
Ara merasa bosan dirumah berjam-jam sendirian, melangkahkan kakinya keseluruh bagian rumah manapun suasananya sangat sepi. Meskipun rumah itu begitu indah, sungguh sangat membosankan. Diapun hanya duduk di taman belakang, dia bingung apa yang harus dilakukannya sekarang? Dia tidak tahu apakah Jack sekarang benar-benar sakit atau pura-pura? Bisa saja dulu Jack memang sakit tapi dia sembuh, kemudian dia sakit lagi, Ara terus menebak-nebak.
Ara tidak bisa bertanya pada salah satu prajurit itu, apakah Jack benar-benar Jendralnya atau bukan? Selain tidak bisa bahasa Perancis, dia tidak mau kalau sampai prajurit itu memberikan laporan kalau dia bertanya-tanya tentang Jack, itu artinya sama saja dengan memeritahu Jack kalau dia tahu kalau Jack seorang Jendral.
Okelah Jack seorang Jendral, bagaimana dengan kondisi sakitnya sekarang? Apakah Jack benar-benar sakit atau pura-pura? Dia harus membuktikannya!
Ara bertekad dalam hati untuk mencari tahu soal itu, dia harus mencari cara untuk membuktikan kalau Jack sakit atau tidak, tanpa Jack sadari ataupun Pak Beni dan para Prajurit disini tahu.
Arapun berfikir keras kira-kira apa yang akan dilakukannya untu mengecek keadaan Jack sebenarnya?
Pemandangan diluar ini sangat indah dan terasa sejuk. Sejuk? Ini saja sudah suatu pertanda kejanggalan. Pak Beni katakan cuaca dingin makanya Jack berselimut, buktinya ternyata udara tidak dingin tapi sejuk dan tidak perlu berselimut.
Udara yang sejuk ini membuat Ara menguap dan tertarik untuk membaringkan tubuhnya di kursi panjang ini. Dilihatnya sekeliling sepi tidak ada siapa-siapa. Diapun membaringkan tubuhnya di kursi panjang itu sambil membuka ponselnya.
Berlama-lama membuka ponsel membuatnya semakin mengantuk dan dan akhirnya tertidur.
Tidak terasa hari sudah sore…
Saat Pak Beni menjemput Jack, pria paruh baya itu membawakan baju ganti buat Jack, sebuah satu stel kemeja putih dan celana panjang juga sepatu yang berbeda. Pia itu akan pulang menemui istrinya sebagai Jack yang biasa, Jack yang depresi.
Sesampainya di gerbang, prajurit yang berjaga memberikan laporan kedatangannya Ara. Jack hanya mengangguk tanpa bicara apa-apa. Ada rasa bahagia dihatinya, itu tandanya istrinya merindukannya.
“Tuan tidak akan mengatakan yang sebenarnya sekarang?” tanya Pak Beni.
“Tidak Pak Beni, aku masih ada urusan dengan ibuku dan ayah tiriku,” jawab Jack.
“Pak Beni sudah mengatur semuanya kan? Tidak ada yang mencurigakan dirumah? Kenapa aku merasa cemas,” lanjut Jack.
“Kenapa cemas, Tuan?” tanya Pak Beni.
“Aku takut istriku mengetahui sesuatu dan marah padaku,” jawab Jack.
“Tuan kan bisa menjelaskannya kalau itu terjadi,“ jawab Pak Beni.
“Tidak Pak Beni, masalahnya sebenarnya aku tidak mau menyakiti hatinya dengan kebohonganku, aku sangat menyayanginya,” ucap Jack, berhenti sebentar.
“Tapi untuk saat ini aku belum bisa jujur,” lanjut Jack.
Pak Benipun tidak berbicara lagi.
Meskipun begitu sebenarnya hati Jack merasa gelisah, dia takutnya Ara akan salah faham terhadap kebohongannya. Bukan dia ingin mempermainkannya, tapi karena dia memang memiliki tujuan yang harus dilakukan. Dia hanya butuh waktu sebentar lagi untuk jujur pada Ara.
Saat mobil berhenti di depan rumah, Jack langsung masuk kerumah terburu-buru diabaikannya prajurit yang membukakan pintu mobil itu yang memberinya hormat. Dia ingin sekali melihat istrinya. Perasaan yang sebenarnya sangat konyol, betapa bahagianya menyambut istrinya datang.
