
Ara menatap cermin didepannya, melihat perutnya yang semakin membesar kemudian mengusapnya perlahan. Usia kehamilannya sudah 3 bulan lebih masuk bulan ke 4, dia sudah mulai merasakan ada denyut-denyut di perutnya meskipun belum kencang.
“Sayang, maafkan Ibu karena tidak bisa memberikanmu kasih sayang dari Ayahmu dari sejak kau mulai tumbuh diperut Ibu,” ucapnya sambil kembali mengusap perutnya. Seandainya ada Jack, tentu suaminya itu yang akan lebih sering mengusap bayi yang ada diperutnya.
Ditatapnya cermin itu, tubuhnya juga terlihat berubah sudah lebih gemuk dengan kehamilannya.
“Jack, kau lihat aku sekarang, tubuhku semakin gemuk,” ucapnya.
Kemudian Ara melangkahkan kaki menuju foto pernikahan yang di dinding itu. Menatap suaminya tercinta.
“Jack aku akan datang ke lokasi penyambutan pasukanmu, meskipun kau tidak ada diantara mereka. Karena aku meninggalkan harapan disana, setelah itu aku akan pulang. Aku tidak mau melahirkan sendirian disini,” ucapnya, mengajak foto itu bicara.
“Aku tidak mau melihat putra-putri kita bermain dekat airmancur itu sendirian tanpa kau menemaninya. Tidak Jack, aku tidak mengharapkan itu!” ucap Ara lagi, menghela nafas sebentar.
“Meski aku tidak tahu kau dimana, aku dan bayimu akan selalu menunggumu pulang,” ucapnya, dengan dada yang mulai sesak, tidak bosan-bosannya menatap foto itu, karena hanya itu yang membuatnya merasa ada harapan Jack mendengar apa yang diucapkannya.
*************
Jack menatap senjata api yang mengarah padanya. Satu tembakan saja akan langsung menghilangkan nyawanya. Bayangan istrinya yang tersenyum saat menyambutnya pulang muncul dalam benaknya, senyum yang mungkin tidak akan pernah dillihatnya lagi.
Kemudian muncul lagi sosok istrinya menyambutnya dalam keadaan perut membuncit.
“Akhirnya kau pulang juga! Aku dan bayimu lelah menunggumu dari tadi,” ucap Ara sambil tersenyum.
Bayangan hayalannya, tinggal dirumahnya di Paris dengan kedua anaknya yang bermain di taman dekat air mancur itu seketika bermunculan dalam gerak yang lambat.
Putrinya itu menangis. Jack menghampirinya lalu menggendongnya sambil terus menghiburnya dan mencium pipinya yang lucu.
“Sayang, jangan ganggu Ayahmu!” terdengar suara istrinya yang menghampirinya. Istrinya mengambil putrinya itu, menggendongnya dan juga menuntun putranya menjauh meninggalkannya yang berdiri dekat airmancur itu.
“Katakakan selamat tinggal pada Ayahmu!” kata istrinya, terus berjalan menjauh sambil menoleh padanya dan tersenyum.
Putra dan putrinya melakukan hal yang sama melambaikan tangannya.
“Dadah..Ayah..” putra dan putrinya menoleh padanya dan melambaikan tangannya, menjauh, dia hanya bisa diam melihat mereka.
Bayangannya berganti pada soso ayahnya yang baru pulang bertugas.
“Jack! Ayah pulang!” seru Ayahnya, berjongkok di depannya dan memakaikan topinya di kepalanya yang kecil.
“Ayah bawakan Jendralmu!” kata Ayahnya lagi, menunjukkan kotak mainan miniatur prajurit itu.
Mata Jack berkaca-kaca, rasa sesak didadanya menyeruak, bayangan orang orang yang dicintainya bermunculan juga impian-impiannya. Ini adalah detik detik terakhir hidup dan matinya. Harapannya untuk lolos dari mautnya itu sudah tidak ada. Tidak, dia tidak ingin itu terjadi.
Jack mengerjapkan matanya saat mendengar suara.
Truk! Suara tongkat pria itu. Matanya menatap kaki tiga itu, seketika terlintas sesuatu dibenaknya. Ini yang terahir, yang terakhir, jika beruntung dia hidup jika tidak, dia mati.
Pria didepannya tersenyum, senjata mengarah ke kepalanya Jack, “Selamaat tinggal Jendral!” ucapnya, lalu melepaskan tembakannya.
Tapi sebelum itu terjadi, sebelum peluru itu menembus ke kepalanya Jack. kaki Jack menendang kursi yang ada di dekat kakinya sekuat tenaga, satu kali hentakan terlempar ke arah Tn.Ferdi, yang tidak berdiri dengan satu tangan memegang tongkatnya.
