
Jack keluar dari ruang bersalin, Bibi langsung menghampirinya.
“Bagaimana Nyonya Tuan?” tanya Bibi, saat Jack keluar dari ruangan itu.
“Sudah melahirkan, bayinya perempuan, sangat cantik,” jawab Jack, lalu menoleh pada Galand dan mendekatkan wajahnya pada putranya itu.
“Adek sudah lahir, perempuan, cantik, kau punya teman main perang-perangan,” kata Jack.
“Perang-perangan untuk anak laki-laki Tuan,” kata Bibi.
“Oh iya, perempuan tidak suka perang-perangan, tapi tidak apalah, nanti kau akan punya adik bayi lagi laki-laki, kau senang?” tanya Jack pada Galand.
“Dua!”kata Galand.
“Dua? Kau mau dua? Benar ditambah prajurit dua lagi akan lebih seru main perang-perangannya,” kata Jack pada putranya, sambil tersenyum.
“Ayah mencari nama dulu buat adik cantik, oke?” ucap Jack, lalu duduk di kursi ruang tunggu sambil membuka ponselnya, mencari nama untuk putri cantiknya.
Tidak berapa lama Ara sudah ditempatkan diruang perawatan. Dia sudah bisa duduk dan bersandar di tempat tidur pasien itu.
Bayi ada di box bayi masih memejamkan matanya.
Dia sangat bahagia melihat bayinya yang kedua sudah lahir.
“Kau sudah menelpon Ayah Ibu? Semuanya? Memberitahu kalau bayi kedua kita sudah lahir?” tanya Ara pada Jack yang sedang sibuk duduk di ruang tunggu didalam ruangan itu.
Jack tidak menjawab, dia sibuk dengan ponselnya.
“Jack!” panggail Ara.
“Iya, nanti aku telpon,” jawab Jack, tanpa menoleh.
“Kau sedang apa sih?” tanya Ara.
“Aku sedang mencari nama bayi, aku bingung siapa namanya ya? Dari tadi sudah bolak balik cari belum dapat juga,” jawab Jack.
“Kau ini, bukannya disiapkan dari jauh hari,” ujar Ara.
“Soalnya aku kan tidak tahu bayinya laki-laki atau perempuan, meski sudah USG tetap saja kadang hasilnya bisa berbeda,” jawab Jack.
“Tapi jadi dadakan begini, aku tidak mau ah namanya jelek, kasih nama yang bagus,” ucap Ara.
“Iya makanya mau mencari nama cantik tapi belum ada yang sreg,” jawab Jack.
Perawat masuk keruangan itu.
“Sudah ada namanya Tuan?” tanya perawat itu membawa kertas yang akan dimasukkan kedalam tempat nama di box bayi itu.
“Sebentar aku cari dulu, beri aku waktu beberapa menit lagi,” ucap Jack.
Ara menatap suaminya, lagian suaminya itu aneh-aneh saja, dulu lupa menyiapkan nama, kenapa sekarang lupa lagi?
Jack bangun dari duduknya lalu menghampiri box bayi menatap putrinya.
“Putri kita sangat cantik sayang,” ucapnya menoleh pada Ara yang tersenyum padanya.
“Iya tapi kasihan dia belum kau beri nama,” kata Ara.
“Aku akan memberinya nama Rubi, Rubiena,” jawab Jack, sambil kembali menoleh pada Ara.
“Rubiena?” tanya Ara, menatap suaminya.
“Artinya cahaya permata, karena dia mirip dirimu, kau seperti cahaya yang sudah menerangi hudupku,” jawab Jack.
Mendengar perkataan Jack membuat matanya Ara berkaca-kaca.
Jack langsung menghampirinya, duduk dipinggir tempat tidur itu menghadap Ara, meraih tangan istrinya.
“Kau cahaya hidupku, disaat aku merasa hidupku sepi dalam gelap, kau hadir memberikan cahaya terang dalam hari-hariku dan juga kehangatan dalam hatiku,” jawab Jack, menatap Ara dengan tulus, menatap wajah pucat yang baru melahirkan itu.
“Terima kasih sayang, kau sudah menjadi cahaya dalam hidupku, aku menamakan bayi kita Rubiena, semoga dia juga akan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan keluarga kita,” kata Jack.
Tangannya terulur mengusap airmata yang menetes dipipinya Ara.
“Aku bahagia bersamamu, aku bahagia menikahimu. Tidak ada yang paling membahagiakan selain bersama istri dan anak-anakku,” kata Jack.
Ara sudah tidak bisa berkata-kata lagi, airmatanya langsung tumpah.
“Kau juga suami dan ayah yang baik Jack, aku bahagia bersamamu,” ucap Ara.
Jack mengangguk dan langsung memeluknya dengan erat.
“Aku mencintaimu Jack,” ucap Ara, balas memeluk tubuh pria itu, merasakan hangatnya pelukan suaminya.
“Aku juga mencintaimu. Terimakasih kau sudah memberikan aku anak-anak yang lucu,” kata Jack.
