
Sore telah tiba, Jack akan pulang, saat melewati bagian informasi, prajurit yang bertugas disana menyapanya.
“Jendral tadi ada telpon,” kata prajurit itu.
“Iya biarkan saja,” ujar Jack.
“Tapi dari Nyonya,” kata Prajurit itu.
“Nyonya? Maksudmu istriku?” tanya Jack merasa kaget.
“Iya Jendral, tadi istri Jendral menelpon tapi kan Jendral bilang tidak mau menerima telpon tanpa kecuali,” jawab prajurit itu.
“Apa aku mengatakan ada tamu wanita tadi?” tanya Jack dengan lesu.
“Iya Jendral, Nyonya Rebecca yang tadi,” jawab Prajurit itu.
Jack tidak bicara lagi, dia melangkahkan kakinya keluar dari gedung itu.
Sampai dirumah terasa begitu sepi, tidak ada sambutan istri dan putranya, sungguh hatinya merasa sangat sedih. Padahal dia begitu bahagia saat pulang disambut anak istrinya.
Jack segera berlari mencari Ara. Dia kaget saat masuk ke kamarnya istrinya itu tidak ada, dia sangat gelisah. Diapun berlari kekamar bayinya, disana juga tidak ada.
“Sayang, kau dimana?” teriak Jack, hatinya begitu khawatir.
“Ara! Sayang! Kau dimana?” teriaknya lagi, saking paniknya.
Bayangan buruk melintas dibenaknya. Dia tidak mau kehilangn anak istrinya, apalagi hanya karena godaan seorang perempuan, dia tidak mau hal buruk menghancurkan pernikahannya.
“Bi! Bibi!” teriak Jack, menuruni tangga ruang tengah itu, bergegas ke belakang ruangan mencari Bibi.
“Iya ada apa, Tuan?” tanya Bibi.
“Kemana istriku?” tanya Jack.
“Ada di kamar, Tuan,” jawab Bibi.
“Dikamar tidak ada, dikamar bayi juga tidak ada,” kata Jack, semakin gelisah dan panic.
Bibi tampak bingung.
Jack langsung pergi dan berteriak-teriak pada semua prajuritnya yang ada diluar rumah. Membuat semua orang bingung berlarian menghampirinya.
“Cari istriku! Cepat!” teriaknya.
Tentu saja semua orang terkejut mendengarnya.
“Kenapa kalian bengong saja? Cari istriku! Cepat!” teriaknya dengan marah.
Merekapun saling pandang.
“Ada apa dengan kalian? Aku minta kalian cari istriku disemua sudut rumah ini! Apa kalian tidak dengar?” teriak Jack marah-marah.
“Ada apa ini?” tanya suara wanita yang muncul dibelakang Jack, menghampiri sambil mendorong stroller bayinya.
Jack langsung menoleh dan dia terdiam melihat istrinya datang bersama bayi mereka.
“Ada apa kau berteriak-teriak?” tanya Ara, menghentikan roda bayinya.
Jack diam membisu, dia sangat panik tadi, diapun menoleh pada prajurit yang sedang berkumpul itu.
“Kalian kerja lagi ketempat masing-masing!” perintah Jack.
“Baik Jendral!” jawab mereka bersamaan, lalu bubar, merasa bingung karena Jendralnya menyuruh mereka mencari istrinya, padahal anak istrinya ada dibelakangnya.
“Kau sudah pulang?” tanya Ara.
“Iya aku baru saja datang,” jawab Jack dengan wajah yang pucat dan berkeringat.
Jack langsung memeluk Ara, mengusap rambutnya, mencium kening dan pipinya juga bibirnya. Lalu menoleh pada bayinya, dia langsung menggendongnya, menciuminya.
“Ayah menyayangimu, sayang,” ucapnya, lalu menoleh pada Ara yang sedang menatapnya.
“Aku mencintai kalian berdua,” kata Jack.
Ara tidak menjawab, dia hanya mendorong stroller itu masuk ke rumah, sedangkan Jack masih mengendong bayinya.
“Sayang, aku mengajakmu makan malam nanti malam,” kata Jack.
Ara menghentikan langkahnya dan menatapnya.
“Makan malam?” tanya Ara.
“Iya, makan malam,” jawab Jack.
“Dirumah sudah banyak makanan,” kata Ara, lalu berjalan lagi masuk keruang keluarga lalu menyimpan strollernya disana.
“Aku ingin kau ikut denganku,” jawab Jack.
“Ikut?” tanya Ara menatapnya.
“Aku ingin mengajakmu menemui wanita itu,” jawab Jack.
Ara menatap suaminya, begitu juga dengan Jack.
“Tidak akan ada yang aku tutup-tutupi padamu, wanita itu memintaku menemuinya jam makan malam,” kata Jack.
Ara belum menjawab, Jack mendekatinya.
“Aku sudah bahagia berkumpul bersamamu juga bayi kita, aku tidak akan membiarkan seorangpun menghancurkan pernikahan kita,” ucap Jack.
“Wanita itu menemuimu?” tanya Ara, tiba-tiba dadanya terasa sesak.
“Iya, dia menemuiku,” jawab Jack.
“Kau diajaknya makan malam?” tanya Ara lagi dengan menahan sakit dihatinya.
“Iya, dia memintaku menemuinya nanti malam,” jawab Jack.
“Kau akan menemuinya?” tanya Ara dengan mata yang kini berkaca-kaca.
