Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-96 Semakin teringat Arum


Jack sangat gelisah, bayangan Arum kecil bermunculan di benaknya. Perasaan bersalah itu kembali menyelimuti hatinya. Arum kecil yang lucu dan manis, anak perempuan sekecil itu tenggelam terbawa arus laut sungguh sangat ketir membayangkan tragedi itu.


Tahi lalat dirambut belakang Ara membangkitkan rasa kehilangannya pada Arum. Jack berharap Arum masih hidup dimanapun dia berada. Arum yang berada dirumahnya Ny. Imelda memiliki beberapa bagian bentuk wajah yang mirip Arum, tapi hatinya tidak merasa ada ikatan kuat pada gadis itu, apalagi gadis itu ditemukan oleh ayah tirinya. Ayah tirinya bisa melakukan apa saja untuk menjalankan rencana busuknya.


“Tuan, kau baik-baik saja?” tanya Pak Beni, tiba-tiba sudah berdiri dekat Jack. Dia baru selesai melakukan pembayaran


Jack tidak menjawab, dia menoleh pada Ara yang masih mematut dirinya di cermin sambil tersenyum terus mengembang dibibirnya. Ini adalah hadiah pertama dari Jack, dia sangat senang, selain bunga tentunya.


Jack awalnya mengajak Ara jalan-jalan supaya istrinya senang tapi malah hatinya merasa gelisah gara-gara melihat tahi lalat di bagian rambut belakang Ara.


“Sepertinya aku tidak baik-baik saja,” jawab Jack.


“Apa kita perlu ke Dokter Mia?” tanya Pak Beni, menatap wajahnya Jack.


“Tidak, aku berjanji pada istriku untuk mengajaknya jalan-jalan,” jawab Jack. Matanya menoleh pada Ara yang menghampirinya.


“Jack, apa aku boleh langsung memakainya? Aku terlihat cantikkan dengan dengan kalung ini?” tanya Ara, lebay, lalu diapun terdiam,kenapa dia berusaha bermanis-manais pada Jack?


“Cantik,” jawab Jack, dia merasa senang istrinya terlihat bahagia dengan memakai kalung itu.


Pak Beni menatap Tuannya sebentar, dia tahu Tuannya tidak baik-baik saja. Dia berencana untuk membawa Tuannya menemui Dokter Mia sepulangnya jalan-jalan.


“Jack, kita akan kemana lagi?” tanya Ara.


“Es krim,” jawab Jack.


Sebenarnya tadinya Jack ingin membawa Ara ke tempat butiq untuk membelikannya pakaian dan sepatu, tapi entah kenapa karena dia teringat terus pada Arum dia memilih membeli eskrim saja.


“Ke café itu?” tanya Ara.


Jack tidak menjawab, hanya menatapnya.


Ara kembali meninggalkan Jack, berjalan menuju Cermin, dia melihat kalungnya lagi, sungguh bahagia hatinya hari ini. Jack memberikan hadiah untuknya, bukan Jack tapi Jendral Jack Delmar, Jendral itu memberikannya kalung.


Jack menoleh pada Pak Beni.


“Pak Beni, tolong buatkan ATM untuk istriku. Aku tidak mau dia bersusah payah bekerja karena kekurangan uang,” kata Jack.


“Baik Tuan, akan saya kerjakan,” jawab Pak Beni, langsung saja mengeluarkan ponselnya, pergi menjauh, menelpon pengacaranya Jack.


“Jack, ayo kita pergi!” seru Ara kembali menghampiri Jack. Tangan pria itu langsung meraih tangannya, menuntunnya meninggalkan toko perhiasan itu.


Dua orang yang mengintai mereka dari tadi melakukan panggilan telpon.


“Tuan, mereka akan pergi,” kata pria itu.


“Ikuti terus,” jawab pria yang disebrang itu.


“Baik, Tuan,” jawab pria itu lalu telponpun ditutup. Merekapun bergegas mengikuti Jack lagi.


Sepanjang jalan Jack terlihat sangat diam, meskipun biasanya dia diam, tapi diamnya sekarang agak berbeda.