Brakkk! Dor!
Kursi menghantam tongkatnya Tn Ferdi, selain terkejut, dia juga langsung kehilangan keseimbangannya saat tongkatnya terlepas. Tembakan meletus sembarang, dan senjatanya itu terlepas dari tangannya saat tangannya harus meraih tongkatnya yang terlepas. Tapi tongkat itu keburu jatuh ke lantai membuatnya tidak bisa manahan keseimbangan tubuhnya yang akhirnya ikut terjatuh ke lantai.
Brugh!
Tn.Ferdi terkejut melihat senjatanya terlepas dari tangannya. Diapun menggeser tubuhnya mencoba mengambil senjata yang ada di lantai itu tapi sebelum dia berhasil mengambilnya, tubuh Jack sudah berguling-guling dilantai mengambil senjata itu dengan posisi tangan yang masih terikat ke belakang, selintas sulit melakukan itu tapi karena dia sudah terlatih untuk segala macam kondisi.
Dalam keadaan tangan terikat kebelakang, dan tubuh berbaring di lantai, kedua tangan Jack memegang erat senjata itu dan langsung menembakkan senjata itu menurut instingnya saja, dengan cepat berkali-kali. Sebuah serangan tembakan yang sangat darurat.
Dor! Dor! Dor! Beberapa kali letusan terdengar begitu cepat.
Jack menembakkan senjata itu tanpa tahu pasti target yang ditujunya, karena senjata itu ada dibelakang punggungnya, apalagi dengan posisi tubuhnya berbaring di lantai. Dia hanya tahu Tn.Ferdi juga berbaring dilantai tidak jauh darinya.
Klek! Klek! Jack mencoba menembakkan lagi senjatanya ternyata pelurunya sudah habis.
Setelah itu hening…tidak ada yang bersuara lagi.
Jack mencoba mengecek senjatanya, dan memang tidak mengeluarkan tembakan apapun.. berarti memang pelurunya sudah habis.
“Tuan! Tuan!”
Jack mendengar suara pria memanggil yang pasti bukan untuk memanggilnya.
Dengan keringat yang mengucur ditubuhnya, Jack berusaha bangun dan duduk dengan susah payah sambil membalikkan tubuhnya. Dia terkejut saat matanya melihat pria itu. Pria itu sudah bersimbah darah dilantai.
Jackpun terdiam, menatap ayah tirinya itu sudah tidak bernyawa. Tembakannya membuang peluru ternyata mengenai pria itu. Sungguh sesuatu yang tidak dia duga.
“Dia sudah mati!” kata pria yang menyentuh tubuh Tn.Ferdi, lalu menoleh pada temannya. Kemudian mereka menoleh pada Jack.
“Jangan buang-buang waktu membunuhku karena dia sudah mati dan tidak akan bisa membayar kalian!” kata Jack.
Merekapun diam, apa yang dikatakan Jendral itu benar, yang membayar mereka sudah mati tertembak. Tidak ada gunanya juga membunuh Jendral itu kalau ketahuan mereka malah akan dihukum berat.
Jack menghela nafas panjang. Melihat lagi tubuh ayah tirinya itu. Dia sama sekali tidak berniat membunuhnya, tapi kalau dia tidak melakukan itu, maka dia yang akan mati. Semua karena keberuntungan sedang berpihak padanya.
Jack menoleh kearah pintu. Diapun beringsut perlahan mencoba keluar dari ruangan itu, meninggalkan tubuhnya Tn.Ferdi yang sudah tidak bernyawa.
**********
Hari ini adalah hari penyambutan kembalinya pasukan GIGN ke Perancis.
Ara sudah bersiap-siap untuk pergi. Paman Favier sudah menungguinya dibawah. Sebelum keluar kamarnya dia menatap foto pernikahanya itu. Setiap kali melewatinya setiap kali dia menatapnya. Diapun tersenyum.
“Aku akan menghadiri penyambutan kepulangan pasukanmu Jack, meski kau tidak akan datang, aku akan tetap datang,” ucapnya.
Dia harus tegar menyaksikan suaminya tidak ada diantara mereka.
Tidak pernah puas menatap wajah suaminya itu. Hanya itu yang bisa dilakukannya untuk selalu merasakan kehadirannya. Dia akan hadir ke acara itu meskipun dia tahu Jack tidak akan datang, setidaknya dia bisa melihat tempat dimana seharusnya suaminya pulang. Setelah itu dia akan kembali pulang, meskipun hanya berdua dengan bayi dalam kandungannya.
Ara menghela nafas panjang lalu keluar dari ruangan itu. Paman Favier sudah menunggunya.
“Apa kau sudah siap?” tanya Paman Favier.
