack.


“Maksudmu apa?” tanya Ny.Inez, terkeut.


“Aku ingin memastikan apakah  Ara itu Arum  atau bukan, apa kau bisa membantuku?” tanya Jack.


Ny.Inezpun diam, dia ingat Imelda mengatakan kalau Ara mengingatkannya pada Arum sampai dia jatuh sakit. Apa ini yang ingin Jack buktikan?


“Kenapa kau tidak bicara dengan Imelda?” tanya Ny.Inez.


“Aku tidak mau ada orang lain yang tahu soal ini, termasuk Ny.Imelda, karena belum tentu juga Ara itu Arum, aku tidak mau banyak timbul masalah, apa kau bisa membantuku?” tanya Jack lagi.


“Aku juga minta kau merahasiakannya termasuk pada suamimu,” lanjut Jack.


Ny.Inez terdiam, terlihat kalau Jack masih marah padanya, nadanya ketus dan tidak mau memanggilnya Ibu. Meskipun sakit hati putranya bersikap begitu tapi Ny.Inez berusaha memahami dan sabar menerimanya.


“Iya, akan Ibu usahakan, apa yang bisa Ibu ambil?” tanya Ny.Inez.


“Yang paling gampang adalah rambutnya, atau mungkin kau tahu golongan darahnya atau apa saja yang bisa mendukung untuk tes DNA,” jawab Jack.


“Imelda golongan darahnya A, dia sesar waktu melahirkan Arum. Ibu bisa minta data dari Dokter yang menangani kelahirannya Arum dulu, dia juga yang membantu Ibu melahirkanmu dulu, jadi Ibu mengenalnya,” kata Ny.Inez.


“Bagus kalau begitu,” ucap Jack, dingin.


Dia mengerti Ibunya bicara seperti itu seakan ingin mengingatkannya kalau Ibunya yang melahirkannya, tapi Ibunya juga tidak ingat pernah melahirkannya sampai tega membiarkannya sendirian di Paris.


“Apa ada yang lainnya? Ibu akan mengusahakannya,” tanya Ny.Inez.


“Tidak, itu saja, aku minta segera,” jawab Jack.


Dia akan menutup telponnya tapi terdengar  lagi suara Ibuya bertanya.


“Jack, apa kau akan pergi ke Paris?” tanya Ny.Inez.


“Kau tidak perlu tahu,” jawab Jack, ketus.


“Ibu minta kau hati-hati, jaga dirimu baik-baik dan tetap waspada, ingatlah kau harus pulang, istrimu menunggumu,” ucap Ny.Inez, dengan hati yang tercabik-cabik saat mengatakannya dan mata yang berkaca-kaca.


Selama ini dia tidak peduli dengan keadaannya Jack, yang dia fikir hanya memberinya uang banyak lewat Pak Beni yang mengurusnya, itu sudah lebih dari cukup.


Jackpun diam. Dia tidak bicara apa-apa lagi, dia langsung menutup telponnya. Hanya dalam hatinya dia berfikir apakah itu sebuah peringatan untuknya? Sebuah peringatan kalau ada sesuatu yang mengancamnya?


***********


Readers jangan lupa like di tiap bab.


*************