
Setelah dari toilet, Ara kembali ke tempat duduknya. Dia keheranan melihat eskrimnya Jack belum habis dan mulai mencair.
“Kenapa eskrimnya tidak dimakan? Ini sudah meleleh,” ucap Ara, sambil menggeser kursinya lebih dekat ke kursi Jack. Diambilnya mangkuk eskrim itu lalu menyiukkannya dan disodorkan kemulutnya Jack.
Jack malah menatap istrinya itu membuat Ara keheranan.
“Kau sangat aneh, Jack. Bukankah kau suka eskrim coklat? Dulu kau langsung memakannya bahkan kau tidak menghiraukanku sama sekali. Kau lebih tertarik pada eskrim daripadaku,” kata Ara.
Jack masih menatap istrinya itu. Dulu dia lebih tertarik pada eskrim daripada istrinya, sekarang terbalik, dia lebih tertarik pada istrinya itu daripada eskrimnya.
“Ayo makanlah, kalau cairkan tidak enak,” ucap Ara, mendekatkan sendok itu, Jackpun mau membuka mulutnya.
“Aku jadi ingin mencobanya,” ujar Ara, diapun ikut makan eskrim coklat itu dan merasa-rasakannya.
“Yang coklat juga enak, tapi aku lebih suka yang strawberry,” ucap Ara, sedikit mengerjapkan matanya merasakan eskrim itu.
Jack benar-benar tidak bisa berpaling dari menatap wajah istrinya. Lagi-lagi bayangan Arum kecil muncul dibenaknya. Tepat didepannya Arum kecilpun begitu, dia selalu penasaran dengan rasa eskrim coklatnya tapi yang dipesan selalu strawberry saja.
Hati Jack semakin tidak karuan saja. Gara-gara tahi lalat itu, setiap yang dilakukan istrinya yang muncul adalah Arum kecil. Dia benar-benar merasa harus berobat, dia merasa khawatir apakah masih ada sisa sisa trauma yang bisa membuatnya depresi lagi.
Ada perasaan takut kalau istrinya adalah Arum. Dia senang kalau memang Arum itu masih hidup, tapi kalau Arum itu ternyata istrinya? Apa yang akan terjadi? Dia takut istrinya menyalahkannya karena tidak menjaganya dengan baik malah mengajaknya bermain pasir lebih jauh padahal orang tuanya sudah memperingatkannya.
Dilihatnya lagi kalung yang dipakai Ara itu. Kalung itu sangat cocok dipakai istrinya. Sebenarnya harga kalung itu bukan yang paling mahal di toko itu tapi Jack hanya suka saja dan senang kalau istrinya memakainya.
“Setelah ini kita akan kemana?” tanya Ara masih menyuapi Jack, sesekali melap bibirnya Jack dengan tisu. Meskipun tahu Jack sudah sembuh, kebiasaan itu selalu sulit ditinggalkan.
Jack tidak menjawab. Apakah dia akan mengajak Ara pulang saja? Atau mungkin berbelanja dulu baru nanti sore dia menumui Dokter Mia.
“Butik,” jawab Jack.
“Ke butik? Kau mengajakku ke butik? Pakaianku dirumah sangat banyak,” ucap Ara.
“Mm..bagaimana kalau kita ke taman saja? Duduk santai saja, melihat pemandangan diluar, taman yang dekat saja,” usul Ara.
Jack mengerutkan dahinya.
“Taman,” gumamnya.
“Iya, meskipun sekarang sudah siang, tidak apa-apa kita ke taman berteduh dibawah pohon, kau mau? Waktu itu saat kau menginap dirumahku, aku mau mengajakmu ke taman tapi kau buru-buru ingin pulang,” ucap Ara.
“Taman,” ulang Jack.
“Heem, ya?” jawab Ara menyelesaikan menyuapi Jack.
Karena Ara ingin ke taman, Jack menurut saja, mungkin memang istrinya bukan tipe yang suka belanja, diajak ke butik malah memilih ke taman saja. Akhirnya merekapun pergi ka taman kota. Hari sudah terik dan panas lumayan tinggi.
Dua orang pria penguntit itu masih mengikuti kemanapun Jack pergi termasuk ke taman ini, mereka bersembunyi-sembunyi mengikuti dari kejauhan, sesekali menelpon memberikan laporan pada Tn.Ferdi.
Jack juga tahu kalau dia masih dibuntuti tapi dia bersikap tetap tenang tapi waspada, yang dia fikirkan bukan dirinya tapi keselamatan istrinya.
Jack dan Ara berjalan-jalan ditaman tanpa ada yang bcaira. Pak Beni memilih menunggu di mobil saja dengan supir, supaya Jack dan Ara tidak terganggu.
Tangan Jack meraih tangannya Ara menggenggamnya dengan erat. Langkah demi langkah tidak ada kata yang terucap.
Ditaman itu ternyata banyak juga yang sedang bermain-main membawa anak-anak mereka yang masih kecil. Mereka duduk berteduh dibawah pohon sambil makan makanan yang mereka bawa dalam keranjang.
