Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-106 Jamu


Hari sudah sore, mobilnya Jack memasuki halaman rumah mewahnya. Jack dan Ara turun tepat didepan teras. Hari ini terasa begitu melelahkan bagi mereka setelah meeting seharian.


Baru juga Ara menginjakkan kakinya dilantai, seorang wanita yang sangat Ara kenal tiba-tiba keluar rumah dan menyambutnya.


“Ara sayang! Akhirnya kau pulang juga! Ibu sudah kesal menunggumu disini sendiri! Ibu menelponmu terus tapi ponselmu tidak aktif!” seru Ibunya Ara.


Ara terkejut melihat Ibunya ada didepannya.


“Ibu! Ada apa Ibu kemari?” tanya Ara, langsung menghampiri dan memegang kedua tangan ibunya.


“Ada hal penting yang ingin Ibu sampaikan!” seru Ibunya lagi, membuat Ara penasaran saja.


Ibunya Ara menoleh pada Jack yang menghampiri mereka.


“Nak Jack, Ibu juga ada kepentingan denganmu,” kata Ibunya Ara, membuat Ara terkejut.


“Ibu ada perlu sama Jack, mau apa?” tanya Ara, mengerutkan dahinya.


“Sini, sini sini,!” ajak Ibunya Ara, tangannya mengulur menarik tangannya Jack, tapi dia terkejut saat melihat tangan kanan Jack yang diperban.


“Apa ini? Kau kenapa menantu?” tanya Ibunya Ara pada Jack lalu menoleh pada Ara.


“Ada sedikit kecelakaan dikantor!” jawab Ara.


“Kalian pergi ke kantor?” tanya Ibunya Ara sambil menatap Jack. Dia merasa bingung orang depresi ke kantor mau apa? Batinnya.


“Ya sudah, ayo kita masuk, kita ngobrol didalam,” ajak Ibunya Ara seperti dia yang Tuan rumahnya saja.


Tangan Ibu Ara kembali menarik tangan Jack masuk kedalam rumah. Ara tampak kebingungan dengan kedatangan Ibunya yang mendadak itu.


Jack mengikuti langkah mertuanya, dia jadi ingat kalau dia menugaskan Pak Beni untuk mengecek data kelahirannya Ara.


“Ayo duduk! Ayo duduk! Ada hal penting yang ingin ibu bicarakan!” kata Ibunya Ara dengan serius, sambil mendudukkan Jack dikursi lalu Ara didudukkan disamping Jack, sedangkan dia duduk disebrangnya.


“Ada apa sih? Ibu mengagetkan saja!” kata Ara.


Ibunya Ara tersenyum, lalu mengambil sebuah kantong yang tadi ada diatas meja. Dia mengeluarkan dua buah botol minuman yang berwarna kuning kecoklatan.


Ara dan Jack menatap benda itu, penuh tandatanya.


“Apa itu?” tanya Ara.


Ibunya Ara menyimpan satu botol diatas meja depan Ara dan satu lagi didepan Jack.


Ara menagambil botol itu begitu juga dengan Jack.


“Apa ini Bu? Ibu jualan jamu?” tanya Ara, kembali menatap Ibunya lalu mencium botol itu yang beraroma jamu tradisional.


“Bukan jualan Jamu, Ibu pesan dari tetangga sebelah rumah! Itu jamu ajaib dari kampung!” jawab Ibunya Ara bersemangat.


“Jamu ajaib?” tanya Ara kebingungan, lalu menoleh pada Jack yang juga mencium botol itu, pria itu tampak mengernyit saat mencium bau dari botol itu.


“Itu jamu Jack,” kata Ara, lalu menoleh pada Ibunya.


“Jadi jamu ajaib untuk apa?” tanya Ara.


“Kau tahu Vina itu menikahnya sudah lama tapi belum juga punya keturunan. Nah sejak minum jamu ini ramuan khusus dari kampung, dia langsung hamil! Begitu ceritanya,” kata Ibunya Ara menjelaskan.


“Maksud ibu apa? Aku tidak mengerti!” Ara menggelengkan kepalanya.


“Kau ini! Jamu ajaib ini untuk membuat kau cepat hamil!” seru Ibunya Ara, sedikit kesal, membuat Ara dan Jack terkejut.


“Apa? Hamil?” tanya Ara, wajahnya langsung saja memerah. Bagaimana dia bisa hamil, Jack saja belum pernah menyentuhnya selain mencium dan memeluknya saja.


Ara langsung menunduk saja, Ibu dan ayahnya tidak tahu keadaan yang sebenarnya. Sedangkan Jack hanya diam saja mendengarkan, dia tidak terlalu terbawa perasaan soal itu.


