
Jantung Ara berdebar kencang, dia duduk di toilet sambil memegang handuknya. Melihat Jack menatapnya seperti itu sungguh membuatnya jantungan. Pria itu menatapnya seakan seperti ingin memakannya saja.
“Haduuh..kenapa aku harus memakai handuk begini? Aku sangat malu…” keluh Ara, sambil melihat lagi pada tubuhnya yang berhanduk.
Akhirnya Ara jadi melanjutkan mandinya padahal tadi tidak berniat langsung mandi karena Jack juga belum dimandikannya.
Tatapannya Jack tidak lepas dari ingatannya Ara, tatapan itu begitu tajam seakan menembus jantungnya. Apakah Jack menginginkan sesuatu? Ah tidak, meskipun mereka sudah suami istri, dia belum yakin untuk melakukannya apalagi kondisi Jack belum sembuh.
Ara terpaksa harus memakai bajunya yang tadi lagi supaya keluar kamar mandi tidak berhanduk ria. Kalau Jack normal dia pasti akan sangat malu sekali, dikira genit sedang menggoda suaminya. Sangat memalukan!
Masuk ke kamarnya dengan pakaian yang tadi dan wajah yang memerah, Ara menghampiri Jack.
Pria itu balas menatapnya, melihat istrinya sudah tidak berhanduk lagi. Padahal dia tidak keberatan kalau istrinya seperti itu.
“Jack, sekarang giliran kau mandi, ayo!” Ajak Ara.
Jack terdiam, kenapa rasanya tidak adil. Istrinya dengan sesuka hati menyentuh seluruh tubuhnya tapi dia tidak? Malah istrinya itu sudah berpakaian kembali.
“Jack!” panggil Ara.
“Ayo kita mandi! Maksudku kau yang mandi,” ucap Ara meralat ucapannya.
Jack tidak menjawab, dia hanya menatap wajah istrinya yang sebagian masih terkena air dari rambutnya.
Tangan Ara mengulur meraih tangannya Jack supaya turun dari tempat tidur. Tidak ada yang bisa dilakukan Jack selain menurut apa kata istrinya, masuk ke kamar mandi.
“Jack kau terpaksa harus memakai bajunya ayah, tapi sepertinya baju Ayah kekecilan, tapi tidak ada lagi bajunya. Tapi coba nanti aku pilih yang kira-kira cukup kau pakai,” ucap Ara, sambil membuka celananya Jack.
Hampir saja Ara berteriak kaget dan langsung mundur, ada yang berbeda dibalik celana itu. Karena tidak biasanya bagian itu berubah ukuran dan sudah siap buang air, tentu saja dia tidak perlu bersiul lagi.
“Jack sepertinya kau ingin buang air dari tadi! Aku minta maaf, aku tidur nyenyak jadi tidak segera memandikanmu,” ucap Ara, lalu kembali berjongkok dengan tangan gemetar melanjutkan melepaskan celananya Jack sambil memejamkan matanya, lalu kembali berdiri.
“Jack, aku tidak perlu bersiul lagi, kau sudah siap buang air,” ucap Ara, membalikkan tubuhnya membelakangi Jack.
Jack menghela nafas sebentar, apa istrinya tidak mengerti kalau hari ini dia sudah sangat begitu menggodanya tadi? Keluhnya dalam hati.
Tapi sekali lagi tidak ada yang bisa Jack lakukan selain membiarkan istrinya megurusnya memandikannya sampai selesai.
Benar saja, baju ayahnya Ara kekecilan, tidak ada kemeja yang muat, terpaka Ara memakaikan sebuah kaos dan itu juga sangat ketat di tubuhnya Jack, untung saja Jack memiliki tubuh atletis jadi dia terlihat sangat manly dengan kaos ketatnya.
“Setiap melihat tubuhmu aku merasa heran bagaimana caranya kau membentuk tubuhmu sebagus itu? Kau pasti sangat bekerja keras,” ucap Ara, mengusap dadanya Jack.
