Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-133 Kedatangan Ny.Imelda


Keesokan harinya…


Siang itu Tn.Ferdi tampak sibuk menelpon seseorang di ruang kerjanya dalam bahasa Perancis. Berdiri dengan satu tongkat, satu tangannya memegang ponsel dan satu tangannya disandarkan pada meja kerjanya.


“Apa kau tahu kira-kira Jendral Jack Delmar akan ditugasksan kemana?” tanya Tn.Ferdi.


“Tidak Tuan, biasanya untuk tugas pasukan khusus itu sangat rahasia,” jawab suara disebrang dalam bahasa Perancis juga.


“Aku butuh informasi kemana Jendral itu ditugaskan. Aku sudah menyiapkan uang banyak untuk informasi ini. Aku tidak peduli kalau rencana ini akan mengeluarkan uang banyakkarena aku ingin ini adalah pekerjaan yang terakhir kalinya dan semuanya selesai!” kata Tn.Ferdi.


“Baik Tuan, saya mengerti, kalau ada informasi saya akan hubungi Tuan lagi,” jawab suara disebrang, mengakhiri bicaranya, teleponpun ditutup.


“Kau bicara dengan siapa?” tiba-tiba ada suara yang mengagetkan Tn.Ferdi, diapun membalikkan badannya dan ternyata istrinya sudah ada di belakangnya menatapnya tajam. Raut wajah Tn.Ferdi langsung berubah pucat.


“Dengan rekan,” jawab Tn.Ferdi, tidak menyangka istrinya sudah ada di ruang kerjanya.


Ny.Inez masih menatapnya tajam, dia curiga suaminya melakukan sesuatu yang buruk.


“Kenapa?” tanya Tn.Ferdi dengan kesal.


“Tumben sekali kau menelpon dalam bahasa Perancis? Kau menghubungi siapa?” tanya Ny.Inez.


“Kau ini kenapa? Sudah aku katakan dengan rekan bisnisku, memangnya kalau bahasa Perancis kenapa? Teman-teman kita juga banyak orang Perancis, kau fikir cuma Constantine saja yang punya teman di Perancis?” gerutu Tn.Ferdi dengan nada tinggi, menyembunyikan kegugupannya.


Ny.Inez menatap suaminya.


“Kau punya niat buruk pada Jack?” tanyanya, membuat Tn.Ferdi terkejut.


“Kau ini bicara apa? Niat buruk apa?” tanya Tn.Ferdi, masih mengelak.


Ny.Inez berjalan lebih dekat pada suaminya.


“Dengar, jika kau punya niat buruk pada Jack, kali ini aku tidak akan membiarkanmu! Aku tidak akan tinggal diam, aku akan melaporkanmu ke polisi. Sudah cukup kita menyakiti Constantine dan Jack, kita juga menggunakan kekayaannya Jack, aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Jack lagi!” kata Ny.Inez.


Mendengar perkataan istrinya itu tentu saja membuat Tn.Ferdi naik darah.


“Kau mengada-ada! Aku tidak melakukan apa-apa, kenapa kau curiga terus?”gerutu Tn.Ferdi.


Sebenarnya Tn.Ferdi sudah bosan berpura-pura baik pada istrinya, tapi dia juga tidak bisa meluapkan emosinya karena dia masih butuh informasi kemana Jack akan pergi.


“Sudahlah kau jangan berprasangka buruk, sebaiknya kau bantu aku berjalan-jalan di luar, supaya kakiku lebih baik,” kata Tn.Ferdi, mencoba untuk tidak bertengkar dengan istrinya, padahal hatinya sudah menggeremet saja.


Selama ini dia sudah mengikuti kemauan istrinya, kalau tidak, sudah sejak dari kecil Jack dia habisi dan tidak akan menimbulkan masalah seperti ini.  Jangankan kekayaan Constantine jatuh ke tangannya, dirinya malah jadi susah berjalan begini, perusahaan juga diambil alih oleh Jack.


Ny.Inez menghela nafas panjang, dia melihat suaminya pergi keluar dari ruangan itu. Meskipun hatinya merasa curiga tapi suaminya tidak mengakuinya, dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Akhirnya Ny.Inezpun keluar dari ruang kerja itu menyusul  suaminya.


Saat menutup pintu ruang kerja itu, seorang pelayan pria menghampirinya.


“Nyonya!” panggil pelayan itu.


“Ada apa?’ tanya Ny.Inez, menatap pelayan itu.


“Ada Ny.Imelda di bawah,” jawab pelayan itu.


Ny.Inez baru ingat semalam Imelda menelpon ingin bertemu dengannya tapi dia mengatakan kalau dia sudah pulang dari rumah sakit jadinya Imelda datang ke rumah barunya.


“Iya,” jawab Ny.Inez mengangguk, pelayan itupun pergi.


Ny.Inez melihat suaminya sudah menghilang di lantai itu. Diapun segera ke ruang tamu. Saat sampai disana ternyata suaminya ada bersama Ny.Imelda.


“Kau lebih baik?” tanya Ny.Imelda pada Tn.Ferdi.


