
Jack masih berdiri menatap Ibu mertuanya. Dia bisa saja menerobos masuk, tapi itu sangat tidak sopan pasti Ibu mertuanya tambah membencinya, meskipun dia suaminya Ara.
“Ibu mertua tolonglah, aku ingin bertemu Ara, aku harus menjelaskan kesalah fahaman ini, aku sangat mencintainya, aku tidak mungkin berselingkuh,” kata Jack, mencoba meyakinkan mertuanya.
Ibu mertuanya menatap pria tampan itu. Bisa jadi Jack memang tidak berselingkuh, tapi menantunya itu terlalu tampan untuk dibiarkan begitu saja oleh wanita lain, pasti banyak wanita yang menggodanya.
Jack terus memikirkan cara membujuk Ibu mertuanya.
“Ibu mertua, jangan pisahkan aku dengan istriku, bagaimana kalau istriku hamil? Kasihan bayiku! Aku sudah meminum habis jamu darimu, “ kata Jack.
“Apa? Hamil? Ara sedang hamil?” tanya Ibunya Ara, terkejut.
“Ya aku tidak tahu, mungkin saja, masalahnya belakangn ini istriku sangat sentitif, manja dan cemburuan, ” kata Jack, membuat mertuanya terdiam.
“Tanda-tanda ibu hamil memang begitu,” gumam Ibunya Ara, mulai termakan ucapannya Jack.
“Ya seperti itu, dia sering merajuk,” kata Jack, dia merasa senang melihat sikap Ibu mertuanya yang melunak.
“Apa benar begitu?” tanya Ibunya Ara, mulai menurukan kedua tangannya yang bertolak pinggang.
“Iya sepertinya itu, dia suka ngambek-ngambek dan sensitive, aku harus menemuinya,” jawab Jack.
Ibunya Ara menghela nafas panjang.
“Kau benar, mungkin itu bawaan bayi. Kau tahu, jamu itu sangat manjur!” Ibunya Ara mengangguk-anggukan kepalanya, membuat Jack semakin senang melihat bujukannya berhasil.
“Kira-kira kalau seperti itu bayinya laki-laki atau perempuan?” tanya Jack, semakin membuat Ibu mertuanya lupa kalau sedang marah pada menantunya.
“Kalau merepotkan biasanya bayi laki-laki,” jawab Ibunya Ara, benar-benar sudah lupa kalau sedang marah pada Jack.
“Boleh aku menemuinya?” tanya Jack.
Ibunya Ara menatap Jack.
“Aku harus menjelaskan semuanya, aku tidak mau terjadi apa-apa pada bayinya, ibu hamil tidak boleh stress, bukannya begitu Ibu mertua?” kata Jack, kembali membujuk Ibu mertuanya.
“Kau benar, cucuku harus sehat, masuklah!” kata Ibunya Ara, memiringkan tubuhnya,membuat Jack merasa senang dan langsung masuk ke rumah. Tapi kemudian Ibu mertuanya mencegahnya lagi.
“Tunggu, tunggu, tunggu!” cegah Ibunya Ara.
“Kenapa? Aku boleh masuk?” tanya Jack, keheranan.
Ibunya Ara kembali menatap Jack dengan tajam.
“Tapi benar kau tidak selingkuh?” tanya Ibunya Ara.
“Tidak Ibu mertua, aku tidak selingkuh, ini hanya salah faham,”jawab Jack.
“Terus kenapa kau mencium wanita itu?” tanya Ibunya Ara.
“Aku bukan menciumnya, tapi ada yang ingin aku lihat,” jawab Jack.
“Lihat? Lihat apa?” Ibunya Ara semakin tidak mengerti.
Jack tampak berfikir, dia bingung apa harus mengatakan alasannya? Tapi tidak ada cara lain untuk menyelesaikan masalah ini selain jujur.
“Wanita itu Arum, teman kecilku yang tenggelam dilaut, aku ingin memastikan benar tidak dia Arum teman kecilku, atau hanya pura-pura saja. Arum kecil memiliki tahi lalat dirambut bagian belakangnya, diatas tengkuknya. Itu yang ingin aku lihat, bukan untuk menciumnya,” kata Jack. Tangannya menunjuk ke leher bagian belakangnya.
Ibunya Ara sangat terkejut mendengarnya.
“Jadi teman kecilmu memiliki tahi lalat dibagian belakang rambutnya?” tanya Ibunya Ara.
“Iya,” jawab Jack.
Ibunya Arapun diam.
“Hanya itu saja, aku berharap teman kecilku masih hidup tapi aku juga ragu, mungkin dia memang sudah meninggal,” kata Jack.