Ara mengangguk. Merekapun keluar diikuti oleh Pak Beni.
Ara merasa perjalanan terasa begitu lama dan jalan itu terasa begitu panjang seakan tidak ada ujungnya. Hatinya yang hampa mengisi hari-harinya sekarang.
Hingga sampailah mereka di lapangan terbang yang sangat luas. Lapangan terbang militer.
Ara melihat ke sekeliling, ternyata begitu banyak mobil terpakir penuh, para pria-pria berseragam sudah berbaris membentuk barisannya. Dilihatnya juga banyak wanita-wanita dengan membawa anak-anaknya yang kecil dan remaja, berdatangan dengan suka cita. Mungkin mereka adalah keluarga para prajurit yang akan datang.
Hati Ara semakin tersayat melihatnya. Mereka datang untuk menyambut kedatangan suami juga ayah dari anak-naknya, sedangkan dirinya datang hanya untuk melihat bayangan suaminya diantara para prajurit itu yang datang.
Ingin rasanya dia menangis tapi tidak, dia berjanji untuk tegar, tegar menerima kepahitan yang dia dapatkan.
Paman Favier tampak berbicara dengan seseorang yang sepertinya berpangkat tinggi, karena pakaiannya berbeda dengan prajurit yang lain.
Pria itu bersama Paman Favoer menghampiri Ara.
“Senang bertemu denganmu Ny.Delmar, kami mohon maaf suamimu tidak bisa pulang sekarang, tapi kami sedang berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan suamimu,”kata pria itu.
Ara hanya bisa mengangguk, mulutnya terkunci tidak bisa bicara apa-apa atau dia akan menangis karenanya.
Tidak berapa lama acarapun dimulai. Ara berada di barisan wanita-wanita yang bersuka cita itu dengan anak-anak mereka. Dia hanya tersenyum saja disaat ada yang menyapanya, apalagi dia tidak bisa bahasa Perancis jadi dia tidak mengerti apa yang mereka ucapkan.
Dia tidak terlalu menyimak pada acara itu. Dia hanya melamun dan merenung, merindukan suaminya, hanya sesekali mengusap perutnya yang membuncit.
Terdengar suara di micropon dalam bahasa Perancis entah apa artinya, Ara tidak tahu. Hanya saja dia melihat dari kejauhan sebuah pesawat terbang rendah mengeluarkan suaranya yang bising.
Ara bisa melihar reaksi wajah-wajah penuh suka cita yang ada di lapangan itu. Tidak dengan dirinya, karena dia tahu Jack tidak ada diantara prajurit yang ada di pesawat itu. Disaat yang lain begitu antusias melihat pesawat mendarat di kejauhan, dia hanya berdiri menatap pesawat itu.
Saat pesawat itu berhenti dan membuka pintunya, rasa antusias semakin terlihat dari wajah mereka. Wanita-wanita dan anak-anaknya berlarian menuju pesawat itu saat dari pintu pesawat bermuculan para prajurit menuruni tangga.
Teriakan, panggilan, terdengar begitu ramai. Para prajurit yang melihat kehadiaran anak istrinya langsung mempercepat jalannya supaya cepat sampai menemui keluarganya.
Para wanita-wanita itu berhamburan bersama anak-anak mereka saat melihat suami juga ayah dari anak-anaknya terlihat. Mereka saling berpelukan dan mencium, juga menggendong anak-anak mereka, melepaskan rasa rindu mereka. Mereka sangat bahagia.
Arapun berjalan mendekati ramainya kerumunan. Menatap setiap prajurit yang keluar dari pesawat itu. Apakah Jack ada diantara mereka? Dan jawabannya adalah tidak, pria itu tidak ada diantara mereka. Hatinya terasa begitu sedih, menundukan kepalanya menahan tangis yang seketika ingin tumpah.
Sampai seluruh prajurit itu habis turun semua dan pintu pesawat kembali menutup. Ara hanya berdiri mematung menatap pesawat itu. Suaminya tidak ada dipesawat itu, suaminya tertinggal di negara orang, entah bagaimana nasibnya.
Terasa ada yang menepuk bahunya, membuatnya menoleh.
“Kuatkan hatimu, Nak,” ucap Paman Favier.
Ara menatap Paman Favier lalu mengangguk.
“Semua prajurit sudah turun, apa kau tidak akan pulang?” tanya Paman Favier.
“Iya, aku akan pulang, aku akan meninggalkan Paris, aku akan tinggal bersama keluargaku, dan aku akan menunggu Jack disana,” ucap Ara.
Paman Favier menatap wajah istrinya Jack itu, dia mengerti bagaimana perasaannya.
Paman Favier memeluk bahunya Ara mengajaknya pulang.
***********