“Beginilah, aku tidak bisa berjalan dengan normal,” jawab Tn.Ferdi.


“Jack benar-benar hebat bisa membuatmu seperti ini,” kata Ny.Imelda sambil tertawa, membuat Tn.Ferdi memberengut sebal.


Ny.Imelda menoleh pada Ny.Inez.


“Duduklah!” kata Ny.Inez, sambil diapun duduk di sofa ruang tamu diikuti Ny.Imelda.


“Mau apa kau kemari?” tanya Tn.Ferdi, dengan ketus.


Ny.Inez menoleh pada suaminya, tidak suka dengan cara bicara suaminya.


“Dia hanya ingin melihat keadaanmu,” jawab Ny.Inez.


“Melihatku dan menertawakanku?” ucap Tn.Ferdi, masih ketus.


Ny.Imelda malah tertawa lagi tidak menghiraukan reaksi Tn.Ferdi. Diapun menoleh pada Ny.Inez.


“Kau juga dirawat kenapa?” tanya Ny.Inez.


“Kau dirawat? Kapan? Aku tidak tahu,” tanya Tn.Ferdi juga, masih berdiri dengan kedua tongkatnya.


“Kemarin, aku pingsan di café tempat biasa kita nongkrong kalau sudah kesalon,” jawab Ny.Imelda, menatap kedua temannya bergantian.


“Kenapa sampai pingsan?” tanya Ny.Inez.


“Aku hanya terbawa perasaan saja,” jawab Ny.Imelda.


Ny.Inez menoleh pada Tn.Ferdi yang mengerti kalau Ny.Imelda akan curhat pada istrinya diapun melangkah pelan akan meninggalkan ruangan itu.


“Wanita itu, wanita itu mengingatkanku pada putriku, Arum,” kata Ny.Imelda pada Ny.Inez.


“Wanita siapa?” tanya Ny.Inez.


“Istrinya Jack,” jawab Ny.Imelda.


Mendengar kata istrinya Jack, Tn.Ferdi yang sudah berjalan beberapa langkah menghentikan langkahnya dan menajamkan pendengarannya. Dia tertarik dengan topic pembicaraannya Ny.Imelda.


“Kenapa dengan istrinya Jack?” tanya Ny.Inez.


Ny.Inez mengerutkan dahinya.


“Entahlah aku tidak memperhatikannya, hanya saja yang aku tahu Jack itu menikahinya karena dia menyukainya begitu saja. Soal mirip atau tidak aku tidak terlalu memperhatikannya. Jack itu kan depresi, cara berfikirnya dia tidak normal jadi aku tidak terlalu memperdulikannya,” jawab Ny.Inez.


“Jack juga mengatakannya, kalau perilaku istrinya sering mengingatkannya pada Arum, sampai dia menyelidikinya dan ternyata bukan Arum putriku,” kata Ny.Imelda.


“Mungkin memang Arum sudah meninggal, kau iklaskan saja, jangan terus meratapinya,” ujar Ny.Inez, mencoba menghibur temannya.


“Iya, masa lalu yang sangat buruk. Tapi hati kecilku selalu berharap putriku akan ditemukan. Sunguh saat Arum dibawa kerumah aku fikir benar-benar Arum putriku, ternyata suamimu membohongiku!” gerutu Ny.Imelda sambil menoleh pada Tn.Ferdi yang menghentikan jalannya dan berbalik padanya.


“Kau kan tinggal mengusirnya! Bilang saja itu kesalahan tes DNA, lalu beri dia uang, selesai!” seru Tn.Ferdi,  sama sekali tidak merasa bersalah sudah mempermainkan perasaan orang lain.


Ny. Imelda memberengut mendengarnya.


“Kau selalu begitu, tidak memikirkan perasaan orang lain,” gerutu Ny.Imelda lalu menoleh pada Ny.Inez.


“Aku heran kenapa kau menyukai pria seperti itu,” keluh Ny.Imelda.


Ny.Inez tidak menjawab.


“Kenapa istrinya Jack mengingatkanmu pada putrimu? Apa yang di lakukan istrinya Jack itu?” tanya Tn.Ferdi, jadi ingin tahu.


“Ternyata di café itu ada Jack dan istrinya sedang makan es krim.  Istrinya Jack suka es krim strawberry,” jawab Ny. Imelda.


Tn.Ferdi malah tertawa mendengarnya.


“Banyak orang yang suka makan es krim strawberry, kau berlebihan!” gerutu Tn. Ferdi, kembali membalikkan badannya akan keluar dari ruangan itu, kembali melangkah perlahan dengan kedua tongkatnya.


Ny.Imelda menoleh pada Ny.Inez yang sedang menatapnya.


“Bukan karena itu saja, dia makan es krim coklatnya Jack.  Kau ingat kan? Putriku selalu begitu kalau sedang makan es krim sama Jack?” kata Ny.Imelda, membuat Ny.Inez terkejut.


“Benar begitu?” tanya Ny.Inez.


“Iya, dia mengganggu Jack makan es krim cokalatnya. Aku juga sempat bicara dengan Jack, kata Jack dia juga ingat tapi dia sudah menyuruh orang untuk menyelidiki istrinya itu tapi hasilnya dia memang putri orang tuanya,” jawab Ny.Imelda.