Ara tidak bicara lagi hanya terisak dipelukanya Jack, isak tangis bahagia memiliki suami sebaik Jack, dia sangat bahagia.
“Oh iya sayang,” ucap Jack, teringat sesuatu.
Ara melepaskan pelukannya menatap Jack.
“Apa?” tanya Ara.
“Iya, kenapa?” tanya Ara.
“Anak perempuan kan tidak bisa diajak main peperangan,” jawab Jack.
“Memang apa hubungannya dengan peperangan?” tanya Ara lagi, kebingungan.
“Galand ingin dua saudara laki-laki untuk menemaninya main petang-perangan,” jawab Jack.
“Ha? Jaaack! Aku baru melahirkan kau membicarakan punya bayi lagi? Langsung dua? Kembar begitu?” tanya Ara sambil memberengut.
Jack langsung tertawa dan memeluknya lagi.
“Banyak anak akan ramai nanti di rumah sayang,” ucap Jack.
“Kenapa kau kefikiran punya anak yang banyak?” tanya Ara.
“Karena rumahku sangat besar,” kata Jack.
“Kenapa kau tidak membuat acara saja mengudang anak-anak panti asuhan untuk bermain ditaman di rumah, kita buat tenda-tenda jajanan dan mainan untuk mereka, jadi rumah akan selalu ramai,” usul Ara.
“Kau benar, sepertinya aku akan mendirikan taman bermain yang akan digratiskan untuk anak-ana, terutama anak dari panti asuhan,” kata Jack.
“Iya aku setuju,” jawab Ara.
“Aku akan membuat sejenis taman bermain seperti disney, kau suka tema itu?” tanya Jack menatap Ara.
“Iya,” ucap Ara.
Jack masih menatapnya.
“Kita mengalami masa-masa sulit saat kecil, kita berbagi kebahagiaan untuk anak-anak yang kurang beruntung, supaya mereka bisa menikmati masa kecil mereka dengan bahagia,” kata Jack, mengusap pipi istrinya.
“Iya Jack aku setuju,” jawab Ara.
“Ya, kita akan membuat taman bermain yang paling besar di Paris,” ucap Jack, lalu Jack memeluk Ara lagi, mata mereka tertuju pada putri mereka yang terlelap dalam box.
“Tuan, jadi namanya sudah ada?” tanya perawat,membuat mereka kaget, ternyata dari tadi perawat itu menunggu Jack mencari nama tadi.
“Sudah! Kenapa aku sampai lupa? Namanya Rubiena, cahaya permata,” jawab Jack.
“Baiklah.” Perawat itu mendekati box bayi dan menuliskan nama dikertas yang diselipkan di box bayi.
“Baiklah, cantik, namamu Rubiena, putri Tuan dan Nyonya Jack Delmar,” ucapnya, tersenyum pada bayi itu.
“Apakah aku boleh menggendong bayiku?” tanya Ara.
“Boleh Nyonya, sebentar,” jawab perawat, sambil memasukkan balpoint kesaku bajunya, lalu mengangkat Rubiena dari box bayi itu, kemudian berjalan mendekati Ara dan memberikannya.
Ara menerima bayi itu dengan senang hati, matanya berkaca-kaca, antara sedih, bahagia, terharu, sungguh dia sangat bahagia putri kecilnya sudah lahir kedunia.
“Saya permisi Nyonya,” kata perawat pada Ara.
“Iya,Terimakasih,” ucap Ara.
Perawat itu tersenyum lalu meninggalkan ruangan itu.
“Adik cantik!” kata Galand yag sedang digendong Bibi.
“Adikmu namanya Rubiena, cahaya permata,” ucap Ara menoleh pada putranya.
Jack mengulurkan tangannya mengambil Galand dari tangan Bibi, lalu mendudukkannya dipangkuannya, mereka menatap bayi yang baru lahir itu.
“Dia sangat cantik kan Jack?” tanya Ara menatap suaminya.
“Iya, dia sangat mirip denganmu,” jawab Jack.
“Sepertinya tidak, hidungku tidak semancung itu, ternyata dia mirip denganmu Jack,” ucap Ara.
“Benarkah?” tanya Jack. Ara mengangguk sambil menyentuh pipi bayinya.
Jack juga menatap bayinya itu, dia ikut menyentuh pipinya.
“Selamat datang sayangku,” ucapnya.
Ara tersenyum menatap bayinya, lalu pada suaminya juga pada putranya.
“Apakah keluarga kita sudah lengkap?” tanya Ara.
“Ya, keluarga kita sudah lengkap sempurna,” jawab Jack, tangannya mengusap pipinya Ara. Dia sangat bahagia hari ini.
*********
Readers, bentar lagi kita end ya, tapi aku masih nambah beberapa extrapart.
Tidak perlu nyinyir kepanjangan, bosan, terlalu lama, aku ini cuma penulis remahan, jadi untuk menambah view tuh tidak mudah, banyak perjuangan dan penuh kesabaran.
Yang mau ikut sampai extrapart, terimakasih ya.
*****