
Ara memeluk tangannya Jack menuruni tangga. Saat diruang tengah mereka bertemu dengan Tn.Ferdi dan Ny.Inez yang tampak baru keluar dari ruang makan.
“Kau mau kemana?” tanya Ny. Inez.
“Aku akan mengajak Jack jalan-jalan,” jawab Ara, lalu menoleh pada Tn.Ferdi.
“Tuan Ferdi, aku harap kau tidak lupa dengan laporan yang aku minta,” ucap Ara.
Tuan Ferdi akan membantah tapi tangannya dipegang Ny.Inez.
“Nanti suamiku akan membuatkan laporannya,” kata Ny.Inez.
“Aku harap setelah aku kembali dari taman, laporannya sudah ada diruang kerjanya Jack,” ucap Ara, lalu menoleh pada Jack sambil menggandeng tangannya keluar dari rumah itu.
Setelah Ara terlihat keluar rumah, Tn.Ferdi menoleh pada istrinya.
“Kau ini apa-apaan? Kau menyerah begitu saja pada wanita itu?” tanya Tn.Ferdi, menatap tajam istrinya.
“Sayang, kita tidak bisa terus terusan bertengkar dengan istrinya Jack, walau bagaimanapun dia punya kekuasaan sekarang, kita harus menurut padanya atau kita jadi miskin!” kata Ny.Inez.
“Apa maksudmu bicara begitu? Kita masih bisa merebut semua hartanya Jack!” kata Tn.Ferdi.
“Tapi tidak perlu bertengkar terus kan? Aku juga tidak suka dia menguasai kekayaannya Jack apalagi sekarang Jack semakin parah. Wanita itu bisa sesuka hatinya menggunakan kekayaannya Jack, atau bisa jadi dia juga sudah menyusun rencana untuk mengambil kekayaannya Jack,” ujar Ny. Inez.
“Kau benar, kita harus mengupayakan supaya Jack kembali ke RSJ di Perancis dan berpisah dengan wanita itu. Aku tidak mau wanita itu keluar dari rumah ini sebagai janda kaya, aku tidak akan membiarkan dia membawa uang sepeserpun, dia harus membayar semua perlakuannya padaku!” kata Tn.Ferdi.
Terdengar suara beberapa mobil memasuki halaman dan berhenti di depan teras.
“Siapa itu?” tanya Tn.Ferdi.
“Sepertinya Bastian dan teman-temannya. Hari ini kan ulang tahunnya dia mengundang teman-temannya. Aku heran kenapa dia tidak membuat acara diluar saja?” jawab Ny.Inez.
Tn.Ferdi tidak menjawab, hanya ada senyum snis di bibirnya, lalu berjalan keluar rumah, diikuti oleh Ny.Inez.
Sampai didepan rumah, Ara melihat beberapa mobil memasuki halaman rumah. Sebuah mobil mewah baru berhenti di depannya. Bastian dan Kinan keluar dari mobil itu. Kemudian berhenti mobil dibelakangnya dan langsung keluar teman-temannya Bastian. Suasanapun langsung berubah menjadi riuh.
Mendengar candaan mereka yang berisik juga teriakan-teriakannya, ditambah suara music keras keluar dari mobil itu, Jack langsung menutup kedua telinganya.
“Jack kau baik-baik saja?” tanya Ara.
Jack menggeleng-gelengkan kepalanya. Ara baru tersadar kalau Jack sedang sensitive dengan suara berisik.
“Lihat teman-teman, ini mobil baruku!” teriak Bastian, disambut teriakan heboh teman-temannya menyerbu mobil barunya Bastian.
“Bastian!” panggil Ara.
Bastian menoleh padanya dan tersenyum.
“Lihat mobilku, keren kan?” seru Bastian.
“Bastian! Aku tidak bisa mengijinkanmu membuat pesta dirumah ini!” kata Ara, membuat senyum Bastian hilang, begitu juga Kinan yang bergelayut manja di lengannya Bastian.
Semua teman Bastian menghentikan tawanya, menoleh pada mereka.
Bastian langsung melepaskan tangannya Kinan lalu menghampiri Ara.
“Apa maksudmu? Aku sudah mengundang semua teman-temanku nanti malam,” kata Bastian.