“Kau benar, bisa jadi wanita itu sengaja mau menggodamu,” ujar Ibunya Ara, memicingkan matanya, dia tidak suka dengan hal hal yang berbau pelakor.
“Entahlah makanya aku harus membuktikannya,” kata Jack.
Ibunya Ara tampak berfikir keras.
“Dimana wanita itu tinggal?” tanya Ibunya Ara.
“Kenapa Ibu mertua bertanya begitu?” Jack balik bertanya.
“Aku penasaran saja dimana wanita itu tinggal,” jawab Ibunya Ara.
Jack menyebutkan alamat rumahnya Ny.Imelda.
“Wanita itu tinggal disana?” gumam Ibunya Ara.
Dia mengerti sekarang sepertinya wanita itu berniat untuk merayu Jack dan mencoba merusak rumah tangganya Jack dan Ara. Dia harus memberi pelajaran pada wanita itu.
Tiba-tiba terdengar suara langkah memasuki ruangan itu.
Ara terkejut saat melihat Jack ada didalam rumahnya.
“Kau! Kenapa kau masuk kedalam?” tanya Ara, dengan nada tidak suka. Dia masih marah pada Jack.
Jack menatap istrinya dan langsung menghampiri. Ara menoleh pada Ibunya.
“Ibu, kenapa membolehkan Jack masuk?” tanya Ara, dengan kesal.
Ibunya menatapnya.
“Kemungkinan kau sedang hamil. Nak. Kau sedang sensitive, manja dan cemburuan, kau harus bicara dengan suamimu, dia akan menjelaskannya supaya kau tidak salah faham,” jawab Ibunya Ara.
Ara terkeju mendengar perkataan Ibunya, bagaimana dia bisa hamil, mereka berhubungan suami istri saja baru tadi malam masa langsung hamil?
“Apa? Hamil? Aku tidak hamil, aku…” ucapan Ara terhenti.
Ara menoleh pada Jack dan wajahnya langsung memberengut, pasti Jack merayu ibunya dengan mengatakan dia hamil supaya Jack bisa masuk ke rumah.
Melihat sikap istrinya begitu, Jack hanya tersenyum saja, dia sangat suka melihat istrinya merajuk begitu, membuatnya ingin menciumnya. Tapi jangankan menciumnya, bertemu saja istrinya tidak mau.
Ibunya Ara menghampiri putrinya, memegang tangannya.
“Sayang, ibu hamil itu tidak boleh stress, kau sedang sensitif sekarang jadi kau marah-marah,” kata Ibunya Ara.
“Ibu! Kenapa ibu malah membela Jack? Aku putrimu yang harus Ibu bela!” protes Ara, memberengut menatap ibunya.
“Iya, Ibu tahu, tapi kau sedang sensitif jadi kau gampang marah padanya, itu biasanya bawaan bayi, sebaiknya kau dengarkan penjelasan suamimu,” kata Ibunya Ara.
“Kalian bicaralah, Ibu ada perlu sebentar!” kata Ibunya Ara, langsung masuk ke dalam.
Ara menatap Jack dengan tajam, yang ditatapnya malah tersenyum, dia senang berhasil membujuk Ibu mertuanya.
“Sayang, kita harus bicara,” kata Jack.
Perkataannya terhenti karena Ibunya Ara muncul lagi dengan membawa tas ditangannya.
“Ibu mau kemana?” tanya Ara.
“Ibu ada perlu sebentar! Kalian bicaralah!” jawab Ibunya Ara, lalu menoleh pada Jack.
“Jangan membuat putriku menangis lagi!” pesan Ibunya Ara.
“Iya, Bu,” jawab Jack, menoleh pada Ibu mertuanya dan tersenyum.
Ibu mertuanya itu segera keluar dari rumah itu, lalu menyetop taxi yang lewat di depan rumahnya.
Jack menoleh pada Ara, istrinya kembali memberengut.
“Apa yang kau katakan pada Ibuku?” tanya Ara, dengan ketus.
“Soal apa? Kau hamil?” tanya Jack.
“Kau bilang pada ibuku kalau aku hamil? Kenapa kau bilang begitu?” tanya Ara, tidak suka Jack berbohong pada Ibunya.
“Aku tidak berbohong, Ibumu yang menduga kau hamil,” jawab Jack sambil tersenyum, untung dia punya ide itu kalau tidak dia tidak akan bisa masuk kerumah ini.
“Sama saja kau membohongi Ibuku,” keluh Ara.
“Aku bicara sebenarnya, ada bagian dari tubuhku yang tertinggal dalam tubuhmu,” kata Jack.
“Kau mulai lagi mengatakan hal-hal yang memalukan!” gerutu Ara.
“Kenyataanny memang begitu,” kata Jack, membuat wajah Ara berubah memerah.
Ara masih memberengut dan membuang mukanya yang memerah. Tiba-tiba dia berteriak kaget saat Jack menarik tangannya dan dalam sekejap tubuhnya sudah ada dalam pelukannya Jack. Pria itu selalu seperti itu, tubuhnya bagaikan barang ringan di tangannya Jack.
“Lepaskan! Aku sedang marah padamu!” teriak Ara.
Jangankan dilepaskan, yang ada pelukannya Jack semakin kuat. Tubuhnya menempel didada pria itu yang keras.
“Jangan marah padaku, aku tidak kuat kalau kau marah padaku,” kata Jack, menempelkan hidungnya ke wajah Ara.
Ara menatap wajahnya Jack yang ada didepannya, terlintas lagi dibayangannya Jack mencium Arum.
“Lepaskan!” kata Ara, memalingkan muka dan mendorong tubuhnya Jack untuk menjauh.
“Kau salah faham, aku tidak mencium Arum,” kata Jack.
“Aku melihat sendiri kau menciumnya!” seru Ara dengan kesal, kembali menatap Jack.
“Tidak begitu kejadiannya!” kata Jack.
“Aku tidak mau bicara denganmu, kau pergi saja dari sini!” usir Ara.
“Jangan begitu. Kau tahu aku sangat mencintaimu, aku tidak mungkin berselingkuh,” kata Jack.
“Kau memeluknya! Membelai rambutnya! Kau juga menciumnya didepanku! Mau beralasan apa lagi? Aku melihat semua itu!” teriak Ara, membuat Jack diam melihat kemarahan istrinya.
Ara menarik tangan Jack menuju pintu, supaya keluar dari rumahnya.
“Aku tidak mau bicara denganmu!” kata Ara lalu menutup pintu rumahnya, matanya sudah mulai berkaca-kaca lagi.
Jack terpaku menatap pintu yang tertutup itu. Ternyata istrinya benar-benar marah. Dia fikir setelah melewati Ibu mertuanya, semua akan mudah, ternyata tidak.
“Kau pulanglah, aku tidak mau bertemu denganmu lagi!” kata Ara, mengunci pintunya lalu pergi menuju kamarnya, sambil kembali menahan tangisnya.
*******
Bu Amril, Ibunya Ara itu menggunakan taxi pergi ke alamat yang dikatakan Jack tadi, menuju rumahnya Ny.Imelda.
Dia tidak suka ada yang mengganggu hubungan putrinya dengan menantunya. Sebelum semuanya terlambat, dia harus menemui wanita itu. Wanita itu harus menerima bogem mentah darinya, harus menerima pelajaran darinya, sudah lama dia tidak memukuli orang, rasanya begitu gatal ingin memukul wanita yang manggoda menantunya.
Ny. Imelda sedang duduk diruang keluarga sambil membaca tabloidnya, saat terdengar suara bel pintu. Seorang pelayan rumah membuka pintu itu.
“Aku ingin bertemu dengan Arum!” kata Bu Amril.
“Ditunggu sebentar, Nyonya!” ujar pelayan rumah itu.
“Siapa?” teriak Ny.Imelda.
“Tamu yang mencari Non Arum, Nyonya!” jawab pelayan rumah, membuat Ny.Imelda mengerutkan keningnya. Sungguh aneh ada tamu untuk Arum.
Diapun menyimpan tabloidnya lalu pergi menuju pintu rumahnya. Dia keheranan saat melihat sosok yang tidak dikenalnya sedang berdiri diruang tamu rumahnya.
Ibunya Ara menatap Ny.Imelda, rasanya tidak percaya Arum ternyata sudah tua.
“Kau siapa?” tanya Ny. Imelda.
“Apa kau yang bernama Arum?” Bu Amril balik bertanya.
“Bukan, aku ibunya,” jawab Ny.Imelda.
“Oh jadi kau ibunya pelakor itu?” tanya Bu Amril dengan nada tinggi, membuat Ny. Imelda membelalakan matanya terkejut dengan perkataan tamunya.
“Kau siapa? Seenaknya menyebut putriku pelakor!” maki Ny.Imelda.
“Apa lagi kata yang pantas untuk menyebut seorang wanita yang mengganggu suami orang?” bentak Bu Amril, membuat Ny.Imelda semakin tidak mengerti.
“Maksudmu apa? Suami siapa?” tanya Ny.Imelda.
“Siapa lagi kalau bukan menantuku, suami putriku!” jawab Bu Amril, membuat Ny.Imelda mengerti siapa yang datang ini. Diapun tertawa.
“Jadi kau mertuanya Jack?” tanya Ny.Imelda.
“Ya, aku ibunya Arasi, istrinya Jack,” jawab Bu Amril.
Ny.Imeldapun tertawa.
*******