Kakinya terus berlari menuju kamarnya dan ternyata kamarnya kosong.
“Kemana dia?” tanya Jack, menatap kamarnya yang sepi.
Mendapati istrinya tidak ada saja langsung membuatnya gelisah. Tapi melihat tas Ara ada diatas tempat tidur, hatinya sedikit lega artinya Ara masih ada dirumah itu.
“Kemana dia?” gumamnya, lalu keluar kamar lagi, menuju ruangan bawah dan bertanya pada prajurit yang ada di depan pintu rumahnya.
“Kau melihat istriku?” tanya Jack dengan suara pelan.
“Nyonya setelah masuk rumah tidak keluar lagi, Jendral!” jawab prajurit itu, berdiri tegak menghadap depan.
“Kemana dia?” tanya Jack.
“Saya akan mencaritahu, Jendral!” jawab prajurit itu lagi, akan begerak tapi Jack melarangnya.
“Kau belum diingatkan Pak Beni jangan memanggilku Jendral?” keluh Jack.
“Maaf sudah, Jendral! Maaf, Mr!” ucap prajurit itu dengan lantang yang langsung pucat saja mendapat sedikit nada tinggi dari Jack.
“Jangan keras-keras!” keluh Jack.
“Siap Jendral! Mr!” ucap prajurit itu salah lagi.
Jack masuk lagi kerumah, tanpa memanggil Ara, dia mencari-cari istri tercintanya itu. Hanya belum melihat istrinya dirumahnya sendiri saja sudah membuatnya merasa sangat khawatir.
“Sayang, aku dimana?” gumamnya dengan keringat dingin mulai menyerangnya,dia begitu cemas, sekarang begitu terasa kalau rumahnya terlalu besar sampai-sampai Ara saja bisa bersembunyi.
Jack berdiri dipintu kaca keluar taman, merasa putus asa karena tidak menemukan istrinya. Tiba-tiba dari kejauhan matanya melihat istrinya itu berbaring di kursi panjang di bawah pohon dekat kolam renang. Hatinya yang tadi lesu kembali bersemangat. Hampir saja dia lari saking senangnya melihat wanita itu, tapi dia teringat untuk menahan dirinya dan masih bersikap sebagai Jack yang depresi.
Jack perlahan mendekati sosok yang berbaring itu. Langkahnya semakin dekat dan terlihat jelas kalau Ara sedang tidur di kursi panjang dibawah pohon itu.
Jack menghentikan langkahnya menatap wanita itu, wajahnya terlihat sangat lelah, pasti karena perjalanan yang jauh itu membuatnya capek.
Diperhatikannya istrinya dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu diapun berjongkok dekat tubuh Ara. Tangannya terulur menyentuh rambut Ara yang masih terlelap. Semakin terlihat sekali kalau istrinya itu begitu lelah.
Disentuhnya beberapa helai rambut itu dan mengusap kepalanya Ara dengan hati-hati, jangan sampai terbangun. Jack mendekati wajahnya pada wajah Ara perlahan, dengan hati-hati juga dia mencium pipinya dengan lembut. Sungguh dia begitu menyayanginya.
Yang diciumnya sama sekali tidak bergerak. Jack tersenyum melihatnya. Dia sangat bahagia bisa melihat Ara lagi padahak hanya satu dua hari tidak bertemu dengannya tapi hatinya merasa begitu merindukannya.
Kedua tangan Jack terulur meraih tubuhnya Ara, mendekapnya dan mengangkatnya perlahan, jangan sampai mengganggu tidurnya. Diapun membopong tubuh istrinya meninggalkan area taman belakang itu.
Ara yang merasakan sentakan saat Jack mengangkatnya, membuatnya terbangun membuka matanya. Matanya langsung melihat pada kemeja putih yang Jack kenakan, wajahnya tepat menghadap dada kokoh pria itu. Apakah Jack sedang menggendongnya? Ya, Jack sedang menggendongnya.
Ara merasakan pelukan pria itu begitu kuat membawa tubuhnya, sebenarnya dia merasa canggung digendong seperti ini, apalagi dia tahu ada kemungkinan Jack tidak sakit, tapi dia harus pura-pura kalau dia tidak mencurigai apapun pada Jack, akhirnya Ara hanya diam saja, kembali pura-pura tidur.