“Kau jangan khawatir, Ayahmu sudah tidak membicarakan perceraian lagi,” kata Ibu Ara, melihat sikap Ara yang diam saja.


“Mmm kalian kan menikah sudah lebih dari satu bulan, tidak ada salahnya mempercepat kehamilan,” lanjut Ibunya Ara, membuat Ara dan Jack terkejut, keduanya saling menoleh.


“Satu bulan?” tanya Ara dan Jack bersamaaan.


“Iya, kenapa kalian kaget? Kalau dihitung-hitung, sudah lebih dari satu bulan juga, seharusnya kalau kalian sering melakukannya, Ara sudah ada tanda-tanda kehamilan!” kata Ibunya Ara lagi, menatap putrinya.


Jack tampak mengerutkan dahinya menatap pada Ara. Sering melakukan? Istrinya mengatakan itu pada mertuanya?


Wajah Ara semakin merah saja ditatap Jack begitu.


“Maksudku…bukan begitu…maksudku…” Ara berusaha menjelaskannya pada Jack, di sangat malu.


“Iya, kami sering melakukannya,” ucap Jack, sambil tersenyum.


Mendengar perkataan Jack membuat Ara semakin tidak punya muka saja. Apalagi dengan senyum Jack itu, ah pria itu malah menggodanya.


 “Ada apa dengan kalian? Kenapa? Apa Ara sedang hamil sekarang?” tanya Ibunya Ara yang bingung melihat putri dan menantunya yang malah saling tatap.


“Belum Bu,” jawab Ara, menoleh pada ibunya.


“Seharusnya kalau sudah sering melakukannya, kau sudah hamil sekarang. Jack kan sakit jadi Ibu khawatir dia ada masalah kesehatan jadi ibu membawa jamu ini seawal mungkin,” kata Ibunya Ara.


Ara menatap ibunya.


“Jack sudah sembuh Bu, dia sudah sehat. Jack sudah bisa hidup dengan normal,”ujar Ara.


“Apa?” tanya Ibunya Ara, terkejut dan melihat kearah Jack.


“Jack sudah sembuh. Dia mengerti apa yang Ibu katakan,” ucap Ara, membuat Ibunya semakin tidak enak.


“Aku sudah sembuh,” jawab Jack, menatap Ibu mertuanya.


 “Tadi aku bicara apa ya? Maaf Nak Jack, Ibu tidak bermaksud…” Ibunya Ara merasa bingung harus bicara apa.


“Tidak apa-apa, “ jawab Jack.


“Aku akan meminum jamunya, terimakasih,” lanjut Jack sambil tersenyum.


Ibunya Ara mengangguk lalu menoleh pada putrinya. Kenapa Ara tidak cerita kalau suaminya sudah sembuh?


Ara menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, lagian Ibunya ada-ada saja membawa jamu  buat Jack, bikin malu saja. Ibunya Ara kembali menoleh pada Jack.


Ara hanya memberengut melihat tingkah Ibunya, yang  ga ada malu-malunya berkata begitu.


“Jangan lupa, minumnya sebelum itu!” kata Ibunya Ara pada Jack, sedikit berbisik.


“Maksud Ibu sebelum apa?” tanya Ara kebingungan.


“Kau ini! Kalian menikah sudah lebih dari satu bulan! Kalian juga sudah sering melakukannya! Masa tidak mengerti!” keluh Ibunya Ara, lalu kembali menoleh pada Jack.


 “Pokoknya Nak Jack, jamunya diminum sebelum itu, supaya kau kuat dan kalian cepat punya bayi!” kata Ibunya Ara penuh semangat, membuat Ara merasa malu dengan tingkah Ibunya.


“Ya, nanti malam aku akan meminumnya,”jawab Jack, mengangguk.


Mendengar perkataan Jack membuat Ara menoleh dan menatap suaminya itu.


“Apanya nanti malam?” tanyanya, wajah yang tadi memerah berubah menjadi pucat.


Jack menoleh membalas tatapan istrinya.


“Minum jamu,” jawab Jack, memperlihatkan botol itu, sambil tersenyum.


Ara langsung saja berkeringat dikeningnya. Lagian Ibunya sampai bawa jamu buat hamil segala, Ibunya tidak tahu kalau mereka belum pernah melakukannya. Dia sudah membohongi orangtuanya.


“Kau kan sedang sakit, tanganmu itu terluka parah,” kata Ara.


“O iya bagaimana melakukannya dengan tangan terluka begitu?” tanya Ibunya Ara, melihat tangannya Jack yang diperban.


“Ibu jangan khawatir, aku biasa push up satu tangan,” jawab Jack membuat Ara melotot memandangnya. Sedangkan Ibunya Ara tertawa-tawa mendengarnya.


“Kau ini bicara apa?” tanya Ara pada Jack.