Jack menahan nafasnya, sekarang setiap sentuhan istrinya tarasa sangat menggodanya tapi dia harus menahannya. Tapi rasa kecewanya terobati saat sebuah ciuman mendarat di pipinya, sungguh membuatnya sangat bahagia.
“Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan,” ucap Ara, menatap Jack.
“Jalan-jalan,” ulang Jack.
“Iya, kau ingat kapan pertama kali kita bertemu?” tanya Ara.
Jack ingat dia bertemu dengan Ara diparkiran sebuah café yang sering dikunjunginya saat dia masih kecil dengan Arum.
“Kita beli eskirm kesukaanmu, kau mau?” tanya Ara lagi.
Mendengarnya membuat Jack merasa senang, dia sudah lama tidak membeli eskrim itu, meskipun sebenarnya eskirm itu malah mengingatkannya pada Arum.
“Ayo kita sarapan,” ajak Ara, menarik tangan Jack keluar dari kamarnya.
Di rumahnya Jack…
Pak Beni menuruni tangga membawa sebuah koper baju, bersamaan dengan Ny. Inez yang sudah menyelesaikan sarapannya dengan suaminya.
“Jack tidak ikut sarapan, kenapa?” tanya Ny.Inez pada Pak Beni.
“Tuan bermalam di rumah mertuanya,” jawab Pak Beni.
“Apa? Bermalam di rumah mertuanya?” tanya Ny. Inez terkejut.
“Benar Nyonya, ini saya akan mengantarkan pakaian ganti buat Tuan,” jawab Pak Beni, sampai ditangga bawah dan menarik kopernya.
“Tidak, tidak, aku tidak setuju Jack tinggal disana, suruh dia pulang!” kata Ny. Inez, lalu menoleh pada suaminya.
“Katakan pada Jack dia harus pulang,” ujarTn. Ferdi.
“Jack tidak boleh tinggal berlama-lama disana,” lanjut Ny.Inez.
“Memangnya kenapa?” tanya Pak Beni.
“Suamiku akan mempertemukannya dengan Arum, jangan sampai Jack betah tinggal disana,” jawab Ny.Inez.
“Bertemu dengan Arum? Apa Arum benar-benar masih hidup?” tanya Pak Beni.
“Kau tidak perlu cerewet, pokoknya Jack harus pulang kesini,” jawab Tn Ferdi.
“Dan ingat tidak perlu membawa wanita itu lagi!” lanjut Tn. Ferdi.
“Tapi Nyonya Ara masih istrinya Tuan!” kata Pak Beni.
“Itu karena Jack belum melihat Arum, lain cerita kalau dia sudah bertemu dengan Arum. Pokoknya bawa Jack pulang!” kata Tn. Ferdi.
“Bagaimana kalau Tuan tidak mau pulang?” tanya Pak Beni.
“Paksa dia, buat apa dia tinggal dirumah kecil itu? Suruh pulang!” jawab Ny.Inez, dengan ketus.
Sebenarnya Pak Beni masih bingung, apa benar Arum masih hidup? Sungguh aneh. Bagaimana ceritanya tiba-tiba Arum masih hidup? Kalau Arum masih hidup bagaimana dengan Tn. Constantine? Apa Tn.Constantine juga masih hidup?
“Apa lagi? Cepat pergi! Bawa Jack pulang!” kata Ny.Inez, kesal melihat Pak Beni diam saja.
“Baik Nyonya, saya berangkat,” ucap Pak Beni lalu beranjak meninggalkan ruangan itu.
Ny.Inez menatap kepergiannya Pak Beni lalu menoleh pada suaminya.
“Sayang, kau belum cerita soal Arum, katakan padaku apa benar Arum masih hidup? Apa Imelda sudah tahu soal ini? Waktu itu Ara pernah mengatakan kalau mereka bertemu dengan Imelda di café kan? Imelda marah pada Jack karena kehilangan putrinya. Itu artinya Imelda tidak tahu kalau Arum masih hidup. Terus kenapa kau tiba-tiba ingin mepertemukan Jack dengan Arum? Maksudnya apa? Tolong jelaskan padaku, aku tidak mengerti,” ucap Ny. Inez kebingungan.