Ara menatapnya.
“Kenapa bersamaku?” tanya Ara.
“Karena aku ingin dia berhenti mengangguku!” jawab Jack.
Ara masih menatapnya.
“Maaf tadi aku menelpon tidak sempat aku angkat, kau juga menelpon bagian informasi, aku tidak tahu kalau kau yang menelpon, kau juga pasti mendapat kabar kalau Rebecca yang bertamu kan?” tanya Jack.
Ara tidak menjawab, tangannya mengulur mengambil bayinya, lalu beranjak meninggalkan Jack.
Jakc segera mengikutinya.
“Aku sangat panik tadi, aku fikir kau akan pergi meninggalkanku. Jangan, jangan seperti itu,” ucap Jack mengikuti langsung kakinya Ara.
Istrinya masih belum menjawab, dia terus berjalan masuk ke kamar mereka lalu menghampiri ranjang itu dan menidurkan bayinya disana,mengayun-ayunnya perlahan.
Jack memeluknya dari belakang, lalu mencium pipinya Ara.
“Aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu dan bayi kita,” ucap Jack.
Ara masih tidak bicara.
“Kenapa kau diam saja? Apa kau sudah tidak cinta padaku?” tanya Jack.
“Entahlah, aku masih bingung,” jawab Ara.
“Jangan, jangan bingung, tidak perlu bingung,” kata Jack, kembali mencium pipi istrinya.
“Nanti malam temani aku menemui wanita itu,” lanjut Jack.
“Untuk apa? Yang diundang makan kan kau, bukan aku,” kata Ara.
“Tentu saja aku akan bangga menunjukkan padanya kalau kaulah istriku,” ucap Jack.
Ara menghentikan mengayun bayinya, lalu menoleh pada Jack yang masih memeluknya.
Jackpun menatapnya.
“Dia harus tahu kalau kau segala-galanya bagiku, aku tidak peduli apa perkataan dan penilaian orang padamu, tapi bagiku kau wanita paling sempurna di dunia ini,” kata Jack.
Mendengarnya membuat Ara tertegun.
“Aku sangat mencintaimu dan bayi kita, kau harus percaya padaku. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Rebecca apalagi mengundangnya datang ke kantorku, tidak,” kata Jack, mengusap pipinya Ara lalu mencium bibirnya dengan lembut.
“Temani aku menemui wanita itu,” pinta Jack lagi, menatap mata indah istrinya, dia bisa melihat berjuta rasa sedih dan kecewa dari mata itu.
“Temani aku,” pinta Jack lagi.
“Baiklah aku akan menemanimu,” jawab Ara, sambil mengangguk.
Jackpun langsung memeluknya lagi dan menciumnya. Mendekap istrinya dengan erat. Berkali-kali menciumnya.
Tiba-tiba mata Jack tertuju pada foto pengantin mereka yang bingkainya ganti modelnya.
“Kau mengganti bingkai itu?” tanya Jack, menatap foto pengantin mereka.
“Iya, tadi fotonya jatuh dan kacanya retak, jadi aku menggantinya, tapi model bingkainya agak berbeda dari yang sebelumnya,” jawab Ara.
“Aku takut,” ucap Ara.
“Takut apa?” tanya Jack.
“Aku takut itu pertanda buruk untuk pernikahan kita,” jawab Ara.
“Tidak ada pertanda buruk, semua baik-baik saja, kita akan selalu bersama. Yang memasang bingkainya kurang pas dan terburu-buru jadi mudah jatuh,” kata Jack.
Ara langsung menatap Jack.
“Kenapa?” tanya Jack, menatap tatapan mencurigakan dari istrinya.
“Bagaimana kau tahu kalau yang memasang bingkai itu terburu-buru?” tanya Ara.
“Apa?” Jack terkejut dengan pertanyaan istrinya.
Ara masih menatapnya menyelidik.
“Jangan katakan kalau yang memasang foto pengantin di kamar ini, saat awal kita ke Paris dan kau masih depresi, kau yang memasangnya!” tebak Ara.
Jackpun diam.
“Katakan!” kata Ara.
Ara ingat waktu pertama kali datang kerumah ini, yang dia tahu kalau Jack masih depresi waktu itu. Saat akan memasang bingkai, dia lama mencari orang karena luasnya rumah ini, saat kembali ternyata bingkai itu sudah terpasang.
“Iya, aku yang memasangnya,” jawab Jack, mengaku.
Ara langsung memberengut.
“Apa kau tidak tahu kalau aku sampai pusing memikirkan siapa orang yang memasang bingkai itu,” keluhnya.
Jack malah tertawa.
“Sebenarnya dari dulu kau menyukaiku kan? Kau terus pura-pura depresi supaya aku memandikanmu terus kan?“ tuduh Ara.
Jack tersenyum dan mengangguk, membuat Ara cemberut. Pria itu langsung memeluk dan menciumnya.
“Iya aku menyukaimu dari dulu. Kau sih menyuruh orang memasangnya saja begitu lama, jadi aku pasang sendiri!” ucap Jack sambil kembali tertawa.
“Kau mengerjaiku,” ucap Ara sambil memberengut tapi kemudian tersenyum, membayangkan lagi bagaimana bingungnya dia karena foto itu sudah terpasang rapi di dinding.
Jack merasa senang melihat istrinya tersenyum lagi, diciumnya pipi istrinya berkali-kali.
***********
*********