“Apa? Nanti malam? Bukankah teman-temanmu ini sudah datang? Kenapa sampai nanti malam?” tanya Ara, menatap Bastian.
“Kau fikir sekarang pesta? Sebentar lagi EO akan menghias rumah ini!”kata Bastian dengan nada tinggi.
“Memangnya kau mengundang berapa orang?” tanya Ara lagi.
“Ya banyaklah!” jawab Bastian.
Ara menatap Bastian, datang satu mobil saja langsung membuat ribut di rumah bagaimana kalau datang teman-teman lainnya lagi?
“Aku tidak mengijinkannya, kau cari lokasi lain saja!” kata Ara.
“Seenaknya saja kau merusak acara orang!” Bentak Bastian.
“Kakakmu sedang sakit Bastian, apa kau tidak lihat? Jakc sensitive pada suara berisik, kau cari lokasi lain saja!” kata Ara.
Bastian menoleh pada Jack yang sudah menurunkan kedua tangannya karena sekarang teman-temannya Bastian tidak bersuara.
“Aku tidak peduli! Pokoknya pestanya tidak boleh batal!” ujar Bastian.
“Kenapa sih kau ngotot ingin pesta dirumah? Jangan-jangan kau punya niat buruk begitu?” tanya Ara.
“Heh, apa maksudmu menuduh begitu?” Bastian balik bertanya.
“Sudahlah tidak usah pura-pura, kau sengaja ingin membuat keributan kan?” kata Ara.
“Kalau memang iya kenapa?” tanya Bastian.
“Ada apa?” tanya Tn.Ferdi yang keluar rumah bersama Ny. Inez.
“Wanita ini menyuruhku membatalkan acara ulang tahunku!” jawab Bastian dengan kesal.
“Aku bukan membatalkan, tapi kau cari lokasi lain, jangan dirumah, Jack sedang sakit!” kata Ara.
“Tapi sebentar lagi EO akan menghias tempat ini!” ujar Bastian.
“Batalkan!” kata Ara.
“Tidak bisa!” tolak Bastian.
“Kenapa tidak bisa?” tanya Ara.
“Kau tidak bisa seenaknya mengatur-ngatur apa yang aku lakukan!” teriak Bastian dengan kesal.
Kinan yang melihat Bastian marah langsung menghampiri.
“Wanita ini seenaknya saja menyuruh membatalkan acara!” jawab Bastian dengan kesal.
“Dia orang baru kan disini, kenapa dia yang berkuasa?” keluh Kinan, menambah Bastian emosi.
“Dengar, acara tetap berlangsung!” kata Bastian.
“Silahkan saja kalau kau bersikeras, aku tidak akan membayar biaya nya!” ancam Ara.
“Aku heran, kau membuat acara dari uang kakakmu, tapi kau sama sekali tidak peduli dengan kakakmu!” hardik Ara, kemudian.
“Kenapa aku harus peduli pada orang gila?” tanya Bastian.
“Bastian, jaga sikapmu! Jack itu kakakmu!” teriak Ara.
“Memang kenyataannya begitu! Yang kau nikahi itu pria gila! Dia tidak tahu apa-apa, kau saja yang sok berkuasa dirumah ini!” teriak Bastian.
Bastian meraih tangannya Jack diajak berjalan menghadap teman-temannya.
“Teman-teman! Kalian tahu siapa ini?” tanya Bastian.
“Bastian kau mau apa?” teriak Ara, langsung mengikuti Jack dan memegang tangan kanannya Jack. Tapi Bastian yang berada di sebelah kiri Jack tidak memperdulikannya.
“Sebenarnya aku malu untuk mengatakan ini, tapi untuk kali ini aku rasa aku tidak perlu menutup-nutupi,” teriak Bastian.
“Bastian! Kau mau apa?” tanya Ara lagi.
“Dengar teman-teman, pria ini adalah kakakku, selama ini kalian tidak tahu kalau aku punya kakak! Sebenarnya aku juga tidak mau mengakuinya, kenapa? Karena aku malu! Karena kakakku ini gila!” ucap Bastian, membuat teman-temannya terkejut dan saling bergunjing.
“Bastian! Kau tidak malu mengatakan itu pada teman-teman kita?” keluh Kinan.
“Malu sih, tapi ada yang lebih tidak tahu malu lagi, yaitu wanita ini! Dia mau menikah dengan kakakku yang gila demi hartanya,” kata Bastian, tersenyum sinis sambil menoleh pada Ara.