“Ini hadiah pertama darimu kan Jack,” ucap Ara, kembali menyentuh kalungnya.


Bukan karena kalungnya yang membuatnya bahagia, tapi karena Jack yang memberikannya. Jack melamarnya dengan banyak perhiasan, tapi di berikan hadiah khusus seperti ini rasanya terasa lain.


Jack melihat lagi spion mobilnya, dia bisa melihat mobil hitam itu terus mengikutinya. Tapi dia masih bisa tenang dan tidak mengatakan apapun pada Pak Beni maupun supir.


Sampailah mereka di café eskrim itu.


Seperti biasa Pak Beni langsung bicara dengan pelayan dan mereka langsung mendapat tempat yang biasa Jack tempati.


Pelayan menyimpan eskrim diatas meja.  Yang coklat untuk Jack, yang strawberry untuk Ara.


Jack mengambil sendok yang ada di samping mangkuk eskrim itu. Dilihatnya Ara langsung tersenyum senang melihat eskrim itu. Tangannya langsung saja mengambil sendok dan makan eskrimnya dengan lahap.


Jack tertegun melihatnya. Sikap semangatnya Ara itu kembali mengingatkannya pada Arum yang memang senang makan eskrim strawberry. Ah tidak, kenapa dia terus dibayang-bayangi oleh Arum kecilnya? Sampai-sampai melihat apa yang dikerjakan istrinya seperti Arum. Tidak, jangan begitu Jack, istrimu sangat cemburu kalau kau mengingat Arum terus.


“Aku mengerti kenapa kau suka makan eskrim disini, ternyata memang eskrimnya sangat enak. Aku juga sesekali suka mampir kesini dengan temanku tapi tidak untuk makan eskrim. Tapi sejak kau membelikanku eskrim, aku baru tahu kalau eskrimnya sangat enak. Kalau aku tahu dari dulu pasti aku memesan eskrim terus,” ucap Ara bersemangat sambil makan eskrim, sampai beberapa tetes menempel dibibirnya.


Jack mengambil tisue, mengurlurkan tangannya melap eskrim yang menempel di bibir istrinya. Tentu saja, tentu saja, dia akan selalu membelikannya eskrim itu jika istrinya memang menyukainya.


“Belepotan ya? Maaf,” ucap Ara, sambil mengambil tisu ditangannya Jack. Pria itu begitu perhatian padanya membuatnya lagi-lagi merasa gugup.


Jack menatap Ara yang kembali makan eskrimnya dengan semangat, Arum juga sangat senang makan eskrim itu, dia sangat ceria saat makan eskrim. Lagi-lagi kenapa Arum terbersit di kepalanya?


“Jack kenapa kau tidak makan eskrimmu?” tanya Ara pada Jack.


Jack baru sadar kalau dia dari tadi hanya menatap istrinya terus, dilihatnya eskrim yang ada dimangkuknya. Ternyata isrinya sedang menyiukkan satu sendok untuknya lalu menyodorkan ke mulutnya. Jack langsung membuka mulutnya makan eskrim itu.


“Aku mau ke toilet dulu sebentar,” lanjut Ara, lalu bangun dari duduknya,  meninggalkan  Jack sendirian.


Jack menoleh pada Pak Beni, yang segera menghampirinya.


“Ada apa Tuan?” tanya Pak Beni.


“Sepertinya aku tidak baik-baik saja,” jawab Jack.


“Tuan ingin ke Dokter?” tanya Pak Beni.


Jack mengangguk.


“Kenapa Tuan? Ada sesuatu yang terjadi?” tanya Pak Beni.


“Istriku mengingatkanku pada Arum, bisakah kau cari tahu apa istriku benar-benar anaknya Pak Amril?” kata Jack, membuat Pak Beni terkejut.


“Tuan ini bicara apa?” tanya Pak Beni.


“Aku sepertinya sudah gila, istriku mengingatkanku pada Arum, aku harus ke Dokter,” ucap Jack, sambil menggelengkan kepalanya.


“Tuan tidak percaya kalau Arum yang ada di rumahnya Ny.Imelda itu Arum?”tanya Pak Beni.