“Ya mungkin memang hanya kebetulan saja sikapnya mengingatkanmu pada Arum,” kata Ny.Inez.


“Sebenarnya aku tidak masalah kalau istrinya Jack itu ternyata Arum, siapapun orangnya aku hanya ingin putriku kembali,” ucap Ny.Imelda sambil terisak.


Ny.Inez mengusap tangannya Ny.Imelda.


“Tapi kan tidak mungkin juga, Arum tenggelam di laut di Perancis, mana mungkin tiba-tiba Arum ada di antara kita disini. Kalaupun masuk akal pasti ditemukannya di Perancis. Lagi pula besanku itu juga bekerjanya di ibu kota,” kata Ny.Inez.


Tn.Ferdi yang masih berada diruangan itu terpaku mendengar perkataannya Ny.Imelda itu. Apa dia tidak salah dengar? Imelda merasa sikapnya istrinya Jack itu mengingatkannya pada Arum? Kebetulan sekali? Apa ini? Ada pertanda apa ini?


“Sayang! Panggil Ny.Inez mengagetkan Tn.Ferdi.


“Iya,” jawab Tn.Ferdi sambil menoleh.


“Kau kenapa berdiri disitu saja? Kakimu sakit?” tanya Ny.Inez keheranan karena suaminya hanya diam saja disitu.


“Iya sedikit kram, sekarang sudah tidak lagi,” jawab Tn.Ferdi, lalu pura-pura melangkah lagi tapi telinganya masih di runcingkan.


“Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Ny.Inez.


“Entahlah, sungguh sikap istrinya Jack itu sangat mirip dengan Arum, aku merasa sedih seperti melihat putriku, makanya aku pingsan, aku sangat rindu putriku,” kata Ny.Imelda.


“Tapi kan Jack juga sudah mengatakan kalau istrinya bukan Arum. Jack sangat dekat dengan Arum dia sangat menyayanginya,  dia pasti mengenali Arum, sama halnya ketika bertemu Arum yang ada dirumahmu, dia bersikap acuh saja kan, dia sudah feeling kalau Arum itu bukan Arum teman kecilnya,” ujar Ny. Inez.


“Iya kau benar,” jawab Ny.Imelda.


“Bagaimana kalau nanti kita menemui istrinya Jack?” tanya Ny.Inez.


“Buat apa? Kau baikan dengannya?” tanya Ny.Imelda.


“Istrinya Jack itu baik, dia mau berbaikan denganku, hanya Jack masih tidak mau menerimaku. Siapa tahu kalau aku dekat dengan menantuku, Jack mau memaafkanku,” jawab Ny.Inez.


“Itu tidak ada salahnya. Aku juga ingin mengucapkan terimakasih padanya karena dia dan Jack sudah menolongku di café itu dan membawaku ke rumah sakit,” kata Ny,Imelda.


“Bagaimana kalau aku telpon mengajaknya makan siang sekarang?” tanya Ny.Inez.


“Iya itu lebih baik, aku hanya butuh teman bicara saja,” kata Ny.Imelda.


“Aku akan telpon dulu dia mau atau tidak, sepertinya Jack juga sibuk pergi ke kantornya,” ujar Ny.Inez.


“Iya kau telpon saja. Meskipun ada Arum di rumah tapi aku tahu dia bukan putriku aku merasa biasa saja, aku tetap berharap putri kandungku kembali,” ucap Ny.Imelda.


“Seharusnya tidak begitu, Tidak ada salahnya kau menganggap Arum itu putrimu biar kau tidak kesepian,” kata Ny.Inez.


“Iya,” jawab Ny.Imelda.


Tn.Ferdi melangkahkan kakinya keluar ruangan itu dengan berjuta fikiran menumpuk di kepalanya. Ternyata Istrinya Jack mengingatkan Ny.Imelda pada Arum, bahkan kata Imelda kalau Jack juga tahu soal itu bahkan  sudah menyelidikinya segala, itu artinya istrinya Jack sangat mirip dengan Arum.


Tiba-tiba Tn.Ferdi memukulkan tongkatnya pada kaki kursi yang ada di teras hingga menimbulkan suara berisik.


“Sayang apa itu?” tanya Ny.Inez, berteriak.


“Tidak apa-apa!” jawab Tn.Ferdi juga berteriak.


Wajah pria itu tampak memerah, terlihat sekali dia kecewa dan marah. Semua tidak berjalan sesuai dengan yang direncanakan.


***********


Readers yang sudah dukung Jack dan Ara, dengan like, gift dan tipsnya, terimakasih ya.


Buat readers yang sudah mampir di MMwRM ( Buat Tuti,Chrysti, Biyan,Nartyana, Yaya, Eli, Rifai, Pina, Rike, Tina, Fatiyah, Komeng, Narziha,Handayani dan user-user), maaf aku ga bisa balas komen satu persatu, ternyata disana satu user hanya bisa satu komen saja, aku juga ga faham.


Pokoknya terimakasih atas support kalian semua.


********