Jack  balas menatap istrinya yang terkaget-kaget, dia merasa lucu melihat wajah istrinya kadang merah kadang pucat pasi, keringat sudah muncul saja dikeningnya. Jack tidak kuasa untuk menggoda istrinya. Tangannya langsung menarik Ara kedekatnya. Pria ini hobi sekali menarik-narik istrinya.


“Aku serius,” ucap Jack.


“Serius apa?” tanya Ara.


“Aku bisa push up satu tangan, ratusan kali!” jawab Jack.


Tangan Ara langsung mau menutup mulutnya Jack.


“Kau tidak tahu malu, bicara begitu!” teriak Ara.


“Aku serius, aku bisa push up satu tangan, kau tidak percaya?” balas Jack beteriak, kepalanya menjauh mencoba menghindar dari tangan Ara yang akan menutup mulutnya.


“Hentikan! Memalukan bicara begitu!” teriak Ara.


Karena melihat mulut Jack akan bicara lagi, Arapun mengangkat tubuhnya, kakinya melangkahi tubuh Jack dan menekuk kedua lututnya dikursi dengan tangan yang mencoba menutup mulutnya Jack lagi.


Jack hanya tertawa tapi kemudian dia jadi diam karena mulutnya sudah terutup oleh telapak tangannya Ara.


“Apa kau berani bicara begitu lagi?” tanya Ara dengan kesal.


Jack tidak menjawab, hanya menengadah matanya menatap istrinya. Merasa ada yang aneh pada Jack, membuat Arapun merasa curiga, kenapa pria itu jadi diam? Dan dia tersentak kaget saat sadar kalau kedua lututnya ditekuk melangkahi tubuhnya Jack dan pria itu memeluk punggungnya. Bukan itu saja, wajahnya Jack tepat berada diatas dadanya.


Ara menatap Jack harus menunduk karena posisi tubuhnya yang lebih tinggi, mata merekapun bertatapan. Kepala Jack terasa pusing saja saat menundukkan kepalanya tepat berada didada istrinya. Sepertinya dia tidak perlu menunggu nanti malam lagi.


“Maaf,” ucap Ara, sambil melepaskan tangannya dari mulut Jack. Dia sangat malu sekali menyadari posisinya seperti itu. Diapun segera menurunkan tubuhnya.


“Tidak perlu minta maaf, aku suamimu,” kata Jack.


“Maaf,” ulang Ara, dia akan menjauh tapi Jack tidak melepaskan pelukannya, membuat Ara hanya bisa duduk dipangkuannya.


Tangan Jack menyibakkan rambut Ara yang menutupi sebagian wajahnya.


“Ibumu benar, aku akan senang kalau kita cepat punya bayi,” ucap Jack, menatap Ara.


“Bayi,” gumam Ara.


Dia juga tidak bisa berpaling menatap wajah suaminya.


“Iya,” jawab Jack, mengangguk.


Beberapa detik kemudian, Ara hanya merasakan Jack mencium bibirnya dengan lembut.


Ibunya Ara tampak terbengong-bengong melihatnya, lalu menggelengkan kepalanya.


“Sepertinya kalian tidak butuh jamu,” ucapnya, tapi tidak ada satupun dari anak menantunya yang menjawab.


“Ya sudahlah, yang penting kalian cepat punya bayi!” ucapnya, lalu bangun dari duduknya dan mengambil tasnya.


 “Sayang, Ibu pulang! Jangan lupa diminum jamunya!” seru Ibunya Ara, sambil meninggalkan ruangan itu.


“I..!” Ara akan menjawab tapi tidak bisa karena Jack kembali menciumnya. Dia benar-benar membangunkan macan yang sedang tidur.


Setelah cukup lama barulah Jack melepaskan ciumannya. Itupun menjauh hanya beberapa centi saja.


Jemari tangan kiri Jack menyentuh pipinya Ara, mengusapnya perlahan.


“Kau tahu, aku sangat mencintaimu,” ucap Jack, menatap mata cantik istrinya.


Ara hanya merasakan debar jantungnya sudah tidak beraturan, dia selalu gugup kalau kondisi seperti ini.


 “Aku ingin kau selalu bahagia bersamaku,” lanjut Jack.


Ara balas menyentuh pipinya Jack.


“Aku juga Jack, aku mencintaimu,” jawab Ara.


“Setelah urusanku disini selesai, aku ingin membawamu ke Paris, kita tinggal disana, dengan anak-anak kita, kau mau?” tanya Jack.


“Aku mau!” jawab Ara, menganggukkan kepalanya.


Jack tersenyum mendengar jawaban dari Ara, dia sangat senang mendengarnya.  Diciumnya kening istrinya lalu dipeluknya lagi dengan erat.


*****