“Dia bisa berenang, dia bukan Arum,” jawab Jack.


“Tapi bisa saja dia belajar berenang saat tinggal di pantai,” kata Pak Beni.


“Tidak, Arum tidak suka air, dia hanya suka main pasir saja. Gadis itu juga tidak suka eskrim, dia bukan Arum,” jawab Jack, membuat Pak Beni termenung, lalu bicara lagi.


“Ada sesuatu yang terjadi pada istri Tuan?” tanya Pak Beni.


“Entahlah, apa aku sudah gila? Aku ingin tahu apakah istriku putrinya Pak Amril atau bukan?” jawab Jack lagi.


“Baik akan saya kerjakan,” kata Pak Beni.


“Kau bisa kan mencari tahu dimana Ara lahir dan sebagainya,” ujar Jack.


“Tapi ah tidak, tidak usah, kenapa aku berfikir yang aneh-aneh? Aku benar-benar perlu ke Dokter! Arum sudah meninggal! Tidak mungkin gadis sekecil itu bisa lolos dari arus laut itu,” ucap Jack lagi, dengan getir.


Pak Benipun diam, dia merasa kasihan Tuannya kembali teringat kejadian itu.


“Apa ada yang terjadi Tuan?” tanya Pak Beni.


“Aku hanya melihat tahi lalat dirambut belakangnya istriku, mengingatkanku pada Arum. Pemikiran yang tidak masuk akal, aku terlalu terbawa perasaan,” jawab Jack.


“Meskipun tidak masuk akal, jika Tuan merasa ingin memastikan itu tidak masalah, daripada Tuan merasa gelisah,” kata Pak Beni, membuat Jack diam.


“Aku akan mencari tahu identitas Nyonya,” jawab Pak Beni, diapun mengeluarkan ponselnya tapi Jack memegang tangannya membuat Pak Beni menoleh.


“Kenapa aku merasa takut?” tanya Jack.


“Takut apa?” tanya Pak Beni, menghentikan tangannya yang akan menelpon seseorang.


“Aku takut istriku adalah Arum meskipun mustahil, tapi aku takut saja, apakah dia akan memaafkanku? Apakah dia tidak ingat padaku?” jawab Jack.


Pak Benipun diam, dia tidak tahu apa kemungkinan itu ada?


“Aku takut dia berubah membenciku,” lanjut Jack, menunduk menatap eskrimnya.


“Aku sangat menyayanginya, aku tidak mau menyakitinya. Sudahlah Pak Beni tidak usah mencari tahu identitas istriku, biarkan saja, mungkin aku terlalu lelah dan berhalusinasi,” kata Jack lagi dengan bingung.


“Tidak Tuan, lebih baik dipastikan daripada Tuan gelisah. Kalau kenyataannya Nyonya itu Arum atau bukan tapi yang penting Tuan sudah tahu. Meskipun mustahil juga tidak masalah, saya akan menyuruh orang untuk mencari data datanya keluarga Pak Amril,” ujar Pak Beni.


Jackpun diam. Dibiarkannya Pak Beni kembali menelpon seseorang.


“Aku butuh data apakah Arasi Mayang putri kandungnya Pak Amril? Secepatnya!” perintah  Beni pada orang itu.


Dihalaman pakir, orang-orang yang mengikuti Jack itu kembali menelpon Tuannya.


“Tuan mereka sedang makan eskrim disebuah café. Apa kita perlu masuk?” tanya pria itu, melihat Jack dibalik kaca cafe, lalu diam mendengarkan suara disebrang telpon.


“Baik, jadi selanjutnya apa yang harus kita lakukan?” tanya pria itu lagi.


“Kalian hanya ikuti saja,” jawab pria di sebrang, yang tiada lain Tuan Ferdi.


Tidak, saat ini dia tidak bisa melakukan apa-apa pada Jack. Dia harus membuat rencana dengan matang untuk melenyapkan Jack, jangan sampai ada yang curiga kalau dia yang melenyapkannya, terutama istrinya, ibunya Jack tidak boleh tahu.


**********