Raut wajah Ara langsung berubah memerah marah dan kesal.
“Jaga mulutmu Bastian!” teriak Ara.
“Kenyataannya memang begitu! Kau menikahi pria gila demi harta! Kalau bukan karena hartanya kakakku kau tidak akan mau menikah dengan orang gila!” kata Bastian, dan tiba-tiba dia berteriak kaget saat sebuah tamparan mendarat dipipinya.
Plak! Ara menampar pipinya Bastian.
“Kau!” teriak Bastian, terkejut sambil memegang pipinya yang terasa panas, ditampar keras oleh kakak iparnya.
Ny.Inez, Tn Ferdi, Kinan dan juga teman Bastian juga tidak kalah terkejut.
“Kau menghina kakakmu mengatakan kakakmu gila lagi! Aku usir kau dari rumah ini!” bentak Ara, menatap tajam Bastian.
Plak! Tiba-tiba terdengar suara tamparan lagi, bukan Bastian yang ditampar tapi Ara ditampar Ny. Inez.
“Kau berani-beraninya menampar putraku!” bentak Ny.Inez.
Ara memegang pipinya yang memerah. Diapun menatap Ny,Inez.
“Bastian sudah keterlaluan mengolok-olok Jack gila! Aku tidak terima!” kata Ara dengan kesal.
“Kau tidak terima? Jack memang gila!” terdengar sura Tn.Ferdi yang kini menghampiri Ara dan menatapnya tajam.
“Kau yang harus pergi dari rumah ini!” bentak Tn.Ferdi.
“Tidak akan pernah!” jawab Ara.
“Kau berkuasa disini karena merasa kau istrinya Jack bukan? Kau fikir aku tidak bisa menyiapkan surat cerai untukmu?” kata Tn.Ferdi.
“Jack tidak akan pernah menceraikanku!” ujar Ara.
“Tidak katamu? Dia itu tidak bisa apa-apa! Kau lihat dia! Dia gila! Kami akan mengirimnya ke RSJ lagi! Jadi kau sudah tidak ada gunanya tinggal disini!” kata Pak Ferdi.
“Kalian, kalian tega pada Jack padahal kalian menumpang dan menggunakan kekayaannya Jack! Benar-benar tidak tahu malu!” teriak Ara.
Tn.Ferdi semakin marah dan langsung mendorong bahunya Ara dengan kasar sampai Ara terjatuh ke lantai.
“Kau berani kasar pada putrau, aku bisa lebih kejam! Siapa yang akan membelamu disini? Tidak ada! Pria yang kau nikahi tidak bisa apa-apa, bisa apa dia? Dia gila!” teriak Tn.Ferdi, sambil menoleh pada Jack yang menunduk kembali menutupi kedua telinganya karena mendengar suara pertengkaran.
Ara merasakan pantatnya yang sakit karena jatuh terduduk dilantai.
Bastian menghampiri Ara.
“Sebenarnya aku ingin pestanya untuk nanti malam, tapi sepertinya siang hari juga tidak masalah,” ucap Bastian.
“Apa maksudmu bicara begitu?” tanya Ara terkejut dengan perkataannya Bastian.
Dilihatnya Bastian menoleh pada teman-temannya. Salah seorang teman Bastian membuka bagasi mobilnya dan mengeluarkan kayu-kayu panjang dari sana, ada juga beberapa kampak.
“Bastian, kau mau apa?” teriak Ara, segera bangun.
Dilihatnya teman-teman Bastian langsung masuk ke dalam rumah sambil tertawa-tawa.
“Hei, kalian mau apa?” teriak Ara lagi, akan beranjak tangannya dipegang oleh Tn. Ferdi.
“Kau tonton saja!” teriak Tn.Ferdi.
“Kalian, apa yang akan kalian lakukan?” teriak Ara.
Dia mencoba melepaskan tangannya tapi Tn.Ferdi memegangnya dengan keras.
“Pak Beni! Pak Beni!” teriak Ara.
Teman-temannya Bastian sudah masuk ke dalam rumah dengan berisik, Bastian menoleh pada Ara dan tersenyum sinis.
“Ini balasan karena kau menamparku!” ucapnya lalu masuk ke dalam rumah.
************