“Sudahlah kau diam saja, nanti juga kau akan tahu, yang penting Jack pulang saja, kita masih butuh dia. Kau jangan lupa, kau mempunyai kuasa kekayaannya Jack hanya limit tertentu, sangat tanggung, “ ujar Tn.Ferdi.
“Jack itu gila, percuma dia mempunya kakayaan banyak buat apa? Daripada kekayaannya Jack dikuasai oleh wanita itu? Kita butuh istri Jack yang berpihak pada kita,” ucap Tn. Ferdi.
“Iya kau benar, tapi Jack mencintai istrinya,” ucap Ny.Inez.
“Kau mulai lagi memikirkan perasaan Jack. Orang gila mana mengerti soal cinta? Dia gila karena Arum kan? Kalau Arum ada tentu saja dia akan memilih Arum, itu lebih baik daripada wanita itu yang bikin masalah. Gara-gara wanita itu gerak gerik di rumah ini dipantau polisi,” keluh Tn. Ferdi.
“Ya kita lihat saja bagaimana reaksi Jack kalau bertemu Arum. Seharusnya kau menjelaskan padaku soal Arum, membuatku tidak mengerti,” ucap Ny. Inez.
“Ada beberapa hal yang harus aku fikirkan,” kata Tn.Ferdi, lalu beranjak.
“Apa Imelda tahu kalau Arum masih hidup?” teriak Ny. Inez pada suaminya yang sudah melangkah jauh.
“Sudah! Arum sedang bersamanya,” jawab Tn.Ferdi.
Ny. Inez pun terkejut, jadi Arum benar-benar masih hidup dan sudah bersama Imelda? Kenapa suaminya merahasiakan semua ini? Sepertinya dia harus menemui Imelda, di ingin bertemu Arum. Apa gadis itu benar-benar Arum atau gadis yang disewa suaminya untuk pura-pura jadi Arum? Kenapa suaminya tidak mau jujur padanya?
****
Jack menyantap makanan yang dimasak oleh Ibunya Ara. Dia merasa senang ternyata masakan itu terasa sangat enak dimulutnya, meskipun masakannya sangat berbeda dengan yang biasa dia makan di Perancis.
“Kau senang masakan ibuku?” tanya Ara.
Jack tidak menjawab, dia hanya makan saja.
“Sepertinya kau menyukainya,” ucap Ara lagi, sambil melap bibirnya Jack dengan tisu karena ada beberapa makanan yang menempel di bibirnya.
Ibunya Ara memperhatikan cara putrinya mengurus Jack. Dia bisa melihat putrinya memang menyayangi pria itu padahal pria itu depresi, tapi mau bagaimana lagi? Apalagi mereka juga sudah sering berhubungan suami istri kalau Ara hamil tentu saja bayinya harus ada ayahnya.
“Kalian lanjutkan makannya, Ibu mau mencuci,” ucap Ibunya Ara sambil beranjak meninggalkan meja makan.
“Iya Bu, setelah makan kita akan keluar Bu,” jawab Ara.
“Kalian mau kemana?” tanya Ibunya Ara.
“Aku mau mengajak Jack ke café yang dulu pertama kali bertemu Jack,” jawab Ara.
“Iya, “ jawab Ibunya lalu keluar dari ruangan itu.
Ara kembali menoleh pada Jack, dia melihat Jack menghabiskan makannya. Diapun tersenysum.
“Aku senang kau menyukai masakan ibuku, padahal masakan ini pasti sangat asing buatmu,” kata Ara, menatap suaminya.
“Aku menyayangimu, Jack,” ucap Ara lagi, membuat Jack menghentikan makannya.
“Aku masih berharap suatu saat kalau kau sembuh dan menyadari kalau aku adalah istrimu kau juga akan menyayangiku,” ucap Ara.
Ucapan Ara membuat Jack menoleh dan balas menatap istrinya.
“Tentu saja, tentu saja aku akan menyayangimu,” ucap Jack dalam hati, ungkapan yang ingin dia ucapkan tapi hanya bisa dalam hatinya saja.
***********