Sedang berdua-dua berdiam diri, muncul beberapa anak kecil berlarian melewati mereka membuat Ara dan Jack menghentikan langkahnya. Tiba-tiba seorang anak kecil mungkin sekitar 3 tahunan berlari kearah Jack dan langsung memeluk kakinya.
Jack sangat terkejut anak laki-laki itu malah memeluk kakinya.
“Hei kau kenapa?” tanya Ara, melihat anak itu bersembunyi dikakinya Jack.
Sepasang pria dan wanita yang sedang hamil menghampiri mereka.
“Juan, kemari nak, jangan pergi jauh-jauh!” panggil wanita itu sambil memegang perutnya yang besar.
“Sini sayang, jangan mengganggu omnya,” kata ayahnya, langsung mendekati Jack.
“Maaf, Tuan,” kata pria itu.
Jack hanya diam dan bingung, dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi anak yang ada di kakinya.
“Maaf anakku mengganggu kalian,” ucap pria itu, sambil tersenyum. Begitu juga dengan istrinya yang hamil itu.
“Anak kedua?” tanya Ara.
“Iya, anak kedua,” jawab wanita itu.
“Kau cantik, pasti bayimu perempuan,” ucap Ara, sok tahu.
“Semoga saja, hasil USGnya memang perempuan,” kata wanita itu, masih dengan senyumnya yang menunjukkan kebahagiaannya.
“Senangnya, kau akan memiliki anak sepasang!” seru Ara, dia langsung melamun membayangkan memiliki anak-anak yang lucu, laki-laki dan perempuan.
“Kalian sudah punya momongan?” tanya wanita itu.
“Be..” Ara akan menjawab belum tapi ternyata Jack duluan menjawab.
“Segera,” jawab Jack, membuat Ara terkejut, apa maksudnya segera? Mereka sama sekali tidak pernah melakukannya. Jangan-jangan, oh tidak jangan-jangan Jack berencana untuk…
“Benar, secepatnya lebih baik. Jangan ditunda-tunda,” kata wanita itu.
“Kalian berencana punya anak berapa?” tanya pria itu.
Ara akan menjawab lagi tapi dipotong oleh Jack.
“Seratus,” jawab Jack.
Sontak membuat Ara melotot, pria ini menjawab seenaknya saja, apa Jack mengerti apa yang ditanyakan oleh pria itu? 100 anak, yang benar saja?
Pasangan suami istri itu tertawa mendengar jawaban Jack.
Ara langsung menoleh pada Jack, bibirnya memberengut.
“Apa makudnya 100 anak? Aku bisa mati melahirkan 100 anak,” batin Ara.
Pasangan suami istri itu masih tertawa.
“Semoga kalian cepat dapat momongan,” kata mereka, lalu berpamitan meninggalkan Jack dan Ara yang hanya bisa melihat kemesraan keluarga kecil itu.
Sang suami yang menggendong anak kecil itu sesekali mengusap perut istrinya yang membuncit.
Ara tersenyum melihat mereka, terlihat sekali pria itu sangat menyayangi istrinya.
Jack menoleh pada istrinya yang sedang senyum-senyum saja. Lalu Arapun menoleh pada Jack yang sedang menatapnya. Pandangan merekapun bertemu. Ara langsung ingat jawaban Jack tadi, senyumnya langsung hilang.
“Apa maksudmu 100 anak? Mana ada yang berencana memiliki 100 anak? Hem,” gerutu Ara, lalu meninggalkan Jack.
Jack melihat istrinya yang pergi, kebingungan.
“Kenapa dia marah? Apa yang salah dengan 100 anak?” keluh Jack, lalu kakinya mengikuti istrinya.
Tentu saja dia tidak akan membiarkan istrinya berjalan sendirian ditaman apalagi dengan adanya orang-orang yang mengikuti mereka.
Ara hanya merasakan tangannya kembali diraih oleh Jack, meskipun dia berjalan didepan Jack tapi pria itu tidak melepaskan tangannya. Tapi karena kakinya Jack lebih panjang, hanya dalam beberapa langkah saja pria itu sudah menjajari langkahnya Ara. Pria itu sudah berdiri disamping Ara lagi.
Setelah puas berjalan-jalan ditaman, mereka kembali ketempat mobil di parkir. Ara masih kesal dengan jawaban Jack yang bilang 100 anak itu, dia langsung masuk ke mobil duluan.
Bibirnya memberengut dari tadi, bayangkan saja kalau dia setiap tahun melahirkan, atau mungkin selama 50 tahun melahirkan anak kembar tiap tahun, sama saja dengan membuat pabrik anak. Sepertinya Jack harus masuk ke RSJ lagi kalau begitu, keluhnya.
“Kita akan kemana lagi, Tuan?” tanya Pak Beni, keluar dari mobilnya menghampiri Jack yang belum sampai ke mobil.
“Antar istriku pulang, setelah itu kita ke Dokter Mia,” jawab Jack.
“Baik, Tuan,” jawab Pak Beni, lalu kembali ke mobilnya beriringan dengan Jack.
***********
Readers yang slow dulu, yang sudah bosan, maaf ya.
***********