Setelah cukup lama berjalan masuk kerumah yang besar itu, barulah Ara merasakan tubuhnya dibaringkan diatas tempat tidur, kemudian dirasakannya Jack menyelimutinya.
Jack menatap wajah yang pura-pura tidur itu. Tiba-tiba Ara merasakan ciuman di keningnya, jantungnya serasa berhenti berdetak saja, Jack ketahuan diam-diam menciumnya. Berarti Jack tidak sakit, tapi tunggu, tidak juga, waktu sebelumnya juga Jack suka menciumnya.
Tidak berapa lama terdengar suara langkah menjauh dan suara pintu kamar mandi dibuka.
Begitu mendengar suara pintu kamar mandi itu, terlintas di dalam benaknya Ara untuk mengetahui Jack itu sakit atau tidak. Kalau dia harus memandikan Jack, kepalanya berputar ide-ide, mungkin ini saatnya dia tahu kalau kondisi Jack sebenarnya.
Jack membuka kamar mandinya, dia berfikir untuk langsung mandi saja sebelum Ara bangun. Tapi saat pintu kamar mandi itu di buka, tiba-tiba di dengar suara istrinya memanggilnya membuatnya berhenti bergerak.
“Jack!” panggil Ara, diapun segera bangun dan membuka selimutnya.
Jack terdiam di depan pintu kamar mandi.
“Jack! Kau sudah pulang?” tanya Ara, segera turun dari tempat tidurnya.
Jack tidak jadi masuk kamar mandi dan menoleh pada Ara, menatap istrinya itu yang berjalan semakin mendekatinya.
“Kau sudah pulang?” tanya Ara, menghentikan langkahnya menatap Jack.
“Pulang,” jawab Jack pendek, dia tidak menyangka kalau istrinya akan bangun.
Ara menatap mata yang sedang menatapnya itu, ada perasaan lain sekarang. Membayangkan Jack sudah sembuh dan sedang menatapnya dengan kesadaran penuh membuatnya merasa bingung dan serba salah. Dia semakin merasa tidak mengenal Jack.
“Aku sangat mengkhawatirkanmu jadi aku menyusulmu! Aku fikir tidak ada orang yang merawatmu disini,” ucap Ara mencoba bersikap biasa saja, kakinya melangkah semakin mendekati Jack.
“Kau akan mandi? Ini juga sudah sore, ayo aku mandikan,” kata Ara.
Jack tidak menjawab, dia tidak keberatan dimandikan Ara, dua hari tidak dimandikannya membuatnya rindu sentuhan tangannya Ara.
Ara tiba-tiba terdiam, kenapa dia mengatakan akan memandikan Jack? Bagaimana kalau Jack ternyata sudah sembuh? Momen ini akan sangat menakutkan!
Pria itu pasti memperhatikan setiap yang dilakukannya, merasakan dengan sadar seluruh tubuhnya disentuh-sentuh olehnya. Ah kenapa jadi terkesan mesum begini? Pasti sangat memalukan kalau ternyata Jack tidak sakit! Bagaimana kalau Pak Beni saja yang memandikan Jack?
Ara melangkah mundur tapi kemudian dia teringat sesuatu, kalau dia tidak jadi memandikannya, Jack pasti curiga, apalagi kalau sampai minta Pak Beni menyuruh perawat atau pegawai memandikan Jack.
Arapun mengurungkan niatnya mundur, jadi dia tetap harus memandikan Jack untuk mengetahui keadaan Jack yang sebenarnya, meskipun hasilnya tidak pastisetidaknya dia harus mencobanya.
Saat matanya bertemu dengan matanya Jack, jantungnya langsung berdebar kencang saja, momen memandikan kali ini terasa lebih menegangkan daripada saat Jack depresi, karena kalau Jack sudah sembuh berarti dia memandikan Jack yang sadar dan pria itu akan melihat apa yang dilakukannya pada tubuhnya.
Ara mendorong pintu kamar mandi perlahan tapi seketika mematung lagi, bagaimana kalau selama ini ternyata memang Jack hanya berpura-pura depresi berarti dia selalu memandikan Jack yang sudah sembuh? Aah kenapa mau mandi saja